Kisah Pendekar Ramalan

Kisah Pendekar Ramalan
Satria Manik Kencana


__ADS_3

Prayudha saat itu yang memimpin rombongan melintasi lembah yang curam dan bukit yang terjal. Rombongan itu terdiri dari lima puluh prajurit tangguh di bawah pimpinan Ki Punta dan Wijil. Prayudha sebagai pimpinan tertinggi berada di depan menunggangi kuda putih Si Mega Lemat. Di apit oleh Ki Punta Dan Wijil, mereka menerobos hutan belantara di lembah Gunung Pasupati.


Angin mulai berhembus kencang pertanda mereka sudah sampai di atas perbukitan yang di beri nama Bukit Lempang karena perbukitan itu memiliki puncak landai dan datar. Hari kian terik dan Prayudha sebagai pimpinan memberi isyrat untuk beristirahat.


"Punta, Wijil ke marilah, segera perintah para prajurit kita untuk istirahat!” seru Prayudha dari atas kudanya.


"Baik tuan, perintah tuan akan kami lakukan", jawab Punta dan Wijil.


Mereka segera memberi isyarat untuk istirhat untuk semua prajurit. Beberapa ada yang dipilih untuk berjaga di sekitar perbukitan.


"Mohon ampun tuan, semua prajurit telah beristirahat, sebagian sudah menempati post penjagaan", lapor Ki Punta kepada Prayudha.


"Baiklah kalau begitu, perjalanan masih tinggal setengah hari, beristirhatlah kalian!” seru Prayudha.


"Baiklah tuan, hamba mohon diri", Punta memberi hormat dan kembali ke dalam pasukannya.


Di tengah-tengah peristirahatan, Prayudha menikmati pemandangan dari atas bukit itu. Dia tersenyum memandangi ke arah selatan di mana Pantai Amuk yang begitu indah di yang menjadi tempat bersandar angkatan laut Kerajaan Singa Mandala. Sementara Bukit Kangin berdiri kokoh di sebelah timur seakan menjadi benteng yang selalu menjaga Kerajaan dari serangan musuh. Sedangkan wilayah barat agak landai dan subur, di sana tempat bercocok tanam bagi penduduk Kerajaan Singa Mandala, masih beruntung ada Bukit Anda Kosa yang memberi benteng dari barat. Sedangkan arah Utara ada Gunung Pasupati, ini sudah lebih dari cukup untuk bertahan bila ada musuh yang menyerang.


Lama dia merenung sambil menikmati keindahan alam yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta kepada semua ciptaannya. Tiba-tiba dia teringat akan anak dan istrinya yang sudah menunggunya. Prayudha sudah sangat merindukan mereka.


"Punta, Wijil segera siapkan pasukan, kita akan berangkat sekarang!” perintah Prayudha kepada Punta dan Wijil abdi setianya.


"Baik tuan, kami akan segera menyiapkan pasukan", kata Punta dan Wijil sembari memberi hormat kepada Prayudha.


Mereka segera menyiapkan pasukan dan kuda-kuda mereka, sebagian pasukan berjalan kaki sambil memberi penjagaan ketat dari arah belakang.


Pasukan yang terdiri dari pasukan tombak dan pedang serta pasukan pemanah mengambil posisi masing-masing. Melihat pasukan itu sudah siap, Punta segara melapor kepada Prayudha.


"Mohon ampun tuan, pasukan sudah siap sedia untuk berangkat", lapor Punta kepada Prayudha sambil memberi hormat.

__ADS_1


"Baik, kita akan berangkat", kata Prayudha dari atas kuda yang gagah berani.


Rombongan kecil itu segera berangkat melanjutkan perjalan ke Padepokan Kencana Pasupati. Perjalanan kian melelahkan karena medan terjal yang mereka tempuh. Jalan kecil dan berkelok-kelok penuh bebatuan. Serta hadangan binatang buas yang bisa menggangu perjalanan.


Matahari mulai menyingsing ke arah barat dan cahayanya meredup seiring dengan sampainya rombongan di perbatasan. Perbatasan itu di tandai oleh sebuah batu besar yang melintang dan memotong aliran sungai itu. Perbatasan itu di sebut Batu Guling. Karena batu itu besar dan melintang di aliran sungai sehingga bila kita melintasi sungai itu kita tidak perlu memakai jembatan.


Prayudha tersenyum melihat ke hulu sungai sudah terlihat atap padepokan serta umbul-umbulnya yang menjuntai tinggi ke atas. Prayudha bergegas memacu kudanya Ki Mega Lemat untuk berjalan di ikuti oleh seluruh pasukan.


Dalam sekejap rombongan itu telah sampai di depan Padepokan Kencana Pasupati. Mereka di sambut oleh semua orang yang ada di padepokan tersebut. Ki Pasupati nampak begitu bahagia dengan kehadiran Prayudha.


"Anakku Prayudha apa kabar, ayah merindukanmu", kata Ki Pasupati menghampiri Prayudha dan memeluknya erat.


"Aku baik-baik saja ayah", sahut Prayudha sambil membalas pelukan ayahnya. Mereka terharu dan menangis saat itu.


"Ayah, dimana istri dan anakku? Aku tidak sabar ingin bertemu mereka", tanya Prayudha kepada Ki Pasupati.


Terdengar Dewi Kembang sedang bercanda dengan anaknya yang masih bayi. Dia terlihat menggendong bayinya penuh kasih sayang. Di kamar itu Dewi Kembang hanya di temani oleh pelayan padepokan Juminten. Dia begitu telaten melayani setiap kemauan dari Dewi Kembang.


"Dinda Dewi, Kakang pulang menemuimu, kata Prayudha sambil mendekati Dewi Kembang yang masih sibuk dengan bayinya.


Mendengar suara khas dari Prayudha Dewi Kembang langsung menoleh dan tersenyum bahagia. Air matanya langsung menetes karena terharu. Dengan cepat bayi yang ada di gendongannya di serah kan ke Juminten.


Dewi Kembang berlari mendekati Prayudha sambil memeluknya.


"Kanda Prayudha, aku kangen kanda", kata Dewi Kembang sambil terisak menangis tersedu-sedu. Maklum mereka sudah lama berpisah sejak Dewi Kembang mengandung. Mereka berpelukan dengan erat melepas rindu yang mereka pendam berbulan-bulan.


"Dinda, mana anak kita, apa dia sehat-sehat saja?" tanya Prayudha yang sudah tak sabar ingin menggendong anaknya.


"Juminten, mendekatlah ke sini!" seru Dewi kembang.

__ADS_1


"Baik Nyonya", kata Juminten mendekat sambil menyerahkan bayi yang digendongnya ke pada Prayudha.


Prayudha begitu terkesima melihat ketampanan dan pancaran aura dari putranya itu. Dia penuh bahagia menimang-nimang bayinya itu sampai lupa akan lelahnya setelah perjalanan dari jauh.


"Dinda Dewi, kau beri nama siapa anak kita ini?" tanya Prayudha kepada istrinya Dewi Kembang.


"Kanda, Dinda belum mau kasi dia nama, Dinda mau Kanda yang memberi nama", sahut Dewi Kembang.


"Ohhh begitu ya, baik kanda akan beri dia nama", jawab Prayudha sambil memikirkan sebuah nama untuk anaknya.


"Bagaimana kalau Satria, apakah Dinda setuju?" tanya Prayudha kepada istrinya.


"Terlalu pendek Kanda, Dinda maunya yang panjang", sahut Dewi Kembang dengan manjanya.


Prayudha yang kebingungan dilihat oleh Ki Pasupati dan dengan cepat menawarkan sebuah nama kepdanya.


"Prayudha, kita kasi nama dia, Satria Manik Kencana. Apa kalian setuju?" tanya Ki Pasupati meminta persetujuan anak dan menantunya.


"Ayah, apakah ada arti di balik nama itu?" tanya Prayudha dengan penasaran.


"Tentu saja anakku. Satria artinya kesatria, Manik artinya telur dan Kencana artinya emas" jawab Ki Pasupati.


"Jadi Satria Manik Kencana memiliki makna kesatria yang lahir dari telur emas pemberian Dewata" sambung Ki Pasupati lagi.


Prayudha dan istrinya akhirnya setuju dengan nama itu dan nama itu di resmikan dengan sebuah upacara sakral untuk bayi itu. Semenjak saat itu bayi itu resmi terlahir dengan nama Satria Manik Kencana. Dengan perawakan yang gagah seperti kesatria dan aura keemasan yang selalu memancar dari tubuhnya. Orang-orang di padepokan itu selalu memanggil dia dengan sebutan Satria.


Seminggu telah berlalu, Prayudha berada di padepokan menemani istrinya merawat anaknya, kini waktunya telah tiba dia akan kembali bertugas ke kerajaan Singa Mandala. Dia segera akan meninggalkan istrinya, karena masa cutinya telah habis.


Tepat di pagi hari yang cerah Prayudha berangkat meninggalkan padepokan diiringi lima puluh prajurit tangguh. Tak di ceritakan betapa sedihnya Dewi Kembang di tinggal lagi dalam kesepian. Mereka berpelukan cukup lama dan Prayudha berjanji akan berkunjung setiap dua Minggu sekali. Setelah puas mereka melepas pelukannya dan saling mengusap air mata. Prayudha pun meninggalkan padepokan dengan berat hati.

__ADS_1


__ADS_2