
"Dek!, buruan dah telat ini. Keburu gerbang ditutup", teriak Ken kesal dari bawah tangga kamar Alesia entah kesekian kalinya dan sesekali mengecek jam di pergelangan tangannya.
"Iya bang!, ini juga dah mau siap kok", sahut Alesia dari kamarnya yang tengah sibuk dengan lip balm di bibirnya dan bedak tabur my baby di pipi tirusnya.
"Dari tadi itu mulu jawabnya, kagak tau apa dia sekarang jam berapa. Kalo dia telat gue juga yang diomelinnya. Pengen banget gue botakin rambutnya itu, buat kesel aja gue", gerutu Ken berjalan menuju meja makan niat untuk sarapan.
"Morning anak Mommy paling ganteng", sapa Nyonya Ema terlihat jelas lelah di raut wajahnya karena sehabis pulang dari lembur.
"Morning Mommyku sayang", sahut Ken memeluk Nyonya Ema dengan manja.
"Manjanya anak Mommy, padahal dah gede loh", ledek Nyonya Ema mencubit pipi imut Ken.
"Bodo amat Mom. Mommy kan Mommynya aku jadi suka-suka aku dong meluk gini", sahutnya masih mode manja.
"Anak Mommy ada-ada aja. Ohk iya adik kamu mana Nak?, kenapa nggak sarapan bersamamu juga?", tanyanya mengedarkan pandangannya mencari keberadaan putri bungsunya itu.
"Dia masih gini Mom", Ken mempraktekkan memakai bedak dan lip blam ala cewek. Nyonya Ema hanya tertawa kecil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Ken yang menurutnya sangat lucu.
"LESIA SAYANG!, KENAPA BLOM TURUN JUGA ANAK GADIS MOMMY. UDAH MAU TELAT LOH INI", teriak Nyonya Ema menggelar seluruh ruangan itu.
"Sabar my kuping, ini adalah cobaan untuk kita berdua", gumam Ken mengusap kedua telinganya dengan acting dramatis. Kedua pelayan wanita sekitar umur 30 tahunan berdiri tidak jauh darinya menahan tawanya melihat Tuan mudanya yang menurut mereka sangat menggemaskan.
"Lesia dah turun nih Mom", Alesia menuruni anak tangga seperti tidak ada minat alias malas. Dengan tas sekolahnya warna biru langit yang melekat di punggungnya dan juga seragam yang terlihat rapi menambah kesan anak sekolahan di dalam dirinya. Tapi sayangnya tidak ada senyuman semangat pagi di wajah cantiknya, yang ada hanya mimik wajah masam dan bibir yang tidak bisa dibohongi jika ada sesuatu yang dipikirkannya yaitu selalu cemberut.
"Anak gadis Mommy kenapa?, biasanya kalo pagi-pagi gini pasti treak-treak sampe kedengaran ke tetangga sebelah. Kamu sakit?, kenapa mukanya cemberut gitu?, apa ada masalah?. Kalo ada masalah, cerita sama Mommy siapa tahu Mommy bisa membantu", tanya Nyonya Ema beruntun memegang kening Alesia yang terasa hangat tidak panas.
Kekhawatirannya seketika sirna karena dikiranya Nyonya Ema gadis di depannya sedang sakit.
"Lesia nggak papa kok Mom, nggak usah khawatir. Lesia cuman lagi belajar jadi anak alim kok Mom makanya nggak treak-treak. Mumpung ada niat hari ini hehehehe,,,,", sahutnya menampilkan senyum termanisnya tidak lupa dengan lesung pipinya.
"Hilih, alim darimananya", gumam Ken mendapatkan pelototan tajam dari Alesia.
"Yakin?", tanya Nyonya Ema lagi memastikan karena masih dilanda kekhawatiran.
"Satu juta persen yakin banget Mom", ucapnya yakin dengan jari tangan kanan membentuk huruf O.
" Baiklah Mommy percaya. Ya udah sekarang kamu sarapan dulu, terus berangkat sekolah keburu siang", nasihat Nyonya Ema mengelus pucuk kepala Alesia.
"Iya Mom", sahutnya menarik salah satu kursi di sebelah Ken.
"Oh iya Mom, Daddy mana?" tanya Ken mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari sosok ditunggu-tunggunnya sedari tadi.
"Daddy kamu masih di kantor Nak, masih sibuk banget. Banyak kerjaan yang perlu diselesaikan", sahut Nyonya Ema mengambil tas kerjanya lalu pergi meninggalkan keduanya ke kamar niat membersihkan dirinya.
"Kenapa muka lo cemberut gitu dari tadi?", tanya Ken memberikan helm warna coklat ke tangan Alesia.
"Kagak tau", sahutnya acuh karena moodnya sekarang benar-benar tidak bagus apalagi kalau soal berdebat.
"Besok bang besok, gimana nasib gue besok. Gue belum siap ketemu calon suami gue", batinnya ingin berteriak sekencang-kencangnya tetapi diurungkannya.
"Lah kok kagak tau sih. Aneh lo",
"Kalo gue kagak tau ya kagak tau lah, kepo banget sih jadi orang", balasnya merasa geram ingin rasanya dia menendang Ken keluar dari garasi itu segera.
"Ye gue cuma nanya doang, gitu aja sewot",
"Cepet jalan, kalo kagak kuping lo gue tarik. Mau!", ancam Alesia menaiki motor Ken secara tiba-tiba, tidak lupa dengan jaket yang terikat sempurna di pinggangnya.
"Iya-iya, tega banget sih jadi Adek. Cantik sih cantik tapi kagak ada baik-baiknya ke Abangnya", ocehnya menyalakan mesin motornya dan melesat kencang membelah jalan raya.
"Cepetan", satu cubitan mendarat di pinggang kiri Ken, membuatnya ingin menelan Alesia bulat-bulat.
"Akhirnya nyampe juga", Alesia turun dari kursi penumpang dan melepaskan helmnya. Sedangkan Ken dia memarkirkan sepeda motor kesayangannya yang diberi namanya Bettie.
"Gue duluan bang", ucapnya lalu memberikan helmnya ke tangan Ken.
__ADS_1
"Jangan keluyuran, bentar lagi bel", lanjutnya lagi memberikan peringatan kepada Ken yang suka keluyuran sebelum bel sekolah berbunyi.
"Iyah, gue nggak akan keluyuran kok. Suer", ujar Ken menampilkan jarinya bentuk V.
"Gue nggak janji adekku sayang hehehehe,,,"
"Hm", sahut Alesia malas, dia tahu Ken akan tetap keluyuran bersama para duo tuyul yaitu Arya dan Andika meskipun sudah diberi peringatan. Dia membalikkan badannya lalu pergi meninggalkan Ken sendirian.
"Kenapa sih tuh anak? tumben banget nggak heboh", gumamnya menatap bingung ke punggung Adiknya yang sudah lambat laun meninggalkannya.
Ting,,,,,
Sebuah notifikasi ponselnya membuyarkan lamunannya lalu merogoh sakunya.
"Sial mereka cari gara-gara lagi", umpatnya menyalakan mesin motornya lagi lalu membawanya dengan emosi yang entah kapan akan meluap.
"Hay guys", sapa gadis cantik dengan rambut yang terikat satu dan poni tipis yang menambah kesan imutnya.
"Lo kenapa?", tanya Zoya memberhentikan acara mabarnya dengan Lia. Saat Alesia memasuki kelas dengan wajah masam tidak bersemangat.
"Kagak kenapa-kenapa tuh", sahutnya malas lalu menenggelamkan wajahnya di atas mejanya.
"Kagak percaya gue", Lia memegang kening Alesia yang terasa hangat.
"Terserah, udah dibilangin juga",
"Sekarang gue tanya serius sama lo jangan bohong ke kita. Lo kenapa?", tanya Lia balik memainkan rambut panjang Alesia.
"Gue belum siap buat besok", lirihnya ingin meneteskan air matanya. Lia dan Zoya saling menatap. Ingin rasanya mereka tertawa kencang tapi mau bagaimana lagi, rahasia tetaplah rahasia.
"Hey, dengerin kita. Siap atau nggak siap, besok lo harus tetap menjalaninya. Semuanya pasti baik-baik aja karena kita para sahabat lo ini bakal ada buat Lo", nasihat Lia mencubit pipi Alesia karena gemas.
"Mungkin lo pikir semuanya nggak adil buat lo. Tapi satu hal yang harus lo tanam di hati lo, Om Johan dan Nyonya Ema tau apa yang terbaik buat lo makanya mereka rela anak gadisnya yang cantik ini dijodohin. Dan pilihan mereka jadi suami pasti orang yang menurut mereka tepat berada di sisi lo seumur hidup dan buat lo bahagia", jelas Zoya dengan suara lembut. Jiwa keibuannya kini telah kembali keluar. Dan untung saja kelas masih sepi, hanya mereka berempat Alesia, Zoya, Lia, Michi. Sehingga pembicaraan mereka tidak ada yang mendengarnya selain mereka sendiri.
Alesia membenarkan perkataan Zoya dihatinya dan mulai menampakkan senyumannya terhadap Lia dan Zoya. Apa salahnya juga mencoba, toh jika memang yang di atas berkehendak apa boleh buat selain menjalaninya. Itulah yang dipikirkannya.
"Kenapa sih tuh anak?", tanya Alesia, moodnya mulai bagus semenjak mendengar ucapan Zoya barusan.
"Pasti kesal gara-gara si Arya", ucap Lia spontan membuat Alesia bingung sendiri. Apa hubungannya coba?.
"Lo belum kagak tau soal Michi sama Arya?", Alesia menggelengkan kepalanya lugu menyahuti ucapan Zoya.
"What!", pekik Alesia lumayan kencang saat mendengar bisikan dari Zoya.
"Berisik lo Les, nggak tau apa gue lagi kesal", omel Michi kesal ke Alesia yang tengah tersenyum cengengesan.
"Sorry, kelepasan tadi", ucapnya meminta maaf tapi tidak disahuti Michi.
... ...
...----------------...
"Bangun lo 4njing", umpat Arya menarik kerah baju preman yang sekarang kondisinya terlihat memprihatinkan. Bibir yang sudah mulai bengkak dan membiru karena dipukul Arya membabi buta. Dan darah yang mengalir deras dari hidungnya.
Preman itu sebenarnya tidak preman biasanya yang suka bereaksi di jalanan. Tetapi mereka adalah pembunuh bayaran yang disuruh Rafi kakaknya Clara wakil ketua geng motor Black mamba yang terkenal dengan pergaulan bebasnya kini menjadi ketua di geng itu. Niatnya untuk membunuh anggota geng motor The Darkness of Devil atau Dark Devil. Geng motor yang dibentuk Kiel beberapa Minggu yang lalu sebelum kedatangannya ke Negara X, dan jumlahnya anggotanya yang tersebar di beberapa penjuru kota.
"Bilangin sama bos lo, KITA NGGAK TAKUT SAMA DIA. KALO EMANG DIA BERANI, SURUH DIA LAWAN KITA. JANGAN JADI PENGECUT", ucap Andika lantang menginjak salah satu lengan musuhnya tanpa belas kasihan. Andika berdecak kesal, seandainya saja pedang samurai kesayangannya ada di tangannya sekarang, mungkin kepalanya tidak akan menyatu dengan tubuhnya.
"Mentang-mentang lo pembunuh bayaran, lo kira gue takut, hah! YANG ADA LO MATI DI TANGAN GUE", Randy meninju wajah musuhnya berkali-kali sampai di bawah bibirnya dan hidungnya mengeluarkan darah. Dan kakinya dilayangkan tepat mengenai perut sang preman. Dan musuhnya seketika terjatuh tidak sadarkan diri, entah meninggal atau tidak Randy tidak perduli. Dia sibuk membereskan iPadnya yang beberapa menit yang lalu dilempar musuh yang baru saja dihabisinya.
"Berani-beraninya lo buat lengan gue kegores. Lo bakal tau akibatnya, seorang Arya bagaimana dia marah", akhirnya amarah Arya meluap juga karena dia tidak terima lengannya tergores menggunakan pisau. Yang tadinya cuma niat ingin bermain-main sedikit, tapi impasnya jadi kena lengannya. Dia meninju rahang lawannya dan meninju perutnya untuk meruntuhkan pertahanannya, dan akhirnya KO.
"Ck, mati lo. Padahal gue masih butuh lo buat percobaan gue", Arya menendang-nendang dan mengangkat-angkat lengan yang baru saja dikalahkannya itu.
"ARYA AWAS KEPALA LO!!!!", Arya yang mendengar peringatan dari Ken secepat kilat menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Dorrrrrrr,,,,,
Suara tembakan pistol memenuhi seluruh ruangan itu. Membuat Andika dan Randy panik kepalang melihat kondisi Arya sekarang ini. Dan untung saja Arya tidak lecet sedikit pun. Dan peluru yang ingin mengenai kepalanya meleset jauh karena dihajar Ken secara tiba-tiba. Korbannya hanya tembok yang mulai usang di belakang Arya.
"Arghhhhh,,,,,," pria botak itu saat lengan tangan kanannya diputar ke belakang oleh Ken. Dan organ vital masa depannya terasa sangat luar biasa sakit saat ditendang Arya sebagai pembalasannya.
"Sakit banget yah?", tanya Arya tanpa dosa dengan wajah imutnya.
"Arrggghhhhhh,,,,,,, bunuh aja aku. Aku nggak kuat lagi", rintih salah satu preman yang sepertinya bernotabe ketua dari keempat orang yang sudah dihabisi sahabat Kiel.
"Arrggghhhhhh,,,, dasar psikopat gila", Kiel yang masih bermain-main dengan pisaunya tersenyum puas melihat karya lukisannya di paha mulus korbannya itu. Yah, korbannya sekarang adalah seorang wanita yang telah berani menggodanya beberapa menit yang lalu. Dan akhirnya membangkitkan sisi gelap Kiel.
"Shhuutttt,,,, diamlah. Bukankah ini sangat indah sayang", ucap Kiel tersenyum miring dan terkesan sangat menyeramkan. Para sahabatnya sering mengatakan jika wajahnya tidak sesuai dengan sifatnya. Dia memang iblis.
"Kumohon lepaskan aku", Isak wanita itu tetapi tidak dihiraukan Kiel sama sekali. Teriakan demi teriakan menggema di ruangan itu dan darah yang sudah mulai membasahi ruangan itu. Siapapun yang mendengarnya pasti merinding ketakutan.
"Gila, bulu kuduk gue merinding denger suara itu", ucap Arya menepuk-nepuk pipinya dan menggosok-gosokkan tangannya.
"Namanya juga King, sekali lo buat ngamok nyawa lo melayang", sahut Andika membenarkan seragam putihnya yang terkena debu dan sedikit bekas darah. Dan sedikit beringis saat jarinya tidak sengaja menyentuh pelipisnya yang terluka akibat batu kerikil lumayan besar mengenainya.
"Gue kagak percaya kalo mereka itu pembunuh bayaran, sekali wushh tumbang seketika", Andika mempraktekkan memakai jurus karate andalannya.
"Ye itumah buat Lo tapi nggak buat gue. Malah nih yang ada", sungut Arya menunjukkan bekas goresan pisau di lengannya.
.
"Mereka memang pembunuh bayaran kelas kakap yang sudah lama incaran polisi. Gue baru menyelidikinya barusan", ucap Randy menunjukkan iPadnya.
"Yang ketuanya itu cewek kan?", tanya Andika antusias. Randy hanya menganggukkan kepalanya menyahuti ucapan Andika.
"Katanya dia cantik banget cuy, apalagi bodynya yang wow itu. Wih mantep banget", ucap Andika kegirangan membayangkan bentuk tubuh wanita yang lagi berjuang mati atau hidup di tangan Kiel sekarang ini.
Pletakk,,,,
"Sakit goblok", rintihnya memegang kepalanya yang baru saja di pukul Arya.
"Dasar otak kotor, giliran yang begituan otaknya langsung seger", sindir Ken.
"Namanya juga cowok, yah normal lah mikirin begituan", balasnya tidak mau kalah.
"Ingat Lia bro jaga mata jaga hati lo, kalo lo emang serius sama dia", ucap Arya menepuk pundak Andika seperti dipojokkan. Lalu dia pun tertekun memikirkan ucapan Arya barusan.
Arrggghhhhhh,,,,
Suara lengkingan wanita yang mereka bahas sekarang ini terdengar sangat pilu membuat keempat cowok itu terdiam. Mungkin suara terakhir itu adalah akhir dari penderitaan wanita itu.
"Gimana yah nasib Adek gue kalo King nikah sama dia", lirih Ken menundukkan kepalanya. Ada rasa tidak rela juga melepaskan adiknya begitu saja meskipun dia sangat mempercayai Kiel.
"Bro, lo harus percaya sama King. Dia itu bukan tipe orang yang suka bermain dua, lo tau kan itu", ucap Randy menepuk pundak Ken. Dia sangat yakin kalau Kiel itu tidak akan seperti yang dipikirkan Ken.
"Bereskan semuanya", titah Kiel kelewat dingin terhadap orang suruhannya, yang sedari tadi sudah berjaga-jaga di gedung kosong itu memantau mereka dari kejauhan.
"Cabut", ucapnya lagi dengan datar lalu pergi meninggalkan tempat itu. Sedangkan keempatnya hanya mengekor dari belakang dengan perasaan puas.
"Hello everyone, i'm comeback!", teriak Arya mengangetkan seluruh siswa yang ada di ruangan kelas itu. Untung saja belum ada guru yang masuk saat dia menendang pintu kelas.
"ARYA!!!!!!,,,,,,, LO MINTA GUE KUBUR HIDUP-HIDUP YAH", teriak Michi marah. Kalau di Upin Ipin pasti marahnya seperti kak Ros kalau tidak mungkin seperti di anime yang kepalanya akan keluar saat marah.
"Alamak, mati gue", gumam Arya menelan salivanya kasar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hay, terima kasih banyak udah mampir ke novel Putri.
Salam sehat 💪
__ADS_1
GBU 😊🤗😇