
Seperti biasanya pagi-pagi sekali Satria sudah duduk bersila menghadap matahari terbit di ufuk timur. Dia memejamkan kedua matanya dan kedua tangannya berada di atas pangkuannya. Udara begitu segar mengalir memenuhi sekitar. Satria mengambil sebuah nafas panjang dan menghembuskannya ke udara lagi. Anak itu dengan tekun melakukannya beberapa kali.
Dia berkontraksi pada Cakra dasar dan berusaha mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya. Dengan sebuah hentakan, area di sekitarnya mulai bergetar, bebatuan kecil ikut beterbangan dan daun-daun berjatuhan. Pancaran energi yang kuat itu membuat pusaran angin yang seperti badai bertiup kencang dengan kilatan petir menyambar di sekujur tubuhnya.
Dia terus menekan dan menjaga aliran energinya hingga beberapa saat, sebelum aura di sekujur tubuhnya menjadi keemasan.
Badai kian bertambah kencang seiring munculnya zirah emas yang menyelimuti tubuh Satria. Anak itu terlihat bercahaya emas dari jauh dan begitu gagah layaknya seorang pendekar dari surgawi.
Satria yang sudah merasa di puncak, mencoba beberapa gerakan dasar yang diajarkan oleh sang kakek. Dia bergerak dengan lincah, menendang, memukul dan melompat tinggi di udara. Tak banyak pendekar yang bisa bertahan di udara selama beberapa menit. Tapi Satria dapat melakukannya dengan mudah.
Dewi Sekarwangi yang berada tak jauh dari tempat itu terkagum-kagum melihat kemampuan Satria. Dia terus mengamati dengan serius sambil ikut mempraktekan beberapa gerakan dasar.
Dari ketinggian sekitar sepuluh meter, Satria membidik sebuah batu besar di sebelah selatan. Matanya mulai terpejam dan tangannya mengepal dengan keras. Seluruh tenaga dalamnya terlihat mengalir menuju tangan kanannya yang mengepal.
"Konsentrasi pada titik Cakra, lalu alirkan tenaga dalam ke arah tangan, lalu tahan" Satria berusaha mengingat cara yang diajarkan Ki Soma untuk menghancurkan batu.
Dia terlihat menarik nafas panjang dengan mata terpejam, tangannya mengepal dan di penuhi energi keemasan yang menyala bagaikan cahaya matahari. Anak itu lalu membungkuk dan melesat maju.
" Duuuuuaaaaaarrrrr".
Sebuah batu hitam besar hancur berkeping-keping. Satria melompat mundur dan menurunkan aliran Cakranya. Tubuhnya kembali seperti semula tanpa balutan energi keemasan. Otot-ototnya di lengan dan tubuhnya sudah mulai terlihat seiring berkembangnya sel-sel di tubuh mereka. Dia berdiri dan mengatur aliran nafasnya segera.
Tatapan matanya benar-benar tajam bagai sang Garuda yang mengincar mangsa, dia berdiri tegap dan menyilangkan kedua tangan di dadanya. Rambutnya terurai rapi dan panjang melayang diterpa angin di sekitarnya.
Tidak sampai di situ, belum hilang sisa-sasa hembusan angin badai tadi, Satria bersiap lagi mengeluarkan kemahirannya. Dia mulai
memamerkan beberapa jurus yang membuat suara hentakan kaki bergemuruh terus-menerus. Dia tahu bahwa dirinya sedang di perhatikan oleh Dewi Sekarwangi dari balik rerimbunan pohon. Pipi anak itu memerah dan terus bergerak melompat memukul dan menendang hingga semua jurus yang diajarkan kakeknya habis.
__ADS_1
Sementara Dewi Sekarwangi terus mengintip dari balik pohon dengan pipi yang memerah juga. Dia terkagum melihat kegagahan Satria yang telah tumbuh menjadi pemuda ganteng.
Gadis itu melihat dada Satria yang bidang di balut seutas kain tebal. Rambutnya yang tergerai hitam panjang diikat dengan kain hitam. Di matanya terasa seperti pendekar yang turun dari surga.
Di tengah-tengah latihan yang keras di jalani Satria, sang kakek mengawasi dari kejauhan. Dia terus memperhatikan aliran Cakra emas yang menyelimuti tubuh Satria walau sekarang telah meredup.
"Bila itu adalah suatu energi dalam bentuk Cakra, lalu termasuk jenis Cakra apa ini?" Ki Soma sempat merenung memikirkan energi yang mengalir di tubuh cucunya itu.
Janggut Ki Soma beterbangan di hembuskan angin. Dia berdiri mematung dan memperhatikan setiap gerak langkah yang di lakukan oleh cucunya. Bahkan ketika Satria melompat ke udara dan berhasil melayang beberapa menit, Ki Soma begitu takjub dengan kemapuan dasar yang sudah dia perkirakan akan melebihi ayahnya Prayudha. Dia lalu memutuskan untuk mengetes secara langsung kemampuan dari satria.
Ki Soma melompat ke udara dan mendaratkan dirinya yang ringan seperti kapas di hadapan Satria.
"Satria, kakek ingin mengetes kemampuan dasar yang telah kamu pelajari, sekarang serang kakek!" kata Ki Soma bersiap bertahan dengan kuda-kuda.
"Baik kek" Satria lalu bersiap dengan kuda-kuda yang kuat dan melesat menyerang dengan sebuah pukulan.
Ki Soma tidak puas, pancaran Cakra keemasan itu belum muncul lagi. Kakek itu terus memancing semua gerakan Satria agar dia bisa mengeluarkan potensi yang tertidur di dalam tubuhnya.
Merasa tidak puas dengan cara itu, Ki Soma mengambil ancang-ancang menyerang. Satria agak terkejut melihat sebuah serangan datang dari kakeknya. Satu pukulan telak mengenai dada Satria yang membuatnya terhuyung dan terpental ke belakang.
Belum sempat dia menarik nafas yang tersengal, sebuah tendangan mengarah ke punggungnya. Sekuat tenaga dia bergerak menghindar melompat ke arah kiri.
Dia merasa terpojok dan tak mampu menghindar lagi. Dia menelan ludahnya dan menarik nafas serta mengumpulkan energinya. Secepat kilat dia memejamkan mata dan berkonsentrasi pada aliran Cakra.
Getaran keras kembali terjadi dan menerbangkan bebatuan kecil di sekitar area latihan. Tubuh Satria kembali di selimuti Cakra emas yang berbentuk baju zirah. Kali ini mata kakek itu bisa melihat dengan jelas, baju zirah emas itu berbentuk Garuda membungkus tubuh cucunya. Sebuah senyum tipis keluar dari bibir keriput itu.
"Hiaaaaaaaatttttt".
__ADS_1
"Duaaaarrrr".
Tubuh Satria terpental hingga sepuluh meter dan membentur batu. Jurus tendangan kilat dari Ki Soma benar-benar cepat dan kuat, yang tak mampu ditangkis oleh Satria. Kali ini kakek itu bisa merasakan betapa kuat dan keras Cakra emas yang melapisi tubuh cucunya.
"Ini bukan sekedar aliran Cakra, juga bukan sekedar baju zirah, kekuatannya luar biasa, dia dapat menahan tendangan kilatku" kata Ki Soma dalam hati sambil mengamati tubuh Satria yang membentur batu.
Di kejauhan Satria bangun tertatih-tatih, walaupun dilindungi perisai emas, namun rasa sakit yang luar biasa ia rasakan. Wajahnya mengerang dan matanya melotot merah seiring lapisan Cakra emas yang terus berkumpul dan membentuk padat.
Dia mulai kehilangan kesadaran, kekuatan besar mulai mengendalikan dirinya. Dia bukan lagi Satria, melainkan sekumpulan energi yang besar dan mengamuk. Pepohonan di sekitar tempat itu seketika menjadi layu dan terbakar. Benar-benar wujud aura Cakra yang mengerikan.
Ki Soma nampaknya menyadari hal itu dan berusaha mencari cara agar Satria kembali sadar.
"Aaaarrrrrhhhh"
"Aaaaarrrrrhhh"
"Aaaarrrrrhhhh"
Suara Satria geram seperti monster yang tak terkendali. Dengan gerak kilat dia menerjang dan menyerang Ki Soma. Ki Soma sempat menghindar dan melihat Satria di kendalikan oleh kekuatan itu. Pertarungan terus terjadi hingga beberapa menit. Ki Soma telah kehilangan setengah energinya.
"Hiiiiaaaaatttttt".
"Brrrruuuaaakkkk".
Tubuh Ki Soma terpental beberapa meter, dia tidak menyadari Satria melakukan tendangan yang membabi buta seperti itu. Dengan cepat dia menghela nafas panjang dan berdiri meskipun dengan menahan rasa sakit yang amat luar biasa. Tubuh renta itu terus di hujani pukulan dan tendangan oleh Satria yang mengamuk.
Ki Soma hanya bisa pasrah, beberapa pukulan dan tendangan mendarat telak di wajah dan dadanya. Nafasnya putus nyambung terengah-engah di pojokkan oleh Satria.
__ADS_1
Melihat hal itu, Dewi Sekarwangi berlari kearah Satria dan berusaha menghentikannya . Ada sebuah kekuatan yang mendorong dan menyuruhnya agar dia menghentikan amukan Satria.