
Ki Pasupati masih tergolek lemah di ranjangnya dengan tubuh penuh luka sayatan dan luka dalam. Dia memegangi dadanya yang masih terasa sakit sesak akibat pukulan siluman kemarin siang. Dengan kondisi renta dan lemah dia berusaha bangun sekuat tenaga. Memaksa kedua kaki dan tangannya sebagai tumpuan. Kakek tua ini berusaha mengambil air putih di meja makan. Tangan yang keriput itu gemetar dan tak sengaja malah menyenggol gelas penuh dengan air.
"Prrrriiiiaaaaannnnnggg" .
Seketika gelas penuh air itu jatuh ke lantai. Ki Pasupati sedikit terkejut yang membuat tubuhnya oleh dan ikut jatuh ke lantai. Kakek ini benar-benar tidak percaya kalau dia bisa dalam kondisi seperti itu.
Dia terkapar tak berdaya di atas lantai dengan tubuh menggigil dan luka dalam yang parah. Tak ada yang menyangka kini salah satu keturunan dari sembilan pengawal raja sudah tak berdaya. Seakan Dewa Maut mulai menampakkan diri, dan segera mencabut nyawanya.
Mendengar ada suara berisik dari kamar mertuanya, Dewi Kembang bergegas memapah kakek itu ke pembaringan. Menantu ini dengan sigap memberi minum Ki Pasupati.
"Kakek, ini minumnya, jangan memaksakan diri, luka kakek belum sembuh" kata Dewi Kembang yang dengan tulus melayani mertuanya itu.
Dia dengan telaten membersihkan dan mengobati semua luka Ki Pasupati, dan merawat kebersihannya.
Kakek yang dulunya di kenal garang di medan tempur ini akhirnya hanya bisa pasrah, tampak dari raut mukanya kini yang mulai suram tidak secerah dulu. Bahkan untuk makan saja harus di suapi oleh menantunya.
Dari luar tampak murid padepokan memulai kesibukannya. Ki Soma menerobos keramaian itu menuju rumah sahabat sekali besannya. Dia membawa obat-obatan untuk menyembuhkan Ki Pasupati. Dia segera masuk mencari keberadaan sahabatnya itu.
"Kakang Pasupati, aku datang membawa obat bagaimana keadaanmu" tanya Ki Soma sambil mendekati rekannya itu.
Ki Pasupati belum dapat berbicara dengan lancar, dia menjawab hanya dengan anggukan kepala tanda dia masih kuat.
"Ni Dewi, apa obat kemarin sudah di minumkan?" Ki Soma melirik ke Dewi Kembang di sebelahnya.
"Obatnya sudah di minum sesuai petunjuk Ayahanda" kata Dewi Kembang menjawab pertanyaan ayahnya itu.
"Baiklah, obat ini segara diminumkan sekarang" seru Ki Soma
"Baik, ayah" sahut Dewi Kembang lalu meminumkan obat itu ke mertuanya.
Ki Soma lantas mengambil sikap duduk bersila di belakang Ki Pasupati. Kedua telapak tangannya ditempelkan di punggung besannya itu. Kedua matanya mulai dipejamkan. Sebuah alunan mantra mengalir dari dalam mulut yang terus komat-kamit tanpa henti. Hawa yang hangat mulai masuk dan menghangatkan ruangan itu.
Ki Soma memusatkan seluruh tenaga dalam masuk melalui kedua telapak tangan yang menempel di punggung Ki Pasupati. Dengan aliran tenaga dalam yang kuat, Ki Soma mencoba mengeluarkan racun dan sisa darah yang menempel di saluran pernafasan.
Tubuh Ki Pasupati menggigil dengan keras diikuti keringat dingin yang menetes dari dalam tubuh. Nafasnya tersengal seakan dia mau mati saja.
__ADS_1
"Bertahanlah kakang, sedikit lagi" teriak Ki Soma sambil menghentakkan semua tenaga dalamnya.
"Uuueeeeekkk"
Darah hitam muncrat dari mulut Ki Pasupati dan tubuhnya ambruk. Ki Soma mengeluarkan seluruh racun dan darah mati yang menyumbat saluran pernafasan kakek itu.
Segera Ki Soma membaringkannya dan memberinya minum. Ki Soma terlihat lega, karena nafas dari Ki Pasupati telah lancar. Dia memberi pesan ke Dewi Kembang agar merawat Ki Pasupati dengan baik. Sementara dia akan menemani Satria bermain sambil menjaganya dari incaran orang jahat. Dewi Kembang mengiyakan dan merawat mertuanya itu dengan sungguh-sungguh.
"Satria, Satria kemarilah cucu" kata Ki Soma memanggil Satria sambil berjalan menuju tempat bermainnya.
Dari arah samping Satria berlari dan memeluk kakeknya yang lokasinyatertawa girang seperti anak kecil yang baru mendapatkan permen gratis.
"Kakek, Kakek kapan ayah pulang? Satria rindu ayah" celoteh anak itu kepada kakeknya.
Ki Soma kesulitan dalam menjawabnya, ia tak mungkin bilang kalau ayah sedang berperang, itu akan mengganggu mentalnya yang tentu tidak baik untuk masa depan anak itu.
"Nanti, nanti ayahmu akan pulang, kalau kamu sudah bisa bela diri" kata Ki Soma asal jawab dan dia sendiri bingung mau menjawab apa kepada anak kecil yang baru berumur empat tahun.
Kakek tua itu kegirangan dan menggendong cucunya itu dengan manja, berkeliling di halaman padepokan. Angin beraura negatif kembali berhembus kencang menerbangkan janggut putih yang terjuntai ke bawah. Mata tajam Ki Soma melirik ke arah tenggara tepat dari arah datang tiupan angin. Dengan cepat firasatnya mengirim sinyal bahaya, seolah memberi tahu kalau ada hal buruk yang akan terjadi.
"Baik kek" kata Satria dengan polos mengikuti arahan kakeknya itu dan berlari menuju kamar ibunya.
Ki Soma keluar dari pondok dengan keris Pusaka Ki Pancar Geni yang digenggam erat di tangan kanan. Langkah ringan secepat kilat menerobos memasuki area depan padepokan. Para murid padepokan yang menyadari hal itu sudah bersiaga menunggu perintah dari Ki Soma.
Tiba-tiba terdengar tawa yang menggelegar dari arah tenggara padepokan. Angin bertiup bergelombang tiada henti seperti badai yang akan segera menerjang.
"HaHaHa" suara itu terdengar lagi namun tidak menampakan wujud, seolah-olah mereka itu tembus pandang.
Para murid di padepokan itu mulai ada yang merasa cemas dan bergidik menyaksikan keanehan itu. Hanya Ki Soma yang masih tegak menantang di garis depan.
"HaHaHa, Hai kau Soma serahkan anak itu, kalau tidak kau akan aku bunuh" suara itu jelas di dengar oleh semua penghuni padepokan. Suara tanpa wujud rupa itu menantang Ki Soma, jelas pasti akan ada pertarungan hebat lagi. Semua murid berharap-harap cemas sambil siaga di belakang guru mereka.
"Hai kau, berani sekali kau menantang diriku. Jangan harap aku akan memberikan anak itu padamu" jawab Ki Soma geram menghadapi tantangan itu. Wajahnya kian geram dengan guratan-guratan di dahinya dan juga keringat yang mulai menetes di sekujur tubuh, menandakan musuh kali ini lebih berat. Pancaran tenaga dalam yang kuat dengan aura negatif menandakan musuh dari golongan hitam yang levelnya tinggi.
"HaHaHa" orang itu kembali tertawa ringan.
__ADS_1
"Benarkah seperti itu? Maka hadapi aku Soma" teriak orang tanpa wujud itu.
"Bersiaplah!" Seru kakek itu kepada muridnya.
Ki Soma memasang kuda-kuda dan memusatkan tenaga dalamnya. Keris Ki Pancar Geni mulai mengeluarkan cahaya merah dan bergetar seiring tenaga dalam Ki Soma yang mengalir ke tangannya.
"Duuuaaarrr. Duuuuaaarrrr. Duuuaaarrrr".
Tiga kali dentuman keras terdengar dan mengejutkan seisi padepokan. Suara keras dan terdengar hingga keluar padepokan. Seketika dedaunan menjadi layu bak tersambar petir. Semua murid padepokan mundur beberapa langkah dan menjadi ciut. Mereka tahu jika menyerang sekarang maka nyawa mereka akan melayang. Tak ada yang berani bersuara, mereka terdiam dan menelan ludah mereka sendiri.
Ki Soma terpental dua meter ke belakang namun masih bisa menguasai diri agar tidak jatuh. Kakek itu memejamkan matanya lalu mengambil nafas panjang lalu menghembuskan ke atas. Nafas Ki Soma mulai teratur lagi.
Dari sebuah pusaran angin hitam, tiba-tiba keluar Ki Bayu Ireng dengan sejumlah anak buahnya. Mereka sudah siap untuk berperang.
"HaHaHa" "Soma menyerahlah, kau tidak akan menang dariku" pekik orang itu dengan sombongnya.
"Tidak akan" jawab Ki Soma pendek.
"Dasar kakek tua, enyah dari muka bumi ini" kata Ki Bayu Ireng melesat secepat kilat.
"Semuanya berhati-hatilah, mereka dari perguruan ilmu hitam" kata Ki Soma memperingati anak buahnya. Seraya kakek itu melesat ke udara dengan cepat. Tubuhnya ringan bagai kapas yang membuatnya bertahan lama di udara.
Ki Bayu Ireng memanggil pusaka saktinya yang bernama Ki Waja Ireng. Keris ini mengeluarkan aura hitam di sekujur tubuh Ki Bayu Ireng dan mampu menembus tameng besi. Aura hitam itu semakin lama semakin besar menyerupai api hitam mengikuti aliran tenaga dalam penggunanya yang besar.
Mereka adu ketangkasan di udara selama beberapa detik saling tebas dan saling tusuk.
"Tringggg. Trinnngggg. Tringggg" suara keris pusaka itu saling beradu.
Di bawah semua pasukan hanya bisa menganga melihat pertunjukan yang disajikan oleh kedua master bela diri itu. Mereka tidak ada yang berani mendekat apalagi ikut campur, bisa-bisa mereka akan mati konyol. Kilatan petir dan angin terus mewarnai pertarungan itu. Asap hitam pekat terus mengepul dan membentuk awan gelap di angkasa seolah-olah mendung telah terjadi.
Pertarungan yang menghabiskan banyak tenaga dan emosi itu berlangsung singkat, kedua petarung itu sama-sama mengeluarkan jurus andalah mereka. Mereka berdua memasang kuda-kuda yang kuat serta memfokuskan aliran tenaga dalam di ujung keris.
"Duuuuaaaarrrrr".
Lagi-lagi sebuah ledakan besar yang mengguncang seisi padepokan dan sekitarnya terjadi. Bahkan beberapa pohon besar roboh seketika. Kedua petarung tangguh itu terpental dan jatuh berguling-guling. Ki Soma masih bisa mengontrol diri dan mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Melihat kejadian itu Ki Bayu Ireng segera dilarikan oleh anak buahnya. Mereka menghilang diantara pekatnya pusaran angin itu.
__ADS_1
Nampaknya Ki Soma selamat dari maut, lukanya tidak separah Ki Pasupati kemarin. Para muridnya segera memapah Ki Soma masuk rumah. Beberapa orang mengobati luka di sekujur tubuh renta itu.