Kisah sang Gigolo

Kisah sang Gigolo
Kecelakaan orang tuaku


__ADS_3

Kedua orang tuaku sudah di dalam perjalanan menuju Jakarta.


Dari pagi aku sudah bangun untuk membersihkan Penthouse.


Alfred sudah membuat list mau melakukan apa saja hari ini dengan kedua orang tuanya.


Berbulan bulan Alfred hidup dalam kesepian, akhirnya Ia tidak akan kesepian lagi karena kedatangan kedua orang tuanya.


Bell apartemen berbunyi ketika Alfred sedang memilih milih wine yang akan Ia coba bersama kedua orang tuanya.


Alfred bergegas membukakan pintu karena pasti Itu adalah Mama dan Papa.


Dan benar saja Mama, Papa dan seorang Driver yang membantu Papa menyetir hari ini.


Aku memeluk Mama dan Papaku erat. Rindu sekali rasanya dengan mereka.


" Aduh Fred Mama ga bisa nafas loh ini, rambut mama bisa rusak Fred " Mama menepuk nepuk lenganku yang sedang memeluknya.


" Mama emang ga seneng ketemu Fred? "


" Ya senenglah, tapi jangan di rusak dong rambut Mama. Mama sampe ke salin pagi pagi "


Aku merangkul Mama dan Papaku dan mengajak masuk ke dalam ruangan.


" Wah gede banget Apartemen kamu Fred. Ih keren loh "


Mama terkesima melihat sekeliling penthouse ini, dan Ia tidak henti hentinya berdecak kagum.


" Ya sudah Mama sama Papa tinggal sama aku aja "


" Mana mau Papamu jauh jauh dari restonya "


Aku ajak Mama ke Balkon yang anginnya sedang tidak terlalu kencang.


" Bagus ya Fred pemandangannya, kamu tiap hari duduk disini? " Aku lupa memasukan gelas dan botol wine yang aku minum kemari sore.


" Iya Ma. Mama hari ini mau kemana? Biar Fred anter "


" Ga usah kemana mana, kita seharian disini aja Fred. Mama udah bawa makanan nanti tinggal di taro di microwave "


Tumben sekali, biasanya Mama selalu senang jika aku ajak di Mall.


Tapi hari ini sudah jauh jauh datang ke Jakarta malah tidak mau kemana mana.


Tapi mungkin karena kangen berat sama anak kesayangannya.


Seharian kami hanya nonton Tv dan mengobrol.


Aku membantu Mama mengeluarkan makanan yang Mama bawa.


" Mah ga salah ini banyak banget makanannya, kita kan cuma bertiga Ma mana habis? "


Mama bawa berbagai lauk yang mama masak sendiri.


Ada ayam bakar, sambal goreng ati, sambal udang , tumis jengkol, dan masih banyak yang lainnya.

__ADS_1


" Kan sisanya bisa kamu makan untuk hari hari. Kamu kan bilang susah nyari masakan sunda enak di Jakarta, jadi Mama bikinin yang banyak "


Masakan Mama memang tiada duanya, aku tentu tidak akan menolak di masakan makanan segini banyak.


Kami makan bertiga dengan lahap. Sudah lama moment makan bertiga tidak terjadi.


Aku menikmati setiap gigit lauk yang Mama bawa.


Setelah itu kami menonton Tv, aku tidur di atas pangkuan Mama.


Mama membelai rambutku, rasanya sangat tenang dan nyaman.


Papa juga banyak bercerita tentang usaha barunya.


Memperkenalkan nama nama karyawan Papa padaku.


Bercerita bagaimana usaha restoran Papa berjalan. Mulai dari memesan bahan baku, cara pengolahan, pemasaran dan hal hal teknis lainnya.


Seolah olah besok aku akan meneruskan usaha restorannya.


Tapi entah mengapa aku menyimak setiap ucapan yang Papa bicarakan.


Tidak terasa sore hampir berganti malam. Aku , Mama dan Papa sedang menikmati sunset di balkon apartemen.


Melihat perubahan warna langit sampai akhirnya menjadi gelap.


" Mama Papa ga mau nginep dulu disini? Alfred masih kangen " Aku merangkul tangan Mama menahannya pergi.


" Nanti Mama main lagi ya, besok Mama ada arisan di rumah sama kawan Mama "


Tapi karena besok Mama ada arisan maka harus pulang malam ini juga.


Ku antar Mama dan Papa sampai ke parkiran.


" A ulah kekebutan nyaa nitip Mama sareung Papa nyaa A " Kuberikan pesan kepada A Maman driver yang akan membawa mobil.


Aku melihat mobil Mama dan Papa sampai tidak terlihat baru beranjak masuk ke apartemen.


Aku memasukan semua makanan yang Mama bawa kedalam tupperware.


Sudah terbayang akan makan apa besok pagi. Hanya dengan membayangkannya saja aku sudah senyum senyum.


Setelah itu aku cuci semua piring dan gelas makan malam kami.


Mem vakum ruangan ruangan dan merapihkan semua barang kembali ke tempatnya.


Tidak terasa dua jam sudah aku bersih bersih. Seharusnya Mama dan Papa sudah sebentar lagi sampai Bandung.


Aku cek share location via whatsapp dari Mama dan posisinya masih di dalam tol Padalarang.


Lama juga baru sampai Padalarang mungkin macet, pikirku dalam hati.


Sejam kemudian posisinya share location Mama masih sama.


Aku masih berfikir apa mungkin Mama tidak ada jaringan internet sehingga live location nya tidak aktif.

__ADS_1


Aku telpon nomor Papa tidak menjawab, begitupun dengan nomor Mama.


Apa mungkin tidur, pikirku lagi.


Tiga puluh menit kemudian aku cek posisi live location masih di dalam tol Padalarang tidak bergerak.


Aku mulai khawatir, karena sudah lebih dari tiga jam belum sampai Bandung.


Ku telpon terus nomor Papa dan Mama masih tidak diangkat.


Harusnya tadi aku minta nomor telpon A Maman, mungkin A Maman bisa di hubungi.


Jam sudah menunjukan pukul dua belas malam.


Aku masih bolak balik di ruang tengah, menunggu kabar dari Mama dan Papa.


Hatiku sangat tidak tenang, tidak pernah Mama dan Papa tidak membalas pesanku selama ini.


Aku cek live location Mama masih di lokasi yang sama.


Aku mencoba untuk telpon nomor Mama lagi akhirnya diangkat.


" Ma, udah dimana? "


" Halo " Diangkat oleh seorang laki laki yang bisa aku pastikan itu bukan suara Papa atau suara A Maman.


Bulu kudukku langsung merinding, darahku seolah mengalir dengan cepat, pikiranku sudah kemana mana.


" Iya Halo, ini siapa ya " Jawabku


" Ini saya dengan Sugeng Pak, Bapak anak dari Ibu Marini dan Bapak Widjaja? "


" Betul Pak, Papa dan Mama saya kenapa ya? "


" Mohon Bapak tenang, saat ini Ibu dan Bapak anda, mengalami kecelakaan di KM dua puluh menuju Bandung "


Kaki ku lemas dan air mataku pun tidak terbendung lagi.


Selanjutnya aku tidak terlalu jelas mendengar apa yang di sampaikan Bapak polisi.


Aku hanya dengar diminta untum datang ke sebuah rumah sakit.


Aku sangat menyesal, seharusnya aku sendiri yang mengantar Mama dan Papa pulang dan jika ada kecelakaan biarkan kami celaka bersama.


Harusnya tadi aku tahan Mama dan Papa untuk tidak pulang, persetan dengan arisan sosialita itu.


Banyak pengandaian di dalam pikiranku. Biar aku saja yang mati Tuhan, jangan kedua orang tuaku.


Suara tangisku bergaung di seluruh ruangan penthouse ini.


Aku terlalu rapuh Tuhan untuk merasakan sakit sebegitu besarnya.


Mengapa tidak aku saja, anak yang banyak dosa ini yang Engkau cabut nyawanya.


Mengapa harus orang tua yang sangat aku sayang.

__ADS_1


Aku sudah tidak punya siapa siapa lagi selain mereka.


__ADS_2