
Angin bergemuruh kencang menerbangkan batu-batu dan kerikil kecil. Pepohonan bergoyang seakan mau tumbang di terjang badai dadakan. Ranting kecil berjatuhan tak tentu arah di barengi debu pekat yang merusak penglihatan.
Tubuh Ki Soma masih teronggok hampir terpendam bebatuan yang berseliweran. Wajahnya sudah tak kelihatan lagi, dia seakan pasrah dengan hidupnya yang rela tenggelam dalam pusaran badai siang itu.
monster yang menyelimuti tubuh Satria masih meraung-raung, mengibas-ngibaskan sayap emas yang tajam.
Seketika bukit yang berdiri kokoh di utara lenyap tak berbekas di terjang sapuan sayap Garuda milik Satria. Semua mata terperangah melihat kejadian itu. Kekuatan dahsyat yang membawa petaka dan membuat bulu kuduk merinding benar-benar nyata.
Dalam kekacauan itu, hanya tinggal Dewi Sekarwangi yang masih bisa bertahan. Dia tak sengaja terhimpit di sebuah akar pohon tua membuat dia terhindar dari amukan. Kilatan petir makin menjadi dan meluas hingga dekat pondok. Dedaunan kering langsung terbakar menyebabkan asap hitam membungbung tinggi ke angkasa.
Dewi Sekarwangi yang ketakutan di bawah pohon memejamkan matanya. Dengan penuh harap dia berdoa kepada Dewata agar amukan Satria mereda. Tangannya gemetar meraih sebuah liontin permata pemberian ibunya. Gadis itu menggenggam liontin di dadanya diiringi tangisan kecil dan air mata yang menetes di pipinya. Tak sengaja tetesan air mata itu jatuh tepat di atas permata liontin dan menimbulkan suatu keajaiban.
Sebuah sinar putih menyilaukan keluar dari liontin itu dan membawa kesadaran sang putri hanyut ke dalam dimensi yang berbeda.
Saat terbangun dan teringat dia berada di tempat di penuhi lautan biru. Gadis itu bingung dan menepuk-nepuk pipinya.
"Selamat datang di tempatku, Dewi Sekarwangi. Aku adalah Dewi penguasa kebijaksanaan dan kemakmuran. Aku berkenan hadir berkat doa tulus darimu" kata Dewi itu dengan penuh aura kesejukan dan kecantikan tiada tara.
"Mohon ampuni hamba, ada dimana hamba ini sekarang, dan Satria, bagaimana dengan Satria?" Dewi Sekarwangi kebingungan dan terpesona melihat aura dari sosok yang ada di depannya.
"Tenanglah anakku, kau ada di dimensi alam rohani para dewa-dewi, dimensi khusus yang tidak sembarang orang bisa memasukinya" kata Dewi itu lagi memberi tahu keadaan dimensinya ke pada Dewi Sekarwangi.
"Anakku ketahuhilah, Satria yang mengamuk seperti itu sangat sulit dihentikan bahkan oleh para pendekar tingkat tinggi" sambung Sang Dewi Kebijaksanaan itu lagi.
"Apa yang harus hamba lakukan, hamba tidak mempunyai kekuatan untuk menghentikannya" sahut Dewi Sekarwangi sembari duduk bersimpuh dengan badan yang menggigil ketakutan.
Suasana menjadi tambah hening hanya desiran angin kesejukan yang menghangatkan hati Dewi Sekarwangi. Matanya kembali terbelalak melihat seberkas cahaya hijau menyilaukan masuk ke liontin kalung di lehernya. Gadis itu langsung menegang menerima sebuah tenaga yang besar. Dia menjerit sekuat tenaga dan menarik nafas dengan kuat menghilangkan sesak di dalam dada.
Dia merasakan aliran tenaga dalam besar di dalam tubuhnya dan memberinya energi untuk menghentikan amukan Satria. Perlahan badannya yang lemah gemulai mulai bisa menerima kehadiran Cakra suci yang berbentuk Burung Merak. Ia melihat dirinya di penuhi aliran energi hijau yang suci penuh kebijaksanaan. Sebuah kekuatan pemberian Dewi Kebijaksanaan yang maha agung.
__ADS_1
"Anakku Ni Dewi Sekarwangi, aku menganugerahkan sebuah kekuatan khusus untuk meredam amukan Satria, gunakanlah dengan bijaksana disaat genting. Kekuatan ini berisi energi kasih sayang yang tulus dari dalam hatimu. Hanya dengan kasih sayang yang tulus yang mampu meredam amukan Satria. Garuda yang mengamuk hanya akan luluh dengan kasih sayang dari Burung Merak" pesan dari Dewi Kebijaksanaan sebelum menghilang dari pandangan Dewi Sekarwangi.
Dimensi rohani itu menghilang dan sirna, hanya menyisakan tubuh gadis kecil yang berbalut Cakra hijau suci dari Dewi Sekarwangi. Dia berdiri dari balik pohon tua dan memusatkan tenaga dalamnya. Dengan mata yang terpejam Cakra hijau itu membungkus tubuh Dewi Sekarwangi. Cakra itu memadat dan membentuk pelindung Burung Merak dengan sayap kebijaksanaan yang indah.
Dia berjalan membelah angin badai tanpa rasa takut dan sakit. Gadis itu mencari celah yang memungkinkan dia bisa menyegel dan menyetop aliran Cakra emas itu. Dia terus berjalan maju tanpa peduli puluhan batu beterbangan membentur tubuhnya. Berkat kekutan suci Dewi Kebijaksanaan tubuh Dewi Sekarwangi menjadi ringan. Bak seorang pendekar dia melompat ke atas bukit kecil mendekati pusat pusaran angin itu.
Dari atas bukit, Dewi Sekarwangi melihat tubuh Satria yang sudah di penuhi Cakra emas namu kali ini di hiasi aura kegelapan. Walaupun sedikit, Dewi Sekarwangi dapat merespon aura kegelapan itu.
"Itu Cakra gelap yang bercampur dengan Cakra emas, jangan-jangan Cakra itu yang membuat Satria mengamuk. Baiklah aku akan melakukan sesuai dengan petunjuk Sang Dewi, Satria tunggulah, aku akan menyelamatkanmu" kata Dewi Sekarwangi dalam hatinya, dan secepat kilat melompat menerjang pusaran gelap itu.
"Duuuaaarrrr".
"Duuuuuaaaarrrr".
"Duuuuuaaaarrrr".
Tiga kali benturan keras terjadi di udara menimbulkan kilatan petir dan menghanguskan pepohonan di sekitarnya.
"Aku gagal menembus itu, bagaimana cara aku bisa menyegelnya?" Dewi Sekarwangi bertanya pada dirinya sendiri sambil menahan hembusan badai yang menjadi-jadi.
Tiba-tiba kuping Dewi Sekarwangi menangkap suara yang terdengar samar-samar dari kejauhan.
"Anakku, cabut bulu merak yang paling besar, pakailah untuk menembus dinding gelap itu. Lalu segel dengan liontin ini" seru suara itu lalu menghilang.
Kuping Dewi Sekarwangi tak mendengar suara lagi dan matanya kembali dikejutkan oleh sebuah liontin permata berbentuk Garuda di tangannya. Dia tersenyum dan menyadari bahwa Dewi Kebijaksanaan masih memberi pertolongan.
Dewi Sekarwangi menarik nafas yang sangat panjang dan segera dia mencabut salah satu bulu yang paling panjang. Keajaiban pun terjadi, bulu itu berubah menjadi pedang suci dengan aura cinta kasih yang luar biasa. Tanpa digerakkan, kedua kakinya melangkah menembus badai kegelapan. Pedang yang luar biasa, memancarkan sinar putih yang melemahkan aura gelap di sekitarnya.
"Duuuaaaaarrrr".
__ADS_1
Dengan sekali tebasan dinding kegelapan yang mengitari tubuh Satria lenyap. Kini dirinya berhadapan langsung dengan Dewi Sekarwangi yang sudah berada di depannya.
Dengan satu kibasan, sebuah kekuatan sinar keluar dari ekor burung merak itu lalu mengikat tangan, kaki dan tubuh Satria.
Satria yang sudah tak terkendali berusaha melepaskan diri. Dia meronta dan meraung bagaikan singa yang kelaparan. Namun usahanya gagal. Dewi Sekarwangi mendekat dan terus waspada dengan segala kemungkinan. Menghadapi monster yang mengamuk bukanlah perkara mudah. Dia fokus mencari titik pusat Cakra emas yang menjadi sumber kekuatan Satria.
Matanya naik turun mengamati bagian tubuh Satria yang tak berkutik dalam genggaman Dewi Sekarwangi. Gadis itu kebingungan karena tak ada sama sekali celah di sekujur tubuh Satria yang dapat membuat liontin itu masuk. Dia masih berpikir sejenak dan mencoba sesuatu.
"Kalau tidak ada celah disini, akan aku paksa masuk, pasti ada cinta di hatimu Satria" pekik Dewi Sekarwangi dengan keras seraya mendorong liontin Garuda ke arah ulu hati Satria. Kekuatan cinta yang dikeluarkan Dewi Sekarwangi mendorong liontin dan menyerap Cakra emas itu. Semua Cakra emas yang terserap kemudian tersegel di dalam liontin Garuda.
Tubuh Satria melemas dan kembali normal dengan otot-otot lengan yang padat serta tubuhnya yang kekar. Melihat tubuh Satria yang sudah normal, Dewi Sekarwangi segera memeluknya dan membawanya turun.
Angin badai yang mengerikan itu perlahan hilang dari pandangan. Menyisakan puing-puing bebatuan yang rontok berserakan. Hanya menyisakan mendung di atas langit yang memberi petunjuk akan datang hujan.
Tubuh Satria tergolek lemah di pelukan Dewi Sekarwangi yang membawanya ke dalam pondok. Dewi Kembang yang menunggu dengan cemas dan wajah ketakutan datang menghampiri mereka. Satria dipapah menuju kamarnya lalu di tidurkan.
"Anakku, kenapa kamu seperti ini" kata Dewi Kembang menangis sejadi-jadinya memeluk tubuh Satria yang tidak sadarkan diri. Wajah ibunya sedih dan meneteskan air mata dengan deras. Beberapa kali dia menggoyang-goyangkan tubuh pemuda kecil itu. Namun Satria tetap tidak bangun dari pingsannya.
"Ibu, aku akan mencari Kakek Soma, mohon jagalah Satria" kata Dewi Sekarwangi seraya melesat keluar dengan cepat melacak keberadaan Ki Soma.
Dewi Sekarwangi tidak menyadari dengan menggunakan jubah merak dapat merasakan keberadaan Cakra seseorang. Dia hanya melompat dan mengikuti kata hatinya.
"Kakek, apakah itu kau? Aku bisa merasakan kakek ada di sebelah sana" Dewi Sekarwangi bicara dengan batinnya sendiri. Lalu dia melesat ke arah tempat Ki Soma terjerembab.
"Kakek, kakek bangun, aku Dewi Sekarwangi, bangun kek" teriak Dewi Sekarwangi sambil menggoyang-goyangkan tubuh kakeknya.
"Ni Dewi, kakek tidak apa-apa, hanya kelelahan" sahut Ki Soma perlahan dan kembali memejamkan matanya.
Dewi Sekarwangi memperhatikan tubuh orang tua itu dipenuhi luka yang cukup serius. Goresan-goresan tajam itu telah merobek sekujur tubuhnya. Dengan mata batinnya dia dapat melihat luka dalam kakek itu.
__ADS_1
Dalam keadaan sedih Dewi Sekarwangi membawa Ki Soma ke pondok mereka.
"Apa yang harus aku lakukan? Apakah ada cara untuk menyembuhkan mereka?" tanya Dewi Sekarwangi dalam hatinya sepanjang perjalanan menuju pondok mereka.