
Tidak terasa sudah satu tahun aku bekerja sebagai gigolo.
Sudah banyak client perempuan dari berbagai umur dan berbagai latar belakang yang aku layani.
Kebanyakan mereka adalah wanita wanita kesepian yang mempunyai suami atau hanya ingin mencoba menyalurkan fetish fetish nya.
Jika di tanya bagaimana rasanya menjadi gigolo?
Rasanya tentu tidak enak, karena kita punya kewajiban untuk menyenangkan setiap client yang memakai jasa kita.
Apapun kondisi mood kita atau apapun situasinya kita wajib menyenangkan setiap client.
Dari awal terjun ke dunia gigolo aku me-sugesti pikiranku agar selalu senang mengerjakan pekerjaan ini.
Karena jika aku tidak bisa menikmatinya aku tidak akan bisa menyenangkan orang lain.
Hari ini bukanlah hari liburku, karena aku mempunyai job siang ini.
Jika biasanya yang menyewa jasa kami selalu meminta bertemu di hotel bintang lima.
Beda dengan client aku hari ini. Namanya adalah Natasha, umurnya tujuh belas tahun.
Ia adalah client termuda yang pernah aku terima dan merupakan client baru di kantor kami.
Entah darimana Ia mendapatkan informasi tentang jasa gigolo.
Mungkin karena masih bersekolah dan uangnya tidak sebanyak tante tante sosialita yang sering menyewa jasa kami, jadilah Ia menyewa hotel di hotel bintang tiga.
Aku tidak mengerti apa pikiran anak tujuh belas tahun dengan menyewa jasa gigolo.
Bukankah di usia belasan adalah masa masa terindah untuk berpacaran.
Sesampainya di hotel, aku ketuk kamar 504. Di bukakan oleh seorang remaja dengan malu malu.
Ia berkulit putih, berambut keriting, berkacamata dan bertubuh subur.
Aku tersenyum dan menyapanya " Hallo Natasha "
" Ha..hallo Ka " Jawabnya takut takut.
Kamar yang Natasha pesan adalah kamar tipe deluxe.
Yang mana tidak terlalu besar, hanya ada tempat tidur, tv dan kamar mandi.
Aku langsung duduk di pinggir kasur, dan Natasha mengikuti aku.
" Ini bener kamu sendiri yang mesen layanan kita? "
" Iya bener ka? "
" Aku boleh tanya kenapa? Jasa kita pasti akan terasa mahal di anak sekolah, jadi kenapa kamu booking? " Tanyaku dengan nada seramah dan selembut mungkin.
Aku tidak ingin pertanyaan aku membuatnya tidak nyaman atau malah tersinggung.
__ADS_1
" Aku selalu di bully di sekolahku " Ucapnya ragu ragu.
" Jadi ga ada temen cowok yang mendekati aku apalagi menjadi pacarku. Aku takut ga akan punya pacar sampai tua "
" Kenapa kamu berfikir seperti itu? "
" Karena mereka selalu mengejekku gendut dan cowok cowok terlihat seperti jijik padaku " Ia pun mulai menangis setelah berkata seperti itu.
Aku langsung memeluknya, aku paham bagaimana perasaanya.
Ia pasti sedang merasa insecure tidak punya daya tarik sebagai wanita.
Ia takut hal itu akan berlangsung lama sehingga Ia tidak akan menikah.
Jika Natasha bertemu dengan diriku yang dulu, yang super arogan. Mungkin aku tidak akan mengerti perasaanya.
Tapi kebangkrutan Papa banyak mengajarkan aku tentang hidup, mengajari aku bagaimana menjadi manusia yang lebih baik.
Aku mencoba menenangkan Natasha " Jika memang kamu di bully karena di bilang gendut, Kakak bisa nemenin kamu buat olah raga tiap hari sampe berat badan kamu ideal "
Natasha menatapku " Beneran Ka? "
" Iya bener, kakak bisa temenin. Jangan sedih lagi ya "
Dan hari ini berakhir dengan Natasha yang bercerita bagaimana Ia di bully setiap hati oleh teman sekolahnya.
Aku meminta Alrik untuk mengembalikan uang Natasha dan aku ceritakan semuanya.
Hari ini sengaja aku menjemputnya di sekolah. Aku sengaja turun dari mobil dsn menunggunya di depan sekolah.
Ku kirim pesan kepada Natasha, bahwa aku sudah menunggu di depan sekolah, dan pastikan teman yang membulynya melihat aku menjemputnya hari ini.
Dari gerbang keluar segerombolan anak yang diikuti dengan Natasha di belakangnya.
Natasha melambai kearah ku " Kakak "
Dan gerombolan anak tadi melihat Natasha menghampiriku.
Sengaja aku memegang merangkulnya dan membukakan Natasha pintu mobil san reaksi gerombolan anak itu sudah pasti heboh.
" Kakak sebenernya ga perlu repot repot kaya tadi loh " Ujar Natasha ketika kami dalam perjalanan ke klinik.
" Ga apa, biar kamu jadi terkenal "
Sebelum kami memulai sesi olah raga, aku membawa Natasha ke dokter gizi untuk konsultasi.
Untuk hasil yang maksimal tentunya harus sejalan antara mengatur pola makan dan olah raga.
Aku sudah mewanti-wanti Natasha jika Ia mau mencapai tubuh ideal Ia harus bisa menjalani ini semua.
Dari dokter gizi, Natasha di berikan jadwal diet sesuai kebutuhannya.
Apa saja yang perlu dimakan dan apa saja yang tidak boleh di makan.
__ADS_1
Sedangkan untuk olah raga aku suda mengatur seperti apa nanti rangkaian olah raga yang harus Natasha Lakukan.
Tibalah kami di apartemenku, aku akan fitne di club house karena aku mau tetap menjaga privacy ku.
Di mulai dengan melakukan jalan santai di treadmill. Baru sepuluh menit Natasha sudah kewalahan.
Tapi aku tetap memberikannya semangat agar bisa terus melakukanya selama tiga puluh menit.
Setelah itu Natasha aku arahkan untuk melakukan gerakan bridges selama dua puluh kali secara perlahan.
Gerakan ini berfungsi untuk memperkuat otot inti sekaligus membangun otot punggung bagian bawah.
Selanjutnya aku arahkan untuk melakukan gerakan side legs lifts.
Gerakan ini adalah gerakan sederhana.
Natasha hanya perlu berbaring lalu memiringkan badan kesamping kiri dan kanan kemudian mengangkat kaki dari samping dengan gerakan turun naik.
Memang jika fitnes untuk orang yang bertubuh gemuk, kita ga bisa langsung olah raga berat. Jadi harus di lakukan secara step by step.
Wajah Natasha tampak merah dan keringat bercucuran di wajahnya.
Walupun begitu Ia tetap bersemangat menjalankan fitnes hari ini.
Terakhir, Natasha menggunakan sepeda statis. Aku atur di intensitas sedang.
Natasha melakukan ini selama dua puluh menit sebanyak dua sesi.
Jadi total Ia akan berolah raga sekitar empat puluh menit.
" Jadi karena berat badan kamu masih lumayan nih, awal kita kardio dulu ya. Semua olah raga hari ini termasuk latihan kardio "
Dengan nafas yang masih ngosngosan Natasha mendengarkan semua penjelasanku.
" Kamu bisa berenang ga? "
" Bisa Kak "
" Oke besok kamu bawa baju renang ya, kakak tunggu besok disini jam dua siang oke? "
" Oke Kak "
Kehadiran Natasha yang tiba tiba di hidupku seperti merubah rutinitas yang sudah aku lakukan selama ini.
Aku jadi harus menyiapkan waktu khusus satu sampai dua jam setiap harinya untuk menemaninya fitnes.
Tapi entah mengapa aku tidak ada beban dalam melakukannya.
Untuk anak tunggal sepertiku adanya Natasha seperti mempunyai adik perempuan.
Siapa sangka kalo awal kami bertemu karena Ia menyewa jasaku sebagai Gigolo.
Hidup memang kadang selucu itu.
__ADS_1