
Perlu beberapa detik untuk aku akhirnya mengenali kamar ini sebagai kamar kedua orang tuaku.
Aku terbangun dengan mata yang sembab karena menangis semalaman.
Mataku tertuju dengan meja rias di depan kasur.
Diatasnya ada barang barang yang Mama dan Papa kenakan dalam kecelakaan.
Ada tas Mama dan Papa. Aku mengambil tas dari dalam plastik putih dari kepolisian.
Di dalam tas Papa ada handphone yang sudah mati, aku langsung charge handphone Papa.
Selain handphone ada dompet yang aku belikan di mall saat aku pertama kali menjadi gigolo.
Dompetnya masih dalam kondisi bagus. Di dalamnya ada beberapa lembar uang dan KTP.
Tapi yang menjadi fokusku adalah foto kami bertiga di disneyland hongkong.
Papa menggendongku di pundaknya dan Mama tersenyum sangat cantik.
Aku bahkan tidak mengingat moment itu, karena usiaku mungkin baru tiga atau empat tahun.
Aku mengecek lagi ke dalam tas Papa. Ada buku notes berisi nomor telpon penting dan nomor nomor rekening yang papa susun dan tulis rapih.
Selain itu hanya ada perlengkapan obat obatan Papa saja.
Setelah selesai dengan tas Papa, aku memeriksa tas Mama tang terasa lebih berat dari tas Papa.
Ada handphone Mama dalam keadaan mati yang langsung aku charge di samping handphone Papa.
Selain itu ada dompet panjang berwarna cokelat.
Didalamnya ada tanda pengenal dan kartu kartu member yang jumlahnya sangat banyak.
Mama memang sering membeli makanan untuk berbagai acara kami dulu, jadi banyak kartu member dari toko kue dan restoran.
Selain itu ada pouch merah berisi alat makeup Mama yang masih komplit.
Selain itu ada obat obatan mama, kacamata baca dan kipas lipat.
Aku membaca buku notes milik Papa. Di dalamnya ada satu lembar di tulis Papa AYCE JOSS.
Itu merupakan nama restoran all you can eat milik Papa.
Dari mulai Papa membuka restoran itu sampai sekarang aku tidak pernah datang kesana.
Di list paling atas ada nama Agni.
Aku mencoba menelpon nomor yang ada di notes Papa.
" Halo Assalamualaikum " Baru sekali nada dering telpon langsung diangkat.
Aku memperkenalkan diri sebagai anak Pak Wijaya dan Ia sangat senang sekali aku menghubunginya.
Selama Papa ga ada, Agni lah yang menjalani usaha Papa.
Ia tidak tau bagaimana cara menghubungi aku, karena setelah Papa meninggal karena rumah keluarga kami selalu kosong.
Karena tidak mungkin menutup usaha Papa yang memiliki lima belas pegawai, maka Agni menjalankan restoran Papa sampai aku menghubunginya.
Ia memberikan alamat resto kami dan setelah mandi aku langsung berangkat menuju kesana.
Agni menyambut ku ketika aku datang. Ia begitu bersemangat mengajak aku berkeliling dan menceritakan semua hal tentang resto.
Papa bahkan memasang foto liburan kami di jepang yang menggunakan kimono.
" Papa Mas sangat bangga dengan Mas, beliau selalu bercerita tentang Mas. Kalo habis di beliin mobil, rumah ya gitu selalu cerita "
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Agni.
__ADS_1
" Jadi sekarang Mas Alfred ya yang ngejalanin bisnis Bapak? Alhamdulillah jadi sekarang saya udah tenang "
" Saya ga tau juga saya bisa apa engga, kamu bantuin saya ya "
" Pasti, saya sama anak anak pasti ngebantuin Mas Alfred "
Mulai hari itu aku bekerja di restoran Papa. Memulai semuanya dari nol, Agni cukup sabar mengajari aku.
Ia selalu bersedia lembur jika aku butuh bantuan.
Sudah hampir enam bulan aku berada di Bandung dan mengurus restoran Papa.
Semua berjalan baik dan aku sangat ketergantungan sekali dengan Agni.
Sampai suatu hari Agni tidak masuk kerja, izin kepadaku sakit.
Karena khawatir pada Agni, aku menanyakan alamat Agni kepada karyawanku.
Berbekal alamat itu aku menuju rumahnya dengan membawa buah buahan.
Dari alamat yang di berikan, aku sampai di depan rumah petakan agak kumuh.
Ragu ragu aku ketuk pintunya dan Agni sendiri yang membukakan pintu.
Iya terkejut melihat kedatanganku tapi tetap mempersilahkan aku masuk.
Di dalam rumah ini Agni tinggal bersama ayah dan adik adiknya.
Tidak tanggung tanggung adiknya ada enam. Ibunya sudah meninggal dunia lima tahun yang lalu.
Dan Bapaknya sudah satu tahun ini terkena stroke.
Agni dan adik adiknya bergantian merawat Bapak mereka.
Jika Agni bekerja maka adik adiknya lah yang menjaga Bapaknya.
Tidak terbayang olehku, rumah petakan tanpa kamar di huni oleh delapan orang.
Bagaimana cara mereka tidur, pikirku dalam hati.
Semenjak aku mengetahui kondisi Agni ada perasaan kasihan yang melanda diriku.
Aku seperti ingin menjaganya, ingin membantunya dan ingin melindunginya.
Yang semula aku hanya membuka sedikit tentang hidupku, sekarang aku sudah berani bercerita banyak.
" Kamu hebat ya ni, beban di pundak kamu berat tapi kamu tetap semangat dan ga nyerah dengan kemiskinan "
" Yang kaya saya juga banyak Mas "
" Kalo saya dulu pas susah langsung menyerah pada kemiskinan Ni "
" Maksudnya Mas? "
" Waktu Papa bangkrut, aku langsung nyari jalan pintas buat ngedapetin uang, aku menjadi gigolo "
Agni menoleh ke arahku dan aku tidak berani melihat matanya.
" Makanya waktu Papa dan Mama ga ada aku nyalahin diriku sendiri, mungkin semua ini terjadi karena kesalahanku "
" Ga boleh ngomong gitu Mas, Jodoh, maut dan rezeki kan sudah ada yang mengatur Mas "
" Kamu ga jijik sama saya Ni? "
" Aku tuh dari lahir sudah miskin Mas, jangan ditanya sudah beberapa kali aku ingin melakukan hal nekat kaya Mas. Tapi Bapak selalu mewanti wanti aku untuk jangan melakukan hal itu. Walaupun pada saat sakit seperti sekarang Ia selalu mengingatkan hal itu "
Air mata Agni mengenang di matanya.
" Apalagi Mas yang tadinya kaya lalu jatuh miskin pasti Mas kaget dengan kondisi itu "
__ADS_1
Dari pembicaraan kami sore ini, aku sangat kagum dengan Agni.
Ia tetap bisa menjaga dirinya walaupun hidupnya sedang tidak baik baik saja.
Aku jadi sering main ke rumahnya, bertemu Bapaknya dan bermain dengan adik adiknya.
Aku bahkan membawa Bapak Agni ke rumah sakit agar bisa di rawat dengan baik.
Agni dan adik adiknya sangat berterima kasih padaku.
Sekarang aku jadi mengerti arti uang.
Yang dahulu aku menganggap uang ga ada artinya karena tidak ada Mama dan Papa, sekarang aku tau dengan uang itu aku bisa membantu orang yang membutuhkan.
Bersama Agni kami mulai rutin membantu orang yang sedang membutuhkan bantuan.
Dimulai dari lingkungan kami dulu, karyawanku, saudara karyawanku ataupun para tetangga mereka.
Dengan melakukan itu aku merasa hidupku semakin berarti.
" Ni kenapa belum nikah? Umurmu kan sudah pas untuk menikah? "
" Nyari laki laki bertanggung jawab yang mau sama saya yang punya enam adik dan Bapak yang sedang sakit itu susah mas "
" Kenapa susah? "
" Ya mereka udah ngerasa bakal di repotin sama keluarga saya Mas "
" Kalo ada yang mau gimana? "
" Sampe sekarang ga ada yang mau juga Mas "
" Saya mau kok "
" Mas Alfred becanda aja "
" Saya serius, nikah yuk Ni "
Agni menatap mataku, mencari tau apakah aku serius dengan perkataanku.
Sebenarnya hal ini sudah aku persiapkan seminggu yang lalu.
Ketika aku melihat Agni di rumah sakit dengan telaten mengurusi Bapaknya.
Dengan sabar menyuapi Bapaknya dan melap badan Bapaknya yang tidak bisa banyak bergerak.
Disitu aku merasa yakin, Agni adalah perempuan yang selain bisa menerima masa laluku juga bisa ada di sampingku apapun yang terjadi.
Hebatnya lagi dengan menikah dengan Agni aku mendapatkan Bapak baru dan enam adik.
Hidupku tidak akan sepi lagi dengan kehadiran keluarga baruku.
Enam bulan setelahnya kami melangsungkan pernikahan.
Karena permintaan dari Agni pernikahan kami berlangsung sederhana.
Hanya di hadiri teman teman terdekat kami. Alrik, Mba Rina dan teman teman dari kantor lamaku ikut hadir dalam pernikahan kami.
Aku sangat bahagia sekali. Mungkin ini adalah masa paling bahagia dalam hidupku setelah kematian Mama dan Papa.
Dan aku yakin Mama dan Papa melihatku dengan tersenyum di atas sana.
Memilih Agni menjadi istriku tidaklah salah, Ia sangat pintar berbisnis.
Dari satu restoran sekarang kami sudah memiliki tiga gerai restoran.
Semuanya berjalan dengan lancar dan bersinergi satu dengan yang lainnya.
Aku bangga sekali dengan Agni Istriku. Dan berterimakasih padanya karena telah membuat hidupku komplit kembali.
__ADS_1