
"Kiel tolong minggir dong, kita mau duduk di sini", pinta Michi kepada Kiel yang tengah duduk santai. Dan beberapa detik kemudian tidak ada sahutan keluar dari mulut Kiel yang lagi asyik dengan dunianya sendiri.
"Ni orang dengar nggak sih gue ngomong", kesal Michi melihat Kiel.
"Percuma Michi, percuma lo ngomong sama batu marmer itu nggak bakal nyahut, mending balik aja sono tempat duduk lo semula",
"Ya udah deh", Michi mengiyakan ucapan Alesia dengan wajah cemberut. Lia dan Zoya hanya tertawa cekikikan melihat raut wajah Michi.
"Jelek banget muka lo",
"Apa lo", ketus Michi terhadap Arya yang tengah tersenyum mengejek terhadap dirinya.
"Gue mau nanya nih",
"Kalo mau nanya ya nanya nggak usah minta ijin dulu kali", sahut Ken terhadap Andika yang tengah tersenyum masam.
"Nanya apa?", tanya Lia yang tengah sibuk menyeruput sisa minumannya.
"Nama anak baru yang lo barusan cerita siapa Les?",
"Hm,,, kalo nggak salah namanya Celine deh", sahutnya sembari mengingat ingat apakah benar atau tidak.
"Celine!", beo Andika sedikit terkejut dan menatap ke arah Arya, Ken, Randy, bahkan ke Kiel yang terlihat bodoh amat.
"Iya, emangnya kenapa?",
"Nggak", sahut Andika lagi tersenyum manis.
"Kalo Cici yang lo maksud, lo tau nggak kabarnya gimana sekarang?", Alesia hanya menggelengkan kepalanya menandakan tidak tahu.
"Kan gue udah bilang barusan. Semenjak gue pindah ke pusat kota, gue nggak tau gimana kabar dia sekarang bahkan tempat dia tinggal sekarang gue nggak tahu", Andika hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Alesia.
"Lo tenang aja kita bakal doain lo sama para sohib sohib lo itu agar kalian bisa ketemu Cici yang lo maksud", ujar Randy yang sedari tadi penyimak diantara mereka.
"Makasih atas doanya", sahut Alesia tersenyum manis.
"Semoga aja gue bisa ketemu lagi sama Cici dan juga anak cowok itu", gumam Alesia dalam hatinya yang mengundang perhatian Kiel.
Flashback
Sebuah permen hot hot berlapis plastik biru terlempar di paha gadis kecil berkacamata yang tengah duduk menangis di taman. Gadis kecil itu tengah duduk di sebuah taman rumah sakit dan keadaannya dalam keadaan sepi. Dia sengaja di taman sendirian agar bisa leluasa meluapkan air matanya karena mengingat Cici yang belum saja sadar dari komanya.
"Berhentilah menangis, kau sangat jelek saat menangis", ucap seorang bocah laki-laki yang usianya setara terhadap gadis kecil itu.
Gadis kecil itu mendongakkan kepalanya dan melihat seorang bocah laki-laki yang tengah menatapnya datar dengan wajah sedikit kesal dan pucat.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?", tanya gadis kecil itu yang tak lain Alesia sendiri. Dia terlihat kesal terhadap bocah laki-laki yang ada di hadapannya itu, sedari tadi dirinya selalu ditatap tajam seperti ingin diterkam saja.
"Karena kau sudah mengganggu ketengan ku akibat suara cengeng mu itu", ketus bocah laki-laki itu masih menatap datar terhadapnya.
"Aku tidak cengeng. Lagipula ini taman buat umum bukan taman kakek moyang mu jadi bebas dong aku nangis ataupun tertawa jika perlu sampai jungkir balik aku bisa bebas", protesnya dengan wajah kesal.
"Kau ternyata sangat cerewet", sahut bocah laki-laki itu dan pergi begitu saja dengan kursi rodanya. Sepertinya kaki bocah laki-laki itu baru saja kecelakaan dan mengakibatkan dirinya memakai kursi roda sementara.
"Dasar jelek", umpatan itulah yang terakhir keluar dari mulut bocah laki-laki itu.
"Dasar anak aneh", balas Alesia kesal dengan wajah cemberut dengan mata sedikit membengkak akibat menangis barusan.
"Sepertinya aku mengenalnya", gumamnya berusaha mengingat ingat sesuatu.
Dan tada,,,, dia baru saja mengingat, kalau bocah laki-laki itu teman sekelasnya. Dia baru saja pindah beberapa bulan lalu sebelum kedatangan Celine. Alesia sempat melihat bocah laki-laki itu satu kali di kelasnya tengah tidur pulas dan setelah itu dia tidak perduli lagi. Dan beberapa Minggu terkahir bocah laki-laki itu sempat dikabarkan kecelakaan mengakibatkan kakinya sedikit retak dan berkahir di kursi roda sementara.
Alesia menatap permen hot hot yang di pahanya itu dan tersebut kecil. Dia tidak memakannya tetapi memasukannya ke dalam saku roknya. Semua hal yang dilakukan Alesia tidak luput dari sepasang mata yang tengah menatapnya dengan permen hot hot di mulutnya.
Flash on
"Les! woi,,, woi,,,, sadar", ujar Lia sembari menepuk jidat Alesia.
Alesia tersadar dari lamunannya dan memasang muka masa terhadap sang pelaku yang baru saja menepuk jidatnya itu.
"Apa sih!",
"Wihh,,, ternyata lo masih sadar kirain lo lagi kesurupan karena lo terus aja bengong",
__ADS_1
"Enak aja ngatain gue kesurupan", Alesia memukul kepala Lia dengan pelan.
"Ngajak ribut ni anak", timpal Michi mendengar penuturan Lia barusan.
Aksi saling memukul ala Alesia dan Lia mengundang gelak tawa para sahabatnya itu selain Kiel tentunya.
"Tes,,, tes,,, three two one. WAHAI PENGHUNI KANTIN GUE ADA PENGUMUMAN PENTING BUAT KALIAN",
teriak salah satu cowok populer tetapi badboy menggunakan mengaphone kecil di tangannya.
Seluruh penghuni kantin yang tadinya asyik dengan dunianya sendiri mengalihkan perhatiannya ke arah asal suara barusan. termasuk para geng Alesia. Tetapi untuk Kiel tidak, dia tetap stay dengan aktivitasnya.
Seketika senyum Veno mengembang di kala dia melihat gadis yang akan dijadikannya pacar sebentar lagi. Veno terkenal badboy dan kenakalannya di sekolah galaxy internasional school. Kelasnya terletak di sebelah kelas Alesia yaitu kelas XI IPS 5. Dan kabarnya juga dia memiliki geng motor yang diketuai olehnya, namanya "Black mamba" terkenal bengis dan kejam.
Veno berjalan santai mengarah ke salah satu meja kantin. Dia mengehentikan langkahnya saat salah satu meja dipenuhi sesak oleh segerombolan manusia. Dia kembali mengaktifkan megaphone di tangannya dan bersuara.
"SEKARANG GUE MAU KASIH TAU KE KALIAN SEMUA, KALAU CEWEK DI DEPAN GUE SEKARANG INI, AKAN GUE JADIIN PACAR GUE SEKARANG", ujarnya dengan percaya dirinya dan mendapatkan sorakan seisi kantin sebagai pendukungnya terutama teman teman sekelasnya dan gengnya.
"QUENNTINA ALESIA DEVANDRA, LO MAU NGGAK JADI PACAR GUE?", ucap Veno to the point dengan sedikit grogi.
"Sial gue grogi ", umpatnya dalam hatinya dan mendapatkan senyuman remeh dari Kiel meskipun tidak ada yang melihatnya.
Dan Rezky yang melihat dari arah kejauhan hanya mengepalkan tangannya dengan geram.
Alesia yang merasa ditembak langsung menyemburkan minumannya dari dalam mulutnya karena terkejut bukan kepalang.
Bukan hanya dia yang seperti itu bahkan para sahabatnya juga ikut kaget terlebih kakaknya sendiri.
"Sorry Ven, gue nggak bisa jadi pacar lo. Sorry banget mending lo cari yang lain aja",
tolaknya halus agar tidak menyinggung perasaan Veno.
"Tapi gue udah lama suka sama lo", protes Veno tidak terima jika dirinya baru saja ditolak.
"Tapi gue nggak bisa Veno", lirih Alesia dengan wajah memelas.
"Nggak pokoknya lo harus pacar gue", paksa Veno dengan wajah kesal.
"Nggak bisa Veno, gue nggak bisa",
"Lepasin Ven, tangan gue sakit", rintih Alesia berusaha melepaskan genggaman tangan Veno.
"Nggak! gue nggak bakal lepasin", tukasnya dengan wajah sangar.
Brakkk,,,,,,,
Semua mata terarah ke arah meja yang baru dipukul oleh Ken.
"Kalo dibilang nggak bisa ya nggak bisa jangan paksa dia", tukas Ken dengan wajah kesal dirinya sudah berdiri dan berjalan ke arah Veno berusaha melepaskan tangan Alesia dari genggaman tangan Veno.
"Lepas,,,,,"
"Lo siapa ikut campur urusan gue hah! lo itu cuma anak baru di sekolah ini dan lo nggak tahu siapa gue", Veno mendekatkan dirinya kehadapan Ken yang sudah berdiri tegap.
"Siapapun lo, gue nggak takut sama lo camkan itu", tantang Ken lagi dengan senyum meremehkan.
"Hah,,,," Veno menghadapkan wajahnya ke arah Alesia yang sudah berada di belakang Ken berlindung dan tiba tiba,
Bukk,,,,,,,,
Ken memegang mulutnya yang baru saja dipukul kencang dan mengeluarkan sedikit darah di bawah sudut bibirnya. Sedangkan Alesia kaget melihat kakaknya tiba tiba saja dipukul. Arya, Andika, Randy yang melihat Ken tiba tiba saja dipukul langsung berdiri dengan wajah geram termasuk Lia, Michi, dan Zoya. Dan tidak lupa dengan wajah tegang seisi kantin melihat kejadian barusan.
"Asal lo tau, gue Veno ketua geng motor Black mamba di kota ini. Dan nggak ada satupun yang berani macam macam sama gue", ujarnya dengan nada meremehkan terhadap Ken.
"Ck, geng abal abal lo sombongin, buat apa", balas Arya dengan nada mengejek. Dia tidak terima jika sohibnya dipukul.
"Lo cari masalah sama gue, hah!", teriak Veno beralih terhadap Arya.
"Heh hah heh hah, lo yang cari masalah sama kita. Ayam lagi mengeram tenang lo gangguin, pengen cepat mati lo", balas Andika dengan nada menjengkelkan bisa bisanya disaat seperti ini dirinya masih sempat bercanda.
"Nggak gitu juga konsepnya Jubaedah", gumam Lia dengan nada kecil tidak lupa dengan menepuk jidatnya. Veno yang mendengar gumaman Lia hanya diam tidak menggubrisnya.
"Yang mau mati itu lo. Udah gue bilang ini bukan urusan lo tapi lo tetap ikut campur", protes Veno dan beberapa teman gengnya sudah stand bay di belakangnya jika terjadi sesuatu seperti saling menonjok.
__ADS_1
"Udah jelas ini urusan kita. Secara lo udah mukul teman kita dan Lesia yang udah nolak lo jadi pacarnya tetap aja maksa", kini Randy mengeluarkan argumennya.
"Memangnya lo siapanya Alesia, sok akrab banget Lo",
"Sorry babu, gue bukan sok akrab tapi memang gue sahabat dia sekaligus abang dia", sahutnya enteng tanpa dosa.
"Apa lo bilang barusan, babu!", Veno mendekatkan dirinya ke Randy dan mencengkeram bajunya.
"Lepasin, gue susah nafas", desis Randy berusaha mendorong dada Veno, namun Veno semakin mempererat cengkeramannya.
Bukkk,,,,,
Ken memukul wajah Veno tepat di rahangnya dan membuatnya semakin emosi. Veno mengelap sudut bawah bibirnya yang mulai robek dan mengeluarkan sedikit darah.
"Kurang ajar Lo", umpat Veno dan,
Bukkkk,,,,,
Satu pukulan lagi mendarat di wajah Ken dan membuat para yang lainnya naik pitam. Sampai sampai Kiel sendiri dari bangkunya dan menatap tajam ke arah Veno.
"Woi,,,,, kenapa lo mukul dia lagi", protes Zoya mendorong pundak Veno.
"Kenapa? ada masalah, hah!",
"Jelaslah ada masalah sama kita, lo udah mukul dia", ujar Lia menggebu gebu menunjuk wajah veno dengan jari telunjuknya.
"Ck, terserah gue lah mau mukul dia atau nggak. Nggak ada urusannya juga sama lo dasar cewek centil", umpat Veno ke Lia.
"Apa! gue centil", Lia yang menunjuk dirinya tidak terima. Dia menggertakkan giginya dan rasanya wajah Veno ingin dia cakar.
"Jangan kepancing emosi Lia", ujar Zoya berusaha menghentikan aksi nekat Lia. Sedangkan Veno tersenyum remeh.
"Minta dimutilasi nih orang", kesal Michi sambil memegang tangan Lia.
"Udah deh Ven, pliss jangan cari masalah lagi. Gue udah bilang, gue nggak bisa jadi pacar lo, masih banyak yang lebih baik dari gue", bujuk Alesia selembut mungkin.
"Nggak, pokoknya lo harus mau jadi pacar gue titik", tekan Veno kembali ingin meraih tangan Alesia tetapi dicegah Kiel. Salah satu lengan Alesia ditarik Kiel dan langsung mengapit kepalanya di ketiaknya.
Veno yang melihat Alesia di dekap Kiel menggertakkan rahangnya. Dia berjalan ke arah Kiel tetapi dicegat oleh Ken.
"Minggir", titah Veno tetapi tidak diindahkan Ken.
Sedangkan Alesia yang lagi diapit ketiak Kiel meronta-ronta minta dilepaskan.
"Iss,,,, lepasin, ketek lo bau", kesal Alesia berusaha melepaskan kepalanya.
"Diam", titah Kiel menatap tajam gadis yang didekapnya itu. Sedangkan Alesia yang melihat tatapan tajam mata Kiel menelan salivanya dengan kasar. Beberapa pasang mata melihat interaksi Kiel dan Alesia termasuk Rezky dan seorang pria duduk tidak jauh dari mereka dengan tatapan misterius. Kiel menyadari jika pria misterius itu menatap mereka dia tersenyum smirk tetapi tidak ada yang menyadarinya.
"Ck, ternyata lo berani juga", gumam Kiel dalam hatinya melirik tajam menggunakan ekor matanya ke arah meja yang tidak jauh dari mejanya.
"Minggir lo bajingan", umpat Veno dan melayangkan pukulan ketiga kalinya di wajah Ken dan merintih kesakitan.
"Hak apa lo mukul Abang gue dasar brengsek! ini yang ketiga kalinya lo mukul Abang gue tapi gue tetap diam, tapi sekarang gue nggak segan segan balas mukul lo berkali kali", ujar Alesia geram menunjuk ke arah Veno. Sedangkan Ken sudah dipegangi oleh Zoya tanpa sadar. Seisi kantin terkejut termasuk Rezky dan Ara mendengar pengakuan Alesia barusan.
"Abang Lo!", beo Veno dengan nada mengejek menunjuk ke arah Ken yang tengah memegang pipinya, seakan tidak percaya dengan pengakuan Alesia yang menurutnya akal-akalannya saja.
"Ck, lo nggak percaya. Asal lo tau gue KEN TRISTAN DEVANDRA Abang kandung QUENNTINA ALESIA DEVANDRA", jelas Ken dengan percaya dirinya.
"Jadi dia anak sulung keluarga Devandra, Ken", ujar salah satu siswa di kantin itu masih belum percaya.
"Gue baru tau kalo dia abangnya Alesia", timpal siswi yang lain.
"Jadi dia abangnya Ken kirain pacarnya", dan masih banyak komentar lainnya lagi yang keluar dari mulut siswa siswi yang ada di kantin itu.
"Jadi dia adiknya Ken", gumam Ara sedikit syok karena pengakuan Ken barusan.
"Dan asal lo tau, alasan gue nolak lo adalah lo terlalu maksa sama cewek, kasar, mainin perasaan cewek, manfaatin cewek, playboy, dan paling gue benci dari lo yaitu terlalu berandal", Alesia mengeluarkan semua kata kata pedasnya terhadap pria yang ada di depannya itu karena dia sudah muak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa like, komen dan kalau bisa favorit juga yah^_^
Maaf kalo gaje
__ADS_1
Salam sehat 💪
GBU😊