Kulkas 35 Pintu

Kulkas 35 Pintu
Trauma


__ADS_3

Sebenarnya Alesia sangat ingin menjadi ketua kelas, hanya saja dia masih sedikit trauma sewaktu kelas 6 SD dulu. Waktu itu dia masih berpenampilan cupu dan lugu. Saat itu juga dia terpilih menjadi ketua kelas. Awalnya semua baik baik saja.


Tetapi semenjak kedatangan murid baru di sekolahnya yang mengaku sebagai pemilik sekolah itu hidupnya terusik dan selalu dihina. Murid baru itu terkenal angkuh dan sombong suka bully anak anak yang lain, hingga banyak yang tidak menyukai si murid baru. Semua teman temannya lebih menyukai Alesia dan membuat dia iri dan terus menganggu Alesia.


Suatu hari kedua teman Alesia akibat memperebutkan hal sepele sampai saling mendorong satu sama lain. Yang satu si murid baru dan satu lagi teman sebangku Alesia. Dia berusaha melerainya tapi tetap saja tidak bisa.


Dan tiba tiba saja teman sebangkunya terjatuh ke sudut meja dan mengeluarkan cairan merah kental dari tengkuk kepalanya. Si murid baru berdiri mematung melihat cairan merah itu dan tangannya bergetar hebat. Sedangkan Alesia sudah menangis histeris dan berusaha menutup luka yang sudah mengeluarkan cairan merah itu menggunakan tangannya. Seisi kelas juga berteriak histeris dan heboh melihat kejadian itu, mereka langsung berlari ke arah temannya yang sudah tergeletak tidak berdaya.


Guru guru yang mendengar tangisan histeris dari kelas Alesia langsung berlari ke arah kelas itu.


Guru yang melihat cairan merah langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena terkejut. Dan mereka langsung saja membopong tubuh yang sudah terkulai lemas itu untuk dilarikan ke rumah sakit. Alesia dan si murid baru pun ikut karena mereka berdua adalah saksi di mana kejadian itu terjadi.


Setiba di rumah sakit kedua orang tua si korban mengintrogasi semua orang di depan ruang UGD tempat di mana anak mereka ditangani dokter.


"Kenapa bisa seperti ini?", tanya ayah si korban masih menahan amarahnya sedangkan si ibu korban sudah menangis tidak henti hentinya.


"Maafkan kami sebesar besarnya Pak karena keteledoran kami anak bapak jadi seperti ini", lirih salah satu guru yang merupakan wali kelas Alesia.


"Saya bertanya kenapa bisa seperti ini?", tanya ayah si korban lagi dengan amarah yang tidak bisa di tahannya.


"Om yang dorong Cici dia", ujar si murid baru spontan menunjuk ke arah Alesia yang tengah duduk menangis dan kepalanya menunduk.


Semua orang yang mendengar penuturan si murid baru melirik tajam ke arah Alesia yang wajahnya sudah pucat.


"Bu,,,,bukan saya Om pelakunya, tapi,,,,", belum saja ucapannya selesai orang yang berbeda jauh dari usia darinya itu langsung membentak dirinya.


"KALAU BUKAN KARENA KAU ANAK KECIL SIAPA LAGI HAH!!!!", bentak Pak Roni yang merupakan ayah Cici.


Pak Roni bekerja sebagai direktur salah satu anak cabang perusahaan Devandra Company di kota Itu. Dan termasuk donatur terbesar di sekolah itu.


Pak Roni yang dalam keadaan amarah besar hampir saja menampar wajah mulus gadis kecil di depannya itu, tetapi dihentikan oleh istrinya Bu Inah.


"Kalau sampai putri saya kenapa kenapa! saya tidak akan memaafkan kau anak kecil dan juga kedua orang tuamu akan saya masukan ke dalam penjara, CAMKAN ITU!!",


Pak Roni yang sudah sudah frustasi hanya memukul di dinding sebelah gadis kecil itu sebagai pelampiasan. Sedangkan Bu Inah yang syok hanya menangis sesenggukan sedari tadi karena khawatir. Dan para guru guru yang ada di situ tidak membiarkan Alesia tenang akibat pertanyaan pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.


Si anak baru yang duduk tepat di hadapan Alesia hanya tersenyum mengejek melihat saingannya tertekan.


"Mommy! Daddy! tolongin Lesia,,,,,,, sakit hiks,,,,, hiksss,,,,," lirihnya kecil memegang sebelah atas perutnya atau ulu hatinya.


"Lesia sayang kamu kenapa?", tanya seorang wanita yang perawakannya terlihat masih muda dan cantik berlari kecil ke arah Alesia.


"Mommy,,,,!!!!! hiksss,,,,,,, Lesia takut Mom,,,,hiksss,,,,,,," rengek gadis kecil itu dan memeluk wanita itu.


"Tenang sayang ada Mommy. Jangan takut


semuanya baik baik saja", ujar Nyonya Ema lembut menenangkan gadis kecil kesayangannya itu dengan cara mengelus punggungnya.


Semua orang yang ada di situ tentu saja terkejut bukan main. Pasalnya identitas Alesia yang mereka tahu hanya sebagai anak sebagai biasanya tidak ada istimewanya. Karena identitas asli Alesia ditutupi oleh Tuan Johan dengan sengaja karena sebuah rahasia besar.


Sedangkan Tuan Johan bersama asisten kepercayaannya sedang bertanya ada apa terjadi. Pasalnya dari arah kejauhan terlihat orang yang di hadapannya itu yang tak lain Pak Roni yang merupakan bawahannya, membentak putri kecilnya. Dan tentu saja dia tidak menerima itu karena dirinya saja tidak pernah membentak putrinya itu.


Awalnya Tuan Johan sangat murka karena mereka mengambil kesimpulan begitu saja. Tapi akhirnya dia mengerti, jika saja Tuan Johan sendiri yang mengalaminya kemungkinan dia juga menyimpulkan seperti itu. Dan satu hal lagi, Pak Roni memiliki trauma karena kehilangan putra satu satunya kembaran Cici meninggal akibat kecelakaan mobil. Makanya Pak Roni begitu frustasi.


Tuan Johan menyarankan sebenarnya apa yang terjadi dan meminta para saksi untuk menceritakan yang sebenarnya. Karena dirinya sendiri tidak percaya jika pelakunya itu adalah gadis kecil kesayangannya.

__ADS_1


Alesia pun menceritakan semua kejadian itu secara mendetail. Dari awal kelas yang terlihat baik baik saja, aman, tenang, damai tiba tiba saja terusik akibat ulah si anak baru. Alesia yang lagi asyik belajar tiba tiba saja bukunya dirampas paksa. Hal itu mengundang amarah Cici yang duduk di sebelahnya. Karena Cici sangat tidak suka jika Alesia diganggu apalagi dengan sekarang ini, menurutnya itu sangat tidak sopan. Cici pun membentaknya.


Tentu saja si tukang cari masalah tidak menerimanya, dia membalas membentak. Dan akhirnya adegan saling dorong mendorong terjadi yang mengakibatkan Cici terbentur ke sudut meja.


Dan semua penjelasan Alesia pun dibenarkan oleh asisten pribadi Tuan Johan melalui CCTV yang ada di kelas itu.


Semua orang yang ada di situ tentu saja terkejut termasuk orang kepercayaan keluarga si anak baru. Karena mereka telah menyalahkan orang yang bukan pelakunya. Si anak baru hanya diam mematung sembari menggulung rok seragamnya menutupi ketakutannya. Akibat tatapan tajam yang mengarah terhadapnya.


Sedangkan Alesia tiba tiba saja pingsan dan dibawa ke ruang sementara.


Dua jam berlalu akhirnya ruang pintu UGD terbuka dan menampakkan seorang pria baru baya dengan jas putih kebanggaannya dan juga raut wajah khawatir di wajahnya.


Dokter Iwan itulah namanya. Beliau menjelaskan bahwa stok darah di rumah sakit itu sedang kehabisan padahal Cici harus di operasi secepat mungkin. Sebenarnya Cici membutuhkan donor darah karena dia mengalami anemia yang sudah lama terjangkit di tubuhnya. Sedangkan kepalanya hanya terluka lumayan besar tetapi tidak terlalu banyak mengeluarkan banyak darah dan juga tidak membahayakan nyawanya. Sungguh nasib yang benar benar beruntung, terhindar dari maut yang bisa saja merenggut nyawanya.


Pak Roni yang ingin mendonorkan darahnya terhadap putri kandungnya itu tetapi tidak bisa karena beliau mengidap penyakit asma sejak usia SMA.


Sedangkan Bu Risa sedang datang bulan tentu saja tidak bisa. Akhirnya Tuan Johan sendirilah yang mendonorkan darahnya terhadap Cici karena golongan darahnya adalah AB.


Di Jerman,


Kedua bocah laki laki yang umurnya sekitar 12 tahunan sedang memohon agar diizinkan pergi ke Negara X.


"Bibi! Ken mohon, ijinin Ken ke Negara X", pinta Ken kecil terhadap bibinya yang merupakan ibu Rio sepupunya.


"Ibu, ayolah izinkan kami berdua Bu", kini Rio yang merengek kepada ibunya agar mereka berdua bisa pergi ke negara X menemui Alesia meskipun hanya sebentar.


Tante Maya itulah panggilan akrab Ken kecil terhadap wanita yang lebih tua darinya itu. Akhirnya Tante Maya mengizinkan keduanya pergi ke Negara X meskipun beresiko.


"Baiklah, kalian boleh pergi. Tapi harus didampingi oleh ayahmu, Mengerti!!", ujarnya terhadap Rio.


Satu jam yang lalu, Ken yang tengah asyik bermain basket bersama teman temannya dikejutkan dengan kabar adiknya yang lagi terkena masalah. Apalagi adiknya itu sempat pingsan akibat syok. Alesia memang mudah pingsan jika dirinya terlalu syok apalagi sampai tertekan.


Tentu saja Ken heboh karena terkejut dan langsung meminta ijin terhadap Tante Maya agar dia diizinkan pergi ke Negara X menemui adiknya.


Kenapa Ken bisa tau? padahal Ken berada di Jerman bersekolah semenjak dirinya masuk SMP beberapa bulan yang lalu.


karena dia diam diam mengirimkan seseorang menjaganya dari kejauhan. Dan segala aktivitasnya akan dilaporkan terhadap Ken.


Beberapa jam kemudian, lampu hijau yang semula merah berganti dengan lampu hijau. Semua orang yang berada disitu akhirnya bernafas lega termasuk gadis kecil yang sudah siuman dari pingsannya.


Dan saat pintu terbuka tampaklah Dokter Iwan dan juga Tuan Johan yang sedang menahan sakit di lengan tangannya. Awalnya dokter Iwan menyarankan Tuan Johan agar beristirahat terlebih dahulu, tetapi dia berkeras kepala mengatakan jika dirinya baik baik saja.


"Mommy!!!!!!!,,,,,,," pekik seorang bocah yang tengah berlari di koridor rumah sakit.


Semua mata tertuju terhadap kedua bocah tampan itu.


"Ken! Rio!", gumam Nyonya Ema melihat kedua bocah itu.


"Kalian kenapa kemari? Siapa teman kalian?", pertanyaan itulah yang dilontarkan Tuan Johan sesampainya kedua bocah itu.


"I ituuuu,,,,, hah,,,, hah,,,,,", Ken menunjuk ke arah belakang yang menampakkan seorang pria yang seumuran dengan Tuan Johan.


"Hei kalian berdua! kenapa kalian berlari begitu saja, kalian pikir rumah sakit ini sempit, bagaimana jika kalian berdua sampai tersesat!", omel pria yang baru saja ditunjuk oleh Ken. Dan yap sifat Paman Rafi salah satunya adalah cerewet.


"Hei Paman cerewet, berhentilah mengomeli kedua kakakku", ujar seorang gadis kecil dengan rambut kepang dua tetapi berantakan.

__ADS_1


"Mereka saja yang nakal tidak mendengarkan omongan paman keponakanku yang cantik", sahutnya masih dengan muka sedikit kesal.


"Ehemm",


"Kakak Ipar, kenapa dengan tanganmu?", tanyanya heboh terhadap Tuan Johan.


Tuan Johan pun menceritakan semuanya yang terjadi. Yang awalnya niatnya menjenguk anak sahabatnya sekaligus rekan bisnisnya, tetapi sekarang dia mendonorkan darahnya terhadap gadis kecil yang baru saja dioperasi dan belum sadarkan diri juga. Paman Rafi sebelumnya sedikit kesal saat mendengar keponakan cantiknya yang disalahkan tetapi sudahlah semuanya sudah berlalu.


Dan karena kejadian itu, Ken memaksa kedua orang tuanya agar memindahkan sekolah Alesia ke pusat kota. Meskipun sedikit sulit memindahkan Alesia ke sekolah barunya, karena mengingat dirinya sekarang di bangku kelas 6 dan beberapa bulan lagi akan mengadakan UN.


Alesia berusaha menolaknya tetapi kakaknya yang super duper overprotektif itu tetap memaksa kehendaknya. Kalau tidak kakaknya itu akan melakukan hal nekat yaitu tidak makan dan minum beberapa hari. Alesia sendiri pun bingung, bisa bisanya dia mendapatkan kakak memiliki overprotektif tinggi seperti Ken.


Dan Alesia pun pindah sekolah ke pusat kota. Dan di sanalah dia bertemu pertama kali dengan para sahabat sahabatnya sekarang. Sedangkan Cici, entahlah sampai sekarang dia tidak tahu bagaimana kabarnya. Setelah dua hari Cici sadarkan diri dan dipindahkan ke ruang rawat. Setiap akhir pekan Alesia bersama para sahabat barunya mengunjungi Cici. Alesia hanya menjenguk Cici tiga kali dan setelah itu dia tidak tahu kabarnya semenjak Cici keluar dari rumah sakit dan pindah kota. Entah ke kota mana.


Dan si anak baru, kabarnya dia pindah sekolah ke luar negeri.


Semenjak kejadian itu juga, Alesia menjadi takut terhadap darah.


Flash on


Para sahabatnya yang mendengar curhatannya hanya saling menatap dan tidak ada bicara satu sama lain.


"Lesia, yang dulu jangan ingat ingat lagi. Lo harus kuat, kita tahu lo kehilangan Cici begitupun kita. Karena kita sudah menganggap Cici sebagai sahabat bahkan saudara kita. Dia tidak pergi selamanya hanya saja kabarnya yang tidak kita ketahui, lo harus percaya kita bakal ketemu Cici suatu hari nanti", ujar Zoya lembut berusaha menenangkan Alesia. Sisi lembut dan pemikiran Zoya hanya ditunjukkan terhadap orang tertentu saja seperti sahabatnya. Tetapi jika bersama orang lain yang ingin mengusiknya, siap siap saja mendengar kata kata pedas yang terlontar dari mulutnya.


Dan sepasang mata menatap lekat ke Zoya saat kata kata bijak itu keluar dari mulut Zoya untuk menenangkan adik kesayangannya itu.


"Dan satu lagi yang harus lo tau Les, mungkin lo trauma karena kejadian itu tapi nggak memungkinkan buat lo menjadi ketua kelas", sambung Lia ikut menenangkan sahabatnya itu.


"Lagian mana ada yang berani bully lo lagi kan ada kita para sahabat lo. Dan juga teman sekelas kita baik baik semua, ya paling geng Cintia yang kadang cari masalah sama kita sih", Lia dan Zoya hanya menganggukkan kepalanya menandakan setuju dengan ucapan Michi barusan. Alesia hanya tersenyum mendengar ucapan para sahabatnya itu.


"Gaesss,,,,,,,,, peluk yok", ujarnya terhadap para sahabatnya merentangkan kedua tangannya.


"Aaaaa,,,,, hayokkkk", sahut Lia yang duduk di depan Andika. Dia mengelilingi meja agar dia bisa menggapai Alesia yang duduk di sebelah Kiel.


"Gue puter dulu, kejauhan soalnya", timpal Zoya dan berdiri dari bangkunya.


" Gue Jangan ditinggalin dong, gue juga mau dipeluk,,,," ujar Michi manja dan menerima uluran tangan Alesia.


"Thanks semuanya", ujar Alesia tulus saat memeluk ketiga sahabatnya.


"Aaaaa,,,,,, gue ikut dong", ujar Andika merentangkan kedua tangannya.


"Nggak boleh!", sahut keempatnya kompak menampakkan wajah sinis ke arah Andika.


"Pelit banget sih", ujarnya pura pura kesal karena dirinya sekarang sedang bercanda.


Keempat gadis yang sedang berpelukan itu tidak menghiraukan ucapan Andika mereka tetap memeluk satu sama lain.


"Hahahaha,,,,, rasain emang enak", ejek Ken dan saling bertos ria dengan Arya. Andika hanya memasang muka masam melihat tingkah kedua sohibnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa like, komen dan kalau bisa favorit juga yah 😊


salam sehat 💪

__ADS_1


GBU


__ADS_2