Kulkas 35 Pintu

Kulkas 35 Pintu
Baik baik saja


__ADS_3

Alesia membelalakkan matanya saat mendengar tembakan pistol itu. Dengan samar samar di saat keterkejutannya dia mendengar orang orang yang selalu berada di sekitarnya memanggil namanya.


"Ahkkkkkk,,,,"


Alesia tersadar dan melihat seseorang yang rela menjadi tameng untuk dirinya memegang perutnya yang sudah mulbai mengeluarkan cairan merah.


"Paman!!!!,,,,,,,,," Alesia meneriaki orang yang sudah rela menyelamatkan nyawanya dari maut, sedikit demi sedikit menjatuhkan dirinya di atas jalanan itu dengan berlumuran darah tepat di hadapan Alesia.


"Lesiaaa,,,,," Zoya dan juga yang lainnya meneriaki nama Alesia yang sudah menjatuhkan tubuhnya karena pingsan.


Kiel yang melihat Alesia terkapar karena pingsan berinisiatif ingin sekali membantunya tapi di cegah Tuan Johan dan juga Tuan Rangga.


"Kenapa kau diam saja, cepat bawa gadis itu", perintah salah satu peng mengenakan pakaian berbeda dari anggotanya.


Veno yang masih mematung dengan perasaan bimbang. Dia mengepalkan tangannya dan menggertakkan rahangnya mengeras. Amarah menguasai di dada Veno dia tidak terima jika seseorang yang berani menyakiti seorang cewek apalagi di depannya. Bukan karena dia menyukainya tetapi karena dipikirkannya, cewek itu ibaratkan seorang ibu yang rela mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkannya ke dunia maka dari itu cewek harusnya dihargai dan tidak disakiti. Bukan hanya itu, orang yang baru saja tergeletak lemas di atas jalanan dia menganggap orang itu sebagai ayahnya karena dia juga rela menyelamatkan Alesia seperti putri kandungnya sendiri. Dia tidak terima itu semua harusnya seseorang yang mengerti arti sakit dan penderitaan seorang ibu dan ayah untuk anaknya harus tau menghargai pengorbanannya.


Bugggghhhh,,,,,,, bugggghhhh,,,,,,


"Kenapa kau memukulku anak sialan", umpat orang yang berusaha menembak Alesia.


"Gue nggak bakal lakuin kesalahan yang sama lagi", Veno mengeratkan genggamannya di kerah baju yang bernama Jack itu.


"Dasar lemah", Jack menyunggingkan senyum remehnya ke Veno meskipun darah segar keluar dari bawah sudut bibirnya.


"Gue akhirnya tau selama ini lo cuci otak gue, seolah-olah gue ini nggak berguna dan lo bisa manfaatin hidup gue sepuas hati lo",


"Tepat sekali, aku sengaja melakukannya karena lo emang anak yang tidak berguna dan juga miskin. Karena orang tua itu kau berani memukulku dasar lemah",


"Dasar lo bajingan!!! orang tua gue nggak pernah ngajarin gue sebagai sampah yang nggak punya hati tapi gue diajarin gimana sakit dan deritanya seseorang itu dan harus layak di hargai. Tapi lo, orang yang gue anggap sebagai ayah kedua gue sendiri ngajarin kalo seseorang yang benar benar tulus itu nggak ada membuat gue masuk terperangkap ke dalam dunia gelap, yang membuat gue makin jauh dari Tuhan gue sendiri", Veno melepaskan cengkeraman di kerah Jack dan memilih berlari ke arah ambulance yang akan membawa seseorang yang baru saja terluka.


"Hah! anak itu akhirnya mengerti juga", gumam Jack mengelap darah yang baru saja keluar dari sudut bibirnya dan bangkit berdiri. Dia berjalan sempoyongan di bantu oleh anggota lain yang masih memakai masker. Mereka tidak berani ikut campur urusan bos mereka dengan Veno. Jack sempat melirik sekilas ke arah Veno yang berusaha membantu orang yang baru saja ditembaknya. Dia tersenyum kecil dan menatap ke langit, dia memilih nyawanya hilang di tangan bosnya daripada nyawa anak itu.


"SIALAN!!!!!!", amarah menguasai orang misterius itu mencampakkan gelas wine di tangannya.


"Rencana kita ternyata berjalan lancar", terpancar senyum lega di wajah Tuan Rangga dan juga Tuan Johan.


"Tapi Mas bagaimana dengan putri kita? dia sekarang pasti lagi keadaan syok", ujar Nyonya Ema yang dilanda kekhawatiran terhadap putrinya itu. Nyonya Risa yang tidak tinggal diam memilih menenangkan calon besannya itu.


"Mommy tenang yah semua pasti baik baik aja", ucap Ken ikut menenangkan Mommynya itu.


Sedangkan Kiel sendiri masih menatap layar lebar itu dengan tatapan penuh arti.


"Boy kau mau kemana?", tanya Tuan mengerutkan keningnya saat Kiel berjalan melewati mereka menuju pintu keluar.


"Urusan penting Ayah", sahutnya datar tidak melirik ke belakang. Semua orang di ruangan itu saling pandang tidak mengerti apa yang dimaksud Kiel dengan urusan penting.


......................


Suara dorongan dua brankar memenuhi lorong rumah sakit itu. Satu brankar berbaring seorang gadis cantik dalam keadaan pingsan dan satu brankar lagi berbaring lemah seseorang yang baru saja menyelamatkan nyawa gadis cantik itu.


"Bibi Dokter, Paman itu baru saja terluka akibat tembakan pistol kami sangat takut Paman itu kenapa kenapa", ujar Michi mengeluarkan air matanya. Michi tahu kalau Dokter itu adalah ibunya Lia karena mereka sering berkunjung ke rumahnya bersama Zoya dan Alesia. Dan panggilan Bibi Dokter adalah panggilan kesayangan mereka ke ibu Lia.


"Baiklah, yang penting kalian terus saja berdoa yah agar paman itu selamat", ujar sang dokter yang bertagname Lina yaitu ibu Lia sendiri. Dia sempat melirik ke arah Lia yang tengah menatapnya dengan sejuta harapan di matanya.


Paman yang baru saja menyelamatkan nyawa Alesia baru saja dimasukkan ke ruang darurat agar Dokter turun tangan mengatasinya.


Para sahabat Alesia memasuki salah satu ruangan tempat dimana sahabat mereka pingsan akibat syok karena kejadian tadi.


Mata lentik dan lenguhan kecil keluar dari mulut kecil Alesia mengundang perhatian ketiga gadis cantik itu.


"Gu gue di mana?", tanyanya ke diri sendiri mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang berhiaskan cat putih.


"Les! syukurlah lo udah sadar", ujar Michi lega memeluk Alesia diikuti oleh Lia dan Zoya.


"Akhirnya gue bernafas lega", ujar Zoya masih keadaan saling memeluk.


"Lo nggak kenapa kenapa kan? ada yang sakit? ada yang lecet? ada yang kegores? badan lo sehat sehat aja kan?", tanya Lia beruntun membolak balikan wajah Alesia yang tengah pucat.


"Gue nggak papa Lia kudadangdis", ujar Alesia memasang muka masam akibat ulah salah satu sahabatnya itu.

__ADS_1


"Heh ogeb yang ada dia makin sakit gara gara lo putar putar gitu", ujar Zoya menepuk jidatnya.


"Tau, pertanyaannya aja kayak gerbong kereta api panjang gitu, udah cepat banget lagi kayak pelari inter", timpal Michi mengoceh ke Lia.


"Kan gue khawatir dodol", bela Lia dengan wajah cemberut mengundang gelak tawa antara mereka. Alesia hanya mengulas senyumnya menutupi kekhawatirannya ke orang yang baru saja menyelamatkan nyawanya.


Ceklekk,,,,,,


Suara pintu terbuka mengundang perhatian keempat gadis itu dan mereka mendapati Nyonya Ema berjalan ke arah mereka bersama Ken.


"Lesia sayang apa kamu baik baik saja?", tanya Nyonya Ema khawatir dengan putri bungsunya itu.


"Lesia baik baik aja kok Mom, tapi,,,,," Alesia menggantungkan ucapannya mengingat seseorang yang baru saja menyelamatkannya.


"Mommy udah tau semuanya dari teman temanmu, semuanya pasti baik baik saja kamu hanya perlu berdoa agar paman yang baru menyelamatkanmu selamat. Ingat yang perlu kamu lakukan itu berdoa dan bersyukur karena kamu masih selamat sampai sekarang ini, lagipula ini bukan salahmu", ujar Nyonya Ema memeluk Alesia yang sudah mulai mengeluarkan air matanya.


"Kapan kita kasih tau ke bibi Ema", bisik Michi ke telinga Lia. Bibi Ema adalah panggilan mereka ke Mommy Alesia.


"Husttt,,, mending lo diam", ujar Lia sedikit kesal dengan Michi yang terkadang telmi seperti Alesia.


"Dek lo nggak papa kan?", tanya Ken khawatir memegang kening Alesia memutar wajah Alesia bolak balik.


"Isss,,,,, gue nggak papa Abangke, lo sama aja kayak Lia khawatirnya berlebihan sampe leher gue pegal", oceh Alesia mengerucutkan bibirnya.


"Kan gue khawatir dek",


"Yang harusnya lo khawatirkan itu orang asing yang baru nyelamatin nyawa gue bukan gue",


"Iya iya maaf, btw lo masih syok nggak?",


"Pake nanya lagi, jelaslah!!! syok pake banget. Gue takut Paman itu kenapa kenapa hiksss,,,,," ujarnya mengeluarkan air matanya kembali.


"Ken!", tegur Nyonya Ema halus,


"Maaf Mom",


"Apa dia baik baik saja Dok?", tanya Tuan Johan melihat Pak Aldo yang baru saja menyelamatkannya nyawa putrinya. Entah kapan Tuan Johan sampai ke rumah sakit itu yang jelas beliau sedari tadi memikirkan bagaimana keadaan Pak Aldo.


"Pak Aldo baik baik saja, hanya saja dia sepertinya dia pingsan karena syok", ujar Dokter Lina membetulkan kacamatanya yang selalu dia pakai saat bekerja.


"Tapi bagaimana bisa?",


"Ayolah sobat, kau tidak tahu kalau dia memakai alat pelindung peluru di tubuhnya", ujar Tuan Rangga menepuk pundak sahabatnya itu. Tuan Rangga menggelengkan kepalanya karena sifat Tuan Johan hampir sama dengan Alesia pelupa dan juga sedikit telmi.


"Aku lupa", ujar Tuan Johan tertawa kecil.


"Di mana aku?", kata kata pertama Pak Aldo setelah sadar dan mengundang 3 pasang mata yang tengah menunggunya sadar.


"Tuan Johan, Tuan Rangga", ujarnya menatap dua orang di depannya itu tengah tersenyum lega dan seorang Dokter wanita memakai kacamata ikut juga tersenyum kepadanya.


"Bagaimana keadaanmu Pak Aldo?",


"Saya baik baik saja Tuan Rangga, terimakasih banyak sudah menyempatkan diri melihat saya", ujarnya sungkan.


"Ayolah Pak Aldo jangan bersikap orang asing seperti itu. Kita kan teman, lagipula anda sudah berjasa menyelamatkan putri saya jadi saya mengucapkan terimakasih banyak kepada Pak Aldo",


"Itu sudah menjadi tugas saya menjaga Nona Alesia Tuan Johan, dan saya mengucapkan banyak terimakasih juga karena Tuan menganggap saya jadi teman",


Tuan Rangga tersenyum kecil melihat interaksi kedua orang di depannya itu. Memang seringkali Tuan Johan dan Tuan Rangga sendiri sering diibaratkan dengan Sasuke dan Naruto. Yang satu dingin berkelas tetapi sekali bercanda kelewatan dan yang satu terkadang kocak terhadap orang tertentu saja yang mengenal baik dirinya.


"Di mana anak itu sekarang?", tanya Tuan Johan wajahnya kembali menjadi serius.


"Dia di sini Om", ujar Arya dan Andika bersamaan membawa Veno di belakangnya dengan wajah dilanda kekhawatiran.


Veno membelalakkan matanya saat melihat Pak Aldo tersenyum kepadanya.


"Tapi bagaimana bisa?", ucapnya spontan menepuk wajahnya.


"Heh, lo pasti kaget kan", ujar Arya menepuk pundak Veno yang tengah bengong.

__ADS_1


"Apa kau mengenal saya nak Veno?", tanya Tuan Johan menyadarkan lamunan Veno.


"Te tentu saja Tuan, anda adalah pemilik perusahaan ternama di negara ini Devandra Company", ujarnya gugup karena baru kali ini dirinya bertemu langsung dengan orang terpandang di negara ini. Sedangkan Tuan Rangga sendiri, dia sengaja menyembunyikan identitasnya sementara ke hadapan publik sebelum semua urusan mereka selesai.


"Baguslah kau tau, apa kau ingin tau kenapa kau saya panggil kemari?", tanya Tuan Johan lagi.


"Tidak Tuan", sahutnya menggelengkan kepalanya dia masih merasa bersalah karena sekian lama dirinya telah memata-matai putrinya dan tadi dia hampir saja menculiknya. Tapi semua di luar ekspektasinya ternyata gadis yang menurutnya lugu tidak tahu apa apa itu tahu semua tentangnya.


"Saya tahu kau masih bersalah karena kejadian tadi, tapi saya ingin meminta bantuanmu menjadi pengawal rahasia putri saya", ujar Tuan Johan menepuk pundak Veno yang terlihat seperti di sambar petir karena kaget.


"Tapi saya Tuan,,,,,"


"Tidak ada tapi tapian, kau akan menjaga putri saya dari kejauhan bersama Pak Aldo.


Kau tenang saja, biaya pengobatan ibumu saya yang akan menanggungnya dan ayahmu tidak akan bekerja sebagai kuli bangunan lagi biarkan beliau istirahat karena kau yang akan menggantikan kewajiban ayahmu menafkahi keluargamu dengan hasil kerja kerasmu", potong Tuan Johan memberikan penawaran untuk Veno.


Veno yang masih bingung apakah dia menerimanya atau tidak karena dia tidak mau mengambil keputusan yang salah lagi untuk dirinya dan juga keluarganya.


"100 juta perbulan bagaimana?", tawar Tuan Johan lagi membuat Veno terkejut mendengar nominal yang baru saja didengarnya.


"Itu terlalu banyak Tuan",


"Bagaimana dengan 500 juta perbulan? kau bisa menabungnya untuk keluargamu atau biaya kuliahmu. Bila perlu biaya kuliahmu saya yang akan menanggungnya juga",


Veno sekali lagi terkejut mendengar tawaran menggiurkan dari mulut Tuan Johan.


"Saya menetapkan gajimu 500 juta perbulan. Saya ingin kau menjaga putri saya dengan baik. Jadi apa kau masih bimbang?",


"Baik Tuan saya menyetujuinya. Tapi apa ada syarat yang harus saya penuhi Tuan karena tidak mudah menjadi pengawal rahasia?", karena biasanya pengawal rahasia itu harus memiliki bakat dan juga perbekalan bela diri yang tinggi.


"Syaratnya, dalam tiga Minggu sekali kau harus belajar bela diri sekaligus belajar bahasa. Dan yang paling utama adalah kau harus fokus belajar di sekolahmu karena itu satu satunya masa depanmu",


Degggg,,,,,


Veno merasa tertampar karena selama ini dia menganggap enteng dengan namanya belajar di sekolah. Dia memilih menjadi anak berandalan karena dia merasa belajar itu tidak ada gunanya.


"Dan ingat, dekatkan dirimu ke Tuhan karena dirimu sebenarnya berharga bagi kedua orangtuamu",


Pak Aldo mengulas senyumannya melihat Veno menerima tawaran Tuan Johan yang menjanjikan itu.


Setelah berbincang agak lama, Tuan Rangga dan yang lainnya keluar dari ruangan itu karena sebentar lagi Alesia akan memasuki ruangan Pak Aldo.


"Paman baik baik saja?", tanya Alesia menangis lagi.


"Saya tidak apa apa Nona, Nona tidak perlu khawatir kepada saya",


"Tapi, paman begini karena aku",


"Sudahlah Nona semua sudah berlalu yang penting Nona selamat",


Pertanyaan masih banyak di otak Alesia tetapi sebelum dia mengutarakannya Dokter Lina menyuruhnya untuk keluar agar Pak Aldo bisa istirahat. Sebelum kepura-puraan Pak Aldo terbongkar karena Dokter Lina tahu kalau Alesia itu sangat peka.


"Baiklah Paman aku keluar dulu cepat sembuh Paman", ujarnya dan mendapatkan anggukan kepala dari Pak Aldo yang perutnya dan juga tubuhnya yang lainnya diperban.


"Apa lo baik baik aja", kembali kata kata itu terhapus di papan ketikan ponsel Kiel. Dia sekarang berada di rumah sakit tempat Alesia berada sekarang. Dari tadi dia sibuk dengan ponselnya dan sesekali menggerutu tanpa orang lain mengetahui.


"Apa ini", Kiel terkejut saat sebuah emoticon love tidak sengaja terkirim ke nomor Alesia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf telat update lagi,


Jangan lupa like, komen, vote and favorit juga yah 😊


Kalo telat update lagi para pembaca boleh teror Putri 😬


Salam sehat 💪


GBU 🤗😇

__ADS_1


__ADS_2