Kisah sang Gigolo

Kisah sang Gigolo
Tante Rossa adalah mamah Vena


__ADS_3

Sedari siang aku sudah sibuk memilih baju yang akan aku pakai di acara makan malam bersama kedua orang tua Vena.


" Ya ampun Beb santai aja, kedua orang tua aku bukan dari orang mode kok. Yang penting kamu rapih aja "


Vena berusaha menenangkan William yang sibuk bolak balik memilih baju.


Pagi ini Vena datang ke apartemen William.


Tanpa memberitahukan terlebih dahulu Vena masuk ke apartemennya William.


Sudah lama William memberikan pin pintu apartemennya, tapi baru kali ini Vena datang ke apartemennya.


Apartemen William sangat rapih. Semua barang berada si tempatnya.


Di temboknya tidak terpasang foto apapun. Semuanya serba minimalis.


Yang membuat ruangan ini terlihat berisi hanyalah adanya beberapa alat fitnes di dekat kaca.


Vena membuka pintu kamar William dan melihatnya sedang tertidur.


Vena langsung memeluk William dan Ia terbangun.


" Bebb ? " Tanyanya memastikan.


Ya siapa tau ada orang iseng masuk ke dalam kamarnya dan memeluknya.


" Gemes banget sih kamu kalo lagi tidur gini beb " Vena mencium bibir William berkali kali.


" Dari kapan? " Tanya William sambil berusaha membuka mata.


" Baru aja " Vena masih sibuk menggoda William.


Ia senang jika kekasihnya sedang tidur. Karena wajahnya polos seperti bayi.


Akhirnya William pasrah memeluknya erat dan membiarkan Vena melakukan apapun yang ingin Vena lakukan.


" Beb nanti malem ga lupa kan? " Tanya Vena ketika William sedang memasak spaghetti aglio olio untuk makan siang mereka.


" Inget dong "


" Nanti kita berangkat bareng aja beb, feeling aku nanti kamu pasti bakal lama deh kalo milih milih baju. Aku ga mau kamu telat jadi better kita dateng berdua "


" Iya sayang, sekarang makan dulu sini. Kamu dari tadi ngeliatin foto itu terus "


Satu satunya foto di apartemen William adalah foto ukuran empat R yang berada di salam bingkai putih.


Itu adalah foto dirinya yang berusia sepuluh tahun bersama kedua orang tuanya saat liburan di Osaka Jepang.


Karena ayahnya membuka restoran Jepang, mereka sekeluarga lumayan sering mengunjungi jepang.


" Abis kamu lucu banget disitu, gemes aku "


" Sekarang juga masih gemesin kok " Ujar ku memasang wajah lucu.


Sepertinya kekhawatiran Vena benar adanya. sudah satu jam Will masih belum menentukan mau memakai baju yang mana untuk acara makan malam.


Karena gemas akhirnya Vena membantu Will untuk memilih baju yang akan Ia kenakan.

__ADS_1


" Yakin aku pake ini aja Beb? "


" Iya Beb itu aja bagus "


Dan berangkatlah mereka berdua menuju hotel Grand Mandarin.


Will dan Vena terlihat sangat serasi dan pakaian yang mereka gunakan terlihat sangar selaras.


Vena cantik mengenakan gaun warna rose gold dan William mengenakan kemeja dengan jas berwarna krem.


Mereka sengaja berangkat lebih awal agar bisa tiba sebelum kedua orang tua Vena tiba.


Setelah menunggu kurang lebih lima belas menit, kedua orang tua Vena tiba.


Will langsung pucat melihat kedatangan kedua orang tua Vena.


Bukan karna nervous tapi karena Ia tau betul siapa perempuan yang jalan menuju ke arah mereka.


Ia adalah Tante Rossa, ya Si Tante selai strawberry.


Tante Rossa juga nampak terkejut melihatku.


Aku berdiri mengikuti Vena yang menyambut Mama dan Papa.


" Ma, Pa kenalin ini Will "


" Halo Om dan Tante "


Kami saling berjabat tangan dan kemudian duduk.


Aku hanya bicara jika Papanya Vena menanyakan sesuatu.


Tante Rossa juga begitu, Ia yang biasanya ceria hari ini tidak banyak bicara.


Aku memikirkan bagaimana kelanjutan hubungan kami kedepannya jika Vena tau kalo Tante Rossa adalah client ku.


Vena sebenarnya cukup paham apa yang sedang terjadi.


Dari Will yang tiba tiba pucat pasi ketika melihat kedua orang tuanya datang.


Dan bagaimana Mamanya yang biasanya ceria dan suka mengobrol tiba tiba diam.


Tapi Vena berusaha bersikap senormal mungkin untuk menjaga perasaan Bapaknya.


Walaupun di dalam hatinya sangat bergemuruh.


Bagaimana Ibu yang sangat Ia cintai dan hormati tega menyelingkuhi ayahnya dengan seorang gigolo.


Dan gigolo tersebut adalah pacarnya sendiri. Vena cukup tau seperti apa pekerjaan pacarnya.


Ia tau berpuluh puluh bahkan beratus ratus wanita mungkin sudah Ia layani.


Dari awalnya Ia hanya iseng menjalin hubungan dengan William, karena Ia merasa kesepian dan terlalu sibuk untuk menjalin hubungan dengan laki laki lain.


Will yang lembut dan perhatian tidak pernah merecoki pekerjaan Vena.


Ia tidak pernah posesif dan selalu ada ketika Vena butuhkan.

__ADS_1


Vena akhirnya jatuh cinta kepada William yang seorang gigolo.


Ia berusaha menutup matanya dan menerima William seutuhnya.


Tapi dengan tau bahwa kekasihnya itu tidur dengan Ibunya sendiri, Vena merasakan jijik yang teramat sangat.


Sepanjang makan malam Ia mencoba untuk tidak muntah.


Vena rasa Ia tidak bisa menerima semua itu dan hubungannya harus berakhir sampai sini.


Setelah makan malam kami beranjak pulang. Di lobby kami berpisah, Papa dan Mamanya pulang ke rumah dengan mobilnya dan William dengan Vena pulang ke apartemen Will.


Di dalam perjalanan mereka hanya diam, suasana mobil tidak pernah sehening ini.


Bahkan mereka berdua tidak sadar jika selama perjalanan pulang, mereka tidak berbicara sepatah katapun.


Mereka terlalu sibuk dengan dunia dan pikirannya masing masing.


Will memencet pin untuk membuka pintunya. Baru saja masuk, Vena sudah bertanya hal yang menakutkan.


" Mama ku client kamu ya "


Will bahkan tidak siap dengan pertanyaan Vena yang begitu tiba tiba.


Tapi Will juga tidak ada niatan untuk membohongi Vena.


" Iya " Jawabnya lemas.


" Maaf Will aku sepertinya ga bisa lagi untuk nerima ini semua. Aku terlalu jijik membayangkan semuanya " Tangis Vena pecah.


Hancur sekali hati Will mendengar semua perkataan Vena.


Baru kali ini ia merasa malu dan tidak punya harga diri karena pekerjaannya.


Wanita yang sangat Will cintai dan banggakan telah menghinanya sangat dalam.


Ia sampai tidak memiliki tenaga untuk berdiri, dan air matanya pun jatuh.


Ia tidak bisa menenangkan kekasihnya yang sedang menangis hebat di depannya.


Karena Ia merasa sangat kotor dan tidak bisa menyentuh Vena yang jauh dari jangkauannya.


Mereka berdua hanya menangis dengan caranya sendiri.


Menangisi jalan cerita yang begitu kejam untuk mereka dan menangisi segala kebersamaan mereka selama ini.


William tidak bisa membela diri atau mempertahankan hubungannya.


Ia tidak si beri kesempatan apapun untuk melakukan apa yang Ia inginkan.


Dan hanya bisa menerima apapun yang Vena putuskan.


Vena meninggalkan apartemennya dengan membawa semua barang barangnya.


Ia pergi tanpa sepatah katapun, tanpa melihat William dan bahkan tidak ingin dibantu bawakan barangnya ke parkiran.


Vena pergi meninggalkan semua kenangan yang entah kapan bisa terhapus dari pikiran William.

__ADS_1


__ADS_2