Kisah Pendekar Ramalan

Kisah Pendekar Ramalan
Rahasia Ilmu Pengobatan


__ADS_3

Malam semakin larut mengiringi langkah Satria dan kelompoknya yang melintasi pinggiran kampung mencari sebuah tempat untuk menginap. Rasa letih yang menggerogoti kaki, membuat mereka sedikit berputus asa. Terutama Dewi Sekarwangi yang terlihat ngos-ngosan dan beberapa kali menyeka keringat yang menempel di dahinya. Ki Aswina paham betul melihatnya seperti itu. Gadis itu bukan tipe petarung yang akan kuat dalam pelarian.


Tapi Ki Aswina juga tidak mau terlalu menonjolkan diri, apalagi sampai berita tentang kehebatan Satria menyebar, tentu akan menggegerkan seluruh jagat persilatan.


Langkah mereka terhenti di sebuah lautan sempit yang membelah daratan yang luas. Mereka berdiri mematung dan melihat ujung pulau di tengah kegelapan malam. Di ujung barat ombak bergulung dengan tingginya dan membentur batu karang. Cipratan air asin membuat pakaian mereka basah kuyup.


Di tengah keheningan Satria melirik Ki Aswina yang terlihat fokus memandang gelombang air laut yang besar itu. "Kek, kita akan lewat mana?" tanya Satria bingung sambil memegangi dagunya. Pertanyaan itu sontak membuat Ki Aswina melirik ke arah Satria.


"Kita akan lewat portal dimensi, sama seperti kalian saat datang ke tempat ku", jawab Ki Aswina tenang sambil mengamati keadaan sekitar.


"Yang kemarin itu hanya kebetulan saja Kek, aku tidak tahu apakah kita akan seberuntung kemarin?" ujar Satria masih bingung dengan jalan pikiran Ki Aswina.


Satria mengingat kejadian di atas bukit itu, ketika portal dimensi terbuka ia tersedot dan masuk ke dalam. Dia bahkan tidak tahu cara kerja dari sebuah portal. Saat tersadar tiba-tiba sudah ada di alam manusia. Dahi pemuda itu mengkerut hingga kedua alisnya menyatu untuk memahami kejadian di atas bukit kemarin.


Melihat wajah Satria yang kebingungan, Dewi Sekarwangi mendekati serta meraih tangannya. "Sudahlah, percayakan pada Ki Aswina". "Bukannya kau menaruh kepercayaan ke pada kakek itu waktu di kedai tadi", ujar Dewi Sekarwangi menambahkan.


Satria menghembuskan nafas yang panjang lalu memalingkan wajahnya ke arah Dewi Sekarwangi. "Baiklah, semoga kepercayaanku benar".


Kedua bocah ini terus memperhatikan setiap gerak yang diperlihatkan oleh Ki Aswina. Kedua tangan kakek itu mulai mengeras dan mengumpulkan banyak tenaga dalam. Gerak cakra yang dahsyat mengalir dalam tubuh kakek itu.


Beberapa kali hempasan ombak menerpa tubuh rentannya. Namun kekuatan kakek itu luar biasa, dia kokoh bagai batu karang mempertahankan keadaan tubuhnya. Sinar biru yang mengkilat mulai mengumpul disertai angin bertiup di sekitar mereka.


Ki Aswina melirik ke arah Satria dan Dewi Sekarwangi dengan posisi tangan yang siap memukul. "Kalian berdua, bersiaplah. Begitu gerbang portal terbuka, cepat melompat dan masuk. Apa kalian paham?"


"Paham Kek", jawab Satria dan Dewi Sekarwangi serentak hampir bersamaan.


"Terbukalah!!!!"


Teriak Ki Aswina seraya memukul ke arah titik yang telah dia tentukan. Wajah kakek itu menegang dan rahangnya mengeras berusaha mendorong tangannya ke atas.


Kilatan petir dan angin berhembus dengan kencang mengiringi terbukanya gerbang portal dimensi yang Ki Aswina ciptakan. Kakek itu segera melompat dan diikuti oleh Satria dan Dewi Sekarwangi. Tubuh mereka masuk ke dalam pusaran dan menghilang saat portal itu juga menghilang dari pandangan mata. Angin yang disertai petir pun juga menghilang. Suasana di pantai ujung barat itu kembali normal. Gerak ombak yang tadi meninggi kembali turun perlahan.


Portal itu menghubungkan tempat Ki Aswina dengan dimensi tempat latihan Satria sebelumnya. Ternyata dimensi khusus itu hanya dapat di akses oleh para tetua pengawal raja. Selain kakeknya ternyata Ki Aswina juga bisa mengakses tempat rahasia itu. Pemuda itu menggut-manggut dengan mata yang terpejam.

__ADS_1


Dalam sekejap mata, tiba-tiba portal itu membawa mereka di suatu tempat yang sudah tidak asing bagi mereka. Nampak Satria memegangi pelipisnya begitu juga Dewi Sekarwangi. Rasa mual dan pusing menghinggapi kepala mereka. Walaupun mata mereka terpejam sepanjang perjalanan, namun pengaruh portal itu tetap terasa.


"Kita sudah sampai", ucap Ki Aswina sambil membuka matanya.


"Kita sudah sampai di pondok", teriak Satria kegirangan seraya berlari menuju tempat ibu dan kakeknya berada.


Ki Aswina berjalan beriringan bersama Dewi Sekarwangi sambil memandang area sekitar. Matanya menunjukkan rasa rindu kepada tempat ini. Tempat di mana dulunya para pengawal raja dilatih untuk menguasai berbagai ilmu kanuragan.


Langkah kaki Ki Aswina sempat berhenti sejenak memandang sisa gundukan bukit di sebelah barat. Hutan yang seperti terbakar hangus tanpa sisa.


"Apa yang sebetulnya terjadi di tempat ini? Harusnya ada sebuah bukit di sana", gumam Ki Aswina pelan namun masih bisa terdengar oleh orang lain.


Dewi Sekarwangi melihat Ki Aswina kebingungan dan ikut berhenti di sampingnya. "Itu ulah Satria, saat kemarin mengamuk dan melukai Ki Soma", ucap gadis itu menjelaskan keadaan buruk di tempat latihan itu.


Ki Aswina menarik nafasnya dalam dan membayangkan kekuatan Satria yang seperti monster. Bagaimana tidak, sebuah bukit bisa gugur hanya dengan kekuatan manusia biasa.Tarikan nafas dalam mengiringi langkah kaki renta itu kembali berjalan di antara jalan setapak menuju pondok kecil tempat Ki Soma berbaring dengan lemah.


Di depan pondok terlihat Dewi Kembang memeluk Satria dengan cucuran air mata yang begitu haru. "Nak, kau pulang dengan selamat, Ibu sangat cemas menunggu kepulanganmu".


Raut pipi ibunya semakin sumringah dan tampak sedikit senyum di wajahnya. Dia begitu senang menyambut kedatang Ki Aswina disertai Dewi Sekarwangi. Kakek itu bergegas masuk dengan langkah yang cepat. Matanya hampir terbelalak menyaksikan keadaan Ki Soma di pembaringan.


"Ki Soma, tak salah lagi itu memang dia. Rival abadiku dalam dunia pengobatan", bisik Ki Aswina dalam benaknya saat menyaksikan tubuh renta yang terbaring lemah penuh luka.


Perlahan langkah kaki Ki Aswina mendekati pembaringan tanpa menimbulkan suara. Dia duduk perlahan dengan sorot mata tajam memperhatikan setiap jengkal tubuh renta di hadapannya. "Soma, benarkah kau ini? Kenapa kau bisa terluka seperti ini?"


Tiba-tiba air mata Ki Aswina menetes saat menyaksikan wajah Ki Soma meringis menahan perih. "Bertahanlah sahabatku, walau kau dulu adalah sainganku, tapi aku tak tega melihat kau menderita", ucap Ki Aswina sambil memegang tangan kanan rivalnya itu.


Ki Aswina berkonsentrasi penuh pada titik cakra dan mengalirkan sebuah energi baru ke dalam tubuh Ki Soma. Beberapa totokan dihujamkan untuk membuka titik cakra yang tersumbat. Wajah Ki Soma menegang dan mengerang menaham tekanan tenaga dalam yang masuk. Rasa hangat mulai menjalar dari tulang ekor menuju seluruh tubuhnya.


Tubuh Ki Soma menggeliat dengan hebat di atas pembaringan mencoba untuk berdiri.


"Uuueeeeekkkkkk".


"Uuuueeeeeekkk".

__ADS_1


Uuuueeeeeekkk".


Ki Soma memuntahkan semua darah mati yang menyumbat dalam dadanya. Darah yang berwarna kehitaman dan sudah beraroma busuk itu keluar membuat Ki Soma lemas tak berdaya. Dia kembali terbaring dengan mata yang terpejam.


Melihat Ki Soma yang sudah memuntahkan semua yang menyumbat di dalam dada, Ki Aswina mulai lega. Dia menarik nafas seraya menurunkan tekanan tenaga dalamnya. "Beristirahatlah Soma, aku akan membuatkan obat untukmu", ujar Ki Aswina dengan wajah tersenyum seakan baru melepas beban berat di tubuhnya.


Di sisi lain, Satria melihat kejadian itu dengan sedikit waspada jika Ki Aswina berbuat yang macam-macam kepada kakeknya. Dia menatap dan mengawasi setiap tindakan kakek itu. Walaupun bertentangan, namun dalam hatinya dia percaya dia orang baik.


Melihat Ki Aswina berbalik arah setelah membaringkan kakeknya, Satria mendekat. "Bagaimana keadaan Ki Soma Kek?" tanya Satria dengan wajah cemas.


"Lukanya cukup parah, dan dia harus tetap istirahat dalam waktu yang lama. Aku akan mengobatinya", jawab Ki Aswina sambil berjalan menuju sebuah kursi tempat duduk di pojokan ruangan.


Satria yang dari tadi mengamati gerak-gerik Ki Aswina merasa sangat penasaran. Dia malah bingung dengan tindakan kakek itu yang terlihat santai sementara Ki Soma dalam keadaan sekarat. "Apa kau yakin bisa menyembuhkannya?" tanya Satria lagi dengan nada yang tidak sabaran.


"Yakin".


"Kenapa kau begitu yakin Kek?" Satria terus melempar pertanyaan sampai dirinya benar-benar puas akan jawaban yang di terimanya.


Ki Aswina tersenyum sinis dari kursinya tanda kurang nyaman dengan segala pertanyaan Satria. "Kau mau tahu rahasia ilmu pengobatan Kakek?" kakek itu melempar sebuah pertanyaan menantang kepada Satria.


Sontak Satria begitu kegirangan dengan tawaran yang baru saja diajukan oleh Ki Aswina. "Tentu saja", jawab Satria menanggapi tawaran Ki Aswina.


Ki Aswina kembali berdiri sembari meraih sesuatu di balik lipatan baju yang kusut. Tangan kanannya kini memegang sebuah benda pusaka kuno yang membuat Satria geleng-geleng kepala.


"Kau tahu ini apa?" tangan Ki Aswina menunjukan sebuah kitab tua yang sudah berusia lebih dari seratus tahun. Dengan dada membusung kakek tua itu menjelaskan kepada Satria. "Ini adalah sebuah kitab yang aku terima langsung dari Dewa Pengobatan, karena aku telah menyelesaikan tapa berata".


Mata Satria berbinar melihat keagungan dan pancaran energi dari kitab itu. Dari luarnya memang sudah terlihat kusut, wajar karena sudah berusia lebih dari seratus tahun.


"Kitab apa namanya Kek?" tanya Satria dengan mata yang berbinar mencoba meraih kitab itu dari tangan Ki Aswina.


"Ha ha ha ha", Ki Aswina tertawa cekikikan melihat Satria yang sudah mulai tertarik belajar ilmu pengobatan. "Ini adalah Kitab Taru Pramana, tidak ada penyakit yang tidak bisa aku sembuhkan", sambung Ki Aswina.


Matahari mulai bersinar terang di ujung timur, dan mulailah Ki Aswina meramu berbagai jenis bahan obat yang dia beli di pasar kemarin.

__ADS_1


__ADS_2