Kisah Pendekar Ramalan

Kisah Pendekar Ramalan
Melawan Begal


__ADS_3

Siang itu suasana makan menjadi sedikit tegang dengan sebuah tatapan tajam seorang kakek. Tidak ada tahu apa sebenarnya terjadi antara Ki Aswina dengan Ki Soma. Yang jelas mata Satria melihat sebuah rahasia yang sengaja di sembunyikan oleh Ki Aswina. Satria dengan teliti melihat perubahan raut wajah yang penuh guratan itu. Awalnya hanya guratan biasa yang menua akibat umur, namun kali ini jelas berubah dengan raut ketegangan.


Satria sempat melirik Dewi Sekarwangi yang agaknya menyadari hal itu. Tetapi dia sendiri tidak mengatakan apa-apa. Pemuda itu sekarang hanya bisa berdiam diri di hadapan meja makan. Selera makannya seketika menghilang, begitu melihat Ki Aswina bergegas mengemasi beberapa barang penting. Mata Satria dengan jelas melihat sebuah kitab pusaka di masukkan ke dalam lipatan bajunya. Dengan gerak cepat tangan yang keriput itu mengemasi beberapa benda aneh yang Satria tidak tahu.


Angin mulai berhembus pelan membelah suasana hening itu. Mata mereka kembali tertuju kepada Ki Aswina, yang sudah bersiap mau pergi dengan segala perlengkapan di tangan.


"Hai kalian berdua, bereskan semua barang kalian, kita harus cepat menemui Ki Soma", teriak Ki Aswina dengan wajah yang agak menegangkan.


"Baiklah, kami menyusul Kek", jawab Satria sambil bergegas mengemasi barang-barangnya.


Begitu juga dengan Dewi Sekarwangi, dia juga ikut berkemas tanpa rasa curiga sedikit pun. Mereka tidak menyadari kenapa kecurigaan itu seketika hilang begitu saja. Sejam kemudian semua telah bersiap untuk menuju tempat Ki Soma.


"Kita akan kemana Kek", tanya Satria di tengah-tengah keheningan perjalanan mereka.


Ki Aswina yang berada di depan menoleh Satria, "kita akan menuju kota, membeli beberapa bahan obat".


Satria hanya bisa mengangguk saja dan mengikuti Ki Aswina dari belakang. Mereka bertiga melalui perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan.


Setengah hari perjalanan, ketika matahari mulai agak meredup di ujung barat, tiga orang itu sampai di sebuah perkotaan yang ramai. Orang-orang di kota itu cukup ramah dengan senyum yang selalu mengalir dari bibir mereka. Selain itu mereka cukup sibuk dengan berbagai aktifitas mereka di sore hari. Seperti kebanyakan warga, mereka hidup dengan bertani dan beternak. Mereka pulang dari ladang sore hari membawa hasil panen dan ternak mereka.


Ketakjuban Satria berhenti ketika langkah mereka sampai di sebuah kedai tua tempat minum. Mereka bergegas masuk dan memesan sebuah tempat untuk istirahat.


"Pelayan, kami memesan minuman tiga dan makanan", kata Ki Aswina sembari duduk di sebuah meja kosong diikuti Satria dan Dewi Sekarwangi.


"Untuk minumannya apa tuan?" tanya pelayan paruh baya itu sambil mendekati Ki Aswina dengan nampan di tangannya.


"Terserah, yang penting enak diminum", jawab Ki Aswina pendek.


"Baik tuan, untuk makanannya apa tuan?" tanya pelayan itu lagi dengan senyuman di wajahnya.


Pertanyaan itu ternyata membuat Ki Aswina sedikit marah dan nadanya meninggi. "Terserah, yang penting enak untuk di makan". Sorot mata yang menyipit dan terlihat begitu emosi membuat pelayan itu ketakutan dan segera pergi membuat pesanan mereka.


Satria menoleh ke Dewi Sekarwangi yang melongok memandangi ekspresi Ki Aswina yang begitu marah. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya tanpa tau harus bilang apa.


"Kalian tetap di sini, aku mau membeli beberapa bahan obat", kata Ki Aswina kepada Satria dan Dewi Sekarwangi seraya bergegas keluar meninggalkan kedai.


Satria dan Dewi Sekarwangi hanya mengangguk dari tempat duduknya memandangi langkah Ki Aswina yang semakin menjauh dan hilang dari pandangan. Satria dan Dewi Sekarwangi melanjutkan istirahatnya sembari menikmati makanan dan minuman yang telah mereka pesan.

__ADS_1


"Dasar kakek yang aneh, bisa-bisanya dia meninggalkan kita di sini", gumam Dewi Sekarwangi sambil mengunyah makanan di mulutnya.


Satria menoleh dan sedikit tersenyum melihat ekspresi gadis itu yang sedikit kesal dengan ulah Ki Aswina. "Biarkan saja dia seperti itu, aku yakin dia bukan orang jahat", ujar Satria dengan santainya.


"Bagaimana kalau dia orang jahat, terus kita di culik dan disandera?" sahut Dewi Sekarwangi sedikit jengkel melihat Satria yang begitu santai.


"Kalau kakek itu macam-macam, kita lawan saja dia", jawab Satria lagi-lagi dengan nada yang santai dan tidak mau ambil pusing.


Jawaban enteng Satria membuat Dewi Sekarwangi sedikit kesal dan memalingkan wajahnya ke sudut kedai yang semakin ramai menjelang senja. Banyak warga yang singgah dan sekedar menikmati kopi hangat melepas lelah setelah bekerja sepanjang hari.


Senja hari di kedai itu cukup indah dengan sinar cahaya matahari sore yang merah keemasan. Dewi Sekarwangi sedikit mendongakkan wajahnya melihat keluar jendela. Sehingga cahaya indah itu menerpa kulitnya. Satria dengan wajahnya yang tampan melihat kejadian tersebut langsung merah. Dia terkesima melihat kecantikan gadis di depannya itu ditambah wajahnya yang cantik diterpa cahaya.


Lama mereka bengong terhanyut entah kemana, tiba-tiba pandangan mereka saling beradu. Mereka memasang wajah malu-malu dengan tatapan penuh cinta. Ada rasa yang mereka pendam di dalam hati, namun sulit mereka ungkapkan.


Secara cepat mereka memalingkan wajah lagi dengan senyuman penuh makna ketika kedua mata mereka saling memandang. Lalu mereka sama-sama menunduk menahan malu. Angin berhembus lembut dan menutup senja itu penuh keromantisan bagi Satria dan Dewi Sekarwangi.


Dari arah barat, terlihat beberapa warga berlarian menyelamatkan diri dan mengemasi barang-barangnya. Mata Satria terus memperhatikan hal itu dan berhenti mengunyah makanan. Dia berdiri mencoba mendekati seseorang yang datang ketakutan.


"Maaf Ki Sanak, ada apa? Kenapa berlari ketakutan seperti itu?" tanya Satria pada salah satu penduduk di sana.


Para penduduk itu datang tergesa-gesa dengan raut muka ketakutan dan nafasnya tersengal seperti di kejar hantu.


Hampir semua warga berlarian menjauh, meninggalkan beberapa prajurit penjaga yang menjaga keamanan di sana. Semua mata kini tertuju pada sekelompok begal yang datang dengan brutal. Semua dagangan dan ternak diambil paksa. Mereka berwajah sangar dengan kumis dan janggut yang menjuntai tak terurus. Mereka membunuh siapa saja yang berani melawan.


Satria mengamati sekitarnya, nampaknya para prajurit penjaga ketakutan untuk menghadang mereka. Situasi semakin genting ketika begal itu mencoba merampas harta dan ternak di sebuah rumah tak jauh dari Satria berdiri.


Wajah Satria menegang dan rahangnya mengeras menahan amarah dengan perlakuan para begal itu. Tanpa pikir panjang Satria langsung bertindak.


"Kau tetap di sini, aku akan melawan mereka", seru Satria kepada Dewi Sekarwangi seraya melesat menuju begal itu dengan kecepatan tinggi.


Dewi Sekarwangi yang ketakutan, tidak bisa bicara apapun selain membiarkan Satria maju ke medan tempur. Gadis itu cemas kalau-kalau nanti Satria akan mengamuk lagi. Namun tak ada yang bisa dia lakukan, selain pasrah dan membiarkan dia bertempur sambil menunggu Ki Aswina.


Satria dengan kekuatan tinggi maju dan menendang salah seorang begal itu hingga terjerembab di sebuah onggokan sampah sebelum pedangnya melukai penduduk yang tidak bersalah.


Para begal itu terkejut dan mulai geram dengan ulah Satria yang muncul tiba-tiba. Melihat yang datang adalah pendekar muda, pemimpin begal itu turun dari kudanya dan bersiap menyerang.


"Hai beraninya kau bocah, akan aku bunuh kau", ujar begal itu penuh amarah di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Dengan geram Satria menatap orang itu. "Cuuuuiiiihhh, kau tak lebih dari seorang pecundang yang beraninya hanya menindas orang lemah", pekik Satria dengan memasang kuda-kuda siap untuk menyerang.


Sedetik kemudian, halaman depan kedai itu pun menjadi ramai dengan suara pukulan, tendangan dan tangkisan. Satria menyerang dengan tendangan beruntun yang membuat begal itu terhuyung dan mundur sejenak.


Dengan menarik nafas panjang, pemimpin begal itu menguasai tubuhnya agar tidak terjatuh ke tanah. Dia lalu mengamati Satria yang begitu kuat dalam pertarungan tadi.


"Hai bocah, siapa kau ini sebenarnya?" tanya pemimpin begal itu lagi dengan nada yang sedikit penasaran.


"Tidak penting aku siapa, yang jelas pergi dari sini sekarang juga sebelum tanganku ini yang akan mengantarmu ke neraka", jawab Satria dengan geram mendengar ocehan pemimpin begal itu.


"Apa kau bilang? Dasar bocah ingusan", ujar pemimpin begal itu dan melesat menyerang Satria menggunakan sebuah pedang.


Satria yang melihat hal itu, segera bertindak cepat. Dia memusatkan semua tenaga dalamnya pada tangan kanannya. Kembali cakra emas keluar dan membungkus tangan Satria.


Satria bergerak maju dan menghindari sabetan pedang musuhnya. Dari sisi sebelah kiri Satria mendapat celah untuk menyerang.


"Brrruuuuuuuuk".


Tubuh tambun dari pemimpin begal itu ambruk menerjang tanah. Serangan fatal dari pukulan Satria itu cukup telak, hingga pria itu tewas beberapa detik kemudian. Melihat pemimpinnya tewas, para begal yang lain lari tunggang langgang menyelamatkan diri ke tengah hutan.


Suasana tegang mulai mencair diikuti oleh senyuman dan teriakan gembira dari warga sekitar. Mereka mengelu-elukan Satria sebagai Kesatria Emas. Warga yang melihat kejadian tadi begitu takjub dengan pancaran kekuatan Satria yang berwarna keemasan.


Satria melangkah dan mendekati salah satu warga yang berhasil diselamatkan. Mereka masih tampak ketakutan walaupun sedikit senyum mulai tampak di bibirnya.


"Mari bangun Ibu, jangan takut lagi", kata Satria memapah wanita paruh baya yang dia selamatkan.


"Terima kasih anak muda, siapa namamu?" tanya wanita itu dengan nada yang masih sedikit takut akibat serangan tadi.


"Panggil saja Satria", jawab Satria sembari melangkah meninggalkan wanita itu di pelukan suaminya.


Semua mata kini tertuju kepada sosok pemuda tampan dan gagah berani yang sedang berjalan di depan mereka. Sosok yang berkarisma dan penuh wibawa membuat wanita muda jatuh hati seketika.


Di sudut kedai tua itu, Dewi Sekarwangi menunggu Satria dengan was-was. Wajahnya akhirnya bisa tersenyum lagi setelah Satria datang tanpa mengamuk karena menahan kekuatan besar. Gadis itu melangkah berlari memeluk tubuh Satria dengan erat. Sedikit isak tangis mewarnai pelukan Dewi Sekarwangi.


"Kau selamat Satria, kau hebat", bisik Dewi Sekarwangi di telinga Satria.


"Aku pasti akan selamat, selama aku memegang teguh prinsip kebenaran", jawab Satria lantas membalas pelukan Dewi Sekarwangi.

__ADS_1


Sanjungan warga masih menggema ketika Ki Aswina kembali dan mendapati Satria dan Dewi Sekarwangi di tengah kerumunan penduduk desa. Dari raut mukanya dia begitu cemas dan memutuskan untuk segera membawa Satria pergi menjauh dari desa itu.


__ADS_2