Kulkas 35 Pintu

Kulkas 35 Pintu
Ketua kelas baru


__ADS_3

Suasana kelas XI MIPA1 yang biasanya riuh akibat ribut sekarang dalam keadaan tenang aman dan damai seperti sedang mengheningkan cipta. Bagaimana tidak sekarang di kelas itu sedang mengadakan pemilihan ketua kelas dan juga dengan pengurus kelas lainnya.


"Visi dan misi saya adalah menjadikan teman teman di kelas ini menjadi siswa yang berkarakter, bermoral, dan bertanggung jawab", ujar Dewi sang calon ketua kelas yang pertama dan wakilnya adalah Desi sohibnya. Yang dulunya dia menjabat menjadi bendahara di kelas itu.


"Visi dan Misi gue adalah membuat kelas ini menjadi SEPATU KACA tapi bukan sepatu kaca Cindirella alias sebelas IPA satu kreatif, aktif, cerdas, asik plus gokil dan juga beriman. Meskipun gue nggak jelasin secara mendetail tentang peraturan kalian pasti tau mana yang baik dan yang salah. Misalkan kalian ribut di kelas, boleh boleh aja tapi jangan sampai kelas terganggu akibat bunyi mulut monyong kalian dan jangan sampai gue yang kena imbasnya atau kalian akan tau akibatnya".


Alesia menghentikan sejenak pidatonya sembari menarik nafasnya dalam dalam, karena dia berbicara ngebut seperti kecepatan kereta api.


"Kalo kelas lagi jam kosong atau lagi bosan ya asyikinlah jangan biarin berlumut. Dan buat para piket kelas harus wajib datang lebih awal kalo telat siap siap dompet kalian tekor buat traktirin kita satu kelas.


Dan bagi yang otaknya cerdas jangan lupa ngasih jawaban saat ujian ke gue heheheh,,,,,, kalo nggak gue bakal lempar kalian ke Korea Utara sana. Sekian terima gaji", dengan percaya dirinya dia mengatakan semua pidatonya itu. Bahkan seisi kelas tercengang mendengarnya selain Kiel tentunya dia malah asyik tidur.


"Awwww,,,, sakit Bu. Kok ibu cubit lengan saya", rintihnya saat tangan kananya dicubit ringan oleh Bu Ita.


"Makanya kalau mau nilainya bagus belajar yang benar jangan mengandalkan otak teman", ujar Bi Ita tersenyum kecil sembari mengeleng gelengkan kepalanya. Sedangkan yang dicubit hanya tertawa cengesngesan menampakkan gigi rapinya.


"Panjang amat pidato lo", ujar Zoya yang sedari tadi berdiri di sebelahnya. Alesia sekarang ini mencalonkan dirinya sebagai ketua kelas dan Zoya adalah wakilnya. Dia ingin merasakan bagaimana menjadi ketua kelas. Dia barpikir menjadi ketua kelas itu lebih seru dan menyenangkan karena bisa menyuruh orang lain sesuka hati bahkan telat datang ke sekolah bisa karena tidak akan ada yang berani memarahinya.


"Biarin", sahutnya santai dan Zoya hanya memutar matanya malas mendengar jawaban sahabatnya itu.


Dan seisi kelas itu sudah mulai memasukkan kertas yang isinya adalah penentu siapa yang akan terpilih menjadi ketua kelas.


Dan Alesia dan Zoya terpilih menjadi ketua kelas dan wakil ketua kelas. Sebelumnya hasil pemilihan seimbang tetapi saat kertas terakhir dibuka akhirnya itu yang membuat keduanya menang. Dan pemilik kertas itu adalah Kiel sendiri yang terakhir memasukkan pilihannya ke dalam kotak pemilihan.


"Selamat untuk kalian berdua karena sekarang kalian menjadi ketua kelas dan wakil ketua kelas. Sekarang yang menjadi tugas kalian adalah memenuhi tanggung jawab kalian dan bijaksana dalam memimpin kelas. Terutama untuk ketua kelas semua tanggung jawab ada di tangan ketua kelas dan wakil ketua kelas hanya membantu sebagian tugas ketua kelas", ujar Bu Ita selaku wali kelas memberikan ucapan selamat terhadap keduanya.


"Apa hanya itu saja Bu tugas saya sebagai ketua kelas?, saya kira tugasnya susah ternyata sangat mudah", ujar Alesia dengan nada entengnya.


Sedangkan Zoya yang dulunya mantan ketua kelas waktu dirinya SMP dulu sedari tadi sudah menggerutu dan ingin sekali memukul kepala Alesia karena geram.


"Tidak hanya itu, tugas kamu yaitu setiap hari ketua kelas harus wajib melapor ke ruang guru sekaligus mengambil absensi. Setiap tugas tugas ketua kelas yang harus mengumpulkannya dan memberikannya kepada guru yang bersangkutan. Jika kelas ribut dan kelas lain terganggu yang harus bertanggung jawab adalah ketua kelas. Sebelum guru mata pelajaran masuk kelas sudah wajib bersih",


"Dan masih banyak lagi tugas kamu sebagai ketua kelas. Jikalau kamu ingin mengetahui semua tugas tugas kamu sebagai ketua kelas, kamu harus membaca semua isi buku di tangan Rezky. Di buku itu sudah tercatat semua tugas tugas mu sebagai ketua kelas", Bu Ita melanjutkan kalimatnya dan menunjuk ke arah Rezky yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari Bu Ita dan sebuah buku catatan di tangannya.


Alesia yang mendengar penjelasan Bu Ita tidak sengaja mulutnya terbuka sedikit karena terkejut.


"Dan satu lagi, kunci kelas saya serahkan kepada kamu. Dan kamu sebagai ketua kelas harus wajib datang ke sekolah sebelum anggota piket kelas datang", Bu Ita memberikan kunci kelas ke tangannya.


Sedangkan Zoya sudah cekikikan menahan ketawanya melihat mimik wajah Alesia memelas ingin menolak tapi itu sudah tugasnya.


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu. Dan untuk besok kalian harus datang lebih awal dan jangan terlambat karena besok kepala sekolah akan memberikan pengarahan sekaligus ucapan selamat datang kepada adik adik kelas kalian",


"Yah! kok tugas saya banyak banget Bu?", protesnya karena sedikit kaget mendengar segala tugas tugas yang masih sebagain.


"Bukannya tadi barusan kamu bilang sangat mudah, kenapa sekarang protes saat kamu mendengar semua detail detail tugasmu",


"Tapi kan Bu,,,,,,," ingin rasanya dirinya melanjutkan acara protesnya lagi tetapi stok kata katanya tiba tiba saja menghilang sekejap mata.


"Tapi apa? Belum aja dicoba sudah menyerah bagaimana kalau kamu di suruh mencalonkan diri menjadi Presiden dan tiba tiba saja kamu mengeluh padahal kamu belum mencobanya",


"Itu beda Bu. Masa iya ketua kelas disandingkan dengan Presiden, kalah jauh Bu",


"Justru itu, tidak semua orang bisa menjadi seorang pemimpin. Mereka yang ingin menjadi pemimpin besar seperti Presiden harus melakukan hal hal kecil dulu untuk memimpin. Ya seperti yang kamu lakukan sekarang ini, sekarang kamu menjadi ketua kelas dan tanggung jawab sudah ada di tanganmu. Di kemudian hari, siapa tahu kamu akan menjadi presiden yang akan memimpin sebuah negara yang jumlah anggotanya tidak main main. Menjadi ketua kelas itu masih dari sisi kecil jadi seorang pemimpin dan di saat itu juga kamu akan di tuntut bagaimana cara memimpin anggotanya dan bertanggung jawab".


"Inti dari semua yang Ibu maksud adalah kamu tidak boleh langsung mengeluh padahal kamu belum mencobanya. Mungkin terlihat sangat sulit dilakukan tetapi satu yang harus kamu ingat tidak ada yang tidak bisa dilakukan jika kamu berusaha sekeras mungkin dan ingat juga jangan lupa diselingi Doa juga",


"Apa kamu mengerti Alesia cantik", ujar Bu Ita sedikit rayuan, karena dia tahu jika gadis di depannya suka di puji meskipun sedikit malu malu.


"Mengerti Bu", sahutnya sembari menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu Ibu permisi dulu. Selamat bersenang-senang murid murid Ibu sekalian. Ingat kalian harus datang ke sekolah tepat waktu sebelum kepala sekolah memberikan pengarahan tentang pembelajaran tahun ini dan penyambutan adik adik kelas kalian",


"Baik Bu", sahut seisi kelas,


"Selamat pagi menjelang siang!", ucap Bu Ita dan pergi meninggalkan kelas itu.


"Selamat pagi menjelang siang Bu!", sahut mereka lagi selain Kiel yang sedari tadi sudah di pulau mimpinya.


"Selamat yah Alesia lo terpilih menjadi ketua kelas", ujar Rezky tulus memberikan senyuman termanisnya. Cintia yang melihat itu hanya menatap tajam ke arah keduanya. Sedangkan Zoya entahlah dia sudah kesal sedari tadi.


"Iyah Rez", sahut Alesia membalas senyuman Rezky dengan senyum manisnya meskipun sedikit dipaksakan.


"Ohk iya nih buku catatan buat lo. Tugas tugas lo sebagai ketua kelas sudah tercatat semua di dalam itu", ujar Rezky lagi menyodorkan buku catatan itu.


"Thanks Rezky",


"No problem", Rezky kembali ke tempat duduknya semula tidak lupa dengan senyum manisnya.


"Selamat bersenang-senang Lesia cantik sejagat raya bak Yunani", ujar Zoya menepuk pundak Alesia yang masih betah berdiri di tempatnya. Dan tidak lupa dengan senyum ejekannya Zoya berjalan santai ke arah tempat duduknya.


"Les! karena lo sekarang jadi ketua kelas lo harus traktirin kita satu kelas. Bisa dikatakan sebagai ucapan terimakasih lo gitu ke kita yang udah milih lo. Gimana!", rayu Arya sekaligus menaikan kedua alisnya berulang kali. Bahkan seisi kelas setuju dengan ide cemerlang Arya yang ingin minta ditraktir makan di kantin.


Sedangkan Alesia berjalan menuju kursinya tidak menggubris ucapan Arya.


"Gue setuju apa yang dikatakan Arya. Traktirin kita yah!", timpal Michi yang sudah membalikkan badannya ke arah Alesia duduk.


"Dengar traktir aja otak lo langsung encer", ledek Lia yang sudah duduk di meja Michi.


"Diem lo", ketus Michi menatap tajam ke arah Lia.


"Eits, santai mbak saya hanya bergurau saja mah", canda Lia.


"Les! Please traktirin kita yah, yah, yah", pinta Michi tidak menghiraukan ucapan Lia. Dia terus saja menggoyang goyangkan lengan Alesia.


"Fine! gue traktirin. Puas!", sahutnya yang sedari tadi bungkam sekaligus kesal. Sedari tadi dia tidak bisa santai, tenang, dan damai. Karena ulah Michi yang sedari tadi memaksa untuk ditraktir sekaligus lengannya digoyang goyangkan dan kursi tempat dia duduk di tendang oleh Andika dari belakangnya. Dan yang lain juga memaksa untuk ditraktir.


"Yes! akhirnya kita bakal makan gratis", ujar Arya dan Andika bersamaan sembari kedua tangan mereka bertos ria. Dan tidak lupa seisi kelas juga turut ikut senang karena hari ini uang jajan mereka aman tidak berkurang.


"Lumayan uang jajan gue buat beli Skincare nanti", ujar Michi cengengesan sedangkan sang empu hanya memutar matanya malas dan menenggelamkan wajahnya ke meja.


Di kantin bawah sekolah terlihat ramai apalagi isinya banyakan teman sekelas Alesia. Yap mereka menagih janji sang Ibu ketua kelas mereka.


"Selamat makan", ujar Arya, Andika, Lia, dan Michi dan melahap bakso jumbo di depan mereka.


"Nikmatnya!", timpal Randy saat menyeruput mie ayamnya.


"Pedas", sedangkan Ken dan Zoya sibuk mengipasi lidahnya yang kepedasan akibat Seblak kuah pedas yang di pesannya.


Sedangkan Alesia yang sekarang moodnya tidak bagus hanya melamun menatap Seblak kuah pedas kesukaannya. Dia sama sekali tidak nafsu memakannya.


Kiel yang sedari tadi duduk diam hanya memainkan ponselnya dan satu tangkai permen hot hot di mulutnya. Dan di mejanya masih ada beberapa permen hot hot yang sengaja bergeletakan dengan minuman dingin dua kaleng.


Dan satu pasang mata sedang memandang lekat ke arah Alesia selain Rezky melainkan orang asing. Dan orang itu tidak jauh dari arah meja mereka makan. Kiel tentu saja tahu itu tetapi dia memilih diam karena dia tahu siapa orang asing itu yang tengah memandang lekat gadis di depannya itu.


"Makanan lo Kenapa belom di makan?", tanya Lia menghentikan sejenak acara makannya.


"Gue nggak doyan", sahutnya sedikit tidak bersemangat. Dia mendorong mangkuk Seblaknya dan mentelungkupkan wajahnya ke meja menggunakan kedua tangannya.


"Tumben lo nggak doyan, biasanya satu dua mangkok nggak bakal cukup buat lo", timpal Zoya yang ikut penasaran dengan tingkah Alesia yang tiba tiba dirinya tidak doyan makan.

__ADS_1


"Lo lagi diet?", kini Michi yang bergantian bertanya.


"Nggak",


"Jangan bilang lo lagi PMS", tebak Ken menimpali perbincangan keempat gadis di depannya itu.


"Nggak",


"Lah terus, kenapa muka lo kusut gitu kayak belom di setrika", timpal Arya dengan bakso di mulutnya.


"Nggak tau",


"Ini anak kesambet apaan sih! Perasaan tadi pagi nggak ada apa apanya", ucap Andika sambil menuangkan cabe ijo giling di mangkuk baksonya.


Alesia tidak menggubrisnya sama sekali dia tetap setia mentelungkupkan wajahnya menggunakan kedua tangannya.


"Andika! lo gantiin gue dong jadi ketua kelas. Gue nyesel nyalonin diri tadi", pintanya dengan mimik wajah seimut mungkin.


"Maaf Ibu ketua, saya hanya akan menjadikan anggota setia Ibu ketua", sahutnya memakan sisa baksonya.


"Arya,,,,," lirihnya mengahadapkan wajahnya ke arah Arya.


"Sorry sob gue nggak sanggup jadi ketua, lo aja secara lo cewek bar bar plus galak", tolak Arya lagi tidak lupa kelima jarinya dan Andika bertos ria.


"Kalo kita berdua jangan tanya. Lo udah tau bakal tau jawaban kita", ujar Lia seakan akan tau akan kemana ucapan Alesia.


"Gue udah jadi wakil lo, jangan minta yang hal hal yang aneh sama gue", kini Zoya yang mengeluarkan suaranya.


"Bang Ken,,,,"


"Kita nggak sekelas adekku sayang", sahutnya dengan keringat bercucuran di dahinya akibat Seblak kuah pedasnya.


"Bang Randy tolongin gue", lirihnya lagi.


"Sebagai kakak kelas yang baik gue cuma bantu doa aja", ujarnya dengan nada menjengkelkan di sela sela kegiatannya yang sedang menyeruput kuah mie ayamnya. Meskipun Randy terlihat dingin tapi dia sering membuat orang jengkel dan sebal akibat ulahnya, tapi sifat itu hanya orang tertentu saja yang tahu itu.


"Kiel,,,,," Alesia memanggil Kiel yang tengah duduk santai di depannya. Meskipun dia tahu mustahil Kiel menuruti keinginannya dia tetap mencobanya, apa salahnya juga.


"Kiel,,,,," panggilannya lagi untuk kedua kalinya.


"Kiel, Kiel, Kiel, Kiel", panggilnya beberapa kali tetapi yang dipanggil namanya tetap tidak menyahut bahkan melirik pun tidak.


Kiel pura pura tidak mendengar suaranya dan itu membuat dirinya kesal. Sedangkan para sohibnya sudah menahan ketawanya melihat ekspresi wajah Alesia.


"K I E L!!!!!" teriak Alesia lebih lantang tepat di wajah Kiel. Dan itu membuat menarik perhatian seisi kantin.


"Lagi lagi dan lagi kuping gue lama semakin lama budeg", rintih Arya menutup kedua telinganya.


"Lo ngomong sama gue?", tanya Kiel datar dengan nada entengnya tanpa melirik ke arah Alesia. Tidak ada sedikit rasa bersalah apa pun terlihat di wajah datarnya itu.


"Nggak! gue ngomong sama titisan syetan beranak satu", ketusnya sangking kesalnya bahkan kedua barisan gigi putihnya yang rapi sudah mengeluarkan suara.


Kiel tidak menyahutinya lagi dia memilih diam asyik dengan dunianya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima kasih banyak karena sudah menyempatkan diri buat mampir ke novel Putri.


Jangan lupa like, komen, kalau bisa favorit juga yah.

__ADS_1


Keep strong 😊


GBU🤗


__ADS_2