
Pagi itu sang fajar bersinar dengan terangnya di ufuk timur. Cahaya yang menyilaukan itu tidak membuat Ki Soma gentar berdiri dengan tegak. Wajahnya yang dipenuhi kerutan terlihat bercahaya berbalut keringat hangat yang khas.
Di sampingnya terlihat Satria tengah berlatih keras mengingat gerakan-gerakan dasar yang diajarkan oleh kakeknya. Wajah yang dulu lucu kini mulai terlihat lebih serius. Tatapannya mulai tajam menghadap ke depan bersiap menyerang. Dia sudah memasang kuda-kuda sebagai awalan.
"Satu, dua, tiga. Satu, dua, tiga" Ki Soma menghitung setiap hentak gerakan yang dilakukan oleh cucunya itu. Dia tak segan-segan memukul apabila Satria salah melakukan gerakan. Memang tipe kakek ini keras dalam mengajar setiap muridnya. Apalagi dia menanggung beban berat agar Satria menjadi pendekar sakti mandraguna. Tentu bukan perkara mudah mengingat usia Satria masih sangat mudah, bisa dibilang Satria itu masih bocah ingusan.
"hiaaat, hiaaat, hiiaaat" Satria melakukan beberapa gerakan dasar dengan menahan gerakan kuda-kudanya agar tetap seimbang menyokong tubuhnya.
"Tahan kuda-kudamu, konsentrasi pada Cakra dasar dan bayangkan tenaga dalam mengalir ke tanganmu!" seru Ki Soma setengah berteriak dari arah belakang dan terus memantau gerakan Cakra di dalam tubuh cucunya.
"Baik kek" sahut Satria dengan menatap sebuah dinding batu besar.
Aura keemasan benar-benar muncul dari dalam tubuhnya. Ini sangat berbeda dengan aura orang pada umumnya. Ki Soma agak terkejut melihat sebuah aura keemasan menyelimuti tubuh Satria. Namun dia tetap memperhatikan aura itu dan keselamatan cucunya.
"Satria, sekarang kepalkan tanganmu dan pukul batu itu!" seru Ki Soma dengan semangatnya sambil mengamati sejauh mana Satria bisa melakukannya.
"Baik" sahut Satria dengan cepat dan melesat ke depan lalu meninju sebuah batu besar.
"Duuuuaaaarrrrr".
Batu besar itu hancur terbelah menjadi beberapa bagian kecil. Satria mundur beberapa langkah mendekati Ki Soma. Kakek itu tersenyum puas melihat perkembangan cucunya yang begitu pesat bahkan mengalah ayahnya.
"Sudah kuduga, anak ini mempunyai jenis tenaga dalam yang besar, dia memang istimewa" pikir Ki Soma dalam benaknya.
__ADS_1
"Satria, latihan cukup untuk hari ini, saatnya istirahat" seru Ki Soma sambil menghentikan gerakan cucunya itu. Dia begitu khawatir dengan Satria, sepertinya Ki Soma tidak mau melihat cucunya pingsan lagi di tengah latihan.
"Baik Kek" jawab Satria seraya menurunkan tenaga dalamnya dan mengatur gerak nafasnya yang kencang. Dia lalu menuju ke samping kakeknya dan menghormat layaknya seorang guru dan murid.
"Kakek, Satria masih ingin latihan" kata bocah itu kepada Ki Soma yang sedang duduk istirhat di bawa pohon.
"Beristirhatlah sejenak cucuku, kakek capek mengawasi latihanmu terus" keluh Ki Soma menolak ajakan dari Satria.
"Baiklah kakek, tapi Satria bosen kalo tidak latihan" sahut Satria dengan wajah malas di depan kakeknya. Tentu Ki Soma punya beribu cara untuk membuat cucunya itu terhibur.
"Satria dengarlah, kakek akan mengajarkanmu lima elemen yang membentuk tubuh manusia dan dunia ini" kata Ki Soma sambil memegangi janggut putih yang menjuntai itu.
"Kenapa Satria harus belajar elemen? Apa hubungannya?" tanya Satria dengan remeh, meremehkan pengetahuan kakeknya itu.
Satria dengan cepat mendekatkan dirinya ke tubuh Ki Soma karena merasa materi pelajaran yang akan di berikan kakeknya menarik. Dengan wajahnya yang serius dia memperhatikan setiap kata yang di ucapkan oleh sang kakek.
"Satria, di dunia ini ada lima elemen dasar yang membentuk dirimu dan dunia ini, yang pertama ada unsur Apah, Pertiwi, Teja, Bayu dan Akasa. Unsur Apah membentuk zat cair di alam semesta ini, sedangkan di tubuhmu berupa darah, air kencing, air mata dan semua yang cair yang melekat di tubuhmu" papar Ki Soma tentang elemen cair kepada Satria.
Kakek Soma terus melanjutkan pelajarannya menjelaskan satu persatu elemen dasar pembentuk alam semesta.
"Kakek lanjutkan, unsur yang kedua adalah Pertiwi yang berupa benda padat yang membentuk tanah, batu dan segala yang padat di dunia ini. Sedangkan di tubuh manusia unsur ini berupa daging, tulang belulang serta yang bagian padat dari makhluk hidup. Unsur yang ketiga adalah Teja yang berupa panas dimana di alam semesta ini berbentuk api, magma di perut bumi panas matahari serta material panas lainnya. Kalau di tubuh kita bisa berupa panas tubuh. Selanjutnya ada unsur Bayu yang tiada lain adalah unsur berupa angin di alam semesta dan tubuh kita berupa oksigen yang kita hirup setiap hari. Dan yang terakhir adalah Akasa, ini adalah unsur ruang kosong di alam semesta sedangkan di tubuh kita ruang kosong ada di antara perut dan dada. Apa kau sudah paham Satria?" tanya Ki Soma di akhir penjelasan yang panjang lebar itu.
"Paham kek, hanya saja Satria masih bingung bagaimana cara menggunakan elemen itu?" sahut Satria.
__ADS_1
"Pertanyaan yang bagus, kita akan mempelajarinya nanti" jawab Ki Soma.
"Kau masih ingat cara kakek kemarin memukul batu itu" Ki Soma menunjukkan sebuah batu yang kemarin dipukulnya hingga hancur berkeping-keping.
"Masih kek, Satria masih ingat" jawab bocah itu sambil mengangguk pelan.
"Itu salah satu pukulan kakek yang di kombinasikan dengan elemen angin sehingga bisa memukul dari jarak jauh" jawab sang kakek.
Satria kegirangan mendengar cerita dari kakeknya itu. Ia penasaran ingin sekali mencoba mempelajarinya.
"Kek apa Satria boleh mempelajarinya sekarang?" tanya anak kecil itu lagi pada kakeknya.
Ki Soma menghela nafas panjang, seraya menggelengkan kepala.
"Kau belum boleh, itu adalah ilmu tingkat atas" jawab kakeknya memperingati Satria saat itu.
Satria terlihat sangat kecewa dan menundukkan wajahnya yang murung padahal dia ingin belajar agar cepat menjadi pendekar hebat. Melihat cucunya yang kecewa berat seperti itu, sang kakek berusaha menghiburnya.
"Satria cucu kakek, jangan kecewa seperti itu, kelak jika pelajaran dasar telah kau kuasai maka kakek akan mengajari ilmu itu" kata Ki Soma menghibur Satria yang sedang murung.
Mendengar kata kakeknya seperti itu seperti membawa angin segar di wajah Satria. Dia tersenyum sumringah dan semngat yang berapi-api kembali berkobar.
Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke pondok setelah latihan yang begitu melelahkan mereka jalani. Satria berjalan mendahului kakeknya dengan penuh kegirangan. Ki Soma sangat bahagia melihat cucunya tumbuh dengan cepat berkat kekuatan dimensi ruang pelatihan itu. Dimensi ini sungguh berbeda dengan bumi, kualitas udara yang lebih tinggi membuat pertumbuhan sel-sel manusia menjadi lima kali lebih cepat.
__ADS_1
"Saat kau pulang ke padepokan nanti kau akan menjadi pendekar remaja yang gagah berani, bukan lagi bocah manja" kata Ki Soma di dalam hatinya yang bahagia melihat perkembangan cucunya.