
Pertemuan dengan sang raja hari itu berakhir dengan sebuah rasa penyesalan di hati Aswina. Dia merenungi kepergian Aswenda dengan luka yang dalam di hati. Semalaman Aswina menahan kantuk hanya untuk memandang langit yang kelam. Suara teriakan hinaan dan cacian dari teman-temannya masih terngiang di kupingnya. Rasa malu, perih dan benci menyelimuti hati saat itu.
Di tengah gelapnya malam, Aswina melirik ke arah samping tepat di depan pintu pagar rumahnya. Ada sosok pemuda sebaya yang memperhatikan tingkahnya pada malam itu. Melihat itu Aswina seolah tak peduli, "kau rupanya Pasupati". Kalimat itu terdengar begitu pelan di telinga Pasupati.
"Iya. Ini aku, Pasupati".
"Tumben kau repot-repot datang kemari", ujar Aswina yang masih sibuk memandangi langit tanpa tahu Pasupati telah duduk di samping.
"Aswina, ada hal janggal yang ingin aku ceritakan padamu", kata Pasupati sambil duduk santai ikut menikmati pemandangan langit malam itu yang begitu kelam.
Aswina menoleh dengan rasa penasaran. Dahinya mengkerut seakan ada hal serius yang temannya akan sampaikan. "Cepat katakan!!!" jawab Aswina pendek.
Pasupati menatap wajah rekannya itu penuh serius. Pemuda itu menarik nafas panjang sebelum memulai percakapan malam itu. "Tentang kematian Aswenda, menurut penglihatan kedua mataku cukup aneh". Pasupati menghentikan kata-katanya saat melihat air mata Aswina berjatuhan dengan deras. Dia tidak tega melihat sahabatnya menangis sedih seperti itu. "Maafkan aku, kalau kata-kataku tadi membuatmu sedih", kata Pasupati lagi.
Aswina berusaha menyeka setiap tetes air matanya. Dia tidak mau terlihat lemah di depan orang lain. "Tidak, kau memang benar. Memang terasa aneh". Aswina berusaha menenangkan gejolak emosi dan kesedihan di dalam dirinya.
"Aswina, fakta apa lagi yang kau tahu?" Pasupati mulai curiga dan berusaha menguak misteri kematian Aswenda.
Aswina pun mulai tenang dan menceritakan semua yang dia tahu saat kejadian. Saat dimana Aswenda seolah-olah dibantai siluman serigala. Kedua pemuda itu saling memberi informasi hingga jalan terang mulai ditemukan.
"Pasupati, pedang ini buktinya. Dari sekian banyak siluman serigala kemarin, hanya yang menyerang Aswenda yang menggunakan pedang ini", ujar Aswina seraya menunjukkan sebilah pedang yang sempat menancap di tubuh Aswenda.
Pasupati melihat pedang itu dengan teliti. Hampir setiap jengkal dari pedang itu di periksa dan di cocokkan. "Tidak salah lagi. Ini mirip dengan punya dia".
Aswina dan Pasupati mulai mengerti siapa yang ada di balik semua ini. Mereka sepakat untuk bekerja sama mengungkap dalang dari kematian Aswenda.
__ADS_1
Waktu terus berlalu menghampiri setiap jenis kehidupan di bumi ini. Semua tumbuh dan berproses mengikuti hukum alam yang tidak dapat dihindari. Layaknya roda yang berputar merubah setiap posisi yang ada. Dari yang berjaya di atas lalu tiba-tiba jatuh ke posisi paling bawah. Begitulah Aswina, kini dia terpuruk dalam lembah paling bawah. Posisi sulit yang menjebak hidupnya.
Ketika itu berita yang sangat gawat mulai berhembus ke semua pengawal raja. Semua tabib istana terkemuka dengan wajah tegang memasuki ruangan. Aswina secara tak sengaja ikut masuk dan menyaksikan kondisi kesehatan sang prabu. Dengan kedua matanya dia melihat sang raja tak berdaya digerogoti penyakit. Semua tabib istana yang sudah kenyang pengalaman angkat tangan atas penyakit yang diderita sang prabu.
Raja yang dikenal bijaksana ini terkapar tak berdaya di atas pembaringan. Wajah kering dengan luka borok penuh nanah dari bekas luka tempo hari. Badannya kurus dengan nafas yang mulai tersengal. Rasanya kecil kemungkinan beliau akan sembuh.
Sang raja mencoba bangun dan berbicara terbata-bata, "Semuanya, barang siapa yang bisa menyembuhkan diriku, akan aku kasi imbalan yang setimpal". Begitu sabda sang raja seraya lemas dan tak sadarkan diri.
Semua nampak panik dan mulai menyebarkan sabda sang raja itu ke seluruh negeri. Mulai dari sudut kota hingga ke desa terpencil semua tabib datang berduyun-duyun. Namun hasilnya masih saja nihil. Sang raja agung masih tak sadarkan diri. Malah borok lukanya makin parah hampir menghabisi seluruh lengan atas.
Di pendopo rumahnya, Aswina sedang diskusi serius dengan Pasupati. Dari sorot mata mereka, sepertinya sedang dalam situasi genting.
"Bagaimana pendapatmu Pasupati?" tanya Aswina kepada kawannya itu.
"Masalah itu sudah aku putuskan. Aku merasa gagal melindungi temanku. Aswenda terbunuh tepat di depan mataku. Dan sekarang aku tak mau lagi kehilangan yang lain", ujar Aswina sambil mengenang kepergian Aswenda.
"Maksud kau akan.....?" Pasupati terdiam dalam kebingungan dengan jawaban Aswina.
Aswina tersenyum, "Benar, mulai sekarang aku akan belajar ilmu pengobatan dan akan menjadi masternya ilmu pengobatan".
Aswina kembali menatap Pasupati yang tidak bisa mengucapkan kata-kata lagi mendengar pilihan hidup Aswina. "Aku akan menjadi tabib terhebat, sekaligus menjadi pendekar. Aku akan melindungi teman-teman dan kau Pasupati. Aku takkan membiarkan temanku sakit bahkan sampai meninggal".
Pasupati tersenyum melihat semangat dan keseriusan Aswina. Dia berdiri lalu menepuk pundak Aswina sembari memberi semangat. "Baiklah aku mengerti, aku akan menyelidiki dalang pembantaian Aswenda, sementara kau pergilah mencari ilmu pengobatan itu".
Aswina begitu gembira mendengar perkataan temannya. "Aku ucapakan terima kasih atas bantuannya, aku akan kembali. Yang pertama, akan aku sembuhkan sang raja".
__ADS_1
Kedua sahabat itu akhirnya berpisah menuju jalan mereka masing-masing. Aswina segera bersiap menuju sebuah puncak bukit di tepi barat. Puncak bukit Tamba Waras namanya tempat para penekun ilmu pengobatan menimba ilmu.
Menjelang sore Aswina telah sampai di atas puncak bukit yang di maksud. Dia melepaskan lelahnya sejenak sambil mengamati tempat itu. Puncak bukit yang cukup landai dengan pemandangan yang indah dan sunyi. Sesekali suara burung berkicau di tengah rerimbunan pohon. Angin berhembus memecahkan keheningan serta membawa kesejukan di sekujur tubuh Aswina.
Matahari mulai meredup di sisi barat dengan cahaya lembayung di hiasi awan sore. Pemandangan yang indah membuat Aswina bersemangat memulai tapa brata semedinya. Berhari-hari lamanya pemuda itu menjalani tapa yang sangat berat. Dia tidak makan maupun minum. Pemuda itu mengekang semua hawa nafsu yang ada dalam pikirannya.
Tubuh Aswina mulai kurus menyisakan tulang belulang yang membentuk jasad. Dia tidak bergerak sama sekali, walaupun terkena panas matahari maupun dinginnya air hujan. Matanya tetap terpejam memuja Sang Maha Kuasa.
Waktu kian berlalu, entah berapa hari sudah Aswina dalam kondisi seperti itu. Di tengah malam yang damai penuh dengan cahaya rembulan, sebuah sosok cahaya terang mendekatinya.
"Aswina, bangunlah. Buka matamu!" seru suara itu dengan lembut.
Mendengar suara seperti itu, Aswina perlahan membuka mata. "Mohon ampuni hamba, hamba tidak bermaksud mengganggu".
"Aswina, aku adalah Dewa Pengobatan. Aku berkenan turun ke dunia ini berkat keteguhan hatimu dalam bertapa. Nah, katakan apa yang kau inginkan?" sabda dewa itu dengan pancaran cahaya terang di sekujur tubuhnya.
Aswina segera menunduk dan menyembah kepada Dewa Pengobatan itu. "Hamba ingin menyembuhkan raja kami yang sedang sakit. Mohon tolong hamba dengan segala pengetahuan Paduka Dewa di bidang ilmu pengobatan".
"Aswina, aku akan menganugerahkan sebuah kitab suci pengobatan kepadamu, simpanlah baik-baik. Aku juga akan memberimu pengetahuan suci tentang semua penyakit dan obat-obatan. Mendekatlah kau ke sini Aswina", seru Dewa Pengobatan seraya menyerahkan sebuah kitab kepada Aswina.
Aswina segera mendekat lalu menundukkan kepalanya di hadapan Dewa Pengobatan. Tangan dewa yang suci itu mengeluarkan cahaya menyilaukan mata. Cahaya itu bergerak masuk melalui ubun-ubun Aswina yang tertutup kain ikat kepala.
Selang beberapa menit, cahaya itu menghilang. "Aswina, gunakan semua pengetahuan suci ini dengan bijaksana. Aku mempercayakannya padamu". Dewa Pengobatan segera menghilang tanpa bekas meninggalkan Aswina yang terbengong dengan semua kejadian tadi. Sebuah kitab suci segera ia masukkan ke dalam bajunya.
Aswina masih merasa aneh dengan kepalanya. Dia merasa mengetahui semua penyakit dan obatnya. Dia berjalan pelan di tengah dinginnya malam menuju istana untuk menyembuhkan sang raja.
__ADS_1