
Hari itu juga, ketika matahari tepat menyinari ubun-ubun Ki Aswina menyiapkan segalanya. Kakek tua dengan janggut putih itu sibuk meracik berbagai jenis bahan yang telah dibeli di pasar. Dia terlihat telaten memilih dan memilah berbagai jenis biji-bijian dan dedaunan yang sulit dimengerti oleh orang awam. Sedangkan Satria diminta khusus menemani dan melayani kakek itu saat pengobatan berlangsung.
Satria tidak begitu tertarik dengan ilmu pengobatan, dengan wajah sedikit keberatan dia memperhatikan tangan lincah sang kakek. Jari-jemari tua itu mengambil bahan obat satu demi satu. Semua di ulek hingga halus dan mengeluarkan bau yang sangat khas.
Melihat Satria yang melongok dengan muka yang malas, Ki Aswina mengernyitkan keningnya. Dia sudah membaca pikiran anak muda itu.
"Hai Satria, kenapa kau memasang wajah malas seperti itu?" tanya Ki Aswina mencoba menguliti pikiran anak muda itu.
Mendapat pertanyaan yang seperti itu, Satria gelagapan dan tak bisa menyembunyikan ketidaktertarikannya kepada ilmu pengobatan. "Tidak...tidak apa-apa Kek, aku hanya....aku..", sahut Satria putus-putus sambil menyembunyikan perasaan malunya.
Sementara itu, tangan Ki Aswina masih sibuk mencampurkan beberapa bahan ke dalam ramuannya. Tangan kanannya mengambil madu dalam sebuah botol kuno yang sudah tua. Perlahan madu itu di campurkan ke dalam ramuan obat cair dalam gelas.
Belum selesai sampai di situ, kini tangannya sibuk meramu dan menghaluskan beberapa bahan obat. Dia terus memperhatikan Satria dengan sesekali melirik ke arah kiri.
"Satria, ambilkan kakek air putih itu. Cepat!!!" seru Ki Aswina dengan nada tegas agar Satria bergerak saat melihat pembuatan obat.
"Baik Kek", sahut Satria seraya bergegas mengambil satu gelas air putih di atas meja.
Mata Satria bergerak dengan cepat mengikuti irama pergerakan tangan Ki Aswina. Dia melihat bentuk obat kali berbeda. Obat kali ini menggunakan sedekit air dan berbentuk padat.
Ki Aswina melangkah mendekati pembaringan Ki Soma seraya duduk di tepian ranjang. Dengan pelan kakek itu membangunkan Ki Soma yang tergeletak lemah. "Soma bangunlah, minumlah obat ini agar kau cepat sembuh".
"Terima kasih Kakang", jawab Ki Soma pelan lalu meminum ramuan yang dibuat Ki Aswina.
Raut muka kakek itu meringis sambil meminum obat itu hingga habis. "Pahit sekali". Terlihat Ki Soma sepertinya memaksa rasa pahit itu masuk ke dalam perutnya.
Ki Aswina tertawa seketika mendengar kata rivalnya itu. "Ha ha ha ha. Dimana-mana semua obat itu rasanya memang pahit Kakang".
Satria terbengong melihat keakraban mereka. Dua orang kakek renta yang memiliki keperibadian yang berbeda. Yang satunya gila dengan ilmu pengobatan, sedangkan Ki Soma sang kakek sangat mengutamakan ilmu kerohanian. Memikirkan hal itu membuat dahi pemuda itu sedikit berkerut.
__ADS_1
"Satria, bawa obat yang kau pegang itu kemari!" seru Ki Aswina sambil menunjuk Satria yang sedari tadi hanya melamun.
Mendengar teriakan yang begitu keras, Satria terbangun dari khayalnya lalu mendekati Ki Aswina. "Ini obatnya Kek", tangannya menyerahkan ramuan padat untuk luka luar Ki Soma.
Dengan obat itu, Ki Aswina mengolesi beberapa luka sobek di dada dan wajah Ki Soma. Luka-luka yang cukup lebar dan menganga di seluruh tubuh bagai tersayat puluhan benda tajam. Wajah keriput itu kembali meringis dengan mata yang terpejam. Rasa perih dan sakit menusuk tulang Ki Soma.
Di atas ranjang itu, Ki Soma menggeliat menahan perih yang di rasakan tubuhnya. Melihat kondisi itu, Ki Aswina menghentikan gerakan tangannya. "Satria pegang kakekmu dengan kuat!!!" teriak Ki Aswina kepada Satria.
"Baik Kek", Satria segera bertindak dan menahan bagian lengan dan kaki Ki Soma. Dalam keadaan terkekang, Ki Soma sulit bergerak apalagi meronta.
Saat keadaan Ki Soma telah tenang, tangan Ki Aswina kembali bergerak mengolesi seluruh luka dengan obat. Bahkan kali ini menggunakan sedikit tenaga dalam. Beberapa mantra pengobatan mulai dilafalkan untuk mempercepat penyembuhan.
"Aaaaarrrrrrrggggggghhhhhhh".
Begitulah teriakan Ki Soma beberapa kali menahan sakit yang di derita tubuhnya. Bahkan tubuh kakek ini menggigil seperti dalam keadaan kedinginan. Namun Ki Aswina semakin menambah hentakan tenaga dalamnya. Dorongan hangat itu mulai menjalar ke tubuh membuat Ki Soma tak sadarkan diri.
"Hai, apa yang kau lakukan? Kenapa kakek malah seperti ini?" teriak Satria sambil mendekati Ki Aswina dengan sorot mata yang marah.
Melihat ekspresi Satria seperti itu, Ki Aswina hanya tersenyum sinis. Dia secara santai menanggapi ocehan anak ingusan itu.
"Tenang, Ki Soma tidak akan mati. Dia hanya pingsan", sahut Ki Aswina sambil berdiri lulu berjalan mendekati kursi kayu di pojok ruangan.
"Awas, jika sampai kakekku kenapa-kenapa, tidak akan aku maafkan kau", kata Satria marah sambil mempelototi Ki Aswina.
Ki Aswina lagi-lagi tersenyum sinis sembari menyeruput secangkir kopi yang dihidangkan oleh Dewi Sekarwangi. "Kau jangan macam-macam anak muda. Beranikah kau bertaruh denganku?" kata Ki Aswina sambil meletakkan secangkir kopi di hadapannya.
Kakek merasa bosan mendengar ocehan dari anak kemarin sore yang tidak sabaran. Dia berharap dengan taruhan ini Satria bisa dia untuk sesaat agar telinganya bisa beristirahat.
Satria terbengong sejenak, seraya menebak apa isi pikiran kakek itu. "Bertaruh apa?", tanya Satria menantang dengan congkaknya.
__ADS_1
"Jika aku gagal mengobati Ki Soma, maka aku akan berhenti menjadi tabib, tapi jika aku berhasil maka kau harus rela menjadi muridku", ujar Ki Aswina mengajukan taruhan.
Satria yang kepalang emosi segera menyetujui taruhan itu. "Baik aku setuju", jawab Satria tanpa pikir panjang lagi.
Detik-detik berlalu hingga mentari mengintip di ufuk barat. Cahaya jingga yang mulai meredup menghiasi sore itu. Satria masih belum bisa tenang, dengan raut muka yang cemas dengan keadaan Ki Soma. Dia bolak-balik masuk ke kamar hanya melihat keadaan sang kakek.
Di pojok ruangan itu, Ki Aswina masih duduk dengan santainya sambil menikmati kopi yang sudah dingin. Dia tersenyum melihat anak ingusan yang ada di depan matanya. Wajahnya kusut di penuhi rasa was-was yang tinggi.
Melihat matahari yang hampir tenggelam di balik bukit, Ki Aswina bangun dari tempat duduknya. Dia berjalan mendekati Satria yang berada tidak jauh dari kamar Ki Soma.
"Satria, mari kita lihat keadaan Ki Soma. Apakah dia sudah bangun?" sapa Ki Aswina lalu berjalan pelan menemui Ki Soma.
Satria hanya melirik dengan tatapan jengkel ke arah orang tua itu. Tidak seperti biasanya Satria menunjukkan sifatnya, apalagi di depan orang tua. Dengan langkah berat dia ikut masuk mengikuti langkah Ki Aswina.
Di dalam kamar itu, betapa terkejut mata Satria menyaksikan keajaiban yang terjadi. Di atas pembaringan itu, mata Satria menyaksikan tubuh Ki Soma telah pulih kembali walaupun masih bantu untuk berdiri.
"Kakek", teriak Satria dengan keras menghampiri Ki Soma dengan raut wajah yang gembira. "Kakek, Kakek sudah sembuh?" Satria memeluk tubuh kakeknya tanpa rasa risih karena bekas luka.
Air mata segera mengalir membasahi setiap lekuk wajah Satria. Dia menangis haru menyaksikan kesembuhan yang dialami sang kakek. Di sisi lain, Ki Soma juga terharu bisa selamat dari maut yang hampir merenggut nyawanya. Dia pun membalas pelukan Satria cucunya yang dia sayangi.
Dewi Kembang dan Dewi Sekarwangi segera ikut memeluk sang kakek saking gembiranya. Mereka bersyukur kepada para Dewata yang menganugerahkan sebuah keajaiban kepada mereka. Begitu juga dengan Ki Aswina yang tersenyum puas dengan ilmu pengobatannya yang telah berhasil menyembuhkan rivalnya itu.
Malam yang bahagia dan mengharukan mereka lewati. Dewi Kembang sibuk mempersiapkan jamuan kepada Ki Aswina berkat jasanya Ki Soma telah sembuh. Meskipun luka luar dan luka dalam itu masih harus terus di pantau setiap hari.
Di meja makan, Ki Aswina melirik Satria yang berada tidak jauh dari tempat duduknya. Dia melihat anak itu terus saja menikmati makan malamnya tanpa ingat akan janjinya. Kakek itu terus memperhatikan Satria hingga nasi dipiring habis.
Suasana cukup nyaman untuk berdiskusi malam itu, karena beban mereka telah hilang. Ki Aswina pum membuka percakapan. "Baiklah Satria, melihat Ki Soma telah sembuh jadi kau akan menjadi muridku". Sontak semua orang di ruangan itu terkejut. Tak terkecuali Satria yang tiba-tiba tersedak.
Semua mata kini telah tertuju pada anak muda yang bernama Satria, akankah dia akan menyetujui permintaan Ki Aswina atau dia akan mengingkari janjinya.
__ADS_1