Kisah sang Gigolo

Kisah sang Gigolo
Sonya yang malang


__ADS_3

Sudah lama rasanya aku tidak berenang. Karena hari ini aku melayani client keduaku malam, maka aku putuskan untuk fitnes dan berenang di club house pagi ini.


Aku melatih ototku yang sudah lama tidak tersentuh alat fitnes.


Selama di penthouse aku tidak pernah berolah raga.


Dan sekarang mencoba beberapa alat fitnes membuat aku ngos-ngosan.


Aku beristirahat di samping alat treadmill. Sambil beristirahat, aku memperhatikan sekitar.


Berfikir apakah kehidupan semua orang disini menyenangkan.


Atau merasakan kesepian sepertiku. Walaupun aku sudah mukai berkerja kembali, tapi aku masih merasa hampa.


Aku berharap pekerjaan malam ini bisa membuat hidupku bersemangat lagi dengan hidupku.


Setelah aku merasa cukup di tempat fitnes, aku menyegarkan diriku dengan berenang.


Tapi hanya dua lap bolak balik saja aku sudah merasa lelah.


Apa karena aku sudah lama tidak berolah raga atau karena kondisi pisikis aku yang sedang tidak baik.


Alrik menyarankan aku untuk menemui psikolog.


" Kayanya Lo perlu bantuan tenaga profesional deh Fred? "


" Maksudnya? "


" Ya Lo perlu ke psikolog atau psikiater buat bantu Lo "


" Gue ga gila woi "


" Pergi ke psikiater bukan berarti gila tau, mereka bisa bantu Lo, bisa ngedengerin semua yang Lo rasain yang ga bisa Lo ceritain sama orang lain "


" Ga butuh deh gue kayanya "


" Gue peduli sama Lo Fred, semenjak kehilangan orang tua Lo, Lo tuh kaya kehilangan semangat hidup. Lo ngaca deh liat diri Lo sekarang. Lo kurus banget Fred "


Ku ambil handphoneku dan melihat wajahku di layar handphone.


Aku baru menyadari jika wajahku menjadi sangat tirus.


Aku merasa diriku sehat tapi betul kata Alrik, jiwaku tidak sedang baik baik saja.


Walaupun aku tetap makan teratur tapi aku mengalami penurunan berat badan.


" Ikutin saran Gue Fred, coba Lo pergi ke Psikiater. Nanti Gue coba cariin psikolog atau psikiater yang bagus ya"


Berbekal nasehat Alrik, aku mulai berolah raga kembali, dan nanti begitu Alrik memberikan informasi mengenai Psikolog yang bagus, aku akan menemuinya.


Handphoneku berbunyi dan ternyata pesan masuk dari Sonya yamg memberitahukan alamat rumahnya.


Seperti Alissa, Sonya juga belum memiliki anak jadi mereka lebih memilih melakukannya di rumah ketimbang di hotel.


Rumah Sonya dan Hendro tipe rumah minimalis yang ga minimalis banget.


Ya karena hanya bentuknya saja yang minimalis tapi tidak dengan luas tanah dan luas bangunannya.


Rumah mereka terlalu besar jika dikatakan minimalis.

__ADS_1


Sonya sendiri yang membukakan pintu untukku.


Ia sudah mengistirahatkan semua asisten rumah tangganya agar tidak ada yang menganggu.


Kami masuk ke dalam kamar tidur utama mereka.


Di dalam kamar hanya ada kami berdua.


" Mas Hendro nya mana Kak? " Tanyaku sambil beranjak masuk.


Karena seharusnya ada kami bertiga disini.


" Jadi awal katanya dia mau ngintip dulu Will, habis itu baru Kamu nonton kami "


" Ini aku harus mandi dulu atau mau langsung Kak? "


" Biasanya gimana Will, aku baru banget ikut beginian "


" Kadang ada yang minta aku mandi dulu tapi ada juga yang minta langsung sih Kak, tergantung dari client nya "


" Coba aku tanya Mas Hendro dulu ya "


Sonya pergi ke arah pintu menanyakan baiknya aku mandi dulu atau tidak pada Hendro suaminya.


Tidak lama kemudian Sonya masuk.


" Langsung aja katanya Will, dia udah nunggu depan pintu "


Aku mendekat ke arah sonya yang berdiri satu meter dariku.


" Hendro nitip juga katanya hmm.." Sonya agak ragu ragu untuk bilang kepadaku.


Aku masih menunggu kelanjutan ucapan Sonya.


" Oke kasarnya seperti apa Kak? "


" Lakukan seperti kamu sedang memaksa seseorang "


" Maksudnya seperti rudapaksa Kak? "


" Kurang lebih "


Jika harus kasar dan seperti merudakpaksa ketika bermain, aku rasa ini buka lagi fantasi seksual.


Pantas saja dari awal Sonya seperti tidak nyaman melakukan ini.


Apakah setiap berhubungan mereka selalu melakukan kekerasan, pikirku dalam hati.


Tapi tetap ku ikuti permintaan Hendro dan Sonya.


Aku mulai memegang pipinya namun Ia menepis tanganku.


Ku arahkan tanganku menuju dadanya untuk membuka bajunya.


Sonya seperti menahan bajunya agar tidak terbuka, aku tarik tangan Sonya dan membuka bajunya dengan paksa.


Selanjutnya aku gendong Sonya menuju kasur dan Sonya puta puta berontak.


Ritme permainan ini adalah aku yang terus memaksa dan Sonya yang terus bertahan.

__ADS_1


Di bumbui teriakan teriakan Sonya yang seperti orang kesakitan.


Padahal aku tau Sonya tidak terangsang sama sekali dengan apa yang aku lakukan.


Ia seperti sedang berpura pura melakukan itu.


Bahkan pada saat aku menuju ke goa nya di sana sangat kering kerontang, tidak basah sama sekali.


Setiap aku dekati Sonya selalu memejamkan mata.


Aku menjadi kasihan kepada Sonya, rupanya Ia terpaksa melakukan ini semua.


Begitu aku membuka bajunya, banyak sekali luka lebam di sekujur tubuhnya.


Benar benar banyak seperti sebuh pola.


Ada yang masih berwarna ungu pekat ada yang sudah memudar.


Aku hanya ingin melakukannya dengan cepat, dan melihat sosok laki laki yang kasar pada istrinya ini bentukannya seperti apa.


Jika aku tidak menggunakan pelindung yang ada pelumasnya, mungkin aku akan merasakan perih karena lecet lecet.


Bahkan sudah beberapa menit kami bermain, Sonya masih juga tidak enjoy dengan permainan ini.


Bagaimana aku dan dia bisa mencapai puncak kalo kami tidak menikmati permainan ini.


Aku berusaha keras membuat diriku sendiri On dan mencapai *******.


Walaupun berlangsung lama akhirnya aku bisa mencapai puncak sedangkan Sonya hanya pura pura mencapai puncak.


Ya siapa juga yang bisa mencapai puncak jika Ia terlihat menderita.


Tidak beberapa lama seseorang masuk ke dalam kamar.


Tubuhnya tinggi besar. Tinggi melebihi aku dan badannya sangat besar.


Begitu Ia masuk aku langsung mundur dan duduk di kursi.


Ia melewati ku seolah olah tidak melihatku.


Aku melihat raut wajah Sonya ketakutan ketika suaminya datang.


Benar benar ketakutan bukan lagi akting seperti yang Ia lakukan bersamaku.


Hendro membuka baju dan celananya sendiri, membanting tubuh Sonya sampai tersungkur.


Dan adegan selanjutnya adalah adegan kekerasan tidak seperti orang yang sedang berhubungan intim.


Sonya bahkan sampai menangis dan membuat aku menangis melihatnya.


Aku tidak tau apa yang membuat Sonya bertahan kepada Hendro.


Laki laki yang sangat kasar kepadanya dan meninggalkan banyak luka di sekujur tubuhnya.


Darahku sampai mendidih melihat adegan di depanku yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.


Kurang lebih sepuluh menit adegan itu berakhir, Hendro langsung keluar dari kamar.


Ia meninggalkan Sonya yang seperti habis di rudapaksa.

__ADS_1


Jika Ia bukan Istri orang mungkin aku sudah memeluknya dan membiarkan Ia menangis di pundakku.


Aku seolah ingin ikut menangis bersama Sonya yang malang.


__ADS_2