Kulkas 35 Pintu

Kulkas 35 Pintu
Di balik perjodohan


__ADS_3

"Hay bang Ken, Zoya", sapa Alesia mengetuk pintu ruang olahraga yang memperlihatkan dua orang selain dirinya di dalam ruangan itu.


Seketika kepala Ken dan Zoya menghadap ke arah pintu yang terbuka baru saja di ketuk. Kedua tangan Zoya yang semula di kedua sisi wajah Ken ditariknya dengan cepat.


"Hehehe,,,, sorry gue gangguin kalian berdua. Gue cuman mau ngasih minuman buat hilangin haus dan krim obat penghilang memar buat Abangkuhhhh Ken", ujarnya memperlihatkan dua kantong plastik putih di tangannya.


"Thanks Les", ucap Zoya menerima kedua plastik itu dari tangan Alesia.


"No problem my friend", sahut Alesia dan beralih menatap Kakaknya Ken yang tengah berusaha mengacuhkannya.


"Bang lo nggak bilang makasih gitu sama gue", ujar Alesia membuat wajahnya seimut mungkin.


"Sorry gue nggak kenal lo", sahut Ken cuek.


"Njirr bang Ken cuekin gue hikss,,,,", batin Alesia mendrama.


"Oke deh kalo gitu, gue pamit dulu balik ke sarang. Semangat buat PDKT nya Abangkuhhhh sayang", ujarnya sembari melambaikan tangannya dengan wajah menurut Ken sangat menjengkelkan.


buffff,,,,,,,,,


Ken tiba tiba saja menyeburkan minuman kalengnya yang baru saja diterimanya dari adiknya itu. Alesia hanya tertawa cekikikan melihat respon tiba tiba Ken.


"Awas aja lo dek, gue bakal kerjain lo di rumah habis habisan", gumam Ken di hatinya dengan wajah semakin kesal.


"Dasar Alesia ngomongnya nggak pake filter", gumam Zoya dalam hatinya dengan sedikit kesal dan juga senang.


Alesia berjalan menyusuri lorong ruang olahraga sekaligus tempat ruang seni dan lapangan bola basket. Sesekali dia tersenyum mengingat kejadian barusan.


"Kayaknya rencana buat comblangin bang Ken mulai berjalan lancar", gumamnya dalam hati masih senyum senyum sendiri. Untung saja lorong itu sepi dari penghuninya kalau tidak bisa bisa dia di anggap gila karena senyum senyum sendiri.


"Dasar cewek stress", gumam seorang cowok tiba tiba melewati dirinya.


Alesia menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah belakang melihat orang yang baru saja mengatai dirinya.


"Apa lo bilang barusan?", Alesia berjalan mendekati cowok itu dan menghadangnya.


"Stres", sahut cowok itu dengan santainya dengan wajah datarnya.


"Gue nggak stres dasar kulkas 35 pintu", omel Alesia tidak terima mengepalkan tangannya di hadapan Kiel.


"Terus yang senyum senyum sendiri itu apa kalo nggak stres namanya", ujar Kiel dengan santainya melipat kedua tangannya menghadap Alesia yang tengah sangat kesal.


"Nih orang kerasukan apa sih. Malaikat nggak mungkinlah, dia aja nyebelin pake banget. Kalo roh gentayangan mungkin kali makanya dia ledekin gue. Nggak kayak biasanya nih orang datar mulu bahkan ngomong nyaris nggak pernah", batinnya melihat ujung kaki Kiel sampai atas kepalanya.


"Gue tau gue ganteng, jadi jangan liatin gue segitunya ntar naksir lagi", goda Kiel dengan nada datar di telinga Alesia.


"Kayaknya nih orang benar benar stres deh, siapa juga naksir sama dia. Narsisnya ketinggian", gumam Alesia di dalam hatinya menatap cowok di hadapannya itu.


"Lo sakit?", tanya Alesia polos memegang kening Kiel.


"Awwww,,,,shh,,, sakit bodoh. Kenapa kening gue lo jitak sih", rintihnya memegang keningnya yang baru saja dijitak Kiel.


"Makanya jangan mikir yang aneh aneh tentang gue", sahut Kiel cuek dan sifat dinginnya kembali seperti semula. Dia hanya mencair sedikit saat dirinya menjengkelkan di mata Alesia.


"Menyebalkan, gue cuma bingung tumben banget lo ngomong panjang biasanya Lo nyaris nggak pernah ngomong", ketus Alesia.


"Ehk,,, gue belum selesai ngomong jangan main pergi gitu aja. Kening gue sakit nih lo harus bertanggung jawab", teriak Alesia melihat Kiel melewati dirinya dengan santai.


"Ehk bentar bentar, dia mau kemana. Jangan jangan dia mau ke ruang olahraga lagi ketemu bang Ken lagi",


"Lo mau kemana?", tanya Alesia menepuk pundak Kiel dan mendapat tatapan tidak enak dipandang darinya.


"Bukan urusan lo", sahut Kiel dingin,


"Jawab yang bener ogeb, gue nanya serius ini", oceh Alesia.


"Ken di mana?", Kiel bertanya balik bukan menjawab pertanyaan Alesia barusan.


"Ruang olahraga sama Zoya", sahutnya lugu.

__ADS_1


"Tunggu lo beneran mau ketemu sama bang Ken", Kiel tidak menjawab dia melanjutkan jalannya.


"Nggak bisa dibiarin nih, rencana gue comblangin mereka ntar gagal lagi",


"Ehk ehk nggak boleh. Lo nggak boleh ketemu sama bang Ken", hadang Alesia menggunakan kedua tangannya.


"Kenapa? hm,,,,,,", tanya Kiel mendekatkan wajahnya ke wajah Alesia dan membuatnya merasa was was bukannya salting. Dengan kedua tangan di kantongnya dan tidak lupa dengan wajah sudah mulai kesal di wajah datarnya, jarak keduanya hampir nyaris tidak ada sekitar 5cm lagi.


Tukkk,,,,


"Karena ya karena", sahutnya menubruk kening Kiel menggunakan keningnya juga.


"Dasar cewek aneh", umpat Kiel.


"Nggak boleh", Alesia menarik sebelah lengan Kiel untuk mencegah ke ruang olahraga.


"Minggir!", titah Kiel dengan suara ditekankan.


"Nggak! pokoknya lo nggak boleh masuk ke ruang olahraga", Alesia bersikeras menghadang Kiel sampai sampai dia tidak sadar sudah memeluk tubuh Kiel dari belakang.


"Lepas!", Kiel menggoyangkan badannya agar terlepas dari pelukan Alesia.


"Nih cewek makanannya apa sih? kuat banget pelukannya", gumam Kiel dalam hatinya dengan kesal dan jemari tangannya sedari tadi berusaha melepaskan genggaman Alesia. Sebenarnya dia bisa saja terlepas dari genggaman itu hanya saja ada sedikit kekerasan. Karena dia tahu sifat Alesia yang suka membesar besarkan masalah padahal itu hanya masalah sangat kecil.


"Lo dengar nggak?", tanya Ken terhadap Zoya yang tengah mengobati luka lebam wajah Ken.


"Dengar, suaranya dari luar kayak suara cempreng Alesia", ujar Zoya menutup kembali tutup krim yang baru saja dia pakai.


"Bentar gue cek dulu", Ken membuka sedikit pintu dan menampakkan tontonan yang menurutnya sangat menarik.


"Kayaknya mereka udah mulai dekat", gumam Ken dan tidak sengaja di dengar Zoya sendiri.


"Maksud bang Ken apa?", tanya Zoya bingung.


"Lo liat aja sendiri, apa yang mereka berdua lakukan",


"Ini gue nggak salah liat kan, Kiel si kulkas berjalan sekarang lagi bertingkah kayak bocah dengan Alesia si ratu ZoNa", Zoya menepuk wajahnya beberapa kali seakan tidak percaya yang baru saja dilihatnya.


"Lo udah tau belum kalo mereka berdua itu sudah dijodohkan?",


"Hah dijodohin! mereka berdua", Zoya membelalakkan matanya karena dia terkejut bukan kepalang. Sebenarnya dia tahu kalau Alesia akan dijodohkan tetapi dia tidak tahu cowok mana yang akan beruntung menikahi Alesia. Dan sekarang dia baru tahu kalau Kiel si kulkas berjalan yang akan menjadi calon suami sahabatnya itu.


"Gue mau ngomong sesuatu penting sama lo. Ini penting banget bahkan ada hubungan antara hidup dan mati adek gue Alesia bukan hanya dia tetapi kita semua yang berhubungan dengan Alesia", ujar Ken menatap Zoya dengan wajah serius.


"Maksud bang Ken apa?", tanya Zoya penasaran setengah mati apalagi saat mendengar kata hidup dan mati. Apalagi saat Ken mengunci pintu ruang olahraga dari dalam. Kunci itu mereka dapat dari Pak Budi.


"Kayaknya bang Ken benar benar mau ngomong penting banget apalagi dia sampai ngunci pintu. Gue merasa deg deg degan", gumam Zoya dalam hatinya.


"Sebenarnya,,,,,," Ken menceritakan semua rahasia besar yang selama ini mereka tutupi dari Alesia demi keselamatannya. Tentang siapa dirinya sebenarnya dan tujuan dari perjodohannya dengan Kiel.


Bukan hanya itu jati diri Ken bersama para sohibnya dia ceritakan yang sebenarnya.


Dan jati diri Kiel dan Alesia dia ceritakan semuanya dengan detail. Bahkan jati diri sebenarnya Zoya bersama Lia dan Michi dia ceritakan. Dan tempat di mana kedua orang tua Zoya, Michi dan Lia dia ceritakan dengan tujuan sebenarnya. Sampai pembantu Zoya dan Ken ada sangkut pautnya bahkan dengan Ara sendiri dan Nathan orang yang dimaksud Zoya barusan. Bahkan sahabat kecil mereka yang kabarnya mereka tidak tahu ada hubungannya yaitu Cici sendiri. Dan identitas Randy yang sebenarnya bukan pelajar dia ceritakan semuanya. Dan yang paling penting musuh bebuyutan keluarga Ken bahkan Kiel bahkan Zoya dan semuanya yang berhubungan dengan Alesia dia ceritakan semuanya. Tidak lupa arti dari liontin yang dipakainya dan juga gelang yang ada di tangan Alesia di ceritakan Ken.


"Jadi gu,,,gue,,,,"


"Iyah lo benar", sahut Ken.


"Makanya gue berharap lebih agar semuanya ini cepat selesai sebelum usia Alesia 17 tahun. Gue takut di saat ulang tahunnya yang ke tujuh belas identitas aslinya terbongkar dan musuh akan mengincarnya. Karena saat dia dalam bahaya atau keselamatannya terancam saat itu kita semua juga terseret dalam bahaya", lanjut Ken mengusap wajahnya sedikit kasar.


"Lo tenang aja bang, tugas gue sebagai sahabat Alesia gue bakal jagain dia sekuat tenagaku. Bukan hanya gue tapi juga Lia dan Michi sebagai sahabat terbaiknya", ujar Zoya bersungguh sungguh ada rasa tidak percaya dalam hatinya saat mendengar identitas aslinya.


"Gue percaya sama lo dan juga yang lain. Selama ini kalian yang selalu berada di sisinya senang ataupun sedih. Dan satu hal yang gue minta sama lo, jangan pernah sesekali lo bongkar identitas aslinya ke Alesia sebelum waktunya tiba. Cukup hanya lo, Lia dan Michi yang mengetahuinya", lanjut Ken lagi.


"Gue ngerti Bang apa lo maksud", sahut Zoya senyum manis. Senyuman manis yang jarang dia perlihatkan ke orang lain selain orang tertentu.


"Manis benget,,,, meleleh gue jadinya", gumam Ken dalam hatinya berteriak histeris.


"Sekarang gue tahu maksud ayah nyuruh gue sama Lia dan Michi latihan taekwondo, ternyata ini tujuan ayah", gumam Zoya dalam hatinya.

__ADS_1


"Lepas!", tekan Kiel sedikit frustasi karena sedari tadi dirinya tidak bisa terlepas dari genggaman Alesia.


Hehehehe,,,,,, sorry gue kebablasan meluk lo soalnya nyaman banget", ujar Alesia menunjukkan gigi putih yang berjejer rapi.


"Ck, menyusahkan", gumam Kiel menatap dingin ke arah Alesia.


"kayaknya si kulkas ngambek deh, bisa bisa rencana gue buat manfaatin dia gagal lagi. Gue harus cari cara biar dia nggak ngambek lagi", gumam Alesia dalam hatinya dan memikirkan cara agar niatnya tercapai.


Kiel yang mendengar gumaman hati Alesia mengangkat salah satu alisnya menatap dari bawah kaki sampai ujung kepala gadis di depannya itu.


"Gue tau gue itu cantik, nggak segitunya juga liatinnya ntar naksir lagi", balas Alesia menggoda cowok di depannya itu.


Kiel melipat kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celananya dengan senyum kecil mengejek dan membuatnya terkesan cool di depan kaum hawa. Dia melangkahkan kakinya dan berbisik kecil tepat di telinga gadis di depannya itu.


"Lo jelek", Kiel tersenyum tipis melihat reaksi wajah kesal Alesia yang ingin mencakar wajahnya.


"Ihhhh,,,,, gue cantik yah mana ada gue jelek. Mata lo aja yang bermasalah", balas Alesia mencondongkan tubuhnya kehadapan Kiel.


Kiel tidak menyahut dia hanya menatap lekat gadis di hadapannya itu begitupun sebaliknya. Alesia menatap cowok di hadapannya itu dengan wajah geram.


Beberapa menit kemudian keheningan tercipta diantara mereka. Tidak ada yang membuka pembicaraan terlebih dahulu. Hanya saling tatap menatap yang terjadi di antara mereka.


"Ehemmm,,,, gue mau ngomong sesuatu sama lo", ujar Alesia sedikit canggung melirik ke arah Kiel yang tengah menatapnya dingin.


"Tapi nggak di sini", tanpa ijin Alesia langsung menarik salah satu tangan Kiel ke suatu tempat. Semua yang dilakukan keduanya itu tidak luput dari perhatian dua orang yang sedari tadi diam diam menguping dari balik pintu ruang olahraga.


"Nikmat", gumam Kiel dalam hatinya menikmati seblak kuah pedas yang baru saja dibelinya.


"Gila seblak sepedas itu langsung habis dimakannya", gumam Alesia menatap cowok di sebelahnya yang tengah sibuk dengan dunianya sendiri.


Sekarang mereka tengah di taman belakang sekolah yang keadaannya selalu sepi tidak berpenghuni. Cocok untuk menenangkan diri. Mereka tengah duduk di salah satu bangku taman di bawah pohon mangga yang umurnya sekitar 10 tahunan.


Meskipun Kiel rela berkeliling sekolah yang terbilang sangat luas. Tapi sekarang dia bisa menikmati seblak sebagai ucapan maaf Alesia. Entah apa yang dipikirkan gadis yang akan menjadi istri itu, sampai sampai dia harus rela membeli dua mangkok seblak kuah pedas buatan Kang Ujang dari depan gerbang sekolah. Bukan hanya itu dia juga rela memegang kedua mangkok itu dan mengelilingi sekolah ke taman tempat mereka sekarang.


"Minum", ujar Kiel menyadarkan lamunan Alesia yang sedari tadi menatap heran terhadap Kiel.


"Nih", ujarnya dan menyodorkan sebotol minuman jus jeruk yang dibelinya bersama seblak kuah pedas.


Glug,,,, glug,,,,, glug,,,,,


Alesia menelan ludah saat melihat bentuk tonjolan di leher Kiel naik turun naik turun karena minum.


"Lo mau ngomong apa?", tanya Kiel dingin melirik ke arah Alesia yang tengah menatapnya juga.


"Hmmmm,,, gimana yah, gue mau lo jadi pacar gue", ujar Alesia spontan tanpa rasa canggung.


"Nggak", tolak Kiel tegas menatap tajam ke arah Alesia yang tengah tersenyum seimut mungkin.


"Gue serius, gue mau lo jadi pacar gue", pinta Alesia dengan nada memelas.


"Buat apa?", tanya Kiel lagi maksud Alesia. Meskipun dia tahu apa yang sebenarnya dipikirkan gadis itu, dia tetap bertanya tujuan Alesia.


"Sebenarnya gue bakal dijodohin sama orang lain", ujarnya menatap Kiel yang terlihat biasa biasa saja.


"Ohk", sahut Kiel santai menyandarkan punggungnya dan menopang kepalanya menggunakan kedua tangannya.


"Lo nggak kaget?",


"Nggak", sahutnya santai.


"Kenapa?",


"Karena gue juga dijodohin sama kayak lo", ujarnya datar menatap wajah cantik Alesia.


"Hah!!!",


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa like, komen dan kalau bisa favorit juga ☺️

__ADS_1


__ADS_2