Kisah Pendekar Ramalan

Kisah Pendekar Ramalan
Anak Ramalan


__ADS_3

Tepat tengah malam itu, ketika bulan purnama ke empat menyinari bumi secara sempurna, dan awan gelap sudah sirna dari pandangan Ki Pasupati, maka Dewi Kembang akhirnya melahirkan anak pertamanya. Tetapi wajah terkejut di tunjukkan oleh seorang pelayan saat melihat bayi terlahir. Semua wajah yang awalnya bahagia diselimuti senyuman, kembali histeris dan menggemparkan seisi pondok malam itu.


Ki Pasupati bergegas ke kamar persalinan diikuti oleh Ki Soma yang berjalan di belakangnya.Ki Pasupati kaget bukan kepalang, para pelayan dan Dewi Kembang semua dalam keadaan pingsan, sementara ada sesuatu yang aneh di sebelah tubuh Dewi Kembang.


"Kakang, Kakang Soma, aku melihat telur emas", teriak Ki Pasupati sambil terkejut kaget dan keheranan.


Ki Soma ikut mengamati dengan seksama. "Tidak salah lagi ini adalah sebuah telur emas".


Mereka berdua keheranan, karena hal yang begitu ganjil meraka saksikan dengan mata kepala telanjang.


"Kakang Soma, telur ini, apa telur ini yang dilahirkan oleh Dewi Kembang?" tanya Ki Pasupati kepada sahabatnya itu.


Perlahan Ki Pasupati mengamati bentuk telur itu. Telurnya menyala bersinar keemasan, berdenyut-denyut seperti ada sesuatu kehidupan di dalamnya. Ki Pasupati mengusap-usap sambil menangis sedih meratapi nasibnya, kenapa cucu yang dia idamkan harus lahir seperti itu. Ki Soma menghampiri sahabatnya itu dan menguatkan batinnya.


"Kakang jangan bersedih seperti ini, aku tahu perasaanmu. Kakang, sebaiknya kita mencari petunjuk Dewata", kata Ki Soma menghibur Ki Pasupati yang dalam keadaan bersedih.


Ki Pasupati dengan badan ringkih dan guratan wajah yang semakin mengkerut berusaha menggendong telur emas itu. Kedua kakek itu berjalan ke altar pemujaan Dewa Utama. Dewa yang di kenal pemurah dan pemelihara jagat semesta.


Beberapa orang telah melakukan persiapan di altar itu. Suasana masih gelap sedikit remang karena purnama hampir tenggelam. Menjelang subuh sebelum Matahari terbit, ritual di altar pun di mulai. Api besar mulai dinyalakan dengan besar, wangi-wangian dari kayu Cendana di bakar, asapnya membungbung tinggi.


Ki Soma memimpin ritual itu diikuti sebagian murid padepokan. Ki Soma dan Ki Pasupati duduk bersila di tengah-tengah altar sambil menggendong telur emas itu. Ki Soma membaca doa-doa suci untuk memuja para dewa agar berkenan turun ke Mayapada.


Sekitar satu jam ritual telah berlangsung, tanda-tanda kedatangan dewa mulai terasa. Angin mulai berhembus kencang dari arah Utara diikuti oleh cahaya putih menyilaukan semua yang ada di altar itu. Hanya Ki Soma yang bisa melihat dan berkomunikasi dengan para dewa karena kekuatan suci batinnya yang tinggi. Selain Ki Soma semua menutup mata dan silau.

__ADS_1


Gemuruh angin dan petir mulai menyambar di sekitaran altar padepokan.


"Nanak-Ku Soma, Aku hadir di hadapanmu", suara gemuruh Dewa itu berglegar membelah heningnya malam.


"Nanak, dengarlah sabda-Ku ini", Dewa itu kembali memanggil Ki Soma.


"Baik paduka Dewa", kata Ki Soma seraya menyembah di kaki Dewa tersebut.


"Nanak, Aku Dewa penguasa dimensi dewa arah Utara. Aku berkenan turun karena ketulusanmu. Dengarlah baik-baik, Aku telah melihat takdir masa depan anak itu", sambil menunjuk telur emas yang ada di pangkuan Ki Pasupati.


"Dia lahir karena sebuah sumpah raja, didiklah dia jadikan dia orang yang tiada tanding. Dia adalah rengkarnasi seorang raja besar. Karena kebaikan-Ku, Aku menganugerahi jubah emas yang terbuat dari cangkang telur emas Garuda kesayangan-Ku, Dia akan membawa peradaban yang maju untuk tanah ini", kata Dewa itu kepada Ki Soma.


 


Seketika itu dimensi dewa menghilang dan cahaya menyilaukan turut menghilang.


 


Semua yang ada di altar kembali normal, semua sudah bisa melihat dengan jelas. Ki Pasupati bernafas lega sambil memegang erat telur emas di pangkuannya dengan tangan yang masih gemetar. Ki Soma tersenyum puas ke arah Ki Pasupati dan telur itu. Segera Ki Pasupati menangkap kode itu bahwa semua kehendak para Dewata.


Keajaiban tidak sampai di situ saja, ketika fajar menyingsing di ufuk timur, sinar keemasan itu menyinari telur emas di atas altar. Ki Pasupati terperanjat dan segera menaruh telur emas itu di atas dudukan. Altar kembali berguncang, diiringi sambaran petir beberapa kali. Angin berhembus kencangnya. Suasana di altar kembali tegang, sorak sorai orang-orang itu mulai panik. Semua merasa takut, mereka mundur setapak menjauh dari altar. Hanya Ki Soma dan Ki Pasupati yang masih duduk bersila mengamati telur itu seksama.


Telur emas itu kembali berdenyut beberapa kali dan seketika pecah terbelah menjadi dua bagian. Semua yang ada di altar itu terperangah menyaksikan kejadian itu. Dengan terbelahnya cangkang emas itu, lahirlah bayi laki-laki yang bercahaya menyilaukan. Ki Soma dan Ki Pasupati melihat dengan senangnya, anak laki-laki yang gagah keluar dan lahir tepat di hadapan mereka. Bayi itu tersenyum tidak seperti bayi lain yang lahir dengan menangis. Bayi ini malah tersenyum bergerak meminta di gendong.

__ADS_1


"Lihat Kakang Soma, cucuku yang gagah dan tampan telah lahir" ucap Ki Pasupati dengan girangnya.


"Iya Kakang, bayi ini harus kita jaga, menurut pesan dewa. Nanti saya akan ceritakan", kata Ki Soma mengambil cangkang emas dan menyimpannya.


Ki Pasupati seakan tidak menghiraukan kata-kata Ki Soma, dia terlanjur kegirangan menggendong cucunya. Setelah kelahiran itu kondisi altar kembali normal, semua orang kembali mengikuti aktifitasnya seperti biasa. Ki Pasupati menggendong bayi itu ke kamar ibunya Dewi Kembang.


Di kamarnya, Dewi Kembang sudah sadar dari pingsannya sedari subuh. Dia tidak hampir tidak percaya dengan semua keajaiban kala itu.


"Ni Dewi, lihatlah bayi ini, begitu berwibawa", celoteh Ki Pasupati sambil menggendong bayi itu ke pangkuan Dewi Kembang.


"Ayah, dia mirip kakang Yudha, mukanya bersinar dan berwibawa", kata Dewi Kembang sambil menyusui bayi itu.


Semua orang yang ada di kamar itu terpesona dengan pancaran aura bayi itu. Wajahnya tampan seperti Dewa Cinta turun renkarnasi. Tubuhnya gagah layaknya Dewa perang turun merasuk di badan kasarnya. Pelayan-pelayan di padepokan itu dengan senang gembira menggendong bayi itu. Tak tampak takut ia ketika disapa dan di gendong oleh orang-orang di padepokan. Ki Pasupati mengamati dari jauh sambil tersenyum puas. Aura bayi itu mengubah suasana padepokan kala itu menjadi penuh cerita dan keceriaan.


Ki Soma mendekati Ki Pasupati dengan wajah yang sama gembiranya.


"Kakang, aku turut bergembira dengan kehadiran cucu kita, hemmm tapi ada tugas berat menanti kita", kata Ki Soma kepada sahabatnya itu.


"Tugas berat seperti apa yang akan menanti kita Kakang Soma?" tanya Ki Pasupati.


"Anak itu adalah rengkarnasi raja terdahulu,serta Dewa penguasa dimensi arah Utara menganugrahi sebuah jubah emas", jelas Ki Soma sambil melirik Ki Pasupati di sebelahnya.


"Sudah kuduga bayi itu bukan bayi biasa" kata Ki Pasupati denga tangan sibuk memegangi janggutnya yang mulai memutih.

__ADS_1


"Semua sudah menjadi takdir Kakang, kita harus mewujudkan ramalan turun-temurun itu. Aku tidak salah lagi Kakang, bayi itu adalah anak yang di ramalkan", kata Ki Soma meyakinkan Ki Pasupati.


Kedua sahabat itu duduk menikmati cahaya matahari pagi di pendopo. Mereka beristirahat setelah semua kejadian yang mereka alami tadi malam. Tidak ada banyak orang yang menemani mereka saat itu, hanya orang-orang terdekat dan pengawal pribadi yang ikut. Mereka saling bertukar pikiran untuk masa depan bayi itu. Sekalian berencana menjemput ayah bayi itu, Prayudha yang masih bertugas di Kerajaan Singa Mandala.


__ADS_2