Kulkas 35 Pintu

Kulkas 35 Pintu
Kiel menyebalkan


__ADS_3

"Keluar lo, jangan bilang lo mati konyol di dalam", Kiel menggedor-gedor pintu kamar mandinya berkali-kali tetapi tidak ada sahutan sama sekali. Dia mendengus kesal, karena dia juga belum sepenuhnya selesai mandi.


Ceklekk,,,,,


Alesia keluar dari kamar mandi dengan tersenyum canggung menampakkan gigi putihnya yang tersusun rapi karena dia masih merasa malu.


"Ck, lama", ucap Kiel sinis membuat Alesia semakin menundukkan kepalanya karena jarak keduanya sangat dekat. Apalagi tinggi badan Alesia lebih mungil dari Kiel otomatis arah pandangannya ke bidang datar atletis Kiel, membuatnya semakin gugup.


Gadis itu akhirnya bernafas lega selepas Kiel memasuki kamar mandi.


Dia berniat membuka pintu kamar Kiel untuk segera keluar dari tempat itu tapi sayangnya tidak bisa dibuka, sepertinya sengaja dikunci. Seketika Alesia berpikir macam-macam dan mulai gelisah. Dia berjalan mondar-mandir di depan pintu sambil mengigit jarinya. Sepertinya ajaran Lia dan Michi bekerja juga terhadap Alesia yang polos amat.


Sedangkan cowok itu hanya tersenyum tipis sembari membersihkan kembali tubuhnya dengan air yang mengalir dari software.


"Nyari ini", seketika tubuh Alesia berbalik dan matanya terbelalak lebar melihat kunci di tangan Kiel. Dan perkiraannya ternyata benar pintunya sengaja dikunci entah apa maksud dan tujuannya.


"Kuncinya!", ucap Alesia spontan dan berusaha mengambil kunci dari tangan Kiel tapi usahanya sepertinya sia-sia karena kalah cepat.


"Issss,,,,, minta kuncinya gue mau keluar", Alesia semakin geram dan mengambil paksa dari tangan Kiel tetapi tetap saja tidak bisa. Yang ada jarak mereka semakin tipis dan memungkinkan bibir mereka bisa bertemu atau berpelukan satu sama lain, jika mereka mau.


"Kalo gue nggak mau. Lo mau apa?, hmm", ucap Kiel tepat di telinga Alesia membuat bulu kuduknya merinding. Jantung Alesia seketika berdegup kencang apalagi Kiel masih berbalut dengan handuk di pinggangnya dan air yang masih membasahi rambutnya. Dan dia terserang kegugupan hebat lagi sampai-sampai tangan kanannya meremas celana panjang yang dikenakannya.


Perhatian Kiel tidak luput dari kegiatan tangan Alesia yang meremas celananya. Bukannya semakin menjauh dia malah semakin mendekatkan dirinya ke calon istrinya itu. Sampai Alesia merasakan hembusan nafas Kiel mengenai kulit tengkuk lehernya, membuatnya semakin gugup dan tidak nyaman.


"Awas, gue mau keluar. Mata gue nggak suci lagi gara-gara lo", Alesia mendorong dada Kiel menjauh darinya karena sekitarnya seperti sesak seperti kehabisan oksigen.


"Masa, terus yang ditonton lo di Drakor apaan dong?", tanya Kiel membuat Alesia semakin malu. Bagaimana bisa dia tahu kalau dia suka sekali berteriak heboh disaat melihat tubuh berotot para Oppa-oppa koreanya.


"Bodoh ahk, , buruan ihhhh gue mau keluar", hentaknya lagi tetapi tidak diindahkan Kiel.


"Ohk, nggak mau. Gue buang aja kali yah", ujar Kiel menyunggingkan senyum nakalnya ke arah Alesia. .


"Awas aja lo macem-macem sama gue, gue bakal lempar lo dari jendela ini tau rasa", ancamnya dengan kedua tangannya yang spontan memeluk tubuhnya karena gugup dan takut karena melihat lirikan Kiel dari bawah kakinya sampai ujung rambutnya seperti memakan sesuatu dengan buas.


"Keputusan ada di tangan lo, baby", Kiel menggoyang-goyangkan kuncinya di depan Alesia yang masih terdiam mematung mendengar kata-kata baby yang keluar dari mulut Kiel. Bukannya senang ketulungan dia malah risi dan ingin sekali muntah.


"Iya-iya gue mau. syarat apa?", ketus Alesia memalingkan wajahnya ke arah lain. Seketika senyum tipis terbit di wajah tampan Kiel mendengar keputusan Alesia.


"Menjengkelkan!!!!!,,,,,, gue tarik kata-kata gue bilang lo ganteng. Lo itu menyebalkan, dasar kulkas 35 pintu, dasar alien, kutub, muka tembok, semaunya aja. Gue kesel banget sama lo, GUE KESELLLLLLL,,,,,,,,"


teriak Alesia dalam hatinya menatap sangat kesal dan geram ke arah Kiel tanpa wajah ekspresi dan bersalah sedikitpun.


"Gue sumpahin lo cinta mati sama gue, biar gue bisa siksa lo sampe sepuas hati gue", gumamnya lagi hanya di dalam hati tidak berani mengatakannya langsung. Kiel yang mendengar itu ingin sekali tertawa terbahak-bahak tetapi demi menjaga imagenya dia tetap bersikap biasa, cool dengan wajah tanpa ekspresi alias datar kayak jalan tol.


"Nggak usah ngatain gue di dalam hati Lo", ujar Kiel menekan kening Alesia dengan wajah melongo kaget menggunakan jarinya.


"Gue cuma nebak", ucapnya lagi dengan nada kelewat datar seakan tahu isi pikiran calon istrinya itu (jelaslah 🙄). Alesia tidak menggubrisnya matanya lebih fokus ke kunci di tangan kiri Kiel dan mencari ide cara mengambilnya.


"Penuhi syaratnya dulu", bisik Kiel tepat di telinganya karena dia tahu apa yang akan direncanakan gadis di depannya itu mengambil kunci dari tangannya.


Alesia menarik nafasnya dan membuangnya perlahan. Sepertinya tidak ada cara lain selain memenuhi syarat cowok muka alien itu pikirnya.


"Apa syarat lo?", tanya Alesia dengan senyum semanis mungkin berharap Kiel tidak aneh-aneh alias di luar batas, ohkk tidak otaknya sudah mulai kotor. Alesia memukul kepalanya sekilas dan memilih fokus dengan cowok di depannya itu.


"Cium gue", seketika kedua mata Alesia terbelalak lebar mendengar ucapan konyol cowok di depan itu.


"What!!!, lo dah sinting keknya", spontan dia memundurkan tubuhnya menjauh dari Kiel yang sedari tadi dipojokkan ke pintu membuat pergerakannya terkunci sedari tadi.


"Aku masih polos kok", ujar Kiel berpura-pura lugu membuat Alesia semakin merinding.


"Sini kuncinya", akhirnya dia berhasil merampas kunci itu dari tangan Kiel dan secepat kilat melarikan diri.


"Cium dulu", gadis itu sempat melihat kebelakang melihat Kiel dengan Puppy eyes membuatnya semakin mempercepat langkahnya menuruni anak tangga.


"Mommy!, tolongin Lesia ada orang sinting,,,,,,," teriaknya kencang dan berlari ke arah Ken dan yang lainnya yang lagi asyik main game.


Kiel hanya terkekeh kecil melihat reaksi Alesia. Dan memilih pergi ke ruang ganti dan mengambil baju santai kaus putih oblong dengan celana panjang ala rumahan. (Author kagak ngerti tentang style 😌)


"Kenapa treak kencang sih dek, lo pikir ini hutan", protes Ken karena dia hampir saja memenangkan gamenya tapi gagal ulah Alesia.


"Bang ayo kita pulang",


"Tapi kan,,,,,"


"Cepetan bang, gue mau pulang", rengeknya menarik tangan Ken.


"Iya iya, nggak usah ditarik juga tangan gue", dengan terpaksa Ken menyudahi permainannya demi memenuhi keinginan adiknya itu, meskipun dirinya masih bingung ada apa dengan Alesia.

__ADS_1


"Baru aja berapa menit, kenapa terus langsung pulang sih?", tanya Andika bingung dengan tingkah Alesia.


"Jangan dulu dong, ini masih nanggung. Gitu amat sih sama gue langsung minta pulang aja", protes Arya karena teman bermainnya tidak akan ada lagi padahal gamenya belum aja dituntaskan.


"Gue punya urusan lain jadi gue pulang dulu, Babay semuanya", Alesia menarik tangan Ken dan berjalan terburu-buru seperti dikejar sesuatu. Karena dia sempat melihat Kiel di tangga sambil menyenderkan badannya dengan kedua tangannya dilipat di dadanya dan tersenyum tipis kearahnya.


"Kenapa tuh bocah, kayak liat setan aja", ujar Randy ikut bingung dengan sikap Alesia.


"Kayaknya ada sesuatu yang terjadi di kamar tadi deh, makanya dia heboh gitu", Andika tersenyum penuh arti dan juga jahil, sepertinya menjahili Alesia berhasil juga pikirnya. Meskipun dia tidak tahu apa yang terjadi di atas sampai-sampai Alesia dibuat heboh ingin segera pulang, yang jelas itu pasti ada kaitannya dengan Kiel itulah pikirnya.


"Lo sih make bohongin dia segala, kalo besok dia ngamok bisa jadi daging panggang lo ntar dibuatnya",


"Gue mah bodoh amat", sahut Andika santai membuat Arya terkekeh kecil karena dia juga ikut andil mengerjai Alesia.


"Lah, lo mau kemana Les?", tanya Lia baru saja ingin membunyikan bel interkom apartemen tapi sudah terbuka lebih dahulu.


"Gue mau pulang, bay", Alesia semakin mempercepat langkahnya membuat Ken kewalahan dibuatnya.


"Itu bocah kenapa sih? tadi dia nyuruh kita ke sini sekarang dia sendiri yang pulang duluan", oceh Michi memakan cemilannya yang sengaja dibelinya tadi di minimarket terdekat.


"Gue aja kagak tahu dodol", sahut Lia memutar matanya malas. Telmi Michi kumat lagi sama seperti Alesia hanya saja yang paling parah itu Alesia yang polosnya tingkat dewa.


"Widih ada bidadari cantik nih dari kayangan", ucap Andika tiba-tiba mengagetkan ketiga gadis itu.


"Ehk buset, ngagetin kita aja lo ogeb",


"Mhuehe, ya sorry lagian cantik-cantik gini mau kemana atuh neng?",


"Lesia yang nyuruh kita kesini malah dia yang balik duluan", jelas Zoya masih sibuk dengan ponselnya.


"Ohkkk seperti itu, kalo kalian mau silahkan kanjeng ratu masuk ke dalam kasihan udah cantik-cantik gini nunggu di luar", ujar Andika dengan nada gombalannya membuka lebar pintu apartemen.


"Emang bisa?", tanya Michi ambigu melirik ke dalam apartemen yang lumayan luas dan mewah.


"Nggak, ya biasalah dodol",


"Yaudah, thanks udah ngijinin kita masuk", Andika hanya menganggukkan kepalanya menyahuti ucapan Zoya.


"Silahkan masuk kanjeng ratu", ucap Andika membungkukkan badannya ala kerajaan dan menutup pintunya kembali.


"Biasa aja kelez liatnya", sindir Arya membuat Michi melayangkan tatapan mautnya.


"Gue kagak ngomong sama lo yah, nggak usah ikut campur", balas Michi dengan gaya judesnya.


"Mulai lagi", gumam Randy dan Zoya bersamaan sembari melakukan aktivitasnya masing-masing.


"Bang Ran!, kuy mabar", ajak Zoya yang mulai bosan dan akhirnya berinisiatif mengajak Randy Mabar yang kebetulan merasa bosan sama seperti dirinya.


"Hmm", sahut Randy melempar PS ke tangan Zoya.


"Hay calon istri tumben cantik amat", gombal Andika mencolek dagu Lia dengan genit.


"Gue cincang baru tau rasa lo", geram Lia bergidik ngeri melihat tingkah Andika.


"Kalo marah gini kamu makin cantik banget, Abang makin cinta deh sama adek apalagi kalo senyum beuh cantiknya sampai nusuk ke hati Abang", gombal Andika lagi merangkul pundak Lia dengan senyum genitnya dan sesekali mengedipkan matanya.


"Andika Genit!!!!!, pergi nggak lo dari sini. Gue muak sama gombalan lo, jijik tau nggak", Lia menepis tangan Andika dengan kasar dan memukul punggung Andika berkali-kali sangking geramnya.


"Abang pergi ke hati adek aja, kan Abang cinta sama adek", ujar Andika masih menggombal meskipun punggungnya habis dipukuli Lia menggunakan tangannya.


"Gue kesel banget sama lo dasar ANDIKA GENIT", kini tangannya beralih dengan bantal disamping Michi duduk dan melemparkannya ke arah Andika.


"Ampun-ampun", Lia tidak menggubrisnya dia malah mengejar Andika sampai dapat dan memberinya pelajaran karena sudah membuat dirinya kesal.


Suara tawa renyah memenuhi isi ruangan itu karena perdebatan kecil Lia dan Andika yang menghibur mereka secara gratis. Lia yang kewalahan mengejar Andika akhirnya mendudukkan bokongnya di sebelah Michi memulihkan sisa tenaganya.


Andika hanya tersenyum tipis saat Lia melayangkan tatapan tajamnya kearahnya.


"Arya!", panggil Michi masih sibuk dengan ponselnya dan cemilan di tangannya.


"Hm!", sahut Arya masih sibuk dengan gamenya dan sebungkus Snack ada di mulutnya.


"Lo sekarang jadi pacar gue, nggak ada penolakan", ucap Michi santai masih sibuk dengan ponselnya.


"Hah! jadi pacar lo", beo Arya kaget memastikan apa yang didengarnya itu benar atau halusinasinya saja.


"Iyah, lo jadi pacar gue sekarang", sahut Michi masih dengan santainya sembari Selfi sendiri dengan ponselnya.

__ADS_1


"Kagak bisa gitu dong, masa iya gue pacaran sama lo", protes Arya meletakkan alat PS-nya.


"Udah gue bilang nggak ada penolakan. Sekarang lo jadi pacar Michelle, titik", ucap Michi menekankan karena keputusannya sudah bulat.


"Jangan mutusin sepihak dong, gue punya hak buat mutusin gue nolak atau nggak. Gimana sih lo jadi cewek", geram Arya bisa-bisanya Michi dengan seenak jidatnya mengklaimnya dirinya jadi pacarnya.


"Kan gue udah bilang, GUE KAGAK NERIMA PENOLAKAN TITIK", tegas Michi sekali lagi menatap kesal ke arah Arya.


"Lo serius jadiin Arya jadi pacar lo?", tanya Zoya sedikit syok mendengar penuturan Michi barusan.


"Ya gue serius lah, masa iya gue bohong", sahut Michi tidak terima melipat kedua tangannya.


"Otak lo nggak geser kan?, masih waras kan?, lo nggak sinting kan?", serbu Lia dengan banyak pertanyaan membuat Michi melempar bantal ke arah Lia.


"Sekate-kate lo ngomong, disaring dulu jangan asal ceplas-ceplos lo",


"Ye santai napa sih, gue cuma nanya doang. Apa salahnya sih", protes Lia melempar balik bantal ke arah Michi.


"Nggak-nggak, masa iya cewek nembak cowok sih, kagak bener tuh namanya", protes Arya lagi, masih tidak terima.


"Ya terima aja apa susahnya sih. Kalo lo nggak terima ditembak cewek yah lo aja yang tembak", usul Randy mendapatkan kedua jari jempol Michi.


"TAPI GUE KAGAK SUKA SAMA NOH SIH MAK LAMPIR. LO NGGAK LIAT APA?, DIA ITU MENYEBALKAN, MENJENGKELKAN, CEREWET, BAWEL, SINTING, SUKA BUAT DARAH TINGGI GUE NAIK", ucap Arya memburu dengan geram ke arah Randy.


"Tapi cantik kan", bisik Andika tepat ditelinga Arya. Dan Michi menghentakkan kakinya dengan kasar dan pergi ke arah dapur mengambil sesuatu. Sebelum dirinya menjawab tiba-tiba kepalanya dipukul sesuatu.


Pranggg,,,,,,


"Sakit!, dasar sinting lo", umpat Arya memegang kepalanya yang baru saja dipukul.


"Apa lo, berani ngatain pacar lo gitu", kini mereka berdua saling berhadapan dan saling memasang kuda-kuda bersiap jika salah satunya mulai menyerang balik.


"Lo pikir kepala gue nggak sakit lo pukul pake panci", omel Arya menunjuk ke arah panci bahan dasar aluminium yang dipegang Michi. Sebenarnya tidak sakit karena pukulan Michi tidak terlalu keras, karena Michi sengaja memukul kepalanya bagian tengah panci. Hanya saja dia merasa kesal dan ingin membalasnya dan berniat mengerjai Michi.


"Hahahaha,,,,,, udah stop", tawa Michi menggelegar di dalam apartemen itu karena ulah Arya.


Arya tidak menggubrisnya dia terus saja menggelitik Michi sampai Michi mengeluarkan air matanya karena tertawa.


"Nggak di mana, bawaannya ribut mulu", oceh Zoya menatap malas ke arah dua sejoli yang masih bertengkar.


"Biasa pasangan baru, bagai tikus sama kucing", sahut Lia memakan cemilan Michi.


"Kita kapan sayang jadiannya?" tanya Andika tiba-tiba duduk di sebelah Lia.


"1000 tahun lagi", sahut Lia asal-asalan karena malas berdebat dengan Andika.


"Keburu Tua dong gue", Lia mengangkat bahunya acuh menyahuti ucapan Andika yang menurutnya sangat dan sangat menyebalkan baginya.


"Bang, cepetan ih lelet banget sih jalannya",


"Kenapa sih lo buru-buru amat kayak kesetanan",


"Nggak usah kepo", Ken memutar matanya malas, saat ada maunya harus banget dituruti niat cuma bertanya jawabnya membuatnya ingin mencakar wajah Alesia.


...-------------...



HESEKIEL DEVANO ADITAMA



QUEENTINA ALESIA DEVANDRA



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hay makasih banyak udah mampir ke novel Putri 😊. Jangan lupa like, komen, vote, Gift, and favorit juga yah.


Putri mau nanya nih


~Apa pendapat kalian dengan pemeran tokoh utamanya, apa mereka terlihat cocok? (jawab yah hehehe 😁)


Salam sehat 💪


GBU 😊🤗😇

__ADS_1


__ADS_2