
Malam itu aku menelepon Alrik untuk menemaniku berangkat ke Bandung.
Hanya Alrik yang ada dipikiranku, dan aku yakin Ia akan bersedia menemaniku.
Sepanjang perjalanan aku tidak bisa di ajak bicara.
Aku hanya menangis dan memukuli diriku sendiri, berkali kali menyalahkan diriku dengan pengandai andaian yang aku buat.
Pada saat Alrik tiba di apartemenku bersama dua temanku yang lain.
Ia melihat aku sedang duduk di pojokan dengan mata yang bengkak.
Saat itu mataku terasa amat sakit karena aku menangis hebat.
Alrik san kedua temanku membantuku untuk duduk di sofa.
Alrik mengambilkan aku minum, beberapa menit aku tidak bisa di ajak bicara.
Aku hanya memberikan sebuah alamat rumah sakit.
" Tolong bawa aku kesana " Ucapku dengan nada yang lemah "
Berbekal google Maps Alrik menyetir menuju Bandung membawa aku yang tidak henti hentinya menangis.
Hatiku begitu hancur, rasanya sangat sakit sekali. Dadaku sesak, badanku lemas.
Di pikiranku, aku mau ikut mati saja bersama kedua orang tuaku.
Teman temanku mencoba menenangkan aku. Tapi tidak ada satu hal pun yang bisa membuat aku tenang sekarang.
Kami sudah sampai di Rumah Sakit. Alrik dengan sigap mencari informasi tentang kecelakaan mobil di KM dua puluh.
Aku di bantu untuk jalan oleh kedua temanku. Menuju ruang jenazah.
Harapan kedua orang tua ku masih hidup sudah tidak ada.
Di depan ruang Jenazah kami bertemu dengan Bapak Sugeng yang menerima telponku.
Ia menceritakan kronologis kejadiannya. Mobil Papa melaju dengan kecepatan cepat dan kemungkinan karena driver mengantuk mobil jadi kehilangan keseimbangan ke lajur kanan.
Ketika driver sadar langsung membanting stir ke kiri dan menabrak pembatas jalan.
Mobil berguling sebelum berhenti karena menabrak pembatas jalan.
Mama, Papa dan A Maman meninggal di lokasi dan tidak sempat mendapatkan pertolongan.
Kami dipersilahkan masuk ke dalam kamar jenazah.
Ketika petugas membuka lemari mayat Mama dan Papa, tangisan ku pun pecah.
Alrik merangkulku intuk memberikan kekuatan.
Karena terpukul akhirnya aku tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Selama aku pingsan, Alrik mengurus semuanya.
Ia membagi tugas dengan kedua temanku yang kebetulan orang Bandung juga.
Mereka diminta Alrik untuk memberitahukan kejadian ini kepada ketua RT di perumahanku.
Jenazah akan di mandikan di rumah kami dan di kuburkan di TPU dekat rumah ku.
Sedangkan Alrik mengurus proses kepulangan Mama dan Papa dari rumah sakit menuju rumah duka.
Bahkan ketika sadar aku masih tidak bisa di ajak bicara.
Aku hanya diam dan tidak bisa memikirkan apa apa.
Alrik yang mengabari keluarga besar ku, mengabari teman temanku di group Whatsapp SD sampai SMA.
Alrik juga mengabarkan ke teman teman Mama dan Papa melalui group Whatsapp di handphone Mama dan Papa yang di serahkan oleh Polisi.
Bahkan di dalam ambulans pun aku hanya bisa menangis dan memegang tangan Mama.
Jika di lihat dari wajah Mama tidak ada luka sama sekali, hanya terlihat lebam.
Tapi ternyata benturan yang keras ke kepala Mama dan Papa mengakibatkan kematian keduanya.
Waktu sudah menunjukan pukul lima pagi ketika kami tiba di rumah.
Sudah banyak orang yang berkumpul di rumahku.
Mereka adalah warga sekitar yang membantu proses pemakaman Mama dan Papa.
Warga yang memandikan jenazah Papa meminta aku untuk mencium atau memeluk Papa untuk terakhir kalinya.
Aku larut dalam tangis yang teramat menyakitkan.
" Maafin Alfred Pa belum bisa ngebahagiain Mama dan Papa " Bisikku di telinga Papa.
" Bantu Alfred untuk tetap kuat ya Ma, Pa menjalani sisa hidup Alfred tanpa adanya Mama dan Papa " Ucapku dalam hati.
Keluarga dan teman teman sudah mulai berdatangan ke rumahku.
Mereka bertanya bagaimana kronologisnya dan Alrik yang menceritakan semuanya.
Ads yang bilang tidak menyangka, ada yang bilang terlalu cepat dan beberapa komentar lainnya.
Mengapa orang yang sedang berduka, sedang kehilangan harus menjelaskan ke semua orang yang datang bagaimana semua ini terjadi.
Padahal untuk berdiri dan menahan untuk tidak menangis saja sangar berat untukku.
Pukul delapan pagi Mama dan Papa di makamkan.
Aku menguatkan diri untuk ikut turun mengantarkan Mama dan Papa ke peristirahatan terakhirnya.
Ku tahan air mataku, aku menguatkan diri ku agar Mama dan Papa bisa beristirahat dengan tenang.
__ADS_1
Banyak temanku yang hadir dan mantan aku pun ada beberapa yang hadir.
Tante Vero juga mengirimkan karangan bunga dan mengirimkan pesan padaku, dan memintaku untuk tabah dan kuat menjalani semua ini.
Dari semua yang datang dan mengucapkan belasungkawa, tidak ada Vena di sana.
Walaupun Alrik sudah mengabarinya, tapi Ia tidak membalas sepatah katapun.
Mungkin memang aku harus merelakan kepergiannya seperti aku merelakan kepergian kedua orang tuaku.
Sudah tiga hari dari hari kepulangan Mama dan Papa.
Aku berdiri di balkon penthouse mewah dengan segelas wine kualitas nomor satu.
Kekayaan yang lumayan untuk ukuran anak dua puluh tahunan.
Tapi itu semua tidak bisa membuat aku bahagia.
Semua uang ini terasa semu. Uang yang aku kejar selama bertahun tahun, sampai aku melakukan hal yang seharusnya tidak aku lakukan.
Aku melakukan apapun demi uang bahkan dengan cara menjual diriku.
Tapi ironinya sekarang aku merasa semua uang itu tidak memberikan aku kebahagiaan.
Ini hari terakhir aku tinggal di penthouse. Aku sudah bicara dengan Tante Vero jika akan berhenti menjadi kucingnya.
Untungnya Tante Vero mengerti kondisiku dan tidak bertanya banyak, atau tidak perduli entahlah.
Aku akan kembali ke apartemenku yang lama. Karena berada di penthouse ini sangat menyiksaku.
Aku ingat moment terakhir yang aku habiskan bersama kedua orang tuaku.
Aku ingat makan siang dan malam kami bersama, ingat saat menonton tv bersama, mengobrol tentang restoran Papa.
Bahkan moment saat kami menikmati sunset di hari itu.
Seperti yang aku lakukan hari ini. Bedanya aku menikmati sunset tanpa rasa apapun.
Makanan yang Mama masak, aku makan setiap hari.
Aku nikmati semua makanan itu seolah itu adalah makanan terakhirku.
Masakan Mama menemaniku selama satu minggu, seolah setelah satu minggu Mama dan Papa sudah tidak menemani aku lagi.
Aku menikmati semua kehilangan dan rasa kesepian sendiri. Di penthouse ini, tempat terakhir kali aku merasakan kebahagiaan.
Sekarang aku seperti mati rasa akan apapun. Bahkan beberapa kali aku berpikir untuk bunuh diri loncat dari penthouse ini.
Tapi entah kenapa sampai sekarang aku belum melakukannya.
Aku tau Mama dan Papa sangat menyayangi aku.
Aku punya keyakinan jika Mama dan Papa mau aku hidup bahagia walaupun tanpa ada mereka lagi.
__ADS_1
Hanya keyakinan itu yang masih membuat aku tetap hidup, entah sampai kapan.