
Aku masih terpana melihat kecantikannya. Melihat tamuku bukan seorang Tante membuat aku bingung harus memanggilnya apa.
Di tambah lagi aku tau namanya bukan Vena karena dia begitu terkenal di indonesia, rasanya semua orang tau namanya.
" Kenapa kamu kaget? Kamu kaget karena tau saya siapa atau kaget karena saya masih muda " Dan Vena tertawa di akhir kalimatnya.
" Saya mandi dulu ya setelah itu kita pergi makan "
Mimpi aku semalam, sudah di booking dengan rate besar, tamunya cantik artis pula.
Tapi kenapa ya Vena bisa menggunakan jasa kami.
Karena dengan semua ketenaran dan kecantikannya yang ia miliki aku rasa semua laki laki akan rebutan untuk menjadi pacarnya.
Tidak lama Vena sudah selesai mandi lalu berganti pakaian dan kami langsung turun untuk makan di restoran, tidak jauh dari hotel.
" Di Singapore banyak orang indo sih ya, harusnya aku milih negara yang lebih jauh dari Singapore ya " Vena membuka obrolan ketika menyantap steak.
" Sebelumnya aku harus manggil apa ya biar kamu nyaman? "
" Vena aja ga apa "
" Memang kenapa harus ke negara yang jauh dari Indonesia "
" Ya kamu tau sendiri orang kita seneng sekali bergosip. Kalo nanti ada yang mengenali kita, bisa gawat. Kalo aku sih sudah biasa, nah kalo kamu apa ga akan di cari latar belakang dan sebagainya "
Benar juga, aku tidak memikirkan hal itu.
" Nanti kalo sampe muka kamu masuk berita indonesia, kita sepakat urusan bisnis ya. Bilang saja kamu seorang pengusaha dan aku client kamu "
Mungkin yang Vena tau umurku adalah dua puluh dua tahun padahal aku berusia baru delapan belas tahun.
Bagaimana orang percaya jika aku adalah seorang pengusaha.
Setelah makan aku menemaninya shopping. Dari satu brand ke brand lainnya.
Kami pergi hanya berdua, otomatis aku yang membawakan semua tas belanjanya.
Total ada sepuluh tas belanja yang aku bawa dan empat kantong belanja yang Vina bawa.
Vina sepertinya shopaholic sejati. Bahkan walaupun kami sudah di mall selama enam jam dan hari sudah sore ia masih bersemangat.
" Thank you udah nemenin lho Will, banyak ya belanjaan aku "
" Santai Vin "
Baru kali ini aku berbelanja di mall selama ini. Biasanya kalaupun menemani mama ke mall aku tidak ikut belanja.
Biasanya aku menunggu di tempat bermain seperti time zone atau langsung menuju restoran.
Tapi hari ini aku menemani seseorang melebihi aku menemani mama ke mall, luar biasa.
__ADS_1
Setibanya di hotel, asisten Vina sudah menunggu dan membantu membawakan barang barang Vena ke kamar.
Setelah beristirahat sebentar kami mandi dan bersiap menuju tempat selanjutnya yaitu casino.
" Udah sering main di sini Vin? "
" Beberapa kali sih sama temen, kamu pernah? "
" Dulu banget pernah cuma main mesin bukan yang poker, waktu jaman sekolah "
" Oiya kamu beneran asli Bandung Will? "
" Iya aku asli bandung "
" Lumayan jauh juga ya, kenapa ga pindah jakarta aja pasti lebih banyak client disini "
Sebenarnya udah pernah ada pembicaraan antara Alrik dan temen temen.
Mayoritas client kami adalah orang jakarta. Ya selain kami juga pilih pilih sekali jika client kami orang bandung asli, karena takutnya adalah orang yang kami kenal.
Mungkin kami semua akan pindah ke Jakarta jika aku sudah lulus kuliah.
Sekarang Alrik masih sibuk nyari tempat buat kantor kami.
Sesampainya di casino suasananya sangat ramai sekali.
Aku menemani Vena bermain poker dan sesekali aku ikut bermain, ya hanya taruhan kecil karena sekarang uang begitu berharga buatku.
Vena menang banyak hari ini, dari modal yang ia pertaruhkan sekarang chip poker nya sudah menggunung.
Mantan pacarnya lah yang mengajarkan Vena bermain poker.
Setelah bermain aku membantu Vena untuk menukar chip poker yang Ia punya.
Jumlahnya lumayan fantastis. Tentu saja Vena sangat senang dan sebelum ke kamar ia memesan wine dan makan malam untuk kami di kamar.
Makanan yang Vena pesan datang ketika Vena sedang mandi.
Selain wine ia memesan beberapa makanan ringan dan buah buahan.
Setelah kami selesai mandi kami menyantap makanan itu.
Sambil makan kami ngobrol ngobrol kecil. Ia bercerita bahwa hidupnya sekarang terlalu sibuk.
Management artisnya sangat kejam kepadanya karena sewenang wenang mengatur jadwal kerjanya.
Ia pun tidak bisa keluar begitu saja karena masih ada sisa kontrak satu tahun.
Kemarin adalah masa terjenuhnya. Ia punya banyak uang tapi seperti tidak punya kehidupan.
Akhirnya karena kesal Ia memutuskan untuk bersenang senang di Singapore bersama ku.
__ADS_1
Ia tau jasa kami dari pencariannya di internet. Memang Alrik mempunyai website untuk pekerjaan kami.
Websitenya bukan khusus Gigolo tapi teman kencan, seperti biro jodoh kekinian.
Tapi tentu saja semua itu hanya kamuflase, karena layanan sebenarnya adalah kami para Gigolo.
Vena terlihat agak sedikit mabuk malam ini. Aku sampai harus menggendongnya ke kasur.
Ia terus meracau mencoba untuk bercerita tapi cerita maupun suaranya sudah tidak jelas dan akhirnya kami berdua tertidur dan tidak berhubungan.
Aku merasa ada seseorang yang mencium pipiku. Ku buka mataku dan Vena sedang mencium pipi dan bibirku.
Biasanya laki laki yang mengalami serangan fajar tapi ini perempuan yang menyerang ku saat fajar.
Aku biarkan ia melakukan apa yang ingi dilakukan.
Mempunyai lawan yang cantik seperti ini membuat pisang ambon tidak perlu di pancing lagi.
" Gede banget punya kamu " Bisiknya di tengah tengah ia sibuk berkaraoke.
Kami melakukan enam sembilan, gaya yang jarang sekali aku aku lakukan bersama Tamu lain.
Karena biasanya para tamu hanya minta di layani dan tidak mau melayani.
Tidak perlu mendengarkan lagu rock pagi ini untuk membuat permainan kami panas.
Sudah melayani beberapa Tamu membuat aku lumayan jago bermain.
Vena terlihat hanyut dalam permainan ini dan mencapai puncaknya berkali kali.
" Kok kamu mau sih jilat disitu, biasanya laki laki ga suka aku pikir mereka jijik " Tanyanya ketika kami selesai bermain.
" Mereka belum pernah nyoba aja, rasanya biasa aja kok dan sensasinya berasa di kamu kan? "
" Banget aku gila itu kali pertamaku "
Yang semula kami akan menghabiskan waktu dengan shopping sebelum terbang ke Jakarta tapi Vena hanya mengajak di kamar saja hari ini.
Bahkan untuk makan kami memesan layanan makan di kamar.
Kami menghabiskan waktu dengan berpelukan dan banyak bercerita tentang hidup.
Bahkan dulu aku tidak pernah melakukan ini kepada pacar pacarku.
Aku tidak pernah mendengarkan mereka ketik sedang cerita tentang apapun, di mataku dulu perempuan tidak penting.
Tapi setelah aku mengalami ini semua, ternyata setiap orang butuh pendengar yang baik.
Jadilah aku sekarang laki laki yang tidak hanya pintar dalam permainan tapi juga pendengar yang baik.
Vena meminta nomor teleponku, Ia ingin mengajakku makan jika aku sudah di Jakarta.
__ADS_1
Sore hari kami bersiap untuk packing barang barang kami dan setelah itu kami menuju Airport Changi.
Dan sesuai perjanjian dari masuk pesawat sampai tiba di Airport Soekarno Hatta kami seperti dua orang yang tidak saling mengenal.