Kisah Pendekar Ramalan

Kisah Pendekar Ramalan
Ekspansi ke Negeri Selatan


__ADS_3

Tersebutlah sebuah negara besar di seberang lautan yang di kelilingi pegunungan tinggi dan gurun pasir. Negeri yang hampir menguasai seperempat benua ini dipimpin oleh seorang kaisar yang amat sakti dan haus akan kekuasaan. Konon dulu negerinya sangat damai dan terbuka bagi semua orang sebelum akhirnya Khanjaya Diraja naik tahta dan memegang pimpinan. Semua negara besar ataupun kecil di serang dan di hancurkan bila menentang kehendak raja.


Siang itu raja Khanjaya sedang memimpin rapat besar semua jajaran menteri dan para pejabat hadir, tak terkecuali semua komandan pasukan perangnya. Dia duduk di atas singgasana, memperhatikan semua wajah yang hadir di ruangan itu. Sorot matanya tajam dan janggutnya yang panjang terjuntai ke bawah. Dia mentitahkan kepada semua yang hadir agar bersiap untuk ekspansi.


 


"Semua prajuritku dengarlah, besok kita akan menyerang negeri-negeri di selatan, aku ingin dalam sebulan negeri itu harus sudah takluk kepadaku", sabda sang raja penuh percaya diri di iringi dengan riuh tepuk tangan dari semua pejabat dan mentri serta prajurit yang hadir di sana.


Tidak ada yang berani menyangkal kehendak junjungannya itu, karena nyawa mereka taruhannya. Suka tidak suka mereka harus berperang. Bagi mereka mati di medan perang sebagai prajurit lebih mulia dari pada mati konyol di penjara.


Di sebuah kamar khusus terlihat tiga komandan pasukan yang ternama mulai menyiapkan taktik dan segala keperluan untuk perang. Semuanya terlihat sibuk dengan berbagai alat-alat dan senjata perang.


"Kakang Shingajaya, kita kekurangan bahan untuk senjata jarak jauh", kata Shingada melaporkan keadaan yang tidak mungkin untuk melanjutkan peperangan ke negeri selatan.


Shingajaya sebagai komandan tertinggi ekspansi ke selatan memutar otak dengan keras, rahangnya mengeras dan mencengkram kuas tinta di tangannya.


"BRUUUUUAAAAKK”.


Satu buah meja hancur terkena pukulan Shingajaya.


"Tidak mungkin, kalau begitu kita akan gawat", kata Shingajaya dengan tatapan tajam seperti pedang.


Wajah kusut penuh dengan ambisi mempelototi area ruangan. Semua tidak ada yang berani menatap, semua mata tertunduk ketika dia sedang dalam keadaan marah.


Mesapati mendekat ke arah depan sambil berjongkok minta ampun. Dia menundukkan kepalanya sampai menyentuh kaki Shingajaya.


"Ampun tuanku, jika ada yang harus salah, maka saya kan bertanggung jawab", kata Mesapati dan diikuti oleh Shingada.


Sesaat suasana tegang dalam ruangan itu menjadi hening, hanya desir angin dari balik jendela yang menerobos masuk. Melihat kemarahan Shingajaya tadi sepertinya kawanan semut pun berhenti bergerak. Bahkan suara jangkrik pun seketika hilang. Semua merasa takut dan cemas, karena ekspansi ke selatan mempertaruhkan harga diri mereka dan juga kenaikan jabatan.


Setelah cukup menunduk dan meminta maaf, Mesapati dan Shingada memberanikan diri berdiri perlahan sambil mundur setapak demi setapak. Mesapati yang sebagai komandan dengan keahlian mendapatkan informasi kelemahan lawan berusaha meyakinkan Shingajaya.

__ADS_1


"Mohon ampun tuan, mohon ijin saya berpendapat. Menurut info yang saya kumpulkan, negeri di selatan sudah terbelah menjadi lima negara kecil", jelas Mesapati kepada Shingajaya.


Shingajaya memperhatikan setiap ucapan yang dikelurkan oleh Mesapati dengan seksama.


"Tuanku, negara-negara kecil itu tak lebih dari sebuah kota disini, jadi saya rasa tidak perlu takut menghadapi mereka", sambung komandan itu yang sering di juluki sebagai komandan setan karena pergerakannya yang tidak bisa dilihat.


"Apa kamu yakin, Mesapati?" tanya Singajaya lagi dengan nada yang sedikit tidak percaya dengan bawahannya itu.


"Saya sangat yakin tuan", jawab Mesapati dengan tegas.


Komandan Singajaya merasa puas dan tersenyum dengan kinerja mata-matanya.


Dia mulai mengusap-usap janggut panjang yang menghiasi dagunya itu. Dia berjalan dengan membusungkan dada seakan dia sudah menang sebelum berperang.


"Aku akan memenangkan perang ini dan aku akan menjadi panglima tertinggi" pikirnya dalam hati.


"BRUUUUUAAAAKK".


Sekali lagi sebuah meja di pukul hingga hancur berkeping-keping seraya mengacungkan pedang pusakanya.


Persiapan dilakukan dengan cepat di bawah komando Singada dan Mesapati. Ribuan senjata dan meriam api diangkut di atas kapal-kapal perang yang telah berjejer di lautan itu. Tak terkecuali berton-ton bahan makanan juga ikut diangkut waktu itu. Dengan 500 kapal perang besar dan dan kapal kecil mereka berangkat menyeberangi laut selatan yang ganas.


Komandan Shingajaya berada di kapal utama beserta dua komandan bawahan yang ahli di bidang pelayaran. Penyerangan ke negeri selatan memang tidak main-main. Mereka membawa pasukan berkuda lengkap dan pasukan tempur jarak dekat dan jarak jauh.


Sementara itu Kerajaan Singa Mandala sedang bersuka cita dengan hadirnya sosok bayi perempuan. Permaisuri raja telah melahirkan bayi perempuan cantik. Mereka melakukan pesta besar hari itu. Sang raja terlihat sangat bahagia walaupun hanya di karuniai satu orang anak.


Setelah seminggu pesta itu di lakukan Prayudha kembali bertugas sesuai dengan kewajibannya. Dia terus memperkuat angkatan bersenjata dan benteng pertahanan dari serangan laut. Dia begitu gigih melatih prajuritnya agar bisa menjadi lebih kuat. Orang itu berpikir serangan musuh bisa terjadi kapan saja dan kita harus siap. Dia terus berkeliling sepanjang pantai dan melihat-lihat areal yang sedang di bangun benteng kuat.


Sebuah tanda dari seseorang membuat pria itu berhenti berjalan. Dia sempat menoleh kanan dan kiri, namun tak terlihat lalu ia melihat keatas. Prayudha merasa aneh dengan tingkah polah burung-burung itu, mereka terbang menjauhi Kerajaan Melaya. Sebuah kerajaan di Utara Gunung Pasupati.


Akhirnya sosok pria yang misterius itu menampakkan diri. Dia segera menyembah dengan hormat kepada Prayudha.

__ADS_1


"Mohon ampun tuan, ada pesan darurat yang harus sampaikan", kata orang itu masih dalam keadaan menyembah.


Prayudha dengan mata waspada terus memperhatikan keadaan sekitar.


"Cepat laporkan, situasi darurat apa yang telah terjadi!" seru Prayudha kepada mata-mata itu.


Prayudha memang telah menyebar beberapa telik sandi untuk mengamati pergerakan musuh sebelumnya.


"Ampun tuan, Kerajaan Melaya telah di serang oleh Kerajaan Khanta Pura dari seberang", jawab orang itu.


Seketika itu wajah dari Prayudha memerah dan tubuhnya menegang menghadap ke Utara. Matanya jauh memandang ke arah Utara dan membayangkan situasi di sana.


Prayudha mulai berpikir untuk menghadapi sebuah kemungkinan terburuk dari sebuah perang. Dia belum pernah menghadapi situasi perang selama dia menjabat sebagai Patih di kerajaan Singa Mandala. Keringat dingin mulai menetes dan membasahi tubuhnya. Jantungnya berdebar kencang bila harus membayangkan perang akan terjadi.


"Berapa lama dia akan sampai di sini?" tanya Prayudha sambil melirik dengan tajam. Dia sempat menarik nafas panjang dan menghembuskannya ke udara.


"Ampun tuan, itu tergantung dari kekuatan Kerajaan Melaya sampai kapan sanggup bertahan", jawab si mata-mata penuh hormat.


Prayudha berbalik arah melangkahkan kakinya untuk menemui sang raja.


"Kau boleh pergi, laporkan segera bila ada hal penting!" seru Prayudha sambil melepaskan pandangan memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka.


"Baik tuan, hamba mohon pamit", sahut mata-mata itu dan menghilang di tengah rerimbunan pohon di sebelah hutan.


Dalam langkahnya Prayudha sedikit ragu untuk menemui raja, pikirannya kacau dengan terjadinya perang di negeri tetangga. Cepat atau lambat Kerajaan Khanta Pura pasti akan menyerang ke sini.


Prayudha akhirnya memutuskan pulang ke kediaman pribadinya. Dia bergegas masuk kedalam rumahnya dan membuat sepucuk surat untuk istri dan anaknya serta keluarganya di Padepokan Kencana Pasupati.


Dia memanggil Mangut orang kepercayaannya untuk mengantar surat itu.


"Mangut, antar surat ini, sampaikan kepada istriku di Padepokan Kencana Pasupati!" seru Prayudha.

__ADS_1


"Baik tuan, hamba mohon diri", kata Mangut sambil menerima surat dan segera melanjutkan perjalanan ke Padepokan Kencana Pasupati.


Prayudha terdiam dan berharap surat itu segera sampai mengingat ia tidak mungkin pulang dalam situasi seperti ini.


__ADS_2