
didalam ruang tamu kediaman Yadi Pratama.
Azka duduk sambil menatap kebawah kesembarang arah. tangan yang ditumpukan dikedua kakinya menyatuka jarinya menjadi sebuah genggaman. yang sedari tadi sudah terasa dingin karna rasa gerogi. meski ruangan tamu bersuhu 24c namun rasanya sangat panas. Tah karna Jaz yang iya kenakan atau karna work rasa gerogi itu. rasanya Azka ingin berlari dari ruangan itu. Tah kenapa nyalinya saat ini ciut.
seorang Azka Bakrie. pengusaha muda yang memilik berbagai macam proyek besar dan usaha dimana mana. kini nyalinya ciut saat berhadapan di depan Yadi Pratama ayah Handa dari wanita pujaannya.
"ehemmm" Yadi pertama berdeham menghilangkan kesunyian ruangan itu, membuat Azka menaikan pandangannya seketika, tertuju pada sumber suara.
"jadi nama kamu tadi siapa" tanya Yadi pura pura lupa akan nama Azka
"Azka, Azka Bakrie ayah" jawab Azka dengan cepat
"ayah" ucap vidhis dengan cepat dengan nada sedikit menekan.
"sebenarnya tujuanku kemarin ingin meminta ijin pada ayah." Tampa basa basi Azka mulai menuju pokok tujuannya
"kenapa kamu memanggilku ayah. lalu ijin apa " potong Yadi pertama
"ijinkan aku untuk meminang puntri kesayangan ayah"
Azka merasa beban yang sejak tadi kini lepas juga.
ada rasa bahagia ketika bisa mengucapkan kata kata itu. bagai mana tidak Azka melihat senyum diwajah alisya yang lebar. yang duduk di depannya bersama Yadi Pratama.
__ADS_1
"memangnya kamu mempunyai apa hingga berani ingin meminang putri ku" tantang Yadi Pratama
sejenak Azka terdiam dan menjatuhkan pandangannya kesembarang arah. dan tak lama menarik nafas nya dalam namun pelan.
"aku memiliki iman dan cinta yang sangat tulus untuk alisya" dengan yqn Azka menjawab
Yadi Pratama diam sejenak menatap Azka lalu beralih menatap putrinya yang tepat di sampingnya.
"lalu bagai mana dengan mu nak" tanya Yadi pada putrinya
alisya yang mendekatkan dirinya pada ayahnya, dan memeluk dari samping dengan manjanya. "ayaaah..." ucapnya dengan nada malu dan manja.
Yadi pun mengelus kepala putrinya dengan lembut. "ayah mengerti" dan menciup kening putrinya alisya dengan lembut.
"apa itu tidak terlalu cepat yah" ucap vidhis
Azka yang masih berusaha mencerna dengan baik apa yang ia dengar. hanya bisa menatap dua orang yang sejak tadi di depannya secara bergantian.
"bagai mana nak Azka"
"ba.. baik yah" jawab azka sedikit gugup
"ayaah.." dengan nada yang sangat lembut dan air mata alisya yang terlihat sudah mengambang dipelupuk matanya
__ADS_1
" ayah rasa dua puluh hari sangat cukup untuk kalian mempersiapkan keperluan pernikahan bukan nak" Yadi yang mengelus lembut wajah putrinya
"ada apa dengan nada bicaramu nak azka. apa belum yqn untuk menikahi putri ayah yang cantik ini" Yadi yang menatap Azka dengan dalam.
" aku sangat Yaqin ko yah. kita akan menyiapkan pernikahan, dua puluh hari dari sekarang sesuai perintah ayah." dengan senyum mengembang khas milik Azka.
" ayah, alisya..." alisya yang belum selesai bicara Namaun sudah dipotong olah Yadi ayahnya
"ayah hanya tidak ingin kalian berdua kelamaan bersama sebelum halal nak. itu akan membuat ayah tidak tenang." jelasnya
" maafkan aku yah.." Azka dengan nada yang bersalah dan malu mengingat kejadian tadi ditaman.
percakapan mereka pun berjalan dengan lancar. dan tak menunggu lama Azka keluar dari kediaman Pratama dengan wajah yang sangat bahagia karna berjalan dengan lancar. ditemani alisya disampinya mengantar Azka kedepan mobil mewahnya.
cup
Azka dengan cepat mencium bibir ranum alisya "aku pamit pulang sayang "
"hati hati dijalan. jangan lupa kabarin aku jika sudah sampai"
"baik nyonya Azka Bakrie"
taklama mobil sedan mewah itu pun meninggalkan kediaman Pratama yang ditemani oleh lambayain tangan alisya.
__ADS_1