Kisah Pendekar Ramalan

Kisah Pendekar Ramalan
Rahasia di Balik Awan


__ADS_3

Setelah perdebatan yang cukup panjang antara Ki Soma dan Dewi kembang siang itu, kakek itupun pasrah dengan pendirian anaknya. Demi keselamatan Satria maka berangkatlah Ki Soma menuju ke sebuah tempat yang tak mungkin bisa dijangkau oleh manusia biasa.


Satria dan Dewi Sekarwangi atau putri raja Singa Murti mengikuti dari arah belakang bersama Dewi Kembang. Tidak banyak perlengkapan yang mereka bawa mengingat perjalanan mereka cukup jauh.


Perjalanan itu cukup di rahasiakan karena hanya beberapa orang saja yang tahu. Mereka mulai memasuki lebatnya hutan di perbukitan penuh dengan hewan buas. Sementara jalan berkelok dan sempit sering menghambat laju mereka. Nafas mereka mulai menipis seiring dengan jalanan yang makin terjal.


Hari mulai gelap dan tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalan di tengah malam. Rasa lelah dan lapar mulai menghinggapi mereka.


"Ibu, aku lapar?" kata Satria kepada ibunya Dewi Kembang.


"Iya nak, sabar ya kita mencari tempat yang aman dulu" Dewi Kembang menjawab pertanyaan Satria sambil menuntunnya ke bawah pohon.


"Ayah, sebaiknya kita istirahat disini kasihan anak-anak sudah kelelahan" kata Dewi kembang kepada Ki Soma yang masih semangat untuk berjalan.


Ki Soma tidak punya pilihan lain selain ikut beristirahat dengan mereka. Namun kakek itu tetap waspada mengamati keadaan di sekitarnya.


"Satria, ini bekalnya, cepat di makan nak!" seru Dewi Kembang sambil membukakan bekal nasi yang dibungkus dengan lembaran daun pisang.


"Baik Bu" sahut Satria kegirangan sambil melahap nasi bekal mereka.


Sementara itu Dewi Kembang menatap Dewi Sekarwangi keheranan. Gadis kecil itu terdiam hanya memandangi bekalnya. Sesekali dia menatap Dewi Kembang malu-malu seakan ia ingin meminta sesuatu.


"Ni Dewi Sekarwangi, ada apa? Kenapa tidak makan?" tanya Dewi Kembang seraya mengelus wajah anak itu. Dari raut wajahnya terlihat dia masih menyimpan misteri kehidupan yang belum terungkap.


"Ibu Dewi, bolehkah aku memanggilmu ibu?" tanya Dewi Sekarwangi dengan wajah kemerahan tanda malu.


"Boleh nak, kami ini adalah keluarga baru Ni Dewi sekarang" jawab Dewi kembang sambil tertawa kegirangan memeluk Dewi Sekarwangi dengan penuh kasih sayang.


Mereka sejenak bisa mengatur nafas setelah menghabiskan bekal mereka. Malam kian larut, angin dingin mulai menerpa tubuh mereka yang di balut dengan kain tebal. Ki Soma berjaga malam itu tanpa tertidur sedetikpun. Sungguh kuat, kakek yang sudah renta namun memiliki tenaga seperti anak muda. Malam yang panjang dan melelahkan terlewatkan, mereka bersiap untuk melanjutkan perjalanan pagi-pagi buta sebelum fajar memancarkan sinarnya.


Ki Soma terus mengawasi mereka selama perjalanan yang menguras tenaga. Rombongan kecil itu mulai menapaki puncak gunung dan melihat kepulan awan di sekeliling mereka. Wajah Ki Soma mulai sumringah dan menarik nafas panjang.


"Baiklah kita sudah sampai, pintu masuk ada di balik batu itu" kata Ki Soma sambil menunjukkan sebuah batu besar hitam yang tertanam di puncak gunung.


"Ayok kek, kita masuk, Satria sudah tidak sabar" ajak Satria sambil berlari ke arah batu itu.

__ADS_1


"Sabar cucuku, pintunya belum terbuka" teriak kakek itu memperingati Satria.


"Ayah cepat buka!" seru Dewi Kembang sambil berjalan menuju ke arahnya Satria.


"Hai Ni Dewi, membuka gerbang itu tidak mudah, harus dengan tenaga dalam yang besar" jawab Ki Soma berjalan mengikuti Dewi Kembang.


Ketika semuanya telah berkumpul di depan pintu masuk, mereka hanya mendapati sebuah goa dengan mulut yang tertutup batu hitam besar. Mereka sedikit keheranan dan tidak mengerti kecuali Ki Soma yang sibuk melafalkan sebuah mantra untuk membuka gerbang itu.


Setelah selesai, Ki Soma mulai berkonsentrasi di depan mulut goa dan memusatkan kekuatan di kedua telapak tangannya yang terbuka dan mulai mendorong batu itu. Maka seketika itu keluarlah sinar yang menyilaukan mata mereka.


"Aaarrrrrrrrrrggggggggghhhhh"


semua berteriak ketakutan melihat cahaya aneh dari dalam goa itu.


"Apa ini kek, Satria tidak bisa melihat" teriak Satria yang menutup kedua belah matanya.


"Ayah, kenapa silau, aku tak bisa melihat apa" kata Dewi Kembang yang memejamkan matanya, dan terus memegangi Dewi Sekarwangi yang matanya juga terpejam.


"Tetap pejamkan mata kalian, aku akan membawa kalian masuk" kata Ki Soma yang segera menuntun mereka masuk dalam goa. Seketika setalah mereka masuk ke dalam, goa itu menutup dengan sendirinya secara gaib.


"Bukalah mata kalian, kita sudah sampai di tempat tujuan" seru Ki Soma sambil menatap sebuah tempat yang indah bagaikan sorga itu.


"Ayah di mana ini?" tanya Dewi Kembang sambil terperangah melihat hamparan keindahan di depan matanya.


"Ini adalah tempat latihan kita, kita sedang berada di dimensi yang berbeda dengan manusia pada umumnya" kata Ki Soma menjelaskan tempat indah itu.


"Dimensi yang berbeda?" tanya Dewi Kembang kebingungan dan tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya, dimensi ini adalah khusus yang dibuat untuk melatih para keturunan pasukan pengawal raja jaman dahulu. Dimensi ini lebih tinggi dari dimensi manusia tempat kita biasanya. Dengan demikian para makhluk gaib dan jahat tidak bisa melacak keberadaan kita" kata Ki Soma menerangkan sebuah dimensi misterius kepada Dewi Kembang.


"Lalu, apakah manusia biasa bisa masuk? tanya Dewi Kembang lagi.


"HaHaHa, tidak mungkin kalau tidak dapat restu dari para anggota pengawal raja seperti aku ini" kata Ki Soma sambil memegangi janggut putihnya.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju sebuah gubuk tua di dekat telaga. Gubuk itu telah ada dari jaman dulu saat para tetua membuat dimensi itu. Gubuk sederhana ini beratap daun ilalang kering dan terletak di rerimbunan taman yang luas.

__ADS_1


"Ni Dewi ajaklah Dewi Sekarwangi membereskan tempat ini, aku akan mengajak Satria ke suatu tempat!" seru Ki Soma kepada Dewi Kembang.


"Baik ayah" kata Dewi Kembang seraya mulai membereskan gubuk itu.


Satria berjalan mengikuti Ki Soma ke sebuah tempat yang lapang mirip altar tempat pemujaan. Mereka duduk saling berhadapan saling menatap dengan wajah serius. Angin berhembus dengan lembut menerpa rambut mereka.


"Satria, cucu kakek, mulai besok kau akan menempuh latihan yang berat. Persiapkan dirimu" ucap kakek Soma kepada cucunya sambil menghela nafas panjang.


"Baik kakek, Satria akan berusaha" sahut Satria dengan wajah polosnya memandang kakeknya itu.


"Kakek, apa Satria boleh bertanya?" tanya Satria kepada kakeknya itu.


"Tentu saja boleh cucuku, kau mau bertanya apa pada kakek?" sahut Ki Soma sambil mencubit pipi mungil cucunya.


"Kakek banyak yang ingin kutanyakan, salah satunya kenapa kelahiran diriku ini mengundang banyak masalah?


Satria mulai bertanya banyak pada kakeknya, seakan dia bukan bocah yang baru berumur empat tahun.


Berangsur-angsur aura positif dari bocah itu keluar yang mempengaruhi wibawa dan instingnya. Ki Soma tidak terkejut melihat hal itu, sebab dimensi tempat mereka berada memang spesial. Mampu membangkitkan aura positif dan membuat pertumbuhan makhluk hidup menjadi lebih cepat lima kali


lipat dari dimensi manusia biasa.


"Dengarlah baik-baik Satria, secara singkat kelahiran dirimu merupakan kelahiran yang unik" kata Ki Soma menjawab dengan singkat.


"Kakek, kenapa seperti itu, aku tidak mengerti?" tanya Satria lagi sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Sedikit rahasia leluhur kita akan kakek ceritakan kepadamu".


"Dahulu di sebuah benua ada sebuah negeri yang memiliki kekuasaan yang luas. Negeri itu sangat aman dan damai. Namun negeri itu akhirnya runtuh oleh serangan musuh dan sang raja bersumpah akan kembali lima ratus tahun lagi. Para pengawal raja yang jumlahnya sembilan orang itu akhirnya sepakat menyimpan rahasia wasiat itu disini. Setelah itu mereka menyebar ke berbagai penjuru dan mendirikan padepokan untuk menjaga kelestarian seni, tradisi dan budaya.


Salah satunya seni bela diri yang kakek warisi temurun. Satria, kaulah rengkarnasi raja itu. Kakek akan menjadikanmu kesatria pilih tanding".


Ki Soma berhenti bercerita, sampai di situ karena semua bersifat rahasia kehidupan dan tidak boleh dibocorkan.


"Kakek hanya bisa bercerita sampai di sini, nanti kalau sudah saatnya kau akan tahu sendiri" lanjut Ki Soma menjelaskan rahasia kehidupan kepada Satria sang cucu kesayangannya itu.

__ADS_1


__ADS_2