Kulkas 35 Pintu

Kulkas 35 Pintu
Jenguk


__ADS_3

"Ikuti mereka terus", ujar Kiel dingin nan datar.


'Baik Tuan muda, tapi ada yang sedikit janggal tuan', ujar anak buah Kiel di sebrang sana dengan sedikit gemetar. Kiel mengerutkan sedikit keningnya mendengar kata sedikit janggal.


'Ada beberapa orang asing mengikuti calon nona muda dan tuan Ken tuan muda!', jelas anak buah Kiel seakan mengerti jika tuannya itu butuh penjelasannya. Karena dia tahu tuan mudanya itu pelit bicara alias irit.


"Pantau mereka terus dan jangan sampai lengah, PAHAM!!", ujarnya tegas dan dingin menekankan kata paham dan mematikan sambungan telepon secara sepihak. Dia membuang nafasnya kasar dan memasukkan ponselnya ke saku celana seragam sekolahnya.


"Cih, dia ingin bermain halus denganku", senyum devilnya terukir di wajah tampan nan datarnya.


"Kenapa lagi tuh si King?", tanya Arya sesampainya di atas rooftop. Mereka melihat Kiel seperti tidak mood dan memilih tidak mengganggunya kalau tidak mereka akan habis diterkam singa jantan itu.


"Nggak tau", sahut Andika meminum minuman kalengnya yang baru saja diambilnya dari kulkas minuman yang sengaja diletakkan di rooftop itu.


"Wih luas banget nih rooftop", ujar Michi kagum.


"Ho'oh gue baru tau kalo rooftop sekolah kita luas dan sekeren ini", ucap Lia yang ikut kagum.


"Memangnya kalian belum pernah ke sini?", tanya Arya heran.


"Belum pernah, karena setahu kita rooftop ini nggak dibolehin masuk sembarangan sama pihak sekolah", jawab Zoya yang ikut kagum. Ya iyalah yang punya tidak bolehin sembarangan masuk.


"Mulai sekarang kalian bisa datang kemari


sesuka hati kalian", ucap Randy mendudukkan dirinya salah satu sofa yang sudah khusus dibuat anggota Kiel di rooftop itu dan memainkan ponselnya kembali.


"Asyik nih ngumpul bareng serasa di basecamp kita", imbuh Lia ikut duduk di sebelah Andika dan memakan cemilan yang dibawanya tadi.


"Emang ini basecamp kita kok", timpal Arya ikut duduk di depan Andika dan meminum minuman kaleng.


"Tapi ingat nggak boleh sembarangan masuk ke sini, cuma ada lo lo lo dan Alesia yang boleh masuk ke sini", imbuhnya lagi.


"Asyap kapten", sorak mereka bertiga.


Di warteg sederhana


"Bang makasih yah udah traktirin gue makan nasi goreng balado plus ayam kecap and minuman dinginnya", ujar Alesia dengan makanan masih di dalam mulutnya.


"Aishhhh nih bocah, kalo lo mau ngomong nanti aja telan dulu makanannya yang mulut lo itu kalo keselek gimana", omel Ken bak ibu ibu komplek.


"Iya iya bawel", ujarnya dan berusaha menelan makanannya dan meminum teh yang dia pesan barusan.


"Akhirnya kenyang juga perut gue", ucap Alesia lega.


"Mana mungkin nggak kenyang, lo aja makan berapa banyak gitu", imbuh Ken menunjuk beberapa mangkok yang bertumpuk.


"Hehehehe,,,,," cengir Alesia.


Keduanya sedang mampir sebentar di sebuah warteg yang terletak lumayan jauh dari kawasan sekolah. Sebenarnya Ken ingin membawa adiknya itu ke restoran biasa tempat dia berkunjung. Tapi sang tuan putri menolak dia ingin makan di sebuah warteg dengan makanan khas tradisional.


Ken menyetujuinya apa salahnya juga toh itu tetap sama makanan juga yang penting higienis. Dan satu lagi maag Alesia tidak kambuh lagi. Sebenarnya maag Alesia bisa teratasi dengan makan di kantin sekolahnya tapi bagaimana lagi Ken emang overprotektif terhadap adiknya itu.


"Habis ini kita ke Mall yah bang", ucap Alesia sehabis membayar makanan tadi.


"Ngapain ke mall?", tanya Ken heran,


"Jalan jalan lah, udah lama kita berdua nggak jalan jalan bareng sekalian morotin uang lo", sahutnya cengengesan.


"Tapi kita kan masih make seragam sekolah bahkan sekarang masih jam sekolah, apa kata netizen nanti", ujar Ken lagi agak ragu.


"Bawel lo, bukannya tadi lo udah minta ijin ke guru BP kalo gue pulang cepat hari ini karena sakit", imbuh Alesia sedikit kesal.


"Ya iya sih, tapi kan gue minta ijin agar lo bisa istirahat di rumah biar nggak sakit perut lagi",


"Aishhhh lo emang Abang super overprotektif deh, dah diliat gue baik baik aja", ujarnya.


"Ya! udah dibilangin itu buat kebaikan lo gue nggak mau adek kesayangan gue kenapa kenapa", ujar Ken meyakinkan Alesia.


"Iya iya gue ngerti bahkan ngerti banget",


"Itu ngerti kenapa masih nyolot",


"Bang boleh yah please", ujar Alesia menggunakan puppy eyes andalannya.


"Iya boleh, tapi janji habis ini kita langsung pulang terus langsung istirahat. OK", putus Ken dia tidak bisa menolak puppy eyes Alesia.


"Ye asyik, makasih bang", ujar Alesia memeluk Ken. Ken hanya menggeleng gelengkan kepalanya akibat tingkah Alesia yang kekanak-kanakan.


Mereka pun sampai ke tempat yang dituju.


Kalau diingat ingat tempat Alesia tempat menginjakkan kakinya sekarang adalah tempat dimana dia bertemu dengan Kiel pertama kali.


"Bang kita main itu yuk", ujar Alesia mengandeng tangan Ken ala sepanjang kekasih dan menunjuk salah satu permainan yang disediakan di tempat itu.

__ADS_1


"Ayo", jawab Ken dan mereka bermain main dengan sepuasnya.


"Bang kita ke bookstore yuk", ujar Alesia,


"Males ahk", ujar Ken,


"Ayolah bang, kita ke sana yah",Alesia menarik tangan Ken dan dia mengikuti langkah kaki adiknya itu dengan malas.


Tidak terasa 3 jam mereka habiskan untuk berkeliling mall. Dan di tangan Ken sudah banyak paper bag yang isinya semua barang belanjaan Alesia. Mereka pulang dari sekolah sekitar tengah sebelas, dan tidak terasa sekarang waktunya jam pulang dari sekolah.


"Ara bukannya itu Ken sama Alesia yah", ujar Elsa menunjuk ke arah keduanya.


Ara yang melihatnya mendengus kesal dan mengepalkan tangannya. Dia sengaja datang shopping untuk menghibur dirinya sendiri.


Dia ingat saat Ken keluar dari menggendong Alesia dan tidak sengaja bertemu. Dia bertanya ada apa dengan Alesia. Dan Ken menjawab acuh dengan mengatakan kalau Alesia lagi sakit. Dan dia masih sangat ingat saat Alesia mengejeknya karena melihat Ara terbakar api cemburu.


"Dasar penipu, dia sengaja pura pura sakit agar Ken perhatian sama dia, awas aja besok gue bakal kasih pelajaran dengannya", ujar Ara berusaha mengontrol emosinya.


"Dek kita pulang yuk, tangan sama kaki gue udah pegel nih dari tadi berkeliling Mall, mana belanjaan lo banget lagi", keluh Ken.


"Ya udah deh kita pulang", ujar Alesia karena sedikit kasihan melihat Abang tercintanya kecapean menemaninya belanja dari tadi.


"Gitu kek dari tadi", ujar Ken lega.


Sore harinya


Tok,,, tok,,,, tok


Ceklek,,,,


"Ehk kalian datang kemari", ujar Bi Susi yang tak lain adalah kepala pelayan rumah Alesia. Bi Susi tau kalau mereka sahabat Alesia nona majikannya. Karena mereka sering datang kemari bermain.


"Iya Bi, Alesianya ada Bi?", ujar Lia dengan sopan.


"Ada non Alesia ada di kamarnya, tapi kalau para Masnya siapa yah?", tanya Bi Susi melihat Arya, Andika, Kiel, dan Randy menggandeng tas ranselnya Ken.


"Perkenalkan saya Arya Bi, dan dia Andika dan di sebelahnya Kiel dan menggandeng tas ransel itu Randy Bi, kami berempat sahabat Ken Bi", ucap Arya sopan memperkenalkan dirinya dan juga yang lainnya.


"Ohk begitu, kalau begitu mari masuk", ujar Bi Susi dan mempersilahkan mereka duduk di sebuah kursi sofa di ruang tamu. Dan permisi ke belakang untuk memanggil Ken yang sedang memandikan wolfi anjing kesayangannya dan juga Alesia.


"Wihhh baru nyampe nih", ujar Ken tiba tiba dan si wolfi ikut mengekor di belakangnya.


"Yoi bro", sahut Arya dan Andika bersamaan,


"Thanks bro", menangkap ranselnya dengan sigap.


"Btw anjing lo keren", puji Andika dan memeluk wolfi yang besarnya hampir lebih setengah tubuhnya.


"Jelaslah anjing siapa",


"Namanya siapa?", tanya Andika yang ikut gemes melihat anjing yang warnanya hitam ke Kuningan itu.


"Namanya wolfi", sahutnya.


Kiel yang malas mendengar ocehan para sohibnya itu memilih diam. Karena sedari tadi dia hanya ingin bertemu dengan orang yang dicarinya sedari tadi.


"Bang Alesia dimana?", tanya Michi yang sedari bungkam mendengar ocehan ketiga pria di depannya itu.


"Ohk iya gue lupa, Lesia mungkin lagi istirahat di kamarnya, bentar gue manggil dia", ujar Ken dan mengambil sebuah panci pink dan centong dari dapur.


"Loh lo mau ngapain bawain panci pink sama centong segala?", tanya Arya heran.


"Lo liat aja, sekarang kalian tutup telinga kalian", ucap Ken menampilkan senyum jahilnya. Bi Susi dan pelayan yang lainnya yang melihat Ken hanya menggeleng gelengkan kepalanya. Karena mereka tahu jika Ken sangat suka menjahili adik kesayangannya itu. Meskipun akan membuat sedikit masalah kecil dan merepotkan mereka. Tetapi mereka tetap menyayangi kedua anak majikannya itu. Karena mereka berdualah yang membuat suasana rumah menjadi seru tidak sepi.


Teng,,,, teng,,, teng,,, teng,, teng teng teng


"WOIII,,,,, ADEK TERSYANTIK GUE BANGUN,,,,,, ADEK LUCKNUT BANGUN WOIIIIIIIII RUMAH MAU KEBAKARAN BANGUN,,,,,,,,," teriak Ken menggema di ruangan itu dan terus memukuli panci pink dengan centongan.


"Buset dah, lama lama kuping gue benar benar budek", rintih Arya memegang telinganya.


"Gila Abang sama adek sama aja sama sama ada sengkleknya", sahut Lia menutup telinganya juga.


"Astaga kuping gue", ujar Randy.


Dan pelayan yang lain hanya tertawa melihat tingkah Ken dan masih menutup telinganya mereka. Dan Kiel tentu saja ikut menutup telinganya.


Alesia yang sedang tidur syantik tiba tiba dikejutkan dengan suara cempreng panci yang dipukuli. Dan parahnya lagi karena sangking terkejutnya dia terjatuh dari tempat tidurnya.


"Dasar abangke, awas aja gue bakal balas lo", ujar Alesia kesal dan merapikan rambutnya ke belakang karena berantakan.


Alesia menuruni tangga kamarnya dengan wajah kesalnya.


"Berisik banget sih lo abangke, lo tau nggak gue lagi tidur syantik lo gangguin", ujar Alesia mengeluarkan uneg-unegnya.

__ADS_1


Kiel yang melihatnya terkekeh kecil melihat Alesia yang terlihat kesal tapi tidak ada yang menyadarinya jika Kiel terkekeh. Yang lainnya hanya tertawa mengejek. Dan Ken sang biang kerok bersiap siap melakukan ancang ancang untuk menghindari amukan Alesia.


Pelayan yang melihat itu hanya tertawa melihat pertunjukan yang menurut mereka sangat seru.


"Sini lo bang, gue jitak kepala lo", ujar Alesia mengejar Ken. Akhirnya mereka saling kejar-kejaran mengelilingi sofa yang diduduki para sohibnya.


"Nggak dapat, ayo kejar gue lagi sampai dapat", ejek Ken di belakang sofa yang diduduki Kiel.


Alesia yang semakin kesal berlari mengejar Ken di belakang sofa yang diduduki Kiel. bukannya untung yang didapatkannya tapi malah buntung.


Secara tidak sengaja Alesia terjatuh di atas Kiel yang hendak menangkap Ken yang terus mengejeknya. Hal itu sontak membuat para sohibnya dan para pelayan kaget melihat adegan itu.


Kedua mata mereka bertemu dan tidak lupa jantung Alesia yang sudah lari maraton. Kedua tangannya memegang kedua sisi sofa dan Kiel menatap Alesia dari bawah.


Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik dan cekrek.


Randy dengan sengaja mengambil gambar adegan itu. Dan menyadarkan keduanya.


Kedua wajah Alesia sudah bersemu merah bak tomat dan berusaha menetralkan jantungnya. Kiel hanya cuek dan dingin seperti tidak terjadi apa apa.


"S sorry tadi gue nggak sengaja beneran", cicit Alesia masih malu. Yang lainnya hanya terkekeh kecil melihat Alesia malu.


"Hm", sahut Kiel cuek dan pura pura memainkan ponselnya.


"Dasar kulkas 35 pintu", umpat Alesia sedikit kesal karena Kiel cuek. Bagaimana tidak saat ini dia berusaha menahan kegugupannya sementara Kiel dia hanya menjawab dengan enteng seperti tidak terjadi apa apa. Kiel hanya tersenyum kecil bahkan hampir tidak terlihat sedikit pun mendengar umpatan Alesia terhadapnya.


Alesia yang ingin duduk bingung memilih tempat. Soalnya yang kosong tinggal di sebelah Zoya dan Kiel. Alesia berjalan ke arah Zoya ingin duduk. Tapi sialnya Ken yang terlebih dahulu mendudukinya.


"Itu tempat duduk gue bang", ujar Alesia kesal.


"Siapa dulu itu yang dapat", sahut Ken enteng.


Dan orang yang disebelahnya sudah sedari tadi salting dan jantungnya sudah lari maraton yang tak lain adalah Zoya.


"Aishhhh", Alesia mendengus kesal dan mau tidak mau dia harus duduk disebelah Kiel. Dan jantungnya akan kembali lari maraton lagi.


"Btw fotonya keren juga", ujar Randy melihat hasil potretnya melalui kamera ponselnya.


"Coba gue liat", ujar Arya,


"Gue juga mau lihat hasilnya", imbuh Andika",


"Kita bertiga juga", sorak Lia ingin melihat hasil potretnya.


"Wihhh cakep nih, cocok juga kalo Kiel dijodohin sama Alesia", timpal Michi menggoda Alesia.


Dan blush wajah Alesia kembali merona lagi.


"Apaan sih gaje", sahut Alesia menutupi wajah malunya. Yang lainnya hanya tertawa melihat tingkah Alesia.


"Bang Ran, kirim dong ke gue", pinta Lia.


"Nomor wa lo nggak ada sama gue", ujar Randy.


"Ohk iya gue lupa, nih wa gue", Lia menyodorkan ponselnya.


"Nih udah gue kirim", ucap Randy.


"Gini aja gimana kalo kita buat group kita aja" saran Ken.


"Setuju", sahut mereka.


"Bentar gue SV no wa kalian satu persatu", ujar Ken terhadap Lia, Michi, dan Zoya.


"Udah nih",


"Les ponsel lo mana?", tanya Ken,


"Buat apa, kan no wa gue ada sama lo", sahut Alesia mengerutkan keningnya.


"Sini aja", mau tidak mau Alesia memberikan ponselnya.


"Nih",


"Bro ponsel lo pinjam bentar", ujar Ken terhadap Kiel. Tanpa ambil pusing dia langsung memberikannya karena dia tahu maksud Ken.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hay Puput balik lagi


jangan lupa like, komen, dan kalau bisa favorit juga yah.


Salam sehat 💪

__ADS_1


GBU 😘🤗


__ADS_2