Kisah Pendekar Ramalan

Kisah Pendekar Ramalan
Takdir Kehidupan


__ADS_3

Suasana tegang masih terasa di Padepokan Kencana Pasupati. Ranting pohon hangus terbakar berserakan menghiasi halaman. Serpihan atap dan dinding rumah tercecer di mana-mana.


Ki Soma masuk bergegas ke dalam rumah menemui Satria memastikan anak itu baik-baik saja. Nafasnya masih tersengal dan tubuh yang renta itu keletihan seusai menghadapi pertempuran hebat. Kakek itu masuk dan mengetuk pintu ruangan di sebelahnya.


"tok,tok,tok"


"Ni Dewi, bukalah pintunya, semua sudah aman" seru Ki Soma dari luar setengah berteriak.


Dewi Kembang yang sedari tadi berada dalam kamar terlihat masih takut sambil memeluk Satria sang anak. Dia terlihat ragu untuk membuka pintu. Ada rasa curiga yang menggangu di dalam kepalanya sehingga menghalangi niatnya untuk membuka pintu. Wanita paruh baya itu memeluk erat dan tidak mengijinkan Satria membuka pintu.


"Ni Dewi cepat buka, ini aku ayahmu" teriak Ki Soma dari luar pintu. Dari wajahnya terlihat dia sangat cemas dan khawatir. Pikiran-pikiran yang buruk mulai melintas di kepalanya, namun segera dia usir jauh. Setelah begitu, kakek itu mulai tak sabaran. Dengan sedikit tenaga dalam yang tersisa dia membuka paksa pintu kamar yang di gembok menantunya itu.


"Brruakk".


Gembok kayu yang menyegel pintu dari dalam itu patah dan berjatuhan. Ki Soma merangsek masuk dan segera mendapati Dewi Kembang sedang memeluk anaknya.


"Ni Dewi, kau tidak apa-apa anakku?" tanya Ki Soma dengan nada tergesa-gesa sambil memeriksa keadaan.


"Tidak, aku hanya takut ayah" jawab Dewi kembang sambil menangis ketakutan.


Melihat keadaan yang seperti itu, Satria ikut menangis terisak di pelukan ibunya. Air matanya menetes jatuh dan membasahi kain tipis yang membalut tubuh Dewi Kembang. Ki Soma terduduk pasrah di sebuah kursi kayu dengan tatapan kosong dan wajah yang letih. Kakek itu menarik nafas panjang lalu menghembuskannya ke udara.


"Sepertinya Satria harus pergi dari sini, anak ini harus kita amankan dan jauh dari padepokan" kata Ki Soma sambil menatap wajah anak dan cucunya.


"Ayah, mau di bawa ke mana Satria?" tanya Dewi Kembang seraya memeluk anaknya dengan isak tangis yang mendalam.


"Ni Dewi, Satria akan aku latih menjadi seorang pendekar di tempat rahasia, agar dia bisa melindungi dirinya sendiri" jawab Ki Soma sambil mengelus janggut putihnya yang panjang.


"Ayah, berarti aku akan berpisah dengan Satri? Tidak ayah, Satria masih kecil, dia butuh kasih sayang dari ibunya" kata Dewi Kembang yang tidak setuju dengan ayahnya.

__ADS_1


"Jika anak ini terus disini, maka dia akan menjadi incaran para penekun ilmu hitam dan siluman. Akan banyak siluman ataupun orang jahat yang akan menyerang dan mengincar Satria" pekik Ki Soma yang tidak ingin cucunya itu menjadi incaran orang-orang jahat. Ki Soma juga memikirkan orang-orang di padepokan yang akan menjadi korban bila ada yang menyerang.


"Ayah, kenapa ayah seperti ini? Aku belum siap dan belum rela kalau Satria harus pergi" Dewi Kembang menangis sejadi-jadinya memikirkan nasibnya yang akan berpisah dengan Satria. Tetesan air matanya membasahi pipi dan membuat suasana sedih di padepokan itu.


"Ni Dewi, ayah berjanji akan menjaganya, karena dia anak yang istimewa pemberian Dewata, sudah saat aku harus melatihnya" kembali Ki Soma meyakinkan anaknya itu.


"Jangan ayah, jangan bawa Satria" tangisan anaknya kembali histeris membelah siang itu. Dewi kembang memeluk erat dan menjauhkan dari jangkauan ayahnya. Dia terus menangis dan menolak semua ide ayahnya.


Ki Soma mulai kebingungan dan patah arang saat membujuk anaknya yang keras kepala. Dia melangkah keluar rumah sekedar menarik nafas dan menikmati udara bebas. Dia melihat langit yang nampak biru dihiasi awan putih.


Dia teringat bagaimana dulu ia di tempa dan dilatih dengan keras di tempat itu. Tanpa merasakan kasih sayang orang tua. Hingga anaknya lahir dia tidak berniat untuk melatihnya menjadi pendekar. Dari raut wajahnya terlihat dia nampak menyesali perbuatannya. Sekarang dia hanya bisa menyaksikan putrinya tumbuh menjadi anak manja. Air mata mulai mengalir di sela-sela keriput kulit matanya.


Lama Ki Soma merenung menatap ke depan dengan wajah sendu. Ia di kejutkan dengan suara yang lemah memanggilnya. Samar-samar terdengar kencang dari arah pintu gerbang padepokan. Dua orang dengan gerakan lincah masuk menyelinap melewati beberapa penjaga tanpa terdeteksi. Sungguh ilmu yang luar biasa. Belum sempat Ki Soma hilang takjub, orang itu telah berlutut di depannya.


"Ampun tuan, kami memohon maaf telah menggangu Anda, masuk dengan menyelinap di kediaman tuan" kata salah seorang dari mereka. Mereka memakai baju hitam dan wajahnya agak tertutup nyaris tidak kelihatan. Ki Soma heran dengan kedatangan mereka.


"Tuan-tuan sekalian, siapakah tuan gerangan dan apa tujuan tuan-tuan datang kemari?" tanya Ki Soma keheranan.


Ki Soma segera menerima surat tersebut dan mengantar mereka menemui Ki Pasupati. Mereka bergegas masuk mengikuti Ki Soma dari belakang. Di tempat itu Ki Pasupati duduk di temani Dewi Kembang dan Satria.


"Kakang, ada surat dari Prayudha untuk kakang, sepertinya ada pesan penting" Ki Soma lalu menyerahkan sepucuk surat itu kepada Ki Pasupati.


Dengan tenang Ki Pasupati membacanya dan mengangguk-angguk tanda sudah jelas.


"Sampaikan kepada Prayudha, pesan ini telah diterima dengan baik" kata Ki Pasupati dan mempersilakan orang itu pergi.


Mereka terdiam sesaat dalam lamunan entah apa yang mereka pikirkan sehingga mereka terbengong dan melihat putri raja yang di tinggal di padepokan.


"Ibu, ibu ada apa dengan ayah, kenapa dia mengirim surat?" tanya Satria penuh penasaran.

__ADS_1


"Ayahmu baik-baik saja nak" jawab Dewi Kembang menenangkan Satria.


"Lalu ini siapa Bu?" tanya Satria lagi sambil menunjuk anak perempuan kecil di sebelah Ki Soma.


"Oooo, itu teman baru kamu nak" kata ibunya asal menjawab.


Ki Soma mendekati Ki Pasupati dan mengajaknya berbicara empat mata. Sementara putri raja itu masih di rahasiakan dan di amankan di kamar Dewi Kembang.


"Kakang, sudah saatnya saya harus melatih Satria di tempat itu. Keadaan sudah sangat genting kakang, kita harus mewujudkan ramalan itu" kata Ki Soma mengawali perbincangan.


"Kakang Soma, dengan keadaan yang mendesak seperti ini, aku setuju dengan usul kakang. Tapi dalam surat itu kita juga di suruh menjaga putri raja", jawab Ki Pasupati.


"Kakang bisa menjaga putri itu disini bukan?" tanya Ki Soma.


"Tentu tidak semudah yang kau bayangkan Kakang Soma, putri itu sama halnya dengan Satria" tukas Ki Pasupati.


"Apa maksud kakang?" Ki Soma bertanya dalam kebingungan.


"Kakang, putri raja itu di incar oleh banyak musuh, kalau dia di sini, maka akan menyulitkan aku" jawab Ki Pasupati.


Ki Soma mengangguk, dia sudah mengerti apa yang harus dia lakukan. Mereka berdua bergegas masuk ke dalam kamar Dewi Kembang dan melakukan diskusi di sana.


"Ni Dewi, kami berdua telah memutuskan untuk melatih Satria mulai besok" Ki Pasupati meminta ijin kepada menantunya.


Mendengar hal itu, tentu saja Dewi Kembang menjadi tidak setuju dengan wajah yang cemberut. Dia menatap ayah dan mertuanya dengan tidak senang.


"Bagaimana tanggapan mu, Ni Dewi?" Ki Soma kembali bertanya kepada wanita keras kepala itu.


"Kalau ayah memaksa, aku akan ikut" jawab Dewi Kembang sinis memaksa ikut.

__ADS_1


Ki Pasupati dan Ki Soma saling bertatapan dengan wajah pasrah melihat sikap Dewi Kembang yang keras kepala. Mereka mengerti itu semua dia lakukan karena menyayangi dan mencintai Satria. Apapun pasti akan di lakukan agar Satria tidak sampai jatuh ke tangan orang-orang jahat.


Sementara itu, di wilayah perbatasan kerajaan Singa Mandala sudah mulai ada pertempuran-pertempuran kecil. Prayudha sebagai Patih yang memimpin pasukan darat dan laut berada di garis depan. Dia terlihat tidak gentar sedikit pun dengan lawan.


__ADS_2