
"Si Lesia mana sih? dari tadi nggak nongol nongol tuh anak", gerutu Lia ke teman temannya sekalian merapikan buku buku Alesia agar di bawa pulang.
"Gue aja nggak tahu kemana tuh anak, sampe sampe ngasih buku absen gue yang turun tangan", Ujar Michi yang ikut kesal merapikan buku bukunya dan juga alat makeup-nya buat dijadiin teman gabut.
"Apalagi gue, nggak tau kemana perginya tuh anak sama si kulkas. Gara gara dia badan gue jadi pegal pegal bersihin ruang olahraga yang jarang dipakai itu", umpat Zoya meregangkan otot-otot lengannya.
"Hay guys, sorry gue telat", sapa Alesia sesampai dirinya di kelas yang kini tersisa ketiga sahabatnya yang mengumpat kesal dan juga salah teman sekelasnya yang seorang wibu tengah menonton anime.
"Hay guys Hay guys pala lo guys", ketus Zoya masih stand by dengan kegiatannya.
"Lo tuh yah, udah dicariin dari tadi tapi nggak ada juga batang hidung lo menampakkan diri. Darimana aja sih?", omel Michi berdecak pinggang di depan Alesia yang lagi memasang senyum manisnya.
"Gu,,gue dari taman belakang hehehehe,,,," jawabnya menggarut tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Ngapain? sama siapa?", tanya Michi dan Lia memicingkan kedua matanya seolah mengintimidasi lawan bicaranya.
"Tadi gue makan seblak kuah pedas sama si Kulkas",
"Kulkas!", beo keduanya saling pandang.
"Maksudnya Kiel", ujar Zoya seakan tahu isi pikiran kedua sahabatnya itu.
"Jadi lo cuma makan seblak doang sama dia?", tanya Michi memastikan apakah mereka berdua hanya makan seblak saja.
"Iyah", jawabnya lagi menganggukkan kepalanya lugu.
"Nggak ada yang lain kalian lakuin?", tanya Zoya yang ikut penasaran dan Alesia menggelengkan kepalanya menjawabnya.
"Terus lo kenapa lama, nggak denger apa bel dari tadi udah bunyi", oceh Michi sedikit kesal.
"Hehehehe gue nggak sadar",
"Hehaheha,,,,, nggak sadar nggak sadar sekalian aja lo nggak sadar selamanya",
"Isss,,, jahat banget sih lo Lia sama gue", ujar Alesia mengerucutkan bibirnya sedangkan Lia hanya bodoh amat.
"Terus Kiel di mana?", tanya Zoya melihat sekelilingnya melihat keberadaan Kiel yang sering kali tiba tiba datang tanpa suara seperti jelangkung canda jelangkung.
"Dia tadi sama gue, tapi saat masuk kelas dianya nggak ada lagi kayak anak syetan aja tiba tiba hilang", ketiga sahabatnya hanya berohria saja mungkin Kiel sudah mendahului para sahabatnya ke parkiran.
"Nih tas lo, isinya banyak banget padahal besok mulai belajar serius",
"Makasih Lia galak lo emang terbaik deh", Alesia menerima tasnya dari tangan Lia yang tengah muka masam.
"Makasih Lia galak lo emang terbaik deh nyenyenye,,, pala lo galak", ketus Lia dengan nada mengejek.
"Masih kurang asem Lia", ujar Michi tertawa melihat tingkah Lia.
Mereka berjalan melintasi lorong sekolah yang sudah terlihat sepi paling satu dua orang saja berlalu lalang melintasi mereka.
Sepanjang perjalanan mereka hanya tertawa melihat pertengkaran kecil Alesia dan Lia.
"Tas gue lumayan berat juga, punggung sampai pegal rasanya", ujar Alesia mengangkat tas di punggungnya.
"Iyalah isinya 7 novel, 2 buku diary, 1kotak pensil,1jaket, 1 iPad, terus buku catatan 4 nggak tau apa maksudnya lo bawa buku kosong segitu terus sampah Snack yang lo bawa tadi pagi masih di dalam tas bukan hanya itu air putih yang lo bawa dari rumah nggak di minum malah bawa pulang lagi",
"Dan yang paling parah lo bawa alat make up ukuran kecil ke sekolah nggak tau juga buat apa. Lo emang niat sih sekolah bawa barang barang nggak berguna banget", oceh Lia mengintrogasi Alesia layaknya seperti anak perempuannya.
"Eitssss,,,, jangan salah mbak itu semua buat partner ngatasin gabut gue", ujarnya menyibakkan rambut panjangnya.
"KE-BI-A-SA-AN" umpat Michi dan Lia bersamaan.
"Ilihh sok nasehatin gue, padahal kalo kalian bertiga lagi gabut iPad gue juga yang korban buat ngedrakor", cibir Alesia.
"Iya juga yah", ujar Michi polos mendapatkan tatapan sengit dari kedua teman di sebelahnya.
"Les, tadi bang Nathan si ketua OSIS nyariin lo tadi", ujar Michi memberitahukan pertama hal Nathan yang notabenenya kakak kelas mereka dan juga menjabat sebagai ketua OSIS periode tahun lalu. Dan sekarang masih menjabat menjadi ketua OSIS tetapi tanggung jawabnya seringkali dialihkan ke Rezky yang juga wakil ketua OSIS. Kata Nathan, Rezky harus bisa memenuhi tanggung jawab itu bagaimanapun juga. Karena sebentar lagi Nathan akan lulus dan akhir akhir ini juga jadwalnya sibuk karena di isi banyak kegiatan. Terkadang Nathan datang ke sekolah hanya 3 kali seminggu dan kadang seminggu tidak ke sekolah, alasannya saja tidak ada tahu yang jelas pihak keluarganya sering kali mengatakan jika Nathan sedang ada masalah keluarga.
__ADS_1
"Nyariin gue, buat apa?", tanya Alesia heran tidak biasanya Nathan yang selama ini membenci dirinya tiba tiba mencarinya.
Ketiganya saling menatap dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Mereka tahu kalau Alesia dan Nathan saling membenci karena masalah dulu. Alesia sebenarnya tidak membenci Nathan hanya saja Nathan memperlakukan Alesia seperti tidak ada harga dirinya. Makanya setiap dirinya mendengar nama itu dia merasa risih dan muak.
"Katanya lo perwakilan dari kelas kita buat ucapan selamat datang ke adek kelas kita dan juga pidato penutupan MPLS setelah selesai Pak kepala sekolah besok pagi di halaman sekolah", jelas Zoya panjang lebar.
"Kenapa harus gue?",
"Kan sekarang lo jadi ketua kelas kita ogeb gimana sih nih anak", ujar Michi sedikit kesal ingin rasanya dia memukul wajah Alesia menggunakan sepatunya.
"Wajib gitu",
"Wajib pake bangettttt,,,,," ujar Lia menggunakan jari tangannya serasa menggarisbawahi sebuah kalimat di kertas.
"Rezky si wakil ketua OSIS kan ada, kenapa harus gue",
"Sebarkan anakmu ini ya Tuhan. Rezky ntuhh,,,,,, wakil ketua OSIS pasti lo tau gimana sibuknya dia apalagi bang Nathan baru hari ini dia masuk pasti si Rezky ntuh makin sibuk", jelas Michi geram ingin mencakar wajah Alesia.
"Ahkkkkkk,,,,, gue nggak mau pidato besok gue lagi sibuk",
"Sibuk ngapain lo?", tanya Zoya melirik Alesia yang terlihat santai santai saja.
"Sibuk ngejahilin adek kelas lah, jadi Zoya aja yang turun tangan buat pidato besok kan dia wakil ketua kelas", ujar Alesia mengibaskan rambutnya tepat di wajah Zoya.
Takkkk,,,,,,,,
"Awwwwww,,,,,,,,,, kepala gue sakit njirr kenapa kalian pukul sih", rintih Alesia memegang kepalanya yang baru saja dihajar massa oleh ketiga sahabatnya itu.
"Rasain emang enak, mau gue tabok lagi mumpung tenaga dalam gue masih banyak nih", ujar Zoya tersenyum licik.
"Nggak mau, kepala gue udah tumbuh 3 cm gara gara lo pada ntar kepala gue jadi kayak si Adudu lagi jadi kepala kotak", Alesia memegang kepalanya niat melindungi dari serangan ketiga sahabatnya itu lagi.
"Jadi lo mau nggak pidato besok?", tanya Zoya lagi memicingkan kedua matanya ke Alesia.
"Nggak", tolak Alesia bersikeras,
"Jadi fix lo pidato perwakilan dari kelas kita",
"Hmmmm", sahut Alesia memutar matanya malas dan mengerucutkan bibirnya. Zoya yang mendengar itu tersenyum kemenangan. Sedangkan Lia dan Michi bertosria.
"Les!", panggil Michi memukul mukul lengan Alesia yang tengah menatap ke arah bawah saat berjalan.
"Apa?", sahutnya tetapi masih tetap menatap ke arah bawah.
"Liat dulu itu", Lia mendongakkan kepala Alesia dan menunjuk ke arah geng Kiel. Yang menarik perhatiannya adalah Ken tengah berbicara terhadap Ara dan Elsa.
"Ngapain tuh anak ngomong sama Abang gue", terlihat jelas di wajah Alesia ketidaksukaannya terhadap Ara.
"Kita samperin?", tanya Zoya memastikan apa Alesia akan melabrak Ara atau tidak. Karena dia juga merasa geram terhadap Ara yang berusaha mendekati Ken.
"Lo nyari adek gue buat apa?", tanya Ken dengan nada dingin terhadap Ara yang sedang berpura pura wajah sedih.
"Gue cuma mau minta maaf sama adek lo", ujar Ara menangis sesenggukan dan Elsa yang berdiri sebelahnya tengah menenangkannya sekalian kedua ekornya matanya melirik ke arah Randy yang sibuk dengan gamenya.
"Minta maaf!", beo Ken mengerutkan keningnya kebingungan.
"Bro, lo nggak usah percaya apa yang dia katakan", bisik Arya di telinga sebelah kiri Ken.
"Yoi bro, liat aja tuh mukanya kayaknya dia lagi akting nangis", timpal Andika di telinga sebelah kanan Ken.
"Ehk ada kak Ara, ngapain nih kak cari aku?", tanya Alesia ramah dengan senyuman manisnya.
Ketiga sahabatnya yang dibelakangnya saling menatap dan menahan tawanya. Arya, Andika, dan Ken ikut saling pandang dan tertawa kecil. Sedangkan Randy yang tengah minum air putih pemberian Arya langsung menyemburkannya karena kaget mendengar sapaan Alesia terhadap Ara. Randy berusaha menahan tawanya dan bersikap seperti biasa dia kembali fokus ke ponselnya sebagai alih perhatiannya. Dan Kiel tidak bergeming dari tempatnya dia hanya duduk santai di salah satu kursi parkiran dengan menutup kedua matanya.
"Dia pura pura ramah ke gue", batin Ara melihat perubahan nada bicara Alesia yang berbeda jauh dari tadi pagi saat di toilet.
"Alesia, maafin gue soal tadi pagi dan juga yang kemaren udah nampar lo", ujar Ara dengan nada lirih yang dibuat buatnya dia tidak sadar kalau ucapannya yang barusan telah membangunkan singa yang tengah tertidur dan ingin segera menerkam mangsanya.
__ADS_1
"Jadi biang rusuh buat muka adek gue merah itu lo", ujar Ken mendekatkan dirinya ke Ara yang tengah ketakutan melihat perubahan sikap Ken.
"Bro, bro lo sabar jangan kebawa emosi", hadang Arya memegang tubuh Ken.
"Jangan jangan bekas lebam di muka Lesia yang tadi pagi itu ulah lo juga",
"Iyah, gue minta maaf", ujar Ara,
"Udah Lia jangan buat keributan gue nggak mau lo kenapa kenapa karena dia", Alesia melerai Lia yang sudah bersiap menjambak rambut Ara.
"Pantesan aja satu harian ini mood lo anjlok ternyata ini toh penyebabnya", tebak Michi dan tepat sasaran apa yang dikatakannya itu benar. Tadi pagi setelah selesai pemilihan ketua kelas Alesia pergi ke toilet. Saat di toilet dia dihadang Ara dan juga Elsa. Mereka sempat beradu mulut dan saling menjambak rambut satu sama lain. Dan setelah pengakuan Ken yang di kantin, akhirnya Ara tahu kalau Alesia sebenarnya adik Ken bukan pacarnya. Maka dari itulah dia berniat meminta maaf meskipun harus terpaksa demi mendapatkan perhatian Ken.
"Alesia, gue minta maaf sama lo. Selama ini gue salah paham sama lo, gue pikir lo pacarnya Ken padahal nggak. Sekali lagi maafin gue", jelas Ara menatap Alesia dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Gue lakuin itu semua karena gue suka sama Abang lo Ken", lirih Ara menundukkan kepalanya karena malu. Ken yang mendengar itu menaikkan kedua alisnya dan mengerutkan keningnya.
Alesia melirik ke arah Zoya dan dugaannya tepat. Ada sedikit perubahan di wajah Zoya dan sedikit kesal, dan tangannya terlihat dikepalnya dengan kuat. Alesia tersenyum senang melihat itu.
"Oke gue maafin",
"Thanks Alesia lo emang teman terbaik" ujar Ara tersenyum sumringah.
"Sejak kapan lo jadi teman gue", sikap Alesia berubah menjadi dingin dan membuat Ara termakan kata katanya.
"Satu hal yang perlu perlu lo tau. Yang pertama lo nggak usah cape cape akting baik di depan gue karena itu buat gue jijik dan yang kedua kalo lo emang suka sama Abang gue, jangan pernah sesekali lo manfaatin gue buat lo deket sama dia",
Degggg,,,,,,,,,
"Dan yang ketiga jangan pernah sesekali bermimpi lo bisa dapatin Abang gue karena gue nggak bakal biarin itu terjadi",
Ara menelan ludahnya dengan kasar. Baru kali ini harga dirinya direndahkan tetapi sekarang harga dirinya seperti diinjak injak oleh adek kelas sendiri.
"Karena apa? karena Zoya sahabat terbaik gue lah yang pantas buat Abang gue bukan lo yang bermuka dua", senyuman kemenangan terukir di wajah Alesia saat melihat Ara mengeratkan giginya dan tangannya mengepal kuat di sebelah roknya.
Zoya yang mendengar penuturan Alesia serasa ada kupu kupu di perutnya yang berterbangan. Dia sesekali melihat Ken yang juga tengah meliriknya.
"Lampu ijo bro", ujar Randy menepuk pundak Ken.
"Adek lo emang ter the best milih pasangan buat lo", ujar Andika terhadap Ken yang tengah tersenyum kecil.
"Gu,,,, gue pergi dulu", pamit Ara dan berlari ke arah mobilnya yang tidak jauh terparkir dari motor sport Ken dan juga para sahabatnya. Elsa hanya mengekor dari belakang Ara sebelum itu dia sempat melirik Zoya dengan tajam dan juga Alesia tetapi beda halnya dengan Randy. Dia menatap dengan obsesi.
"Beres juga akhirnya ngatasin si muka badut itu", ujar Alesia tersenyum sumringah.
Takkkk,,,,,,
Awwww,,,,, sakit abangke kepala gue kenapa lo jitak sih. Asal lo tau, dari tadi kepala gue dipukul mulu sama para lebah di belakang gue dan sekarang lo jitak. Lo nggak kasihan apa sama jidat paripurna gue ini, untung kepala gue nggak berubah jadi kotak kayak si Adudu", oceh Alesia tidak jelas mengusap keningnya yang baru saja dijitak Ken. Gelak tawa terjadi di antara mereka mendengar ocehan Alesia barusan.
"Makanya kalo ngomong yang bener",
"Heh Abangke salah gue apa? dari tadi gue udah ngomong bener yah sama si muka badut",
"Itu bukan ngomong yang bener namanya tapi nurunin harga diri orang",
"Emang itu tujuan gue",
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hay Terima kasih banyak udah mampir ke novel aku^_^
Jangan lupa like, komen, dan kalau bisa favorit juga yah 😊
Maaf gaje, semuanya tergantung inti dari ceritanya karena semuanya para tokoh terlibat ke masalah tokoh utama.
Salam sehat 💪
GOOD BLESS US🤗🤗😊😊
__ADS_1