Kulkas 35 Pintu

Kulkas 35 Pintu
Mulai dekat (Ken dan Zoya)


__ADS_3

"Awas aja lo adek lucknut, gue bakal jahilin lo habis habisan", gerutu Ken menghentakkan sapu lidi di tangannya dengan wajah kesal.


"Ini juga gara gara lo bang", ujar Zoya sedikit kesal dengan wajah bercucuran keringat.


"Lah kok gue lo salahin", protes Ken tidak terima jika dirinya disalahkan.


"Iyalah bang Ken yang salah, bisa bisanya lo punya adek nggak ada akhlak kayak Alesia", protes Zoya.


"Ya mana gue tahu, mungkin waktu kedua orang tua gue lagi cetak pembagian akhlaknya ketinggalan kali. Lagian gue juga bingung kenapa juga gue bisa punya adek kayak Alesia", ujar Ken mengistirahatkan tubuhnya di bawah salah pohon mangga yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka.


Ken masih ingat betul kejadian beberapa menit yang lalu dimana salah satu telinganya ditarik oleh guru BK bahkan telinga Zoya ikut ditarik. Semuanya itu akibat ulah adik kesayangannya itu yaitu Alesia.


Di saat ketegangan terjadi antara geng Ken dan geng Veno tiba tiba dikejutkan dengan suara Pak Budi salah satu guru BK paling cerewet sepanjang masa di sekolah itu sekaligus guru olahraga. Meskipun gendernya laki laki suara cempreng dan cerewetnya tidak ada yang bisa menandinginya bahkan Pak Budi suka sekali menjewer telinga muridnya jika sedang bermasalah terhadap dirinya.


Meskipun begitu Pak Budi adalah salah satu guru kesayangan di sekolah itu karena sangat baik dan perhatian bahkan sangat peka terhadap para siswa siswinya. Meskipun begitupun Pak Budi sering menyendiri dari guru guru lain karena satu penampilannya yang terbilang cupu dan dua Pak Budi adalah duda anak satu. Namanya Ica usianya sekitar 4 tahunan. Beberapa tahun lalu istri Pak Budi meninggalkannya karena alasan kurang mampu dalam ekonomi.


"Ada apa ini? kenapa kalian semua berkerumun seperti sedang merebut diskon pasar swalayan di sini. Apa kalian tidak dengar kalau bel sudah berbunyi dari tadi", kata kata itulah yang terlontar dari mulut cempreng Pak Budi menggelegar seisi kantin.


"Lah, kan sekarang masih free les loh Pak. Jadi kita bebas dong betah di kantin", sahut salah satu siswa yang ada di kantin itu.


"Jadi kalau free les kalian bisa bebas gitu", tukasnya menatap satu persatu siswa siswi yang ada di kantin itu.


"Nggak Pak hehehe,,,,", jawab salah satu siswa berandal di sekolah itu.


"Kalau begitu kalian bubar sana", usir Pak Budi dengan nada tegasnya. Dan para siswa dan siswi yang ada di kantin balik kanan bubar jalan selain geng Kiel dan geng Alesia.


"Cerewet bener Pak Budi persis dengan ibu ibu komplek lagi arisan", gerutu salah satu siswi dan tidak sengaja di dengar Pak Budi.


"Saya mendengarnya", siswi yang barusan mengatainya itu tersenyum kaku dan lari terbirit-birit.


"Ven, mending kita cabut aja dari sini", saran salah satu teman cewek Veno menarik salah satu pergelangan tangannya. Dengan terpaksa Veno mundur dan meninggalkan Alesia dengan tatapan yang sulit diartikan sedangkan cewek yang menarik pergelangan tangannya itu menatap tajam ke arah Alesia.


Saat geng Kiel dan Alesia ingin lewat tiba tiba di cegat Pak Budi karena melihat salah satu wajah antara mereka babak belur seperti habis dipukuli.


"Nama kamu siapa?", tanya Pak Budi terhadap Ken yang tengah di pegangin Zoya.


"Ken Pak kakaknya Alesia", sahutnya jujur tersenyum kikuk karena melihat keadaannya.


"Ada apa dengan wajahmu Ken? kenapa memar begitu? saya tahu kamu sangat tampan tetapi kalau kamu ingin merusak wajahmu bukan begitu caranya, lebih baik saya mencakar cakarnya seperti kucing garong", tanya Pak Budi to the point menunjuk wajah Ken yang tengah lebam dan bibir bawahnya robek dan mengeluarkan sedikit darah.


"Tadi saya,,,," ucapan Ken terputus seketika saat Alesia memotong pembicaraannya.


"Itu pak a,, anu, gimana yah masa saya harus kasih tau bapak sih di sini", ujar Alesia berpura-pura gugup.


"Apa maksud kamu Alesia berbicara seperti itu. Kenapa memangnya jika dikasih tahu sama bapak, apa akan menjadi masalah besar?", Alesia hanya menganggukkan kepalanya pelan menandakan apa yang diucapkan oleh Pak Budi itu benar.


"Iya Pak, soalnya barusan Zoya baru saja mencium Ken", ujar Alesia dengan wajah polosnya.


"Apa! cium!", teriak Ken dan Zoya bersamaan karena kaget. Untung saja seisi kantin sudah sepi kalau tidak dalam sekejap mata sudah menjadi perbincangan hot di sekolah itu.


"Cium, tetapi kenapa wajah kamu bisa lebam begitu?", tanya Pak Budi seolah tidak percaya.


"Pak saya mau bisikin sesuatu ke telinga bapak", pinta Alesia terhadap Pak Budi yang sudah mulai mengeluarkan emosinya. Akhirnya Pak Budi mendekatkan telinganya terhadap Alesia yang ingin membisikkan sesuatu.


"Siusiusiusius", suara itulah yang di dengar Arya, Andika, Randy, Zoya, Lia, Michi, dan Kiel tentu saja dia tahu isi pikiran gadis bar bar itu. Saat tengah berbisik Pak Budi hanya menganggukkan kepalanya antusias.


"Baiklah, bapak akan memberikan hukuman ringan terhadap kalian berdua akibat perbuatan kalian barusan", ujar Pak Budi santai setelah acara bisik-bisiknya selesai.


"Hukuman kalian yaitu membersihkan ruang olahraga sampai debu tidak ada. Kalian tidak boleh pulang sebelum semuanya beres", ujar Pak Budi mengeluarkan titahnya.

__ADS_1


"Lah kok kita dihukum sih Pak, kita nggak ada ciuman barusan Pak, suer dua jari deh Pak", protes Ken dengan wajah memelas dan kedua jarinya membentuk huruf V.


"Iya Pak benar apa yang dikatakan bang Ken barusan, kita nggak ada lakuin itu Pak", jelas Zoya.


"Saya tidak menerima penolakan", tegas Pak Budi dengan mata tajamnya.


"Baiklah kalau kalian tidak mau, bapak akan mengurangi nilai plus olahraga kalian. Terutama kamu Ken anak baru di sekolah ini, nilaimu akan saya kurangi di semester pertamamu", ancam Pak Budi dengan wajah dibuat seserius mungkin.


"Ehkk nggak deh Pak, kalo gitu saya sama Zoya ke ruangan olahraga sekarang", ujar Ken memohon.


"Tapi,,,,"


"Ayo Zoya jangan protes lagi bisa bisa nilai gue berkurang lagi. Dan buat adek gue tersayang terimakasih banyak atas perbuatan Lo", ujar Ken dengan wajah masam menarik tangan Zoya.


"Awas aja lo Les", kesal Zoya meninggalkan gengnya bersama Ken. Sedangkan Alesia hanya tertawa cekikikan. Sebenarnya dia sedikit tidak tega apalagi melihat kondisi kakaknya itu, tapi ya mau bagaimana lagi itulah satu satunya cara agar rencana mencomblangkan kakaknya dengan Zoya berhasil.


"Sebenarnya apa terjadi? kenapa wajah teman kalian bisa babak belur seperti itu?", tanya Pak Budi serius tetapi tidak seserius tadi.


"Jawab Les", tegur Arya melihat Alesia yang tengah bengong.


"Tadi Veno anak kelas lain nembak saya jadi pacarnya Pak", sahutnya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Veno si anak berandal itu", tebak Pak Budi dengan mimik wajah tidak biasanya saat sedang serius.


"Benar Pak",


"Terus, kamu menerimanya?",


"Ya nggak lah Pak, masa iya saya mau pacaran sama anak berandal gitu udah ngerokok, suka minum minuman keras, kasar lagi sama cewek",


"Baguslah, kamu tidak menerimanya", helaan nafas keluar dari mulut Pak Budi membuat Alesia mengerutkan keningnya kebingungan.


"Tau Pak", sahut Alesia dengan santainya bukan sombong tetapi memang itu kenyataannya.


"Kamu pasti pernah merasakan bagaimana tidak enaknya menjadi cantik", Alesia menganggukkan kepalanya lagi menandakan apa dikatakan Pak Budi itu benar. Terkadang membuat kita senang tetapi juga kadang membuat kita jengkel karena terlalu banyak orang yang suka dan membuat sebagian orang menjadi terobsesi. Salah satu itulah yang paling dibencinya.


"Bapak hanya khawatir kalau tadi kamu menerima Veno menjadi pacarmu. Mungkin semua orang mengatakan kamu sangat beruntung", Pak Budi mendudukkan di salah satu kursi di depannya karena kakinya merasa pegal.


"Tapi sebenarnya tidak. Bahkan akan membahayakan masa depanmu. Kenapa bapak bicara seperti itu? karena bapak melihat dan mengamatinya dengan jelas kalau setiap perempuan yang dipacarinya akan berakhir hamil dan dikeluarkan oleh pihak sekolah", Alesia membelalakkan matanya mendengar penjelasan Pak Budi. Dia sebenarnya sudah tahu bagaimana sifat asli Veno. Tetapi hari ini semakin jelas kalau sifat asli Veno bukan hanya kasar dengan perempuan tetapi dia juga perebut masa depan perempuan secara paksa.


"Bukankah semua itu udah keterlaluan Pak! kenapa nggak sekalian aja dikeluarin dari sekolah ini?", darah Andika seakan akan mendidih saat tahu bagaimana bejatnya seorang Veno. Meskipun Andika terbilang sedikit playboy tetapi dia tidak pernah menyakiti hati perempuan. Dia mengaggap perempuan itu sebagai ibunya yang bertaruh nyawa untuk melahirkan ke dunia ini. Hanya saja dia suka memberikan harapan palsu ke cewek yang terlalu mengharapkan dirinya.


"Dia itu keponakan dari Pak kepala sekolah di sekolah ini, jadi tidak bisa dengan sembarangan mengeluarkan dia. Kalian pasti mengerti apa yang bapak maksudnya kan?", semuanya hanya menganggukkan kepalanya menandakan mengerti apa yang dikatakan oleh Pak Budi. Meskipun keponakan kepala sekolah dan terbilang kaya semuanya tidak ada artinya lagi karena harta yang harusnya membuatnya bersenang senang malah dipakainya untuk mengobati kesembuhan sang ibu. Dan perusahaan yang di bangun ayahnya dulu mulai dari nol bangkrut dan beralih menjadi kuli bangunan. Meskipun Veno playboy tapi dia sangat menyayangi ibunya itu makanya dia memasuki dunia geng motor balapan liar.


"Baiklah sudah cukup hari ini bapak pergi dulu, selamat bersenang-senang. Ingat besok jangan lupa datang cepat jangan sampai telat dan pakai pakaian lengkap besok bapak akan razia", Pak Budi bangun dari duduknya setelah sehabis menyeruput minuman entah siapa.


"Nama kamu siapa?", tanya Pak Budi terhadap Kiel yang sedari bungkam tidak ada minat bicaranya.


"Kiel Pak", sahutnya sopan dengan nada datar.


"Sepertinya kamu cocok dengan gadis bar bar di depan bapak ini. Lebih baik kamu pacaran saja dengan Alesia agar wajahmu itu tidak selalu datar", ujar Pak Budi dengan nada sedikit mengejek.


"Pacaran sama aku Pak", beo Alesia tidak percaya menunjuk dirinya sendiri. Kiel tidak bergeming dia menatap datar terhadap Alesia sedangkan Pak Budi berusaha menahan tawanya melihat mimik wajah Alesia.


"Jangan bawa serius nanti jadi keseriusan lagi", goda Pak Budi lagi dengan wajah menjengkelkan.


"Bukan guru saya", ketusnya dan mengundang gelak tawa para sahabatnya.


"Bapak hanya bercanda, kalau begitu bapak pergi dulu", pamitnya dan pergi.

__ADS_1


"Kenapa kalian mengikuti bapak lagi? apa kalian ingin ikut ke ruang BK?", tanya Pak Budi saat melihat rombongan Alesia mengikutinya selain Kiel yang tengah duduk santai dengan ponselnya dan permen hot hot di mulutnya.


"Lah bukannya tadi bapak bilang nggak boleh bebas jadi disuruh bubar tadi", ujar Arya menginginkan kejadian beberapa menit yang lalu saat Pak Budi membubarkan seisi kantin.


"Tadi itu hanya akal-akalan bapak saja", sahut Pak Budi dengan santai membuat para rombongan Alesia sedikit menggerutu.


Ruang Olahraga,,,,,,


"Uwahhh,,,,, akhirnya selesai juga bersihinnya", ujar Zoya mendudukkan bokongnya di lantai dengan perasaan lega.


"Iyah, tapi btw kenapa bisa ruang olahraga sekotor ini kayak belum pernah terjamah oleh umat manusia selama beberapa abad tahun?", tanya Ken terhadap Zoya yang tengah duduk di sebelahnya.


"Hmmmm,,,, itu karena guru jarang masuk pelajaran olahraga. Hanya Pak Budi aja yang rajin pake banget",


"Kok bisa gitu?", tanya Ken penasaran mengubah cara duduknya menghadap Zoya.


"Mukanya dekat bangettttt,,,," gumam Zoya sedikit salah tingkah karena wajah Ken lumayan dekat dengan wajahnya.


"Karena Pak kepala sekolah tidak terlalu suka dengan pelajaran olahraga. Pak kepala sekolah sering menekankan nilai pengetahuan lebih penting daripada keterampilan. Cuman Pak Budi lah yang berani membantah peraturan itu. Pak Budi mengaggap semua siswa dan siswi mempunyai bakat masing masing tidak hanya di bidang pengembangan tetapi juga keterampilan",


"Dan setiap ada cabang olahraga seperti main basket sekolah kita selalu aja kalah. Dan sekolah lain menjadi pemenangnya dan lebih parahnya di saat sekolah kita kalah Pak kepala sekolah memaki maki pemain bola basket yang baru saja kalah. Tetapi saat sekolah lain menang Pak kepala sekolah turut senang dan sering ngasih hadiah padahal itu bukan kewajibannya.", lanjutnya.


"Ternyata nih cewek bisa banyak ngomong juga", batin Ken dalam hatinya menatap wajah Zoya yang tengah berbicara serius.


"Lo tau sekolah kita pernah menang sekali main bola basket berkat Kak Nathan. Bukannya diberi penghargaan tetapi Pak kepsek hanya memberikan kata kata pedas terhadap pemain. Semenjak itu Kak Nathan keluar dari team dan nggak mau main lagi", timpal Zoya lagi.


"Nathan", gumam Ken dalam hatinya. Dia merasa seperti merasa familiar dengan nama itu.


"Kepala sekolah aneh. Jangan bilang kalo keterampilan lain seperti ekstrakurikuler juga dilarang", tebak Ken.


"Benar bangettttt,,,,, padahal kita berempat suka sekali bermain musik dan bernyanyi tapi nggak dibolehin", lirih Zoya entah kenapa disaat dirinya mengatakan seluruh yang mengganjal dalam hatinya hilang seketika saat bersama Ken.


"Apa apaan itu, benar benar keterlaluan", umpat Ken sedikit kesal.


"Biasanya acara cabang perlombaan olahraga kapan dilakukan?",


"Biasanya sih sekitar bulan Desember bertepatan dengan natal kalo salah deh", ujar Zoya dengan wajah polosnya. Dan Ken hanya menganggukkan kepalanya menandakan mengerti dan sedikit tersenyum melihat wajah polos alami Zoya.


"Eitssss,,,,, tunggu dulu. Tumben banget gue ngomong sama ni orang panjang banget, biasanya diam melulu", batin Zoya sedikit bingung. Tidak biasanya dia banyak bicara seperti itu tadi bahkan dengan Ken. Dia melirik ke arah Ken yang tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dan secepat mungkin dia memutuskan hubungan kontak mata keduanya sebelum Ken mengetahui jika saat ini dirinya tengah salah tingkah.


Hening,,,,,


"Ohk iya bang Ken, wajah lo masih sakit nggak?", tanya Zoya berusaha mengusir sedikit kecanggungan.


"Sedikit sih", rintih Ken memegang pipinya.


"Coba gue liat", ujar Zoya memegang kedua pipi Ken.


Tok,,,,, tokkkkk,,,, tokkkkk,,,,,,


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf author telat update.


Ohk iya mungkin ceritanya sedikit beretele tele dan susah dimengerti. Author bukan melambatkan jalan ceritanya hanya saja author ingin menceritakan kehidupan para pendamping dan sebagian tokoh pembantu. Jadi kesannya tidak hanya tertuju ke tokoh utama. So nikmati aja alurnya,,,,,


Maaf sekali lagi


Salam sehat 💪

__ADS_1


GBU😊


__ADS_2