Kulkas 35 Pintu

Kulkas 35 Pintu
Nathan


__ADS_3

Suasana kelas yang tadinya riuh dan ribut akibat ulah Arya dan Andika kini menjadi menegangkan. Yap, apa yang dikatakan Lia barusan itu benar Pak Godep itu tipikal berbeda dengan guru yang lainnya. Biasanya guru yang lain tidak terlalu memikirkan apakah pelajaran yang diajarkan satu tahun itu masih lengket di otak anak muridnya atau tidak. Kalau Pak Godep, dia tidak ingin jerih payahnya mengajarkan rumus matematika itu hilang seketika. Makanya Pak Godep membuat para siswa pernah diajarinya ujian mendadak.


"Aishhhh,,,,, jawabannya apa sih", gerutu Arya mengacak rambutnya dan menghitung jari jarinya.


"Cap cip cup kembang kuncup pilih mana yang mau dicup, nah ini dia jawabannya hehehehe,,,,," ujar Andika tersenyum girang, daripada menghitung lebih baik di cap cip cup.


"Les, bagi jawaban lo dong?", pinta Michi dengan wajah memelas memutar tubuhnya menghadap Alesia.


"No no no,,, kerjain sendiri", tolak Alesia menggunakan jari telunjuknya. Michi hanya mendengus kesal mendengarnya dan mengumpat.


"Pst,,,,pssttttt,,,,,," Alesia berpura pura tidak mendengar panggilan Lia karena dia tahu orang disampingnya itu akan melakukan hal yang sama dengan Michi.


"Ini guru minta di santet atau dilempar ke samudra Pasifik sih, buat kesel aja. Ngapain juga ujian mendadak beginian dikira matematika itu mudah", gumam Zoya kesal menjawab ujiannya dengan mulut terus komat kamit. Kebiasaannya saat dia tengah kesal mulutnya terus komat kamit meskipun terkadang dia mempunyai sifat sedikit cuek dan tomboy.


kedua bola mata Kiel tidak lepas dari gerak-gerik dari gadis berponi ala Dora itu. Bahkan saat gadis itu berdiri berniat memberikan kertas jawabannya Kiel itu tetap menatapnya.


"Alesia apa kamu yang mengerjakannya?", tanya Pak Godep seakan tidak percaya dengan gadis cantik di depannya itu. Pasalnya Alesia paling tidak suka matematika karena susah diajak kompromi dengan angka.


"Ya iyalah Pak, siapa lagi kalau bukan Alesia cantik ini yang mengerjakannya. Bapak enggak percayaan amat deh sama saya",


Pak Godep hanya memutar matanya jengah mendengar pujian diri Alesia. Beliau mengambil spidol dari tas kerjanya dan menulis satu soal di papan tulis putih itu. Pak Godep ingin tahu apakah Alesia bisa mengerjakan soal ujian uang yang lumayan rumit itu.


"Coba kamu kerjakan soal yang Bapak tuliskan barusan", pinta Pak Godep membenarkan kacamatanya sembari memicingkan kedua matanya menatap Alesia yang mulai cemberut. Alesia mengambil spidol itu dari tangan Pak Godep dan menuruti keinginan Pak Godep dengan perasaan jengkel dan kesal.


"kamu memang pintar, Bapak nggak nyangka kamu bisa selesaikan soal yang lumayan sulit itu", puji Pak Godep berdecak kagum mengamati kembali papan tulis putih itu sembari memegang gagang kacamatanya sebelah kanan.


"Lah saya kan emang pintar Pak dari lahirnya, Bapak aja yang baru tau",


"Kalau kamu memang pintar kenapa kamu suka sekali tidur pas jam pelajaran Bapak bahkan seringkali tidak mau mengerjakan tugas",


"Mhehehe, kan bapak tau saya susah diajak kompromi dengan angka makanya murid bapak yang paling imut ini mutusin otak perintahkan kuping keluar kanan keluar kiri dan terjadilah menguap dan akhirnya tidur berangkat ke dunia mimpi deh", cerocos Alesia dengan wajah cengengesan tanpa dosa.


Pak Godep memutar matanya jengah dan kembali memilintir kumisnya sebagaimana kebiasaannya. Ingin marah tapi malas mengoceh lebih baik jadiin hiburan saja buat telinganya. Lumayan obat penghilang stres.


"Sesuai janji Bapak, saya boleh keluar keluar kan pak?",


Alesia menagih janji Pak Godep yang di mana sebelum ujian mereka berdua sempat cekcok dengan adu mulut antara siswa dan guru dalam artian positif. Karena Pak Godep tidak ingin terus mendengar ocehan Alesia, makanya beliau memutuskan siapa dua orang yang tercepat menyelesaikan ujiannya bisa keluar dari kelas bebas lakuin apa saja selagi di jam pelajaran Pak Godep dan paling penting tidak menggangu ketertiban kelas lain.


"Kamu boleh keluar sekarang Sebelum saya berubah pikiran, dan ingat minggu depan jangan coba coba lagi tidur di jam pelajaran Bapak atau nila matematikamu akan saya turunkan", ancam Pak Godep.


"Laksanakan Pak!",


Pak Godep menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Alesia menghormat ala prajurit ke jenderalnya. Dan tingkah Alesia tidak luput dari pengamatan teman seisi kelasnya bahkan mengundang gelak tawa di kelas itu.


Alesia berjalan menyusuri lorong kelas yang terlihat sepi karena saat ini adalah jam pelajaran. Gadis itu berjalan mengikuti garis lintang keramik warna putih itu sambil melamun dan menghembus hembuskan poninya.


"Huh!, nggak kerasa umur gue bakal 17 tahun dan gue ngerasa jalan hidup gue bakal lebih berat lagi buat kedepannya. Gue harap gue bisa ngelewatin itu semua dengan kuat dan pikiran negatif gue nggak bener bener terjadi ", gumamnya dalam hati tersenyum tipis menatap keramik diinjaknya.


Tiba tiba lengan kanannya ditarik seseorang dengan terkesan sedikit kasar membuat rintihan kecil lolos keluar dari kedua bibir mungil Alesia. Tampangnya ala badboy, terkesan cool, mudah senyum dan kadang cuek. Dia terkenal dengan sebutan ketua OSIS idaman di sekolah itu, karena dia itu rebutan dari para kaum hawa di sekolah itu karena ketampanannya.

__ADS_1


"Nathan!", gumamnya lirih tanpa embel-embel Kak ataupun Bang setelah melihat siapa yang menggangu keasyikannya dengan dunianya sendiri. Alesia menatap tidak suka melihat wajah itu masih tetap tersenyum kepadanya meskipun tidak dibalasnya. Ada apa dengannya? kenapa dia tersenyum kepadanya? itulah yang dipikirkan gadis itu sekarang.


"Gue mau ngomong sesuatu sama lo, penting banget", gadis itu mengerutkan keningnya menatap heran ke Nathan. Tumben banget dia berbicara terhadap dirinya biasanya Nathan akan mengacuhkannya dan mungkin dia juga tidak pernah menganggap Alesia itu ada.


"Lepasin gue, lengan gue sakit nih", pintanya berusaha melepaskan genggaman Nathan dari lengannya. Tentu saja Cowok itu tidak ingin melepaskannya dengan semudah itu, dia malah semakin mempererat genggamannya membuat gadis merintih kesakitan.


"Lepas!", titah Kiel dingin dengan sifat khas dinginnya. Nathan mengurungkan niatnya dan tanpa aba aba lagi dia melepaskan genggamannya dan beralih membalas tatapan datar Kiel dengan wajah seakan merendahkan orang di depannya itu. Sepertinya terjadi persaingan sengit antara keduanya dari cara menatapnya yang terkesan sangat sinis meskipun wajah keduanya terlihat datar. Alesia menatap wajah kedua cowok itu bergantian dan merasa seperti sedang diperebutkan.


"Ehkk,,,,,," beo Alesia tiba tiba saat lengannya ditarik lagi dengan cara tiba tiba dan terpaksa kakinya mengikuti langkah kaki si penarik lengannya.


Nathan menatap nanar melihat tangan Kiel menggenggam lengan Alesia dan senyum tipis terbit di wajahnya.


"Lo suka dia?", tanya Kiel dingin menatap datar gadis di depannya itu. Kini mereka sekarang tengah di depan pintu rooftop. Alesia sedikit bingung kenapa cowok di depannya itu membawa dirinya tepat di depan pintu rooftop. Dan semakin bingungnya lagi Kiel seakan akan tau tempat tujuannya keluar dari dari kelas tadi. Dan membuatnya semakin bingung adalah kenapa Kiel tiba tiba Kiel memberikan pertanyaan intimidasi seolah-olah dia pacarnya.


"Lo suka dia?", tekan Kiel kedua kalinya menatap tajam ke wajah Alesia yang terlihat dongkol akibat ulahnya.


"Kalo iya kenapa?, kalo nggak kenapa?, sewot banget jadi orang bukan siapa siapa gue juga", balasnya ketus dengan wajah cemberut.


"Bukan siapa-siapanya", batinnya dengan perasaan dongkol darahnya seakan mendidih mendengar kata kata yang baru saja terlontar dari mulut calon istrinya itu. Dadanya merasa sesak, rasanya tidak rela jika miliknya disentuh ataupun dimiliki orang lain apalagi dengan Nathan.


"Jawab!", Kiel mendorong tubuh gadis itu hingga membentur dinding pintu rooftop. Pergerakannya terkunci karena didekap cowok itu. Apalagi wajahnya jaraknya sangat dekat dengan wajahnya hanya tinggal 2 cm lagi. Seketika jantung Alesia berdetak kencang karena posisinya sekarang ini membuatnya semakin salting. Kedua matanya menutup rapat menunggu apa yang akan terjadi. Selang beberapa detik sepertinya tidak ada terjadi sesuatu, dan dirinya mulai memberanikan membuka kembali matanya. Kiel terkekeh kecil, membuat wajah Alesia semakin meronta merah bak tomat matang karena menahan malu dan memilih menundukkan kepalanya.


Untuk kedua kalinya Alesia membelalakkan matanya Kate terkejut bukan main akibat ulah Kiel. Pasalnya cowok di depan itu mencium tapi sayang seribu sayang bibir mungilnya tertutupi dengan telapak tangan Kiel dan otomatis yang diciumnya itu bukan benda kenyal milik Kiel melainkan telapak tangannya.


"Siapa dia", gumamnya dalam hati dengan perasaan campur aduk. Entah mengapa Nathan merasa panas melihat adegan romantis dua sejoli itu. Secara tidak sengaja tangan kanannya mengepal keras dengan mimik wajah masam.


"Bodoh", umpatnya dalam hati membalas umpatan Nathan yang tidak sengaja didengarnya barusan.


"Rasain nih",


Seketika Kiel menatap tajam Alesia karena sudah berani menginjak kakinya yang berharga.


"Apa lo!, mata lo pengen gue colok. Enak aja main nyosor nyosor aja bukannya minta maaf malah melotot", omelnya membalas tatapan Kiel tidak kalah sengit, tapi sayangnya tatapannya tidak setajam cowok itu membuat nyalinya sedikit menciut.


"Bibir lo kayaknya manis kalo gue cium", bulu kuduk Alesia seketika merinding mendengar bisikan Kiel tepat di telinganya.


Dia mendorong dada Kiel agar sedikit menjauh darinya dan saat itu juga dia langsung membalikkan badannya demi keselamatan jantungnya.


"Kayaknya jantung gue perlu diperiksa ke dokter deh", gumamnya dalam hati sembari mengelus dadanya. Bibir Kiel terangkat sedikit menampakkan senyum smirk andalannya.


"Aish,,,,, dasar menyebalkan, menjengkelkan. Kenapa juga nih pintu pake embel embel kata sandi segala. Nggak ada otak kayaknya yang punya sekolah mentang mentang holkay pintu rooftop pake kata sandi, kunci serep kan ada. Dikira ini tempat ruang VVIP apa", ocehnya berkali kali menekan tombol kata sandi tapi tidak berhasil dan sesekali menendang pintu itu.


"Kalo ngomong di filter", ujar Kiel sebagaimana biasanya datar nan dingin.


"Berisik, mending lo diem di situ kalo nggak ada niatan bantuin gue", Kiel menuruti omongan gadis cerewet itu dengan memilih bersandar di dinding dengan kedua tangannya dilipat membuat Alesia semakin kesal.


"Kata sandinya apa sih", akhirnya gadis memilih menyerah dan terus memukul-mukul pintu itu.


Tut,,,,, Tut,,,,,Tut,,,,,Tut,,,,,,

__ADS_1


Akhirnya pintu rooftop terbuka juga setelah kata sandi yang dimasukkan Kiel benar.


"2-5-9-7", beo gadis itu merasa tidak asing dengan angka itu.


"Wooww,,,,,, bagus banget rooftopnya", seketika Alesia merasa kagum dan terkesima dengan suasana ataupun juga dengan tata bentuk rooftop itu. Jujur baru kali ini dirinya melangkahkan kakinya di Rooftop itu semenjak dirinya memasuki sekolah itu karena guru ataupun kepala sekolah mengijinkan memasuki rooftop itu.


Pantesan Rooftop itu memakai kata sandi dan tidak bisa bebas memasukinya ternyata tempatnya di luar perkiraannya tapi ternyata tidak malah bagus banget. Apalagi kalo dijadiin jadi tempat markas mereka tambah bagus jadinya. Apalagi kalau diperhatikan Rooftop itu berada di lantai paling atas dari semua gedung di sekolah itu. Jadi bisa bebas memandang dari atas Rooftop.


Gadis itu merentangkan kedua tangannya merasakan angin yang lumayan kencang menerpa rambut panjangnya dan berteriak heboh.


"Bagus banget", teriaknya dengan senyum manisnya. Akhirnya tempat lain bersantai selain kamarnya ketemu juga. Sedangkan Kiel dia sudah membaringkan tubuhnya di salah satu sofa di Rooftop itu. Bahkan gazebo, sofa 3 buah lumayan besar ukurannya dan ada juga kulkas minuman dingin membuat gadis berponi itu semakin senang. Bahkan pemutar musik juga tersedia di tempat itu.


Alesia mengambil salah satu botol minuman dingin dan duduk di sebelah Kiel yang tengah berbaring.


"Hay!", sapa seorang cowok berpenampilan ala sedikit badboy itu membuat suasana asyik makan kelimanya terusik karena kehadirannya.


"Gue mau nanya, Alesia di mana yah? tumben banget nggak bareng sama kalian bertiga. Gue ada perlu sama dia",


Arya dan Andika menatap ketiga gadis yang sedang duduk di depan mereka, sepertinya enggan menyahuti ucapan cowok itu. Kedua cowok itu saling pandang satu sama lain, salah satunya mengangkat kedua alisnya dan satunya lagi menjawab dengan mengangkat kedua bahunya.


"Dia nggak bareng kita ke kantin", akhirnya Andika membuka suara menyahuti ucapan cowok itu. Kening cowok itu berkerut dan berpikir di mana gadis itu sekarang? apa dia belum balik lagi dari Rooftop? dan apa yang dilakukan gadis itu dan juga cowok itu sekarang?.


"Nathan", gumam Arya dalam hatinya tidak sengaja membaca papan nama cowok itu di seragamnya. Tangan kanannya tidak sengaja mengepal keras di bawah mejanya seperti berusaha mengontrol emosinya.


"Dia sekarang di mana?",


"Kita nggak tau", ketus Lia memasukkan bola terkahir baksonya ke dalam mulutnya.


"Kalo nggak ada pertanyaan lagi lo bisa balik ke alam lo", ujar Zoya tanpa memperdulikan raut wajah Nathan.


"Kok tiba tiba panas sih, padahal cuacanya nggak panas panas amat lagi dah", timpal Michi berpura pura kepanasan dan mengipasi wajahnya dengan tangannya.


"Ohk, yaudah kalo gitu gue cabut dulu yah. Sorry ganggu",


"Hm", sahut Zoya ketus melirik sekilas kepergiannya.


"Dari tadi kek", timpal Lia dengan juteknya.


"Kalo perlu ke samudra Pasifik sekalian", ujar Michi sengaja suaranya agak ditinggikannya agar bisa di dengar Nathan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hay, maaf Putri lama nggak update lagi🙏.


Jangan lupa like, komen, vote, Gift, dan favorit juga yah 😊


Salam sehat 💪


GBU 😊🤗😇

__ADS_1


__ADS_2