Kisah Pendekar Ramalan

Kisah Pendekar Ramalan
Kakek yang Misterius


__ADS_3

Tubuh perkasa milik Satria meluncur mulus dari angkasa tanpa bisa dikontrol. Di tengah badai angin yang penuh dengan racun Satria dan Dewi Sekarwangi menjadi lemas dan tak mampu bergerak. Mereka sudah tak sadarkan diri ketika sebuah bayangan melompat dan meraih tubuh mereka.


Susana dengan cepat berubah, kini udara segar nan sejuk menyelimuti sebuah pondok di atas bukit. Pondok yang terlihat sederhana dengan atap ilalang dan dinding bambu. Namun terlihat sangat indah dengan pagar bambu yang mengitarinya. Sebuah taman kecil lengkap dengan telaga dan bunga teratai tertata rapi di sebelah selatan.


Mata Satria terbuka walaupun dengan sedikit dipaksa. Dia melihat sekeliling ruangan itu dan mendapati tubuhnya telah berada di atas ranjang kayu. Mata Satria kemudian melihat tubuh Dewi Sekarwangi yang lemas dan tak sadarkan diri. Dia berusaha mengingat kejadian yang menimpanya tadi siang. Di kepala anak itu masih menyimpan kenangan tentang pertempuran melawan raksasa Kala Pisaca dengan racun mematikan.


Satria sedikit menyadari kenapa dirinya merasa pusing dan lemas, kemungkinan adalah efek dari racun itu. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, dia berusaha berdiri. Namun semua sia-sia, efek racun yang begitu kuat membuat otaknya pusing. Hingga matanya kabur dan pandangannya berputar.


"Brrrrruuuuuuuukkkkkkk".


Tubuh Satria terjerembab ke tanah dan tidak bisa bangun lagi. Dengan wajah meringis dia menahan mual di perutnya. Anak itu menegang memegangi perutnya diiringi teriakan yang keras.


Dari luar pondok, sosok orang tua dengan cepat merangsek masuk ke dalam. Kakek itu dengan cekatan meraih tubuh yang menegang dengan menahan rasa mual. Susah payah kakek itu membawa tubuh Satria kembali ke ranjang.


Beberapa kali terlihat mulut Satria terbuka dan mengerang kesakitan. Keringat dingin mulai bercucuran dan membasahi seluruh badan pendekar muda itu.


"Bertahanlah anak muda, dengan ramuan ini semua racun itu akan hilang", kata kakek itu sambil meminumkan segelas ramuan penawar racun.


Tubuh Satria bereaksi menerima penawar itu. Mula-mula tubuh anak itu tidak lagi tegang. Raut wajahnya sudah kembali normal dan tidak berteriak lagi.


Satria yang masih lemas hanya bisa berbaring di atas ranjang tanpa bisa bergerak. Dia hanya melirik orang tadi yang sedang memberi Dewi Sekarwangi penawar racun. Orang itu sudah tua mungkin umurnya sebaya dengan kakeknya. Dengan janggut putih memanjang yang menghiasi dagunya. Rambut putih panjang lurus diikat rapi, menandakan orang ini bukan orang sembarangan. Dia terlihat begitu teliti mengobati setiap luka yang ada.


Satria masih terbaring lemah di atas ranjang, dari wajahnya dia ingin sekali bertanya kepada kakek itu. Tetapi suaranya seperti menghilang. Hanya matanya yang sudah bisa berfungsi normal. Dia melihat sebuah seruling bambu terselip diantara baju yang di kenakan orang itu. Sepertinya dia adalah salah satu pendekar hebat di dunia persilatan.


Satria terus berusaha menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Dia terus menggeliat dan berusaha bangun, akan tetapi semua anggota tubuhnya terasa lemah. Melihat Satria yang tidak bisa tenang, dengan cepat tangan orang itu menghentikan semua aliran cakra dan menidurkan Satria sementara.


Entah berapa lama Satria tertidur dalam keadaan lemas. Begitu juga Dewi Sekarwangi yang juga belum sadarkan diri. Tepat di pagi hari, tiba-tiba Satria terbangun. Dia mendapati ruangan yang begitu rapi. Di sebuah meja kayu di samping ranjangnya telah tersedia bubur hangat.


"Kau sudah sadar anak muda", tiba-tiba sebuah suara menyapanya dari arah depan kamarnya.


Kakek itu masuk dan melemparkan senyum kearah Satria yang masih belum sepenuhnya pulih. Dia mendekati Satria seraya menawarkan bubur hangat yang ada di meja. Satria yang dari kemarin belum makan segera melahap bubur itu hingga habis. Dari raut wajahnya terlihat Satria begitu menikmati bubur buatan kakek itu.


"Bagaimana rasanya, apakah enak?" tanya kakek itu lagi.


"Sangat enak Kek", jawab Satria kegirangan.


Kakek itu terus mengamati tubuh Satria yang bidang dan memancarkan aura keemasan. Aura yang sangat berbeda dengan manusia lainnya. Tentu akan akan mengundang banyak masalah bila tidak diperlakukan dengan baik.

__ADS_1


"Kakek, ada dimana saya sekarang? Dan siapa Kakek ini sebenarnya?" tanya Satria yang membuat kakek bangun dari lamunannya.


"Kau sedang berada di rumah Kakek, Padepokan Tamba Waras, namaku adalah Ki Aswina", sahut kakek itu dengan senyuman di wajahnya.


"Lalu siapa namamu anak muda?" Ki Aswina balik bertanya tentang diri Satria.


Dia menyadari sedang bersama seorang pendekar yang bukan sembarangan pendekar. Sorot mata yang tajam serta aura keemasan yang keluar menandakan sebuah kekuatan yang luar biasa.


"Namaku Satria Kek, aku sedang mencari seorang tabib untuk menyembuhkan luka kakekku", jawab Satri sembari meminum ramuan obat yang dibuatkan Ki Aswina.


Satria lalu menceritakan kejadian yang dia alami tentang sebuah mimpi yang menunjukan seorang tabib di puncak bukit timur. Ki Aswin mengangguk-anggukkan kepalanya tanda sudah mengerti dengan semua cerita Satria.


Setelah bercerita cukup panjang, Dewi Sekarwangi menggeliat dan tersadar. Dia memegangi kepalanya yang mungkin masih merasakan pusing akibat efek racun Kala Pisaca. Dengan tubuh yang tak sekuat Satria tentu efek racun akan terasa lebih kuat.


Dewi Sekarwangi batuk dan merasakan mual yang amat sangat di perutnya. Gadis itu muntah beberapa kali hingga wajahnya menegang dan matanya mendelik.


Ki Aswina bergegas menahan tubuh Dewi Sekarwangi yang mulai terhuyung dan lemas. Segera tangannya meraih obat dan meminumkannya ke mulut Dewi Sekarwangi. Tubuh gadis itu kembali lemas serta ambruk begitu saja di atas ranjang.


"Kek, apa dia baik-baik saja?" Satria menatap dengan cemas ke arah tubuh Dewi Sekarwangi.


Wajah cemas Satria tak bisa dia sembunyikan. Air matanya meleleh dan membasahi pipinya. Tentu dia tak mengira bakal ada kejadian seperti yang akan menimpa mereka. Tangannya yang masih lemas berusaha menyeka setiap tetes air mata yang jatuh.


Ki Aswin merasa prihatin melihat kondisi yang ada. Dia bertekad menyembuhkan keduanya dan menjadikannya murid kelak di kemudian hari. Dan juga dia ingin mengukur sejauh mana kehebatan cakra emas yang melegenda sejak jaman dahulu.


Setelah beberapa hari berlalu, kini Satria dan Dewi Sekarwangi perlahan kondisinya mulai membaik. Di halaman pondok itu, Satria sudah bisa berlatih seperti biasa. Namun berbeda dengan Dewi Sekarwangi yang kondisinya belum stabil. Dia masih sering pusing dan lemas. Dia terlihat duduk dan memandangi Satria dari teras. Wajahnya yang putih halus dihiasi lesung pipi yang membuat kecantikannya bagai bidadari khayangan. Bibirnya tersenyum malu ketika memandangi wajah tampan Satria. Apalagi saat saat saat Satria menghancurkan beberapa batu besar dengan gagahnya. Tentu membuat gadis itu kepincut dalam setiap lamunan.


Lamunan Dewi Sekarwangi terhenti ketika sebuah suara menyapanya dari belakang. Tentu suara khas itu sudah tidak asing bagi Dewi Sekarwangi.


"Ni Dewi, minum obat dulu, agar racunnya cepat hilang", sapa Ki Aswina seraya menyodorkan segelas ramuan penawar racun.


Dengan sedikit kaget dan tersenyum, Dewi Sekarwangi menerima dan segera meminum obat itu.


"Oh ya, semenjak aku tolong, Ni Dewi belum memperkenalkan diri. Siapa Ni Dewi ini sebenarnya?" tanya Ki Aswina lagi.


Dengan wajah yang masih lemas, Dewi Sekarwangi menceritakan asal-usulnya.


"Namaku Dewi Sekarwangi, dari padepokan Kencana Pasupati, karena mencari seorang tabib, kami berdua terdampar di lokasi ini", jawab Dewi Sekarwangi dengan nada lemas.

__ADS_1


Ki Aswina ingin menanyakan tentang siapa orang yang sedang sakit kepada Dewi Sekarwangi, namun secepat kilat terpotong oleh pembicaraan yang lain.


"Kek, sebenarnya ini di daerah mana, sepertinya aku tidak mengenal tempat ini", tanya Dewi Sekarwangi kepada Ki Aswina.


"Ini merupakan wilayah Kerajaan Tirta Dewata , tempat ini bernama Padepokan Tamba Waras", jawab Ki Aswina sambil tertawa kecil mengakrabkan diri dengan Dewi Sekarwangi.


Sebuah padepokan di wilayah Kerajaan Tirta Dewata, pantas saja wilayah ini begitu asing di mataku. "Kek, kalau boleh aku tahu, kemana semua murid di sini? Kenapa dari tadi sepi sekali?"


Pertanyaan Dewi Sekarwangi mulai mendalam mencari tahu agar penasarannya hilang. Kakek itu memperhatikan wajahnya Dewi Sekarwangi yang memendam rasa curiga kepada dirinya.


"Kakek tidak banyak punya murid, paling hanya sepuluh orang. Sekarang semua murid telah mengabdikan diri mereka ke Kerajaan Tirta Dewata", jawab Ki Aswina sambil terus memperhatikan rasa penasaran Dewi Sekarwangi.


Dewi Sekarwangi hanya manggut-manggut sekedar mengerti semua omongan kakek itu. Dia sedikit was-was karena sadar ada di luar wilayah Kerajaan Singa Mandala. Namun dia berusaha tenang membuang semua firasat buruknya, menunggu hingga kondisi badannya membaik.


Ki Aswina yang telah lama tidak mempunyai murid kini ingin menjadikan kedua anak itu muridnya. Dia telah melihat kehebatan Satria dan juga kebaikan Dewi Sekarwangi walaupun masih banyak misteri di dalamnya.


Dalam sebuah makan siang bersama, Ki Aswina mengajukan sebuah pertanyaan kepada Satria dan Dewi Sekarwangi.


"Kalian berdua ketahuilah, Kakek ingin mengangkat kalian menjadi murid. Apakah kalian keberatan?" tanya Ki Aswina kepada Satria dan Dewi Sekarwangi.


Tentu saja mereka kaget bukan main mendengar pertanyaan dari Ki Aswina yang mendadak seperti itu. Sampai-sampai Satria sulit menelan nasi ke dalam kerongkongannya. Kedua anak itu saling berpandangan dan memberikan kode untuk segera menjawab. Mereka bengong untuk beberapa saat karena tidak bisa memberikan jawaban kepada Ki Aswina. Dalam keadaan terpaksa Satria menjawab sebisanya.


"Maaf, kami.......", jawaban Satria terputus dan dipotong sendiri oleh Ki Aswina.


"Sudah, kalian masih bisa memikirkan jawabannya beberapa hari ke depan", kata Ki Aswina sambil tertawa kecil untuk menghilangkan ketegangan yang terjadi diantara mereka.


Akhirnya suasana kembali santai dan mereka kembali melanjutkan makan siangnya.


Namun hal itu hanya terjadi beberapa saat saja, setelah pertanyaan Ki Aswina keluar dari mulutnya.


"Sebenarnya, siapa kakekmu yang sakit itu?" tanya Ki Aswina tiba-tiba.


"Ki Soma namanya Ki", jawab Satria pendek.


Jawaban itu sontak membuat Ki Aswina terkejut bukan kepalang. Dia tahu betul siapa Ki Soma itu serta sepak terjangnya selama ini. Dia berhenti mengunyah nasinya dan dengan mata yang tajam menatap Satria seperti ingin membunuh.


Satria dan Dewi Sekarwangi merasa ketakutan melihat ekspresi Ki Aswina yang berubah menakutkan. Mereka berusaha menebak apa sebenarnya terjadi antara Ki Soma dan Ki Aswina.

__ADS_1


__ADS_2