
Dua client yang di berikan oleh Alrik malah membuatku menjadi tidak karuan.
Lebih parahnya client kemarin, Sonya dan Hendro.
Melihat kekerasan di depan mataku tapi tidak berdaya untuk melawannya membuat aku merasa semakin tidak berguna.
Walaupun dulu aku orang yang suka mempermainkan perempuan, tapi aku tidak pernah berbuat kasar kepada mereka.
Perlakuan kasar seperti ini, apalagi berasal dari orang terdekat pasti akan menimbulkan trauma.
Kemarin aku sengaja menunggu sampai Sonya tenang.
Ia masih ketakutan walaupun suaminya sudah pergi entah kemana.
Ia menceritakan kehidupan rumah tangganya. Bagaimana suaminya selalu kasar pada saat berhubungan.
Walaupun di luar itu Ia adalah laki laki yang normal, tapi Sonya selalu ketakutan jika sedang berduaan.
Dari awal pernikahan Hendro sudah memperlakukan Sonya seperti itu dan Sonya terpaksa menerima semuanya karena keluarga Sonya mempunyai hutang kepada keluarga Hendro.
Pernikahan merekapun tidak di dasari oleh cinta.
Ini sebatas perjodohan karena hutang piutang.
Keluarga Sonya bukan tidak tau jika selama ini Hendro kasar dengan Sonya.
Sonya sudah mengadukan ini kepada Ibu dan Bapaknya di awal awal pernikahannya
Tapi kedua orang tua Sonya tidak berdaya dan tidak bisa melakukan apa apa.
Jadilah Sonya hanya bisa pasrah menerima semua perlakuan Hendro.
Sonya tidak bercerita berapa hutang kedua orang tuanya kepada keluarga Hendro sampai Hendro bisa menyakiti Sonya seperti ini.
Sonya pun tidak tau apakah Hendro memiliki perasaan kepadanya?
Karena dari awal menikah Ia hanya mendapatkan kekerasan demi kekerasan dari Hendro.
Ia hanya seperti budak yang barus menerima di perlakukan apapun.
Hendro hanya bersikap baik jika ada orang lain di sekitar mereka, tapi begitu mereka hanya berdua sifat asli Hendro keluar.
Beberapa kali Ia berpikir untuk mengakhiri hidupnya, karena Ia tidak tau bagaimana caranya keluar dari keadaan ini.
Aku sampai menawarkan untuk Sonya pergi ke psikolog bersamaku, karena aku tau Sonya juga perlu pertolongan.
Tapi sayangnya Sonya menolak ajakan aku, Ia takut suaminya akan tau dan bertambah marah dengannya.
Aku pulang dari rumah Sonya dengan perasaan yang tidak enak malam itu.
Bahkan sampai apartemen perasaanku masih sakit.
Padahal Sonya hanya client ku bukan kakak ataupun saudaraku.
Tapi aku begitu ingin menolongnya keluar dari hidupnya yang suram.
Jika orang lain melihat tubuh Sonya yang memiliki banyak luka, pasti akan merasakan hal yang sama sepertiku.
__ADS_1
Aku hanya berharap Sonya dapat menemukan jalan keluar untuk masalahnya.
**********
Alrik sudah memberikan nomor psikolog yang akan membantuku.
Aku sudah menghubunginya untuk membuat jadwal bertemu.
Aku juga menghubungi Sonya dan memberikan nomor psikolog tersebut.
Aku bahkan menawarkan diri untuk menemaninya ke psikolog tapi Ia masih mau berpikir dulu.
Dan aku sudah memutuskan selama aku konseling dengan psikolog, aku akan mengambil cuti.
Alrik sangat mendukung keputusanku. Ia berharap aku bisa segera menemukan kedamaian.
Jadi Giandra, adalah client terakhirku sebelum aku mulai cuti.
Seperti yang sudah aku ceritakan, Giandra adalah penulis novel stensil terkenal.
Saking terkenalnya sudah beberapa karya yang Ia ciptakan.
Ia bahkan tinggal di apartemen mewah di bilangan jakarta pusat.
Ia memintaku untuk datang ke apartemennya sore ini jam tiga sore.
Kami akan bermain di kolom renang club house nya.
Walaupun menurut Giandra, kolom renang tersebut ada di dalam ruangan tidak seperti kolom renang di apartemenku.
Dan benar saja ketika kami sampai di kolom renang, situasinya lumayan rame.
Tidak hanya dengan dewasa, di kolom renang ink juga ada beberapa anak sekolah yang masih di bawah umur.
" Gimana Kak? Yakin mau ngelakuin disini? " Aku masih menebarkan pandanganku.
" Kalo rame nya sih ga masalah, cuma ada anak kecilnya ini "
Ada sekitar empat anak sekolah berusia sekitar sebelas atau dua belas tahun di kolom renang ini.
" Nunggu anak anak naik dulu aja Will, ngobrol dulu aja kali ya "
Dan kami mengobrol tentang apapun. Ia bertanya tentang pekerjaanku.
Seperti permintaan client kepadaku dan berapa lama aku bekerja menjadi gigolo.
Mungkin karena seorang penulis novel, cara bicara Giandra begitu tertata rapih.
Bahkan selama mengobrol aku tidak mendengar Giandra seperti berpikir dan mengucapkan e e e, ciri khas orang yang mencari kata kata.
Pengetahuannya juga luas, bahkan ada beberapa hal yang aku tidak tau dan baru tau darinya.
Setelah menunggu dua jam akhirnya rombongan anak anak itu keluar dari kolom renang.
Tanpa menunggu lama kami langsung masuk kedalam kolom.
Sambil mengendap endap dan melihat sekeliling aku mulai memegang tubuh Giandra.
__ADS_1
Melakukan ini di dalam air adalah yang pertama bagiku.
Apa rasanya? Rasanya aneh karena terasa lebih berat jika ingin bergerak.
Bahkan untuk membuat on saja sulit.
Aku meraba bagian bawah Giandra, rasanya hangat karena air kolam lumayan dingin saat itu.
Jari jariku menari nari di dalam goa Giandra. Giandra memejamkan mata, entah karena nikmat atau sedang menghayati peran di dalam novel.
Ia buka lebih lebar kakinya agar aku leluasa bergerak.
Giandra memelukku " Masuk Will " Ucapnya di telingaku.
Aku coba memasukan pisang anak mas ini ke dalam goa Giandra.
Yang biasanya pisang ambon hari ini menjadi pisang anak mas kecil yang mengkerut karena dingin.
Agak sulit untuk memasukannya, karena Ia tidak kuat berdiri.
Tetap ku coba agar Giandra tau main di dalam air bukan ide yang bagus.
Giandra masih tetap memelukku, dari kejauhan aku melihat ada orang yang memperhatikan kami.
Aku langsung memasukan pisang mas kembali dan berbisik kepada Giandra " Ada yang ngeliatin arah jam enam kamu "
Giandra melepaskan pelukannya.
" Lanjut ke apartemen ku aja Will "
Sampai di kamar apartemennya kami melanjutkan permainan di dalam kamar mandi.
Di mulai dengan mandi bersama untuk membersihkan kaporit dari kolom renang.
Aku mulai memainkan kedua gunung itu dan Giandra mulai bersuara.
Ia melebarkan kakinya dan kubiarkan lidahku bermain di sana.
Giandra mengacak acak rambutku dan ia bergerak liar.
" Masuk Will "
Permainan kami berlangsung lama dan kali ini goa Giandra bertemu dengan pisang ambon yang keras dan berurat.
Kami bermain berbagai gaya dengan ritme yang cepat.
Jika ini adalah hari terakhirku menjadi gigolo maka aku akan memberikan service yang memuaskan kepada client terakhirku.
Kami melakukannya berkali kali, berpindah pindah tempat dan mencoba banyak gaya.
Aku rasa hari ini Giandra mendapatkan banyak bahan untuk novel stensil nya.
Bahkan aku bersedia menginap di apartemennya hanya karena Giandra mau tau apa rasanya serangan fajar.
Begitulah hari terakhirku menjadi seorang gigolo.
Besok aku memulai konseling ku bersama psikolog pilihan Alrik.
__ADS_1