
Sang Surya belum menampakkan diri di timur, keadaan masih remang-remang. Hanya ada cahaya kecil dari lampu minyak yang tertempel di dinding. Terlihat pemuda tampan itu mulai berkemas dengan perbekalan yang cukup. Wajahnya kian hari kian menunjukkan ketampanan dan berkharisma. Badan yang dulu mungil kini sudah tumbuh tinggi dan tegap. Perubahan yang sangat ekstrim dilalui Satria, pemuda yang gagah perkasa. Begitu juga Dewi Sekarwangi tumbuh dengan cepat menjadi gadis cantik bagai bidadari dari surga. Inilah keajaiban dari Dimensi Sembilan Pengawal Raja. Bukan hanya fisik namun kecerdasan otak dan rohani juga meningkat drastis.
Satria sudah bersiap menatap kearah timur tempat matahari terbit. Dia terlihat seperti kesatria perkasa dengan seorang Dewi di sampingnya.
"Ibu, aku berangkat sekarang", kata Satria sambil mencium tangan ibunya dengan penuh hormat.
"Berangkatlah anakku, pastikan kau kembali dengan selamat", kata Dewi Kembang sambil menahan tangis dan mengelus-elus kepala anaknya.
"Aku akan kembali Ibu, aku janji", jawab Satria menghibur kecemasan ibunya yang khawatir akan keselamatan dirinya.
"Ni Dewi, Ibu titip Satria, jangan biarkan dia bertindak seenak, pastikan kalian kembali dengan selamat",
"Baik Ibu, akan aku pastikan Satria tidak bertindak macam-macam, kami akan kembali dengan dan membawa obat untuk kakek", kata Dewi Sekarwangi sambil memberi hormat kepada Dewi Kembang.
Mereka memulai perjalanan tepat sebelum matahari mulai menyinari kegelapan. Mereka menebus pekatnya kabut dan dinginnya pagi itu. Hawa segar yang mereka lalui itu sungguh luar biasa. Mereka terlihat menikmati setiap tetes embun yang terjadi. Suara riuh kicauan burung terdengar di sepanjang jalan itu. Mereka seperti disambut bak raja dan ratu.
Tak terasa Satria dan Dewi Sekarwangi sudah tiba di bukit timur yang dimaksud. Mereka berhenti sejenak dan mengambil nafas sebelum menerobos hutan lebat yang menghiasi bukit itu.
"Kau yakin ini jalannya?" tanya Dewi Sekarwangi dengan nada yang tidak percaya.
"Aku yakin, tidak salah lagi, jalan ini tembus menuju puncak bukit di atas", jawab Satria dengan percaya diri sambil mengarahkan pandangan menuju atas bukit yang kini telah berwarna keemasan diterpa cahaya matahari pagi.
Setelah lama berdiam diri, Satria dan Dewi Sekarwangi akhirnya melangkah menapaki jalan kecil itu. Ukuran yang cukup sempit dengan bebatuan dan kerikil tajam yang siap menusuk. Di sisi kanan dan kiri pepohonan tumbuh dengan lebat dengan akar ranting yang menjuntai ke bawah. Itu membuat jalan semakin sulit dilalui.
Rintangan dan halangan sempat menghambat perjalanan mereka, namun berhasil diatasi. Rasa lelah dan lapar terus membayangi kedua anak itu. Keringat yang bercucuran membasahi wajah tak digubris. Mereka tetap berjalan hingga menapaki puncak bukit di timur. Raut wajah gembira mulai terpancar dan mereka menarik nafas lega.
__ADS_1
"Akhirnya kita sampai, lalu dimana tempat tabib itu?" Dewi Sekarwangi kembali bertanya kepada Satria yang berusaha mengingat-ingat tempat yang ada di mimpinya.
"Harusnya ada disini, tepat di atas puncak, tapi...?" Satria mulai kebingungan dengan keadaan yang mereka temukan.
Satria terus berusaha mengingat-ingat ciri-ciri tempat di mimpinya itu. Semua benda dan warna dan pemandangan sudah ia ingat, namun sangat berbeda dengan yang dia saksikan. Dia mulai pasrah ketika mencari air terjun di sebelah barat puncak bukit, namun yang dia temukan hanya rerimbunan semak belukar tanpa ada sumber air.
Pondok kecil tempat tabib itu juga tidak terlihat, yang ada hanya padang rumput kering dengan batu tajam sepanjang matanya melihat. Satria mulai pasrah dan menunduk, dia merasa bersalah telah bertindak semaunya. Melihat hal itu, Dewi Sekarwangi mulai tak sabaran dengan kenyataan yang dilihatnya. Rasa percaya mulai hilang dari dalam hatinya. Dia mendekati Satria yang duduk merenung di atas sebuah batu besar.
"Sudah ku bilang, kau pasti salah tempat. Lagian itu hanya sebuah mimpi, bisa saja mimpimu tidak benar-benar nyata", gumam Dewi Sekarwangi sambil mendekati Satria.
"Mimpi itu tidak mungkin salah, tabib itu pasti ada di suatu tempat", sahut Satria dengan yakin walaupun dia sendiri dalam keadaan bingung.
Dewi Sekarwangi sedikit jengkel dengan pendirian Satria dan berusaha meyakinkan Satria bahwa tempat itu bisa saja tidak ada.
"Satria, aku berani bertaruh kalau tempat itu tidak ada. Jika tempat itu ada, sebagai gantinya kau boleh memanggilku dengan nama Sekar, tapi kalau tidak ada maka kau akan menjadi pelayan selama setahun", kata Dewi Sekarwangi sambil tersenyum mengejek Satria yang lagi murung.
Satria mulai duduk bersila menaruh tangannya di atas lutut dan memejamkan matanya. Dia mulai berkonsentrasi menuju arah Utara memusatkan pikirannya. Pemuda itu menarik nafas panjang dan melepaskan secara perlahan.
Beberapa menit kemudian angin mulai berhembus dan cahaya putih menyilaukan menerpa tubuh Satria. Batinnya mulai terhubung dengan dimensi Dewa Penguasa Utara. Dia merasakan aura suci yang kuat memenuhi dimensi itu. Perlahan kedua matanya melihat sebuah lautan biru yang indah dengan aroma wangi yang menakjubkan.
Anak itu tidak bisa berkata-kata, lidahnya kaku dan suaranya hilang. Sejenak dia hanya terbengong dengan keajaiban dimensi yang dia capainya. Badannya bergerak mendekati tempat di atas bunga teratai raksasa yang mengeluarkan wewangian.
"Anak-Ku Satria, ada masalah apa sehingga kau datang ke sini?" tanya Dewa Penguasa Utara dengan suara berkharisma dan penuh kasih sayang.
"Ampuni hamba paduka Dewa, hamba ingin bertanya tentang masalah yang sedang hamba hadapi", jawab Satria sambil duduk dan menyembah.
__ADS_1
"Apa masalahmu? Katakanlah segera!" ujar Dewa Penguasa Utara sembari tersenyum dari atas singgasananya yang agung beralaskan bunga teratai merah yang besar.
"Hamba sedang kebingungan saat mencari tabib yang ada di dalam mimpiku semalam, mohon beri hamba petunjuk agar hamba bisa menemukan tabib untuk menyembuhkan kakek", kata Satria sambil memohon kehadapan Sang Dewa Penguasa Utara.
Dewa Penguasa Utara sungguh baik hati dan pemurah, dia melihat Satria yang memohon dengan tulus seperti itu, membuat hatinya iba dan ingin segera membantunya.
"Baiklah anak-Ku Satria, di tempatmu sekarang, berdirilah ke arah timur, lalu berkonsentrasi, lihat sebuah titik yang akan membentuk sebuah portal. Gunakan tenaga dalam untuk memukulnya hingga pintu portal antar dimensi terbuka. Masuklah sesegera mungkin dan di sana kau akan menemukan jawabnnya", kata Dewa Penguasa Utara lalu menghilang dari pandangan Satria.
"Hamba mohon pamit", kata Satria seraya membuka matanya dan bangun menuju arah timur.
Dia berkonsentrasi menatap arah ke timur berusaha menemukan titik portal antar dimensi. Dia berusaha menggunakan mata batinnya untuk menemukan titik itu.
Dewi Sekarwangi keheranan melihat tingkah Satria yang tidak dia mengerti. Dia mencoba mendekati Satria dan mencarin tahu apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu.
"Satria, apa yang kau lakukan?" tanya Dewi Sekarwangi dengan nada cemas, khawatir dengan sahabatnya itu berbuat yang aneh-aneh yang dapat membahayakan diri mereka sendiri.
"Diam, nanti kau akan tahu", kata Satria memperingatkan temannya itu sambil menatap kearah depan.
Dewi Sekarwangi makin bingung dibuatnya. Melihat Satria yang hanya berdiri mematung dengan tatapan tajam kearah timur. Angin mulai berhembus dan menggetarkan jiwa Satria, tangannya mengeluarkan cahaya emas dan mengepal dengan keras. Jantung Dewi Sekarwangi berdetak kencang, dia masih sedikit trauma dengan kekuatan itu.
Mata batin Satria menangkap satu titik kecil yang mungkin dimaksud Dewa Penguasa Utara tadi. Dia tidak berpikir panjang dan segera memukul titik hitam kecil itu.
"Duuuuuaaaarrrrr".
Satu ledakan terjadi disertai asap putih yang membumbung tinggi ke angkasa. Titik kecil itu lenyap berubah menjadi sebuah lorong dimensi yang aneh. Portal antar dimensi telah terbuka dan menimbulkan tarikan yang kuat.
__ADS_1
Satria yang awalnya berdiri santai kini terkejut oleh tarikan kuat energi di dalam portal itu. Dia meraih tangan Dewi Sekarwangi dengan cepat sebelum dirinya terhisap ke dalam portal antar dimensi itu.
Mereka berteriak sekuat tenaga di dalam lorong portal aneh itu. Keduanya lalu tersedot bagai ditarik oleh kekuatan aneh. Tubuh mereka berputar-putar dan berguling tak tentu arah. Hingga ujung portal antar dimensi itu membawa tubuh mereka di tempat yang asing di puncak bukit.