Kisah sang Gigolo

Kisah sang Gigolo
Konseling dengan psikolog


__ADS_3

Rina Gunawan S,psi , Mpsi Itu nama yang tertera di pintu ruangan konselingnya.


Alrik bilang Ia adalah psikolog terbaik di kota ini dan bisa membantu masalahku.


Di Klinik ini ada beberapa psikolog dan psikiater.


Kliniknya tidak terlalu besar tapi merupakan bangunan baru jadi kondisinya sangat bersih.


Aku duduk di ruang tunggu karena Psikolog Rina masih ada pasien.


Aku menunggu bersama dua orang lainnya. Tapi kami akan menemui psikolog yang berbeda.


Awalnya kami sibuk dengan handphone kami masing masing.


Tapi karena sudah tiga puluh menit kami menunggu akhirnya aku membuka obrolan.


Satu orang Perempuan bernama Iren dan satu laki laki bernama Muklis.


Iren ini berusia dua puluh tujuh tahun, penampilannya serba hitam hitam dengan kaos lengan panjang.


Ia mulai bercerita tentang hidupnya. Iren berasal dari keluarga broken home yang mana kedua orang tuanya sudah menikah kembali.


Mama dan Papanya bercerai saat Iren berusia tujuh tahun.


Ia ditinggal bersama nenek dari Ibunya yang juga tinggal seorang diri sejak kakek Iren meninggal lima tahun yang lalu.


Dari kecil Ia sudah tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Bahkan Ia merasa tidak dianggap oleh kedua orang tuanya.


Kenangan terakhir yang Ia ingat adalah ketika orang tuanya mengajak Iren kecil ke kebun binatang.


Saat itu Iren tidak tau kalau itu adalah saat terakhir Ia akan merasakan kebahagiaan.


Kedua orang tuanya tidak mau membawa Iren ke keluarga barunya.


Jika pada kasus perceraian biasanya kedua mantan pasangan akan memperebutkan anak, berbeda dengan kedua orang tua Iren.


Mereka malah menitipkan Iren dengan Neneknya atau lebih tepatnya meninggalkannya bersama Neneknya.


Walaupun Ia hanya bertemu Ibunya pada saat Natal dan tidak pernah bertemu dengan ayahnya semenjak kedua orang tuanya bercerai, tapi Iren kecil sudah berdamai dengan hidupnya ketika bertemu dengan Nenek.


Iren merasa selama hidup dengan neneknya Ia sudah hidup normal dan berfikir bahwa hidupnya sudah baik baik saja.


Nenek Iren sangat menyayangi cucu satu satunya itu sehingga Iren tidak kekurangan kasih sayang.


Tapi pada saat Ia kehilangan Neneknya karena neneknya meninggal tiba tiba.


Dan Iren sendiri yang menemukan Neneknya sudah tidak bernafas di kamar pribadinya.


Hal itu membuat Iren terluka dan memicu kembali masa lalu yang susah payah Iren lupakan.


Walaupun mengetahui Nenek Iren sudah meninggal, tapi kedua orang tuanya masih tidak mau membawa Iren bersama mereka.

__ADS_1


Iren yang kesepian menjadi larut dalam kesedihan yang mendalam sampai akhirnya mencoba melakukan percobaan bunuh dirinya yang pertama.


Ia menyilet pergelangan tangannya tepat di hari ketujuh sepeninggalan neneknya.


Untungnya Ia masih bisa di selamatkan oleh tetangganya yang sedang menyiapkan tahlilan untuk neneknya.


Semenjak itu Ia di rujuk untuk menemui psikolog atau psikiater oleh dokter yang merawatnya.


Dan Iren sudah satu bulan konseling di klinik ini.


Dan orang kedua ada muklis. Muklis adalah seorang yang tumbuh di keluarga yang harmonis.


Yang seharusnya Ia tidak memerlukan jasa seorang psikolog atau psikiater.


Sampai akhirnya seluruh keluarganya di bantai oleh orang yang berhutang kepada keluarga mereka.


Orang yang berhutang ini adalah tetangganya sendiri.


Ia terlilit hutang dimana mana sampai akhirnya stress dan membunuh seluruh keluarga Muklis.


Hanya Muklis yang selamat karena saat itu sedang membantu menyebarkan undangan pernikahan temannya ke seluruh rumah di daerahnya.


Peristiwa tragis tersebut sampai masuk ke berita nasional.


Pada saat aku googling muncullah berita tersebut.


Muklis sendiri baru menjalani konseling selama dua minggu.


Iren kehilangan Neneknya, aku kehilangan kedua orang tuaku dan Muklis kehilangan seluruh keluarganya.


" Alfred Wijaya " Perawat memanggil namaku.


Aku pun berdiri dan pamit kepada kedua teman baru ku.


Ruangan konseling ini di dominasi warna putih.


Tidak banyak foto di sini, hanya ada beberapa piagam penghargaan.


" Halo Alfred " Psikolog Rina menyalami aku.


Dan di mulailah sesi konseling kami.


Aku memanggilnya dengan sebutan Mbak Rina permintaan dari Mbak Rina sendiri.


Menurut Mbak Rina, Psikolog bukanlah dokter jadi Aku tidak perlu memanggilnya dengan sebutan dokter cukup Mbak saja.


Di awal sesi, Mbak Rina menanyakan bagaimana kehidupan aku sekarang.


Aku bercerita semuanya kepada Mbak Rina. Ia sabar mendengarkan semua ceritaku.


Memberikan tisu ketika aku menangis dan memberikan pelukan ketika aku menangis hebat.


Bercerita dengannya membuat aku mengingat kembali detail demi detail peristiwa kecelakaan itu.

__ADS_1


Dan bagaimana aku hidup setelah peristiwa itu.


Betapa aku merasakan kesepian dan kosong setelah kehilangan kedua orang tuaku.


Aku pun menyalahkan diriku sendiri atas kepergian mereka.


Aku merasa kepergian mereka terjadi karena pekerjaan aku yang kotor sebagai seorang gigolo.


Walaupun aku tidak pernah bercerita kepada siapapun kecuali Mbak Rina, itulah sebenarnya yang aku rasakan.


Tingkat tertinggi dari sebuah pengandaian yang aku pikirkan adalah, andai aku bukan seorang gigolo mungkin kedua orang tuaku tidak akan menerima karma buruk dari apa yang aku rasakan.


Mbak Rina mencoba menenangkan diriku dan meyakinkan aku bahwa kematian Kedua orang tuaku bukan karena aku.


Bahwa semua takdir hidup sudah dibuat dari sebelum kita dilahirkan.


Mbak Rina menyarankan aku melakukan beberapa kegiatan amal agar membantu membuatku tenang.


Agar aku bisa melihat dunia lebih besar lagi dan hidup tidak hanya sekedar hitam dan putih.


Ia bahkan menyarankan aku untuk kembali ke Bandung dan meneruskan usaha Papaku.


Aku bahkan lupa akan usaha Papaku. Bagaimana itu berjalan setelah Papa tidak ada.


Mengobrol dengan Mbak Rina membuat aku merasakan sedikit tenang.


Aku akan mencoba untuk melakukan apa yang Mbak Rina sarankan.


Pulang dari Klinik aku langsung packing beberapa bajuku dan karena hari masih terang aku langsung berangkat ke Bandung.


Dua jam perjalanan aku sudah sampai di rumahku.


Mobil Papa masih terparkir di di depan dan dipenuhi banyak debu.


Pekarangan rumah di penuhi dengan sampah sampah kecil.


Tidak ada penerangan karena semua lampu mati.


Rumah ini seperti kondisiku sekarang, sepi, sendiri dan kosong.


Aku nyalakan semua lampu di rumah ini, membersihkan rumah yang sudah berdebu.


Aku akan tidur di kamar Papa dan Mama. Menghirup semua bau Papa dan Mama yang masih tertinggal di kamarnya.


Kamar Papa dan Mama masih dalam kondisi rapi.


Semua barang masih ada di tempatnya, aku mengambil baju tidur yang biasa di pakai oleh Mama dan Papa dan memeluknya.


Aku menangis lirih, bahkan suara tangisanku terdengar di semua penjuru.


Bantu Alfred untuk tetap kuat untuk menjalani semua ini Ma Pa.


Karena kelelahan menangis aku sampai tertidur masih dalam pakaian lengkap.

__ADS_1


__ADS_2