Kisah sang Gigolo

Kisah sang Gigolo
Quickie express


__ADS_3

Ku cek handphoneku yang berbunyi terus ketika aku sedang berolah raga.


" Fred Mama kangen deh " Ternyata pesan dari mama yang sedang kangen dengan anaknya. .


" Minggu depan Alfred main ke bandung ya mah sama pacar fred "


Baru dua hari yang lalu Vena bilang ingin di kenalkan dengan Mama dan Papaku. Kebetulan sekali Mama menghubungi aku.


Mama langsung menelpon ku " Bener Fred kamu punya pacar? " Tanya Mama bersemangat.


" Ia Ma nanti Alfred kenalin pas main ke bandung "


" Bener ya kamu ga lagi godain Mama kan? Siapa namanya Fred? "


" Vena ma, nanti Fred atur waktu dulu sama dia biar bisa main ke Bandung "


Aku sudah minta pada Alrik untuk melonggarkan jadwal aku untuk minggu depan.


Tinggal menyesuaikan jadwal Vena yang super padat.


Sudah empat hari kami ga ketemu, bahkan untuk sekedar keluar makan pun Ia belum punya waktu.


Hari ini aku ada jadwal menemani client yang permintaanya agak berbeda.


Ia ingin melakukan permainan di area kantornya.


Ya memang fetish setiap orang berbeda beda dan sebagai Gigolo profesional aku harus bisa memenuhi keinginan mereka.


Aku diminta datang ke kantornya sekitar jam satu siang.


Menuju gedung perkantoran di area sudirman aku memacu mobilku agar lebih cepat karena jadwal ketemu client tiga puluh menit lagi.


Tadi ada kendala di apartemenku, karena pembuangan wastafel macet sehingga aku harus memanggil tukang untuk memperbaikinya.


Aku sudah ada di dalam lift, menekan tombol lantai lima belas kantor Tante Vero.


Tante Vero adalah pemimpin redaksi sebuah media besar di Indonesia.


Usianya masih lumayan muda sekitar empat puluh tahun.


Aku sampai bingung harus memanggilnya dengan sebutan apa? Karena jika aku panggil Tante sepertinya terlalu tua.


Sampai di ruangannya aku agak sedikit bingung, karena semua lantai adalah kantor Tante Vera dan aku tidak tau dimana ruangannya.


Akhirnya seorang security menghampiri aku yang sedang kebingungan.


" Cari siapa mas? " Tanya security tersebut sopan


" Saya ada janji temu dengan ibu Veronica " Jawabku.


" Baik saya hubungi dulu Ibu Vero nya, silahkan duduk dulu Mas "


Pak security menelepon Tante Vero, sedangkan aku duduk di sofa berwarna hijau.

__ADS_1


Tidak lama Pak security menghampiri aku " Silahkan ikut saya Mas "


Sepanjang jalan menuju kantor Tante Vero terlihat banyak orang yang sibuk bekerja.


Di ruangan ini banyak sekali meja yang di sekat sekat.


Bahkan ketika aku lewat tidak ada yang memperhatikan aku karena mereka terlalu sibuk.


Aku di minta untuk menunggu di kantor Tante Vero karena Ia sedang ada meeting sebentar.


Dari kondisi kantor Tante Vero sepertinya Ia adalah perempuan yang rapih.


Terlihat dari mejanya yang rapih, walau banyak tumpukan kertas.


Dindingnya penuh dengan foto Tante Vero bersama para orang penting.


Untuk piagam perhargaan tersusun rapih di lemari kaca tingkat.


Di usianya sekarang Tante Vero belum menikah, mungkin karena Ia fokus mengejar karirnya.


Di mejanya hanya ada foto dirinya yang berlibur ke beberapa negara.


Sambil menunggu Tante Vero yang ternyata lumayan lama meeting nya.


Aku sambil berfikir bagaimana cara menyenangkan seorang wanita karir seperti Tante Vero.


Sekitar satu jam Tante Vero masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang cepat.


Ia menggunakan blazer hitam dan rok pendek dengan kemeja putih dan high heels.


" Sorry sorry nunggu lama ya wil? " Tante Vero langsung menuju mejanya.


" Sebentar ya saya matikan cctv dulu. Kamu duduk saja di situ "


Tidak lama kemudian, Tante Vero mengambil remote di mejanya dan mengubah setelan kaca ruangannya yang menghadap langsung ke deretan meja karyawannya.


Kaca yang semula transparan kini berubah menjadi tidak terlihat.


Dengan tidak melepas sepatunya, dengan langkah yang cepat ia menghampiri aku.


Naik ke atas pangkuanku, mencium ku dengan cepat dan mengarahkan tanganku untuk memegang dadanya.


Aku tidak di berikan kesempatan oleh Tante Vero untuk berfikir.


Semua di lakukan dengan sangat cepat dan panas.


Ia membuka kancing kemejanya sendiri, mengangkat kaosku, meraba tubuhku aku sampai takut suara Tante Vero akan terdengar sampai luar.


Selanjutnya aku rebahkan Tante Vero di sofa dan dengan tidak sabar Ia membuka sabuk ku dan melorotkan celanaku.


Sekarang hanya aku yang tidak memakai apapun sedangkan Tante Vero hanya tidak memakai ********** saja.


" Aku cuma punya waktu lima belas menit sampai karyawan ku masuk membawakan laporan yang aku minta "

__ADS_1


Dengan suara yang beradu dengan nafas Tante Vero mengucapkan hal ini


Gila pikirku, Ia sengaja meminta karyawannya untuk mengerjakan laporan dan memberikan hasilnya dalam lima belas menit.


Dan aku harus bisa memuaskannya sebelum karyawannya masuk ke dalam ruangannya yang tidak terkunci.


Aku menghujaninya dengan ciuman, jilatan dan mempompa dengan cepat.


Semua dilakukan dengan cepat, semakin cepat Si Tante semakin bergairah.


Sampai pada saat kami melakukan ***** ***** Tante Vero pun mencapai puncaknya.


Tidak ada waktu untuk bersih bersih karena kami langsung membereskan pakaian kami masing masing.


Tante Vero langsung memasang kancing kemejanya, membetulkan posisi roknya yang sudah bergeser, merapihkan rambutnya yang acak acak kan dan memoleskan lipstick ke bibirnya.


Tidak lama kemudian, benar saja karyawan Tante Vero mengetuk pintu dan masuk menyerahkan laporannya.


Aku duduk dan bersikap senormal mungkin seolah olah tidak terjadi apa apa pada kami.


Padahal kalo boleh jujur, dengkulku terasa lemas karena permainan yang super cepat tadi.


Setelah karyawannya keluar Ia menghampiri aku di sofa.


Tante Vero mengucapkan terima kasih dan mempersilahkan aku pulang karena Ia akan meeting lagi.


Dengan dengkul san kaki yang masih lemas aku berusaha berjalan normal di hadapan karyawan Tante Vero.


Jika semula aku berjalan sambil melihat meja kerja karyawan, tapi sekarang pandanga ku hanya lurus ke depan sambil berharap cepat tiba di lift.


Keluar dari lift aku mampir dulu di toko kopi yang berada di lantai dasar gedung ini.


Ketika sedang menyeruput vanilla latte, aku mendengar percakapan beberapa orang di belakangku.


" Guys tadi denger ga suara si Ibu? "


" Iya say kenceng banget desahannya "


" Gile gile sempet sempet nya doi quickie express di sela sela meeting "


" Si Umar sampe ga berani masuk nyerahin laporannya "


" Tapi brondongnya lumayan juga ya, kenal dimana sih?"


" Iya ganteng ya say kaya Rio dewanto waktu muda "


" Lo liat ga pas jalan keluar dari ruangan si Ibu? "


" Iya iya gue liat haha dikiranya kita ga tau kali ya apa yang terjadi di dalem " Dan mereka semua tertawa.


Jelas sekali si Ibu yang mereka maksud adalah Tante Vero dan berondong yang mirip Rio Dewanto adalah Aku.


Rasanya ingin pergi cepet cepet dari coffee shop ini.

__ADS_1


__ADS_2