Kisah sang Gigolo

Kisah sang Gigolo
Berkeringat


__ADS_3

Hari ini seperti biasa aku berolah raga dulu sebelum memulai aktivitas.


Jika beberapa orang beranggapan menjadi gigolo adalah hal mudah itu salah.


Kami harus selalu menjaga bentuk badan, wajib berolahraga tiap hari, menjaga kebersihan kami, memastikan si pisang ambon selalu siap tempur dan harus bisa menjaga mood ketika melayani client.


Kebanyakan client kami bukan wanita muda, bisa di bayangkan bagaimana kami harus on dengan kondisi seperti itu.


Jika mendapatkan yang berumur tapi masih terawat, cantik dan masih hot adalah bonus bagiku.


Tapi jika mendapatkan yang sudah tua dan tidak menarik, tentunya membuat aku bekerja lebih keras.


Bagaimana menyenangkannya dan bagaimana mengontrol pisang ambonku agar tetap On.


Setelah berolah raga aku bergegas untuk mandi karena hari ini aku akan menemani client namanya Tante Susi.


Menurut Alrik, Ia adalah client baru yang menggunakan jasa kami.


Memang setelah pindah ke Jakarta bisnis yang dibangun Alrik semakin berkembang.


Kami mendapatkan banyak client baru dari berbagai profesi dan umur.


Untungnya Alrik hanya menerima client wanita saja walaupun permintaan dari client pria juga sangat banyak tapi Alrik memilih untum menerima client wanita saja.


Jika aku baca biodatanya Ia adalah istri seorang pejabat yang jika aku sebutkan namanya kalian pasti mengenalnya.


Suaminya cukup sering wara wiri di Tv maka tidak heran aku mengenali beliau.


Hari ini Tante Susi memintaku untuk datang langsung ke vila pribadinya di Mega Mendung.


Kami janjian jam satu siang dan karena takut macet aku berangkat lebih awal.


Terakhir kali aku ke puncak bersama pacarku, kurang lebih hampir dua tahun yang lalu.


Tante Susi sudah membagikan maps lokasi villanya, semoga sana akurat. Karena jika tidak akan sulit mencari villa pribadi seperti itu.


Jam sebelas aku sudah masuk kawasan puncak, karena masih ada waktu aku mampir dulu ke sebuah rumah makan sunda.


Selama aku di jakarta aku belum pernah menyantap makanan sunda, dimana makanan sunda adalah makanan favorit ku.


Makan dengan view perbukitan yang dingin agaknya kurang cocok di nikmati sendiri.


Aku lihat kanan dan kiriku adalah pasangan pasangan bahkan ada juga yang membawa keluarga.


Aku memfoto view restoran ini dan aku kirim kepada Vena dengan caption wish you were here.

__ADS_1


Vena tidak membalas, sepertinya sedang sibuk.


Untuk menuju ke villa Tante Susi aku harus melewati jalan kampung yang hanya cukup satu mobil.


Dengan medan jalan yang lumayan berbatu dan berliku dengan banyak tanjakan curam, aku dibantu oleh warga sekitar.


Maklum saja jalan di sisi kiri adalah jurang karena aku belum mengenal medannya aku di bantu oleh warna sekitar untuk melewati jalan yang curam san berbahaya.


Aku tidak menemukan jalan bagus sampai aku tiba di vila Tante Susi.


Vila dengan nuansa bali kental dengan banyak patung dan ornamen batu.


Vila ini terawat dengan baik, biasanya vila vila di puncak akan di tinggali oleh penjaganya sehingga dapat di rawat setiap hari.


Jarang sekali vila di biarkan tanpa penguni karena bisa bisa bangunan cepat rusak.


Masuk kedalam Villa aku langsung di sambut oleh sorang wanita tua berusia enam puluh tahunan.


Aku tidak sempat menanyakan namanya, aku panggil dengan sebutan Ibu.


Oleh Ibu aku diantarkan ke ruangan Gym.


Normalnya jika aku datang aku diminta langsung menuju kamar, tapi ini aku diminta untuk ke gym.


Sampai di ruang Gym yang lumayan lengkap dengan berbagai peralatan dan kaca yang mengelilingi ruangan, Ibu yang mengantarku langsung keluar tempat gym.


" Tunggu disini ya Den " Si Ibu pun berlalu meninggalkan aku sendirian di ruangan ini.


Beberapa saat kemudian datang Tante susi dengan baju tidurnya.


Aku sudah bersiap untuk pemanasan, tapi Tante menahan aku.


" Tunggu Will, saya ga bisa berhubungan yang langsung langsung begitu "


" Tante mau saya melakukan apa? " Dalam hati aku berpikir mungkin aku akan di minta menari.


Tapi ternyata bayanganku salah. Si Tante punya fetish harus melihat lawan mainnya berkeringat dulu.


Aku diminta untuk menggunakan beberapa alat gym mulai dari treadmill sampai lat pull down.


Selama aku melakukan kegiatan itu, si Tante hanya menyaksikan dengan duduk di sofa panjang.


Kebetulan aku orang yang agak sulit berkeringat, jadi untuk mendapatkan keringat aku harus berolah raga lebih lama dari yang lain.


Setelah empat puluh lima menit keringat sudah mengucur dan membasahi kaosku.

__ADS_1


Si tante dengan menggunakan tangannya mengisyaratkan untuk aku datang kepadanya.


Aku menghampiri Tante Susi sambil memainkan rambutku yang basah karena keringat.


Ia membuka kaosku, meraba perutku yang berbentuk dan membuka celanaku.


Aku mencoba untuk membuka baju tidur yang Ia kenakan tapi Ia menolak.


Kami bermain hanya sekitar tujuh menit sampai akhirnya si Tante mencapai puncak.


Aku tentu saja belum menyampai puncak tapi tidak mungkin untuk melanjutkannya karena Tante Susi sudah lemas dan berada di awang awang.


Bayangkan aku harus berolah raga empat puluh lima menit, sedangkan hanya tujuh menit saja permainan ini berlangsung.


Setelah itu aku diminta oleh Tante Susi untuk membersihkan diri.


Begitulah, jika melayani yang sudah berumur mereka gampang lemas.


Tante susi menawari aku makan, tapi aku menolak dengan halus karena baru saja makan di puncak.


Tapi Ia tetap meminta Ibu yang mengantar aku masuk untuk membungkus makanan yang ada di meja makan.


" Tante ga mungkin bisa abisin semuanya Will, bawa aja ya " Tante Susi ikut memasukan lauk ke dalam tempat makan.


Setelah itu Tante Susi mengantarkan aku sampai pintu depan dan aku pergi meninggalkan vila si Tante.


" Makasih ya Will kamu hot banget deh tadi " Bisiknya ketika mengantarkan aku.


Pada saat aku keluar dari dari ruang gym menuju meja makan aku melihat foto foto muda Tante Susi sedang bermain badminton.


Ada juga beberapa piala dan piagam di lemari rak kaca tersusun rapih.


Mungkin masa mudanya Tante Susi adalah atlet badminton.


Baru kali ini aku menemukan client yang memiliki fetish senang berhubungan dengan laki laki yang berkeringat.


Biasanya setiap client yang menyewa aku, akan meminta aku mandi terlebih dahulu sebelum bermain, tapi Tante Susi malah suka jika aku berkeringat.


Karena tadi aku berolah raga tanpa membuka bajuku, alhasil aku memakai baju yang basah karena keringat.


Ku matikan Ac mobil karena udara terasa dingin dengan bajuku yang basah.


Untungnya perjalanan pulang ke Jakarta lebih lancar daripada saat naik ke puncak.


Aku hanya ingin cepat tiba di apartemen untuk mandi air hangat dan meminum minuman hangat.

__ADS_1


__ADS_2