
Tidak terasa empat tahun telah berlalu semenjak Prayudha berkirim surat ke padepokan. Istrinya Dewi Kembang dengan setia menunggu bersama putra tercinta. Satria kini sudah berumur empat tahun tumbuh sehat dan menjadi anak yang lucu berkat kasih sayang ibu dan kakeknya.
Dewi Kembang berdiri menatap ke atas melihat langit yang dipenuhi awan indah berwarna putih. Nampak guratan-guratan kecil di wajahnya menyimpan rindu tak terhingga. Tanpa ia sadari di kedua pelupuk matanya telah basah. Wajah Prayudha membayangi setiap langkah dan ingatannya, juga pelukan hangat itu.
Tiba-tiba dia terbangun dari khayalannya yang membuat sedikit gugup. Sesosok kakek tua itu berdiri sambil memperhatikan tingkah polah menantunya. Sambil membelai janggut putih yang terjuntai panjang, dia mendekat sambil tersenyum.
"Ni Dewi, kenapa kamu melamun pagi-pagi?" kata Ki Pasupati mendekati menantunya yang sedari tadi mematung dengan wajah sendu.
"Tidak Kek, tidak apa-apa. Aku, aku hanya mengawasi Satria bermain", jawab Dewi kembang berkilah.
Ki Pasupati malah tertawa, dia tahu kalau menantunya itu sedang berbohong. Ki Pasupati sangat pandai melihat dan menebak kondisi orang lain hanya dengan melihat sorot matanya.
Ki Pasupati duduk di pendopo rumahnya, menikmati hangatnya matahari pagi. Dia ikut memperhatikan tingkah polah lucu cucunya saat bermain. Dewi kembang menemani sambil membawakan segelas kopi hangat untuk mertuanya itu.
"Kakek, ini kopinya", kata Dewi Kembang membawakan segelas kopi hangat dan ubi rebus.
"Taruh saja di sini Ni Dewi", jawab Ki Pasupati sambil menerima kopi buatan menantunya itu.
Mereka duduk bersama di pendopo itu, hingga hari mulai beranjak siang. Ki Pasupati sangat menikmati hidangan yang disuguhkan Dewi Kembang.
"Ni Dewi, bagaimana keadaanmu, akhir-akhir ini kau banyak melamun?" tanya Ki Pasupati sambil menikmati kopi dan ubi rebus.
"Entahlah Kek, aku sendiri bingung", jawab Dewi Kembang menundukkan kepala.
Guratan-guratan semakin jelas di raut mukanya. Air mata kembali membasahi pipi Dewi Kembang, yang terus diperhatikan oleh Ki Pasupati.
"Aku mengerti perasaan Ni Dewi, aku paham. Tapi aku mohon, kau harus ikhlas dengan keadaan", kata Ki Pasupati menghibur menantu kesayangannya.
Air matanya semakin deras dan jatuh menyentuh tanah. Terdengar isak tangis kecil dari Dewi Kembang. Rasa rindu yang menggebu dan rasa kesepian sudah memenuhi dadanya yang hanya di balut kain tipis. Dia memegangi dada merasakan getaran-getaran rindu yang tak putus-putus.
__ADS_1
"Sudahlah Ni Dewi, kuatkan hatimu. Prayudha pasti akan kembali dengan selamat", kata Ki Pasupati yang terus menerus menghibur Dewi Kembang.
"Saat ini, fokuslah merawat anak itu, dia adalah berkah keluarga kita, bukan hanya kita tapi berkah bagi semesta ini", kata Ki Pasupati sambil menunjuk Satria yang asyik bermain dengan teman-temannya.
"Baik kek, semoga para Dewata melindungi Kanda Prayudha", lirih Dewi Kembang memohon ke hadapan para Dewa.
Sementara itu, Prayudha sedang mempersiapkan angkatan perangnya. Dia memimpin angkatan perang laut dan daratnya. Dia terus bersiaga di perbatasan kerajaan Singa Mandala. Pertempuran hebat masih berlangsung antara Kerajaan Melaya dan Khanta Pura. Peperangan terus meluas, dan melibatkan kerajaan Tanjung pura di timur dan Kerajaan Swarna Pura di barat. Tinggal menyisakan Kerajaan Singa Mandala di Selatan dan Kerajaan Tirta Dewata yang berada di tengah-tengah.
Kembali ke Padepokan Kencana Pasupati, para murid perguruan sedang mempersiapkan semua latihannya. Latihannya berat sudah menunggu mereka yang dipimpin oleh Ki Soma. Latihan fisik serta batin yang cukup menguras tenaga dan mental. Ki Soma segera menyadari kalau para muridnya sudah kewalahan dan menyuruhnya istirahat.
Namun tiba-tiba tanah di sekitar padepokan mulai bergetar, seakan-akan gempa menerjang. Dari arah hutan segerombolan siluman anjing menyerang dan memporak-porandakan pintu masuk padepokan. Mereka berlarian masuk dengan melompati pagar dan menaiki atap mengendus arah dari aura suci yang mereka temukan.
"Tuan, anak itu tidak ada disini, baunya dari arah sana", kata salah seorang siluman itu menunjuk sebuah rumah.
"Cepat serbu!" seru pimpinan siluman itu.
Keris Pusaka Ki Pancar Geni mulai menyala dan mengeluarkan api yang membinasakan beberapa siluman. Mereka yang berhadapan langsung akan hangus menjadi abu dan menghilang. Ki Soma terus menerjang maju ke arah depan, dia begitu khawatir dengan keberadaan Satria yang menjadi incaran siluman itu.
Puluhan siluman itu terus menghadang Ki Soma dengan berbagai senjata sakti. Namun kakek renta itu tidak menyerah, dia memusatkan tenaga dalamnya di ujung keris Ki Pancar Geni dan mengacungkannya ke dapan.
"Duuuuaaaarrrrr".
Suara ledakan menerjang, seketika puluhan siluman anjing itu musnah menjadi abu.
Satria yang sedari tadi sibuk bermain mulai terkejut dan panik menyadari kehadiran siluman itu. Satria dan teman-temannya lari berhamburan menyelamatkan diri. Anak kecil yang biasanya ceria dan lucu itu kini terpojok di sudut bangunan rumah. Anak itu mulai menangis sejadi-jadinya memanggil sang ibu. Mendengar ada ribut-ribut di luar rumah, Dewi Kembang bergegas menuju arah suara tangisan yang memanggilnya.
__ADS_1
"Astaga, oh tidak, Satria", pekik Dewi Kembang melihat putranya di kepung beberapa siluman. Seketika tubuh langsing berbalut kain ungu itu menggigil dan terjatuh lemas.
Ki Pasupati yang mengetahui hal itu, segera merangsek masuk di sela-sela gerombolan siluman. Dia bersiap dengan tombak Ki Buru Semang di tangannya. Kakek itu meluncur dan menebas dengan jurus tombak menari. Gerakan demi gerakan dari sang kakek terhenti oleh tangkisan Raja Siluman Anjing.
"Siapa kau, berani berbuat onar di padepokan?” tanya Ki Pasupati dengan muka geram.
Wajah keriput itu mengeluarkan pancaran energi yang kuat. Dia menatap siluman itu dengan mata yang tajam.
"Hai kau orang tua, serahkan anak itu, akan ku ampuni jiwamu", suara siluman itu menggelegar dan mengeluarkan pancaran energi gelap di sekitar tubuhnya.
"Cuiiih, aku tak sudi, akan ku kirim kau ke neraka", jawab Ki Pasupati sambil menyerang dengan tombak pusakanya.
"Ciiiaaattt, tring, tring ,tring".
Dentuman hebat terjadi antara tombak Ki Buru Semang dengan senjata Kapak Raja Siluman.
Angin bertiup dengan kencang membawa aura panas mengelilingi pertempuran dua jagoan silat dari dua dunia berbeda. Mereka sama-sama kuat dan digdaya. Beberapa jurus tombak Ki Buru Semang bisa di patahkan oleh siluman itu. Walau sama-sama sakti keliatan tubuh renta Ki Pasupati kalah kuat dengan Raja Siluman. Gerakan mulai melambat tak secepat di awal-awal, kesempatan itu tak disia-siakan oleh Raja Siluman.
"Bruuuaaakkk".
Satu pukulan telak mengenai dada Ki Pasupati. Tubuh kurusnya terhempas dan menabrak dinding rumah. Darah segar mengucur dari mulut Ki Pasupati. Raja Siluman itu tertawa membuat seisi arena pertarungan terdiam.
Raja Siluman itu mendekati Satria yang meringkuk ketakutan di pojok rumah. Dengan nafas yang menderu ia memburu Satria yang histeris. Satria berteriak sekencang-kencang saat tangan siluman itu meraih tubuhnya. Ki Pasupati tak berdaya melihat hal itu, dia tak bisa menggerakkan badan dan dadanya sesak.
Raja Siluman itu mengangkat tubuh Satria, akan tetapi dia berteriak sekuat tenaga. Aura negatif dari siluman itu mulai menjalar. Akan tetapi, di saat genting seperti itu, sinar kuning keemasan keluar dari tubuh Satria. Sinar itu melapisi tubuh mungilnya dan membentuk jubah emas yang menyilaukan. Benda-benda di sekitarnya beterbangan seakan ada angin badai menerjang. Kilat tak henti-hentinya menyambar menghanguskan siluman yang mencoba menerkam.
Orang-orang berdecak kagum sekaligus takjub melihat kejadian itu. Ki Pasupati terlihat lemas dan tak mampu berbuat banyak hanya bisa melihat saja. Seketika jubah emas itu memberi Satria kekuatan yang misterius, dia mampu menendang dan mengalahkan Raja Siluman. Sisa-sisa siluman itu kabur ke dalam hutan dan kembali ke dimensi tempat asalnya.
Saat semua sudah normal, angin dan kilat pun mereda. Aura jahat dari siluman itu juga menghilang. Perlahan sinar keemasan di tubuh Satria meredup dan kembali sirna. Anak kecil itu tergeletak tak berdaya di sebelah ibunya dan kehilangan kekuatan.
__ADS_1
Ki Soma pun datang dan bergegas menyelamatkan mereka. Dia mengobati luka parah yang di derita oleh Ki Pasupati. Di luar semua murid padepokan sibuk membersihkan puing-puing kerusakan akibat serangan siluaman tadi.
Ki Soma menangkap firasat yang kurang baik, sepertinya Satria akan menjadi incaran para siluman dan mahluk astral lainnya. Dia harus segera membahasnya dengan Ki Pasupati sebelum terjadi hal-hal buruk pada anak itu.