
Satria masih terlihat menyendiri sembari memandang langit yang jauh di sana. Sementara sang mentari mengintip di balik bukit dengan sinar emas kemerahan. Cahaya yang mulai meredup membawa suasana tenang di wajah pemuda itu. Kepalanya berat dengan setiap permasalahan yang dihadapi. Batin yang selalu mengarahkan langkah demi langkah untuk menjadi seorang pendekar yang hebat. Namun di tengah jalan harus mendapati dua arah yang berlawanan. Ada sebuah pilihan yang memaksa dirinya agar menekuni dunia pengobatan. Dia menarik nafas panjang mencoba mencari jalan yang terbaik bagi dirinya.
Dari kejauhan seorang kakek dengan seruling di pinggangnya, terus mengawasi dengan seksama. Ki Aswina merasakan beban anak muda itu. Dahinya mengkerut mencoba memposisikan dirinya pada anak itu. Kakek itu juga pernah berada di posisi yang sama, seraya memorinya terbang ke masa lalu.
Ketika itu Ki Aswina berada dalam pasukan elit pengawal raja terdahulu. Aswina seorang pendekar yang rajin pekerja keras dan baik hati. Oleh karena itu dia punya banyak teman dan selalu populer di kalangan prajurit lainnya. Aswina tak sedikitpun mempunyai pikiran negatif terhadap orang lain. Tapi tidak bagi orang lain, persaingan tetaplah persaingan dalam memperebutkan posisi.
Dalam suatu kesempatan Aswina muda dipercaya menjadi pemimpin peleton pengawal raja. Kala itu dia dengan gagah berani mengawal Prabu Kertawirya raja Kerajaan Panca Bumi yang termasyur. Saat itu, rombongan raja akan melakukan perburuan di hutan selatan.
Aswina menunggang kuda putih ditemani sahabatnya Aswenda yang juga mahir dalam bela diri dan pandai membaca situasi. Perjalanan mulai memasuki perbatasan hutan selatan, dengan pepohonan yang menjulang tinggi serta binatang buruan yang melimpah.
Namun tiba-tiba angin berhembus memberi isyarat buruk. Aswina merasakan ada sesuatu yang tidak baik mulai mendekat. Aswina memberi isyarat agar waspada.
"Aswenda, kau merasakannya?" Aswina meyakinkan perasaan hatinya kepada temannya itu.
"Dari arah Utara, ada sekitar seratus orang, bukan manusia tapi siluman", jawab Aswenda dengan nada ketakutan.
Semua pasukan mulai bersiap di posisi dengan segala senjata yang terhunus di tangannya.
"Mohon ampun paduka raja, hamba merasakan akan ada sesuatu yang buruk
Mohon Sang Prabu jangan keluar dari sini", kata Aswina sambil menyembah hormat kepada rajanya.
Mata sang raja juga ikut mengamati desingan angin yang tidak biasa. Ditambah suara burung juga menghilang dibalik pepohonan. "Lakukan tugasmu, Aswina!" perintah Prabu Kertawirya dengan nada tegas seolah dia tidak ingin mengalami kekalahan.
Aswina melangkah dengan cepat mengambil posisi di depan. Matanya terus mengamati pergerakan angin yang kian tidak bersahabat. Jantungnya mulai berdegup kencang diiringi keringat yang mengucur membasahi tubuh.
__ADS_1
Dia melirik ke arah belakang, "semua bersiap, musuh datang", pekik Aswina muda dengan berapi-api. Sebilah keris sakti bersiap ditangan dengan posisi siap menebas musuh. Ki Jagasatru nama keris warisan leluhurnya itu.
Tak lama setelah itu, tanah mulai bergetar disertai debu dari arah Utara. Segerombolan siluman serigala mengaum dan menggonggong bersiap menerkam sang raja. Aswina muda tidak membiarkan hal itu terjadi, dia melompat seraya menebas leher salah satu pasukan siluman itu.
Pertempuran hebat pun pecah ditengah-tengah lebatnya hutan. Semua pasukan beradu ketangkasan dan kesaktian. Mereka saling tendang saling pukul hingga beberapa dari mereka telah jatuh korban. Aswina yang kasian melihat korban dari pasukannya mulai berjatuhan meluncur ke arah depan. Aswina menyergap pimpinan siluman ganas itu. "Matilah kau, siluman", teriak Aswina seraya mengayunkan pusaka Ki Jagasatru. Namun sayang siluman itu menghindar.
"Berani sekali kau Aswina, awas kau!!!", geram siluman itu seraya memanggil pusaka saktinya berupa golok besar.
Aswina menghentikan sejenak serangannya seraya mengamati kekuatan siluman itu. "Hai, siapa kamu. Berani menyerang rombongan kami?" tanya Ki Aswina dengan geram dengan rahang yang mengeras.
Siluman itu malah tertawa dengan keras, "Ha ha ha, aku Ki Cambra Berag, aku pemimpin siluman serigala di hutan ini, akan aku membabat kalian semua!!!?"
"Aaaaaauuuuuuuuummmmmm".
Ki Cambra Berag mengaum dengan dahsyat membuat beberapa prajurit pengawal terpental ke belakang. "Daging raja kalian spesial, pasti lezat kalau dimakan", ujar Ki Cambra Berag dengan ludah yang menetes dari mulutnya.
Di sisi yang lain, terlihat sahabat Aswina bertarung habis-habisan. Aswenda dikepung sepuluh siluman dan terpojok di sebuah pohon besar. Dia nampak tak berdaya menghadapi serangan musuhnya. Tubuhnya mulai terhuyung dengan beberapa pukulan dan tendangan tepat mengarah ke dada dan perutnya. Rasa mual perih dan sesak memenuhi jiwanya. Mata pemuda itu mulai memudar dan kepalanya pusing. Belum puas dengan keadaan itu, rasa perih dan darah segar mengucur membuat pendekar itu lemas tak berdaya. Sebuah pedang tajam telah menancap di ulu hati. Para siluman itu bersorak gembira merayakan kemenangan.
Aswina terkesiap melihat Aswenda dibantai di depan mata kepala sendiri. Tanpa pikir panjang dia melesat dan menyerang pembantai Aswenda. Rasa marah sedih dan emosi menguasai otaknya. Air mata bercucuran menemani serangan yang membabi buta membuat hancur lebur setiap musuh yang mendekat. Namun Aswina lupa dengan tugas dan strategi yang telah dirancang.
Sementara Aswina sibuk di sisi lain, Ki Cambra Berag tak tertandingi di sisi depan. Dia berhasil membantai dua puluh prajurit pengawal yang menyerangnya. Dia terus melesat hingga berhadapan dengan Prabu Kertawirya.
Sang Prabu Kertawirya terkejut mendapati dirinya dikepung musuh. Dia mulai mengelak ke dalam pasukan di belakang. Namun naas, sebuah sabetan pedang golok Ki Cambra Berag berhasil mendarat di lengan sang prabu.
"Aaaauuuuuummmmmmmmm", Ki Cambra Berag mengaum sambil tertawa dengan riangnya. Siluman itu saling mengaum memberi isyarat kepada temannya. Target utama mereka telah terluka. "Ha ha ha ha, menyerahlah kau Kertawirya, kau sudah terluka", ujar Ki Cambra Berag sambil mengacungkan goloknya.
__ADS_1
Sang prabu bersimbah darah dan menggigil saking takutnya. Rasa perih dan ngilu yang luar biasa terasa di bagian lengannya. Matanya kian melotot melihat golok besar diayun kearahnya. Dia pasrah dalam ketakutan dengan mata yang terpejam.
"Tiiidddaaaakkkk", teriak salah seorang pengawal raja dengan cepat menangkis golok itu dengan sebuah keris pusaka.
Ki Pasupati dan Ki Soma muncul dari balik kereta dan menyerang Ki Cambra Berag. Ki Pasupati dan Ki Soma saat itu masih sebaya dengan Aswina muda dan menjadi peleton pengawal raja. Dua pemuda itu lalu bertarung mati-matian dengan pusaka terbaik. Tombak Ki Buru Semang di tangan Ki Pasupati muda dan keris Ki Pancar Geni di tangan Ki Soma muda.
Kilatan petir dan api menyala di setiap pertemuan senjata yang terjadi. Debu dan angin kian berhembus kencang. Bau amis darah yang mengucur mewarnai peperangan itu.
Di suatu titik tertentu, Ki Soma muda mampu menyudutkan musuhnya. "Matilah kau siluman", pekik pendekar itu seraya menebas punggung Ki Cambra Berag.
Siluman itu terhuyung dengan luka menganga di bagian punggung. Melihat musuh yang sudah tak berdaya, Ki Pasupati muda berlari dari arah belakang, "ini bagianku, musnahlah kau siluman!!!" Tombak Ki Buru Semang meluncur mulus dan menembus perut Ki Cambra Berag. Siluman itu musnah menjadi abu yang tak berbekas.
Sisa-sisa pasukan siluman itu lari terbirit-birit masuk ke dalam hutan. Mereka tak menyangka pimpinannya yang sakti mandraguna telah tewas. Di sisi lain, para pengawal raja senang bercampur duka. Sang Prabu Kertawirya yang terluka memutuskan kembali ke Kerajaan Panca Bumi dengan perasaan duka.
Di tempat lain, Aswina muda meratapi kepergian Aswenda teman terbaiknya. Dia begitu sedih melihat tubuh Aswenda yang mati dibantai secara sadis. Di saat hari pemakaman jenasah, Aswina sempat mengambil sebuah pedang yang masih menancap di tubuh Aswenda. Teriakan penghinaan dan cacian dari semua kalangan terus mengalir masuk ke telinga Aswina. Semua itu terus terjadi hingga Sang Prabu Kertawirya memanggil semua pengawal yang bertugas saat itu.
Di dalam ruangan yang penuh dengan Susana sedih, beberapa orang berkumpul. Sang Prabu Kertawirya berada di singgasana menatap satu demi satu pengawal yang tersisa. "Dengarlah para pengawal setiaku, aku mengumpulkan kalian disini untuk mengumumkan pergantian jabatan ketua pengawal raja yang baru".
Mendengar sabda raja seperti itu, wajah Aswina muda memerah dan merasa malu dengan kegagalannya kemarin. Dia menunduk dan tak berani mengangkat wajahnya. Di ruangan itu terlihat sisa pengawal raja masih sembilan belas orang. Hanya Aswina yang tidak berani menatap mata sang raja.
"Aswina, dari caramu memimpin kemarin sangat buruk, banyak jatuh korban di pihak kita. Untuk itu, kau akan digantikan oleh Kaladana", ucap sang prabu dengan jelas dan singkat.
"Baik paduka, hamba mengerti", sahut Aswina sambil menunduk dengan penuh rasa bersalah.
Semua mata tertuju pada Kaladana di barisan belakang yang tersenyum puas. Dengan tatapan mata yang penuh nafsu duniawi dia melangkah maju dan memberi hormat kepada raja. Ki Pasupati melihat keanehan yang terjadi di dalam tubuh organisasi yang menaungi mereka. Begitu juga Ki Soma yang kurang setuju dengan keputusan Sang Prabu Kertawirya.
__ADS_1
Aswina merelakan jabatannya dicopot dan berusaha berbesar hati mengakui kegagalannya. Namun matanya secara tak sengaja melihat pedang yang di bawa Kaladana saat itu mirip bentuk dengan yang menembus dada Aswenda hingga mati.