Kulkas 35 Pintu

Kulkas 35 Pintu
Tante Risa


__ADS_3

“Mau ke mana?”, tanya Ken melihat Alesia menuruni tangga kamarnya. Sedangkan dia sibuk bermain dengan Wolfi. 


“Taman”, 


“Ngapain?”,


“Urusan cewek, cowok mana paham”,


"Ck", Ken memutar matanya malas. Tidak ada gunanya juga bertanya, toh yang ada jadi kesal sendiri.


"Jangan kesorean pulangnya, awas aja”, nasihatnya sekaligus memberikan peringatan.


“Iya Bang”, sahutnya mengacungkan jempolnya.


"Bawa sepeda lo ya bang", 


"Awas lecet",


"Makasih Bang", ucapnya semangat, berlari ke arah bagasi mobil.


Ken mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan ke seseorang.


"Bro, calon istri lo bentar lagi otw ke taman. Lo nggak ada niat susulin dia", gumamnya dan asyik mengetik pesan di layar ponselnya.


Pesannya terkirim dan sudah centang biru artinya si penerima sudah membaca pesannya.


"Bilang makasih kek gitu sama gue. Ini kagak, yang ada cuma baca doang", gerutunya mengomeli ponselnya.


Tingggg,,,,,,


"Thk's, Bsk gw trktr", sontak Ken bersorak kegirangan mendapat balasan dari Kiel meskipun ada sedikit susah membacanya.


"Untung gue dah biasa baca tulisan alien Si King", gumamnya mengetuk layar ponselnya menggunakan jarinya.


"Wolfi, lo mau ikut gue ke sekolah besok buat makan gratis. Mumpung ada yang bayarin", Ken berbicara sendiri dengan anjing kesayangannya sembari mengelus kepala Wolfi dengan geram dan sesekali menggelitiknya.


Suara bel rumah menghentikan sejenak acara keseruannya dengan Wolfi tengah bermain bola.


"Bibi, biar Ken aja yang buka", tutur Ken melihat salah satu pelayannya hendak membuka pintu.


"Baik Tuan muda, saya permisi ke belakang dulu", pelayan wanita pergi membiarkan Ken membuka pintu itu. Ken membalasnya dengan senyuman dan anggukan kepalanya.


"Selamat datang ke rumah Ken,,,,," belum sempat melanjutkan kata-katanya, dia tertegun dengan tamu dihadapannya. 


"Zoya,,,,," rasa senang dan bahagia menyelimuti Ken melihat kedatangan Zoya dengan gaya pakaiannya yang tidak biasanya, feminim layaknya seperti gadis remaja lainnya.


Sedangkan Zoya sendiri, dia ingin segera pergi dari tempat itu demi menjaga keselamatan jantungnya.


"Malu banget gue",


...----------------...


Alesia mengayuh sepedanya dengan kecepatan sedang sambil menghirup udara segar meskipun sudah menunjukkan pukul tiga sore. Pengunjung taman itu terbilang ramai, dan beberapa orang bersepeda menyapanya. Hari biasa sudah ramai begini apalagi kalau sudah akhir pekan, itulah yang terlintas dibenaknya.


"Tolong saya, siapapun tolong saya. Saya dicopet", suara teriakan menggema di pendengaran Alesia. Dia mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang baru saja meminta tolong itu.


"Brengsek tuh orang", umpatnya lalu mengayuh sepedanya dengan kencang karena jaraknya lumayan jauh dari tempatnya dia beristirahat sejenak melepas penatnya.


"Berhenti nggak lo", teriak Alesia dan turun tergesa-gesa dari sepedanya dengan asal.


Sesampainya di tempat itu, dia mencari sebuah batu yang lumayan besar untuk meleparkannya ke pencopet itu. Senyuman terukir saat menemukan batu yang dicarinya dan melemparkannya. 


Dan, tepat sasaran. Tapi untungnya di punggungnya bukan di kepalanya membuat Alesia bernafas lega sejenak.


"Beraninya kau!", pencopet itu membalikkan badannya dengan satu tangan memegang punggungnya yang terasa sakit.


"Balikin nggak", Alesia menarik paksa dari tangan pencopet itu dan berhasil. Dia mengerutkan keningnya bingung, dengan mudahnya dia mengambil tas itu dari tangan pencopet itu.


Senyum jahat terukir di wajah pencopet itu, dia melirik dari bawah kaki Alesia sampai ke ujung rambutnya. Alesia yang merasa risih was-was ditatap seperti itu.


"Karena kau menginginkan tas itu kembali, sebagai gantinya aku ingin tubuhmu", ucap pencopet itu mendekati Alesia yang mulai gemetaran.


"Gawat nih, punya badan bagus bahaya juga", langkah kakinya mulai mundur ke belakang. Entah kenapa tubuhnya terasa berat untuk berlari, matanya terus saja mengawasi gerak-gerik pencopet yang hendak mendekatinya.


"Jangan macam-macam ke gue, kalo nggak gue teriak", ancamnya, tangannya mulai terasa gemetaran.


"Kau harus mau", pencopet itu memegang tangannya secara paksa.


"Lepas", ucapnya marah bercampur khawatir. Dia berusaha melepaskan tangannya tetapi sepertinya sia-sia. Kekuatan pencopet itu lebih besar darinya.


"Lepas!", titah seseorang dengan dingin nan datar. 

__ADS_1


"Ini bukan urusanmu, pergi sana", usir pencopet itu terhadap cowok bertopi Hoodie hitam dengan kedua tangannya di kantungnya. Dia berjalan santai ke arah mereka tidak lupa dengan tatapan tajam miliknya, seperti elang yang ingin menerkam mangsanya.


"Sial, aku gemetaran. Siapa dia sebenarnya", pencopet itu berusaha bersikap biasa, seolah-olah tatapan itu tidak ada artinya.


"Kiel", lirih Alesia saat kedatangan Kiel yang tiba-tiba seperti pangeran menyelamatkan seorang putri. Sekarang dia bisa bernafas lega.


"Awwww,,,,, dasar anak kecil. Beraninya kau menggigit tanganku", pencopet itu melepaskan genggamannya yang terasa sakit.


"Tolongin gue, plisss", pintanya selepas melepaskan diri dan berlari ke punggung Kiel.


"Kau harus tanggung jawab", pencopet itu hendak meraih tangan Alesia kembali tetapi dihentikan oleh Kiel.


"Lo sentuh dia, tangan lo patah", ancam Kiel tidak main-main menatap lebih tajam.


"Pergi!", titah Kiel lagi mengusir pencopet itu sebelum sisi lain dari dirinya keluar di hadapan calon istrinya itu. Pencopet itu menciut lalu berlari terbirit-birit meninggalkan keduanya dan juga tas yang dicopetnya barusan.


Kiel mengambil tas yang tergelak di tanah dan memberikannya ke tangan Alesia.


"Thanks, lo udah nolongin gue untuk kedua kalinya", lirih Alesia lalu memeluk Kiel lebih erat.


"Hm", sahut Kiel datar tidak membalas pelukan Alesia. Dia tetap berdiri seperti patung dan membiarkan air mata calon istrinya itu membasahi Hoodienya.


"Tante baik-baik aja kan?. Pencopet tadi ada celakain Tante?", tanya Alesia sopan memastikan apakah pencopet itu melukainya atau tidak. Karena dia sempat melihat pencopet itu menarik baju lengannya hari hingga sobek.


"Tante tidak apa-apa kok cantik. Ini hanya sobek sedikit, terimakasih banyak sudah membantu Tante. Entah apa yang terjadi nantinya kalau tidak ada kamu nolongin Tante", tutur wanita itu, sepertinya usianya hampir sama dengan Mommynya. 


Alesia tertegun mendapatkan pelukan hangat dari orang asing itu. Tangannya terangkat dan membalas pelukan yang begitu hangat.


"Ini tasnya Tante",


"Terimakasih sekali lagi cantik", ucapnya tulus. Alesia tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya membalas ucapan terimakasih orang asing yang baru saja di tolongnya itu.


"Nama kamu siapa cantik?", tanyanya lagi dengan senyum manisnya membuat Alesia salting sendiri.


"Quenntina Alesia Devandra Tante, panggil aja Lesia", jawabnya.


"Nama yang indah, Tante suka", 


"Makasih Tante pujiannya",


"Kalo Tante panggil aja Tante Risa, kamu bisa panggil apa aja ke Tante. Ibu mertua pun boleh", goda Nyonya Risa membuat pipinya bersemu merah karena malu.


"Lucunya calon menantuku", Nyonya Risa tertawa kecil melihat reaksi Alesia.


"Siapa tahu", mereka pun berdua tertawa seperti sudah mengenal lama, padahal baru beberapa menit yang lalu.


"Asik juga nih tante-tante",


"Btw, si Kulkas mana ya?. Perasaan dia bareng gue", Alesia mengedarkan pandangannya sekeliling mencari keberadaan cowok yang baru saja menolongnya, tetapi tidak ada.


"Em, maaf Tante. Aku pergi dulu nyari temen sekitar sini", ucap Alesia sopan ingin mencari keberadaan Kiel.


"Memangnya siapa temanmu kemari?. Laki-laki atau perempuan?", tanya Nyonya Risa hati-hati, siapa tahu calon menantunya itu membawa teman laki-lakinya selain Putranya. Buat jaga-jaga yekan, namanya juga calon mantu kesayangan.


"Dia cowok Tante, namanya Kiel. Orangnya ganteng banget pake banget tapi sayangnya dia dingin kayak es kutub, muka datar kayak tembok, dan aku suka manggilnya kulkas 35 pintu karena dia emang dingin plus menyebalkan", tutur Alesia antusias. Entah kenapa dia selalu antusias jika mengenainya, dia juga bingung memikirkannya.


Nyonya Risa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar celoteh calon menantunya itu terhadap putranya.


"Syukurlah dia putraku. Tapi dimana dia sekarang?", Nyonya Risa mengedarkan pandangannya mencari keberadaan putranya itu, tetapi tidak ada juga penampakannya.


"Terus teman kamu dimana?, tante nggak liat dia", Alesia menggelengkan kepalanya menandakan tidak tahu.


"Nggak tahu Tante, makanya mau nyariin", sahutnya masih setia dengan senyum manisnya. Orang bilang, tetap tersenyum meskipun keadaannya canggung seperti yang dirasakan Alesia sekarang ini sebagai pencair suasana.


"Gitu yah", 


"Iya Tante", jawabnya lagi menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Masih terasa sangat canggung.


"Hey cantik, nggak usah canggung gitu. Tante nggak gigit orang kok, santai aja", ucap Nyonya Risa tertawa kecil melihat kecanggungan Alesia.


"Em, iya Tante", 


"Ohk iya, kamu mau nemenin Tante nggak?", tanya Nyonya Risa disela-sela hening di antara mereka. Yap, sekarang mereka sedang duduk berdua di bangku taman yang sengaja disediakan di situ. Mereka menikmati pemandangan danau yang lumayan besar dan udara segar di situ.


"Em, gimana yah Tante", Alesia bimbang menjawab ajakan Nyonya Risa. Pasalnya mereka baru saja bertemu sudah diajak pergi, dia merasa was-was. Dan juga jam tangan ukuran kecil warna biru yang bertengger manis di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 4 sore.


"Yah, padahal Tante mau ngajak kamu jalan-jalan sebentar loh sebagai ucapan terimakasih Tante", lirih nyonya Risa membuatnya merasa bersalah.


"Kasihan juga tantenya, lagiankan niat Tante itu baik mau ngajak jalan-jalan. Mungkin gue aja yang mudah berburuk sangka", 


"Ya udah deh Tante. Aku mau", seketika senyum binar terbit di wajah cantik Nyonya Ema.

__ADS_1


"Terimakasih cantik", Nyonya Risa memeluk Alesia sekilas lalu menarik tangannya.


"Ehk", Alesia tersenyum kecil melihat antusias Nyonya Risa yang baru saja ditemuinya itu.


"Tante, ini beneran sama aku. Ini mahal banget loh", ucapnya melihat label yang masih tersegel rapi di baju dress panjang warna biru gelap itu.


Alesia masih tidak percaya melihat dress biru gelap itu miliknya sekarang. Dia tersenyum manis memperhatikan dress yang melekat sempurna di tubuh rampingnya. Berulang kali dia memutar tubuhnya di depan cermin besar toko itu. Mereka sekarang berada di toko pakaian yang terbilang semua pakaiannya mahal-mahal dan berkualitas, letaknya tidak jauh dari taman kota.


"Masa Tante bohong sih, itu buat kamu. Itu sebagai bentuk ucapan Tante ke kamu", ujar Nyonya Risa membelai pucuk rambut Alesia serasa seperti putrinya sendiri.


"Lagian kamu sangat cantik memakai dress ini", puji Nyonya Risa lagi membuatnya tersipu malu. 


Nyonya Risa pergi ke tempat kasir niat untuk membayar belanjaannya. Sedangkan Alesia sendiri lagi-lagi memerhatikan label yang masih tersegel di drees itu.


"Gila, ini mahal banget. Rasanya nggak enak banget nerima ini, tapi gue nggak tega sama Tante itu", gumamnya.


Dia bisa aja membeli dress itu, tapi dia tidak terlalu suka membeli barang-barang yang terbilang mahal meskipun dia menyukai shopping. Buat apa beli yang mahal kalau pakainya cuma sekali tidak ada gunanya, itulah yang dipikirkannya.


"Makasih banyak Tante", ucap Alesia tulus.


"Sama-sama cantik", 


Mereka keluar dari toko pakaian itu dengan senyum ceria layaknya seperti sudah lama kenal. Seorang cowok tampan dengan topi Hoodie hitam tersenyum smirk dari kejauhan menatap keduanya. Siapa yang tidak mengenalnya.


"Habis ini, Tante akan pergi ke suatu tempat yang ingin Tante kunjungi. Kamu mau ikut?", tutur Nyonya Ema memakan es krim yang baru saja mereka beli. Nyonya Risa berharap lebih kalau calon menantunya ikut dengannya.


Alesia memikirkan ajakan Nyonya Risa lagi, dia tidak ingin terulang seperti tadi rasanya tidak nyaman banget. Tapi kalau diperhatikan mimik wajah Nyonya Risa sepertinya berharap dirinya ikut. Dia mengecek jam tangannya pukul 5 lewat 12 sepertinya waktunya udah pulang, tapi dia juga penasaran tempat yang ingin dikunjungi Nyonya Risa.


"Aku mau Tante, tapi nggak lama kan?", tanyanya hati-hati takut menyinggung perasaan Nyonya Risa.


"Cuma sebentar kok", mereka pun memasuki mobil Nyonya Risa dan pergi ke tempat yang mereka tuju.


"Gereja", gumamnya dalam hati sesampainya di tempat yang mereka tuju.


"Ayo masuk", Tante Risa menarik tangan Alesia yang masih berdiri bengong menatap gereja yang letaknya lumayan jauh dari toko pakaian tadi.


"Ehk, iya Tante", 


Alesia mengamati gereja itu dengan kagum. Sangat besar, banyak bangku berjejer, dan salib besar terpampang besar di depan sana. Terus coraknya unik menambah kesan kekagumannya.


Alesia tersenyum manis saat melihat Nyonya Risa melipat kedua tangannya dan berdoa dengan senyum tidak luntur dari wajahnya.


"Tuhan jika kau berkenan, biarkan aku terberkati dengan suamiku nantinya di rumahmu ini. Amin", 


Kiel tersenyum penuh arti saat mendengar doa Alesia. Sebenarnya, dari tadi dia mengikuti kemana Alesia dan juga Nyonya Risa pergi. Dia hanya mengurus soal pencopet beberapa jam yang lalu, makanya Alesia mencarinya karena pergi tanpa permisi.


"Beneran Tante tinggal di sini?", tanya Nyonya Risa lagi. Dia tidak tega meninggalkan Alesia pulang sendiri, tapi apalah dayanya gadis di depannya itu sangat keras kepala ingin menunggu jemputan, takut merepotkan katanya.


"Beneran Tante, bentar lagi aku bakal di jemput kok", Alesia meyakinkan Nyonya Risa entah keberapa kalinya.


"Ya udah, kalau ada apa-apa telepon Tante yah. Biar nanti Tante yang antarin kamu pulang", tutur Nyonya Risa mengembikan ponsel Alesia ke pemiliknya.


"Iya Tante. Hati-hati di jalan Tante", Nyonya Risa tersenyum manis dan memeluk Alesia sekilas lalu pergi meninggalkannya sendirian di depan taman kecil Gereja itu.


"Aduh, gue pulangnya gimana yah?", gumam Alesia melirik jam tangannya menunjukkan jam enam sore, waktunya pulang. Ada rasa menyesal juga menolak ajakan Nyonya Risa pulang bersama.


"Pulang atau tinggal", wajah Alesia kembali berseri dikala melihat Kiel dengan motornya. Dia bingung, dimana-mana pasti ada dia.


"Di mana sepeda gue?", tanya Ken tiba-tiba saat Alesia memasuki rumah.


"Astaga, jantung gue mau copot", Alesia masih sibuk mengelus dadanya karena kaget tanpa menjawab pertanyaan Ken.


"Jawab!", tekan Ken, sesampainya Alesia dia tidak melihat sepeda kesayangannya itu.


 "Jujur nggak yah. Gue udah ngasih ke pencopet itu", 


"Hilang bang", secepat kilat dia berlari menaiki tangga kamarnya menghindari amukan Ken.


"Jangan lari lo Adek lucnut!. Balikin sepeda gue!", teriak Ken geram mengejar Alesia.


"Ayah sepedanya bagus, terimakasih banyak", ucap seorang anak kecil, dia tersenyum bahagia karena baru saja mendapatkan sepeda yang diimpikan selama ini meskipun tempat duduknya ketinggian.


"Sama-sama Nak", sahut yang dipanggil ayahnya itu lalu mengelus kepala putranya itu dan tersenyum bahagia.


"Terimakasih, putraku sekarang bisa tertawa", gumamnya dalam hati mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hay, terimakasih banyak sudah mampir.


Jangan lupa like, komen vote, Gift, dan favorit juga yah 😊.

__ADS_1


Salam sehat 💪


GBU 😊🤗😇


__ADS_2