Kisah sang Gigolo

Kisah sang Gigolo
Alissa Yang Malang


__ADS_3

BAB 22


Alissa Yang Malang


Bisa di bilang ini adalah patah hati pertamaku di umurku yang ke dua luluh satu.


Selama ini aku tidak pernah serius menjalin hubungan dengan siapapun sampai aku bertemu Vena.


Vena yang sempurna dan dan beda dari perempuan kebanyakan.


Awalnya aku pikir hubungan aku akan berakhir dengan bahagia.


Karena Vena bisa menerima kekuranganku yang merupakan suatu aib ini.


Tapi siapa sih orang yang bisa terima kalo pacarnya pernah tidur dengan Ibu yang Ia cintai


Dan selesailah sudah hubungan kami yang bulan depan sudah tepat dua tahun.


Dua tahun bukan waktu yang sebentar dalam sebuah hubungan.


Aku terbiasa menanyakan kabarnya, atau sekedar bertanya sedang apa? Tapi sekarang kami benar benar tidak berkomunikasi.


Ia bahkan block semua akses aku untuk menghubunginya.


Berminggu minggu berlalu rasanya masih sangat sakit.


Untuk melupakan Vena aku memutuskan untuk mengambil job setiap hari untuk membuat aku sibuk.


Dan hari ini aku melayani dua tamu sekaligus di dua waktu yang berbeda.


Pertama aku melayani repeat ordernya Tante Vero.


Wanita karir pemimpin sebuah media ternama di Indonesia.


Jika sebelumnya kami melakukannya di dalam kantor Tante Vero.


Kali ini Ia minta bermain di tangga darurat. Jadilah sekarang aku sedang bermain doggy di tangga darurat.


Selama permainan mataku tidak lepas dari memperhatikan tangga atas dan rangga bawah.


Khawatir ada karyawan yang sedang diam diam merokok di tangga darurat yang tidak ada sensor asap.


Atau mungkin lift sedang rusak dan ada beberapa karyawan yang memilih menggunakan tangga darurat.


Tapi untungnya selama kami bermain tidak ada orang yang lewat.


" Kamu pinter banget deh bikin puas orang Will "


" Udah tugas aku kak " Akhirnya aku putuskan untuk memanggil Tante Vero dengan panggilan Kakak karena Ia masih single dan masih terlihat muda.


" Oiya Will, kamu bisa jadi kucing ga? "


" Kucing? " Tanyaku heran.

__ADS_1


" Jadi simpenan gitu Will, bisa? Kalo bisa aku kasih kamu uang bulanan, mobil, kamu bisa tinggal di salah satu penthouse ku di daerah jakarta pusat "


Kebetulan sekali sudah beberapa hari yang lalu aku berpikir untuk pindah dari apartemen ku sekarang.


Karena setiap aku berada di apartemen, adegan putus aku dan Vena selalu terulang.


Tapi pertimbangan yang memberatkan adalah karena aku sudah membayar sewa apartemen ini selama satu tahun ke depan.


Sedangkan ini baru lewat dua bulan, sayang sekali rasanya jika aku pindah.


Tapi tetap aku harus diskusi dulu dengan Alrik untuk masalah ini.


" Aku coba ngomong sama orang kantor dulu ya Kak "


" Oke di diskusiin dulu aja sama orang kantormu. Well aku juga ga akan minta main tiap hari sih, kamu masih bisa ambil job di luar setidaknya satu ya..biar kamu ga bosen juga kan di penthouse terus "


" Oke kak "


" Kabarin loh ya " Tante Vero pun membuka pintu tangga darurat dan menuju ruangan kantornya.


Setelah berpakaian aku pun keluar dari tangga darurat dan menuju tempat client selanjutnya.


Client yang kedua adalah client baru kami. Masih terbilang muda, usianya dua puluh tujuh tahun.


Ia terang terangan bilang di emailnya jika Ia mau mencoba BDSM


Untuk gambaran mudahnya seperti di film Fifty Shades of Grey.


Tapi, client kami yang bernama Laura bilang justru dia sendiri yang menjadi objeknya.


Bukan kami yang disakiti tapi Ia yang minta di sakiti.


Anak anak tidak ada yang mau mengambil order ini walaupun bayarannya dua kali lipat dari rate kami.


Aku yang akhirnya menerima order Laura.


" Yakin Lo Fred mau ngambil order ini? Jangan karena Lo abis putus terus ngelakuin sesuatu tanpa Lo pikir dulu "


" Iya Lo terima aja Rik, gue mau kok "


Dan sekarang aku berada di depan rumah mewah daerah menteng.


Seperti biasa aku ditanya oleh security mau bertemu dengan siapa, dan setelah aku jawab aku di persilahkan masuk.


Oleh seorang ART aku diantar langsung ke sebuah ruangan.


" Silahkan masuk Mas, Non Laura udah menunggu di dalam "


" Makasih ya "


Dan aku membuka pintu ruangan tersebut. Ruangannya terang sekali, bentuknya seperti sebuah toko.


Begitu masuk tambah dalam ada ranjang dengan pengikat di ujung tempat tidur.

__ADS_1


Ada topeng besi, cambuk, penutup mata, bulu seperti kemoceng san berbagai alat lainnya.


Laura keluar dari kamar mandi dengan memakai baju sekolah. Seragam putih biru lebih tepatnya.


Sepertinya Ia mau bermain guru dan murid. Tanpa kata kata aku mengikuti apa yang Laura lakukan.


Jujur saja aku kurang menikmati gaya bermain BDSM ini.


Selama permainan ada perasaan tidak nyaman.


Tapi jangan di tanya kalo Laura. Ia benar benar menikmati lakonnya sebagai anak sekolah.


Menikmati semua permainan walaupun ia di sakiti.


Aku bahkan sudah tidak mau mengingat ingat apa saja yang kami lakukan di ruangan itu dan rasanya cukup sekali aku menerima order darinya.


Setelah permainan selesai ketika sedang mandi Laura sambil bercerita jika Ia sedari kecil selalu menerima perlakuan kasar dari Ayahnya.


Salah sedikit dari mulai tangan, ikat pinggang, sapu atau barang yang ada di sekitaran ayahnya akan mendarat di badan Laura.


Bahkan Ibunya tidak bisa membela Laura dari kekejaman Ayahnya.


Ayahnya sendiri merupakan bandar judi besar di Indonesia.


Sudah beberapa kali Ia selalu di tangkap polisi tapi dalam peradilan selalu di vonis bebas.


Ayah Laura memang pribadi yang kasar. Bahkan dalam percakapan biasa saja Ia selalu berkata kasar.


Jadi berbekal dari masa kecilnya yang kelam, Laura jadi terbiasa dan menikmati segala kekerasan yang Ia terima.


Aku menyarankan kepada Laura untuk menjari seorang psikiater untuk membantunya.


Karena jika Ia menikmati semua bentuk kekerasan maka ada yang salah di dirinya.


Tapi Ia takut akan di bilang gila oleh sebagian orang.


" Pergi ke psikolog atau psikiater bukan berarti kamu gila, justru mereka bisa menjadi teman dan pendengar yang baik bagi kamu "


" Selama ini kamu pasti ga pernah cerita apapun ke kedua orangtuamu kan? " Tanyaku selembut mungkin.


" Ga pernah " Jangankan cerita, bertemu dengan ayahnya saja sudah menakutkan untuk Laura.


Sedangkan Ibunya selalu menyibukkan diri diluar dengan ikut perkumpulan dan arisan ini itu.


Dari kecil ia sudah tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Ia hanya di berikan uang yang berlimpah tapi tidak pernah di tanya apa keinginannya sebenarnya.


Selama tadi main bersama Laura, bukan nafsu yang aku rasakan, tapi rasa pedih dan rasa kasihan. Membayangkan kehidupan yang Ia jalani selama ini.


Sebelum pergi, aku memeluk Alissa erat untuk memberikannya kekuatan.


" Kamu pasti bisa ngelakuin ini semua. Kamu hebat kamu kuat "

__ADS_1


__ADS_2