
"Tuh muka kenapa tiba tiba kusut gitu kayak nggak pernah disetrika aja", ketiga gadis itu hanya mengangkat bahunya acuh menyahuti ucapan Andika.
"Btw dia siapanya Lesia?, ngapain juga dia nyariin si cewek bar bar", tanya Arya meminum teh manis dinginnya.
Zoya memandang wajah kedua sahabatnya bergantian seperti sebuah kode untuk keduanya. Lia dan Michi menganggukkan kepalanya seperti mengatakan setuju karena mereka tahu apa yang dipikirkan Zoya sekarang.
"Lo tau, cowok barusan itu adalah Nathan. Dia kakak kelas kita dan parahnya dia satu kelas sama Bang Ken. Dia ketua OSIS di sekolah ini dan Rezky wakilnya, lo pasti tau itu. Awal gue kenal sama dia itu waktu gue SMP dulu. Waktu di mana gue masih berpenampilan cupu dan badan gue lumayan berisi, membuat gue jadi bahan bully sama anak anak yang lain",
"Saat itu juga, gue dilanda bucin akut sama cowok populer waktu SMP dulu alias Nathan. Setiap hari gue nggak ada cape capenya ngasih perhatian ke dia, ngekor kemanapun dia pergi, terus nempel nempel mulu kayak perangko. Tapi sayangnya dia selalu nggak pernah anggap gue ada dan dia cuma mamfaatin gue doang. Dia juga sering bentak bentak gue dengan kasar dan sering buat gue nangis. Meskipun gue benci dibentak tapi bodohnya gue tetap bucin ke dia",
"Sering banget dia bully gue bareng gengnya dia dan akhirnya sampailah batas kesabaran gue habis saat gue beraniin diri buat nembak dia. Sebelum gue nembak, gue udah berusaha merubah penampilan gue dan belajar make up meskipun di luar ekspetasi gue",
"Gue berlatih satu harian buat rangkai kata-kata buat nembak dia saat pesta ulang tahunnya malam itu. Gue kira dia bakal kagum dengan usaha yang gue lakuin buat naklukin hati dia. Tapi apa?, imajinasi gue berbanding terbalik dengan kenyataan. Dia malah makin benci ke gue, jijik ke gue sampe dia bentak-bentak gue dengan kata kata yang amat menyakitkan banget ke gue",
"Dia hina gue, rendahin harga diri gue, nyiram gue pake minumannya, jambak rambut gue, injak kacamata gue, nginjak kado yang gue kasih, ngancam gue, jadi bahan tawaan, sampe gue diceburin ke kolam, dan dengan santainya dia meluk pinggang cewek ngakunya pacar dia padahal umurnya lebih tua dari dia atau udah dewasa padahal umurnya masih 15 tahun",
"Gue nangis sejadi-jadinya nggak peduli lagi sama orang lain yang lagi ketawain gue. Sampai akhirnya badan gue yang mulai masuk angin dipeluk hangat sama tiga orang yang bener bener sayang ke gue. Gue sempat liat dia dibentak-bentak Lia dan Zoya sebelum gue pingsan dipelukan Michi. Mungkin gue kecapen gara gara satu minggu itu gue rela-relain begadang buat ngerjain tugas Nathan padahal gue sama dia beda kelas",
"Ketiga sahabat gue geram dan akhirnya mutusin buat perubahan penampilan gue. Dan yah, usaha gue bareng mereka nggak sia-sia. Dulu yang cupu akhirnya berubah jadi cantik rebutan para cowok di sekolah ini", gadis itu berhenti sejenak karena terkekeh kecil mendengar penuturannya barusan.
"Dan akhirnya gue nyadar ngeharapin seseorang itu nggak ada gunanya dan buang-buang waktu dan juga tenaga. Dan yang paling utama itu, gue ngerasa harga diri gue nggak ada. Sejak itu gue nggak pernah lagi ngomong apa-apa sama dia lagi bahkan gue sama dia ngerasa kayak orang asing", jelas Alesia panjang lebar memandang yang berawan putih bersih.
Dan pandangannya beralih ke orang yang masih setia mendengar ocehannya meskipun terlihat mimik muka masam. Meskipun begitu dia tidak munafik memuji Kiel yang benar benar tampan dengan kedua tangan di topang di kepalanya dan menyender di sofa dan permen hot-hot di mulutnya. Gadis itu tidak henti-hentinya menatapnya begitupun sebaliknya.
"Nggak aman buat jantung", secepat kilat dia memalingkan wajahnya ke arah lain membuat Kiel terkekeh kecil tanpa sepengetahuannya dan terus saja betah menatapnya.
"Jadi kalo soal suka atau nggak sama dia, jawabnya nggak lagi. Gue udah lama hilangin rasa suka gue ke dia semenjak kejadian itu dan mutusin kagak percaya lagi apa yang namanya cinta", Kiel terkekeh kecil mendengarnya membuat gadis itu memalingkan wajahnya menatap Kiel dengan masam.
"Masih bocah ingusan dah tau begituan", ejeknya membuat Alesia semakin kesal.
"Berisik lo, kayak nggak pernah ngerasain jatuh cinta aja lo",
"Baru kali ini", menatap Alesia lebih dalam lagi.
"Sama calon lo", tebaknya memiringkan kepalanya seperti orang lugu.
"Hm", sahut Kiel memalingkan wajahnya dan memandang ke arah lain.
"Gue juga kayaknya mulai jatuh hati lagi ke seseorang dan dia cowok pertama yang berhasil meruntuhkan pertahanan gue meskipun masih beberapa hari ketemu",
"Dan cowok itu lo Kiel", cowok itu secepat kilat memalingkan wajahnya dan acara saling pandang memandang tak bisa terelakkan lagi hingga beberapa menit.
Arya dan Andika mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Zoya. Dan tanpa mereka sadari orang yang tengah mereka bicarakan itu terus saja mengamati mereka. Ada sedikit perubahan ekspresi di wajahnya dan juga tatapannya yang tidak seperti biasanya.
"Dorrrrrrr,,,,,,,,"
"Lesia jelek mirip kodok", latah Michi kaget memegang dadanya.
"Lesia simpanan om-om duda kaya", timpal Lia memeluk Zoya spontan.
"Ampun setan beranak satu", ujar Arya dan Andika bersamaan.
"Lebay", gumam Zoya memakan baksonya dengan santai.
Tak,,,,tak,,,,tak,,,,
"Sakit bego", umpat keempatnya memegang kepalanya yang baru saja dipukul Alesia.
"Emang enak", ejeknya memanyunkan bibirnya dengan ekspresi wajah jelek.
"Gue lempar ke samudra Pasifik baru tau rasa lo",
"Gue cincang mampus lo",
"Apes lo Dik hahahaha,,,," ejek Arya menepuk pundak Andika dengan wajah masam.
"Les, Kiel nggak bareng lo?", tanya Arya mengedarkan pandangannya.
"Nggak, si kulkas mah masih di Rooftop bareng bang Ken sama bang Randy", sahutnya memakan cemilan Michi.
"Ken sama Randy!",
"Iyah, emangnya kenapa?",
"Nggak kenapa-kenapa sih", elak Arya melirik ke arah Andika yang lagi asyik dengan ponselnya.
"Ikut gue", Andika tiba tiba menarik kerah baju Arya dari belakang membuatnya susah nafas.
"Mereka mau kemana?",
__ADS_1
"Gue kagak tau dan gue nggak mau tau", sahut Alesia membuat Michi geram sendiri mencubit wajah Alesia yang lagi asyik memakan cemilannya.
"Awwww,,,,, sakit nenek lampir", rintihnya mengusap wajahnya yang mulai memerah sedangkan si pelaku hanya tertawa cengengesan.
"Gue nggak bisa nafas bego", rintihnya memukul tangan Andika.
"Upsss sorry, gue sengaja", ujarnya tanpa dosa melepaskan genggamannya dari kerah Arya.
"Minta dimutilasi lo", geramnya tapi tidak dipedulikan Andika yang tengah jalan terburu-buru.
"Lo kenapa sih buru-buru amat dah", ujarnya terpaksa menyamai langkah Andika yang cepat.
"Kiel nyuruh gue sama lo ke Rooftop", Andika mengehentikan langkahnya sejenak di depan pintu rooftop niat memasukkan kata sandi sembari menyodorkan ponselnya ke Arya.
"Buat?", Andika mengangkat bahunya karena dia sendiri saja tidak tahu.
Suara langkah kaki mengalihkan perhatian ketiga cowok yang sedari tadi menanti kedatangan mereka.
"Kayak cewek aja lo berdua lelet amat dah",
"Berisik lo, gue blender baru tau rasa lo", balas Arya geram ke Ken.
"Btw, lo ngajak kita ngumpul gini ngapain Bro?", tanya Andika menepuk pundak Kiel.
Kiel tidak menggubris dia mengarahkan sebuah laptop di ke hadapan Arya dan Andika. Sontak keduanya kepo dengan isi laptop itu.
"Bentar-bentar kalo nggak salah ibu-ibu itu kan ibunya Veno?", tebak Andika setelah dengan teliti memperhatikan isi video tentang sebuah kecelakaan motor dengan pejalan kaki.
"Lo benar. Tadi gue sama Ken sempat ke rumah sakit karena permintaan Om Johan sekalian ambil file video kejadian buat gue selidiki",
"Terus", desak Arya karena ucapan Randy terpotong membuatnya semakin penasaran.
"Dan dugaan gue sama Ken ternyata benar, kalo dalang dari semuanya ini adalah musuh bebuyutan kita", timpal Ken dengan wajah serius.
"Maksud lo Mr.A", Ken menganggukkan kepalanya mendengar penuturan Andika.
"Dia sempat ngancam Veno karena udah berani khianati Mr.A dan nyawa dia juga terancam. Dan parahnya Mr.A udah tau kalo Veno ditugasi jadi pengawal rahasia Alesia", Andika menggaruk kepalanya dengan kasar dia tidak habis pikir bagaimana bisa Mr.A bisa tahu, bisa bisa rencana mereka gagal nantinya.
"Jadi gimana sekarang apa kita serang aja markasnya, gue takut orang-orang yang gue sayangi dia sakiti lagi", geram Arya mengingat ibunya terbunuh karena ulah Mr.A. Andika menepuk pundak Arya beberapa kali, dia tahu Arya yang terkenal jahil dan ceria dari antara mereka belum sepenuhnya menerima kenyataan itu.
"Jangan bertindak gegabah, kita susun rencana", ujar Kiel menimpali yang sedari tadi menahan emosinya karena ulah Mr.A.
"Gue setuju idenya Kiel, kalo kita bertindak gegabah yang ada nyawa Alesia yang akan terancam. Bukan cuma dia tapi kita semua", timpal Ken masih dengan wajah serius.
Dertt,,,, derrrrrttttt,,,,,
"Halo",
"Tolongin gue. Gue diserang sama anak Black mamba",
Tut,,tuuttt,,,
"Halo!, halo Ven!, HALO!!!!",
"Kenapa Ken?", tanya Andika melihat Ken meracau tidak jelas dengan wajah tampang amarahnya.
"Veno diserang anak Black mamba",
"Lah kok bisa. Bukannya dia udah lepasin jabatan ketuanya kemaren dengan cara baik baik, ngapain di serang?", ujar Arya bingung.
"Punya masalah hidup keknya dia", timpal Andika terkekeh kecil.
"Kayaknya wakil sama anggota lainnya nggak terima kalo Veno keluar gitu aja tanpa alasan jelas", ujar Randy merapikan laptopnya bersiap siap ke tempat Veno di hajar.
"Bener bener menjengkelkan", umpat Andika menuruni anak tangga dengan langkah cepat.
"Tangan gue gatal pengen hajar orang", ujar Ken tersenyum tipis mengikuti langkah cepat Arya.
"Gue nggak sabar ngeliat reaksi racun mematikan yang gue racik semalam", timpal Arya dengan senyum manisnya.
"Akhirnya gue bisa bersenang-senang juga", senyum smirk muncul di wajah Kiel. Membuat siapapun yang melihatnya bergidik ngeri.
"Bisa-bisanya lo semua mikirin bersenang senang padahal nyawa anak orang udah di ujung tanduk", Randy yang berjalan di belakang mereka menepuk jidatnya dan menggelengkan kepalanya lagi.
"Pinjam kunci motor lo", pinta Ken ke Zoya yang tengah asyik canda ria dengan Alesia dan yang lainnya.
"Buat apa?",
"Pinjam dulu ntar gue balikin lagi",
__ADS_1
"Nih, awas sampe lecet kalo nggak siap-siap gue geplak kepala lo", ancam Zoya memberikan kunci motornya.
"Siap laksanakan ibu Negara", sahut Ken menerima kunci motor Zoya yang tengah tersenyum kecil.
"Lo mau bolos yah bang, hayo ngaku. Ntar gue aduin ke Mommy baru tau rasa lo", ancam Alesia dengan wajah menyelidik.
"Heh cebol. Gue nggak bolos yah, gue lagi ada misi penyelamatan you now", balas Ken tidak mau kalah.
"Emang lo ultramen ada misi penyelamatan segala", cibir Alesia membuat Ken memutar matanya jengah berdebat dengan adiknya itu tidak akan ada habis habisnya pikirnya.
"Heh, dasar cewek bar-bar kita lagi buru-buru nih. Jadi lo biarin Abang lo pergi sama kita dulu", ujar Arya menengahi perdebatan kedua orang kakak beradik itu.
"Apa lo,,,,"
"Cabut", titah Kiel dengan tegas membuat Ken dan lainnya bergidik ngeri setelah menyadari aura yang keluar tubuh Kiel.
"Ok, kalo gitu kita cabut dulu. Babay adek lucnut",
"Dasar stres", umpat Alesia tertawa kecil sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tunggu woi!, masih ada yang ketinggalan",
sontak Arya, Andika, dan Ken membalikkan badannya secara bersamaan. Sedangkan Kiel dan Randy tidak menggubrisnya mereka tetap melanjutkan langkahnya.
"Yang bayarin bakso kita siapa dong", ujar Michi dengan wajah memelas dan puppy eyes andalan.
"Gue pikir cuma adek gue yang gitu, ternyata ada juga kembarannya", gumam Ken tertawa kecil bersama Andika. Sedangkan Andika, dia sepertinya terhipnotis dengan tingkah Michi yang menurutnya sangat lucu seperti anak kucing.
"Tuh ambil, mukanya nggak usah gitu jelek tau", ejek Arya meletakkan 2 lembaran warna biru di atas meja keempat gadis itu.
"Makaseh Arya ganteng", ujar Michi dengan senyum manisnya membuat Arya sedikit salah tingkah dibuatnya.
"Hm", sahutnya membuang wajahnya ke arah lain.
"Cie elah, ada yang baper nie", celetuk Lia menggoda Arya.
"Ehem ehemmm,,,,,," timpal Alesia ikut menggoda Arya yang semakin salah tingkah.
"Kasihan tuh mukanya udah kayak kepiting rebus", celoteh Zoya membuat Arya mendengus kesal.
"Ck, kurang kerjaan", ujarnya meninggalkan keempat gadis itu yang terus saja menggodanya.
"Sial, masa iya cowok dibaperin cewek", gumamnya dalam hati, menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Acieee,,,, digoda para cecan", goda Ken membuat Arya semakin kesal.
"Bro, tuh cewek balas balik lagi. Buat dia baper setengah mampus sama lo masa iya cowok yang baper sama cewek, cemen lo", kompor Andika niat memancing Arya yang seringkali tertutup dengan para cewek. Meskipun dia terlihat akrab dengan cewek tetapi dia tidak suka dengan namanya pacaran. Karena dia berniat mencari pacar yang sifatnya persis dengan ibunya yang cerewet, suka kucing, suka makan, dan pintar memasak.
"Apa apaan sih, gaje bat dah", Ketusnya meninggalkan Ken dan Andika yang masih tertawa terbahak-bahak.
"Tungguin kita woi", teriak keduanya padahal mereka sudah berada di parkiran yang sama dengan Arya.
"Kenapa tuh bocah?", tanya Randy penasaran melihat raut wajah Arya yang tengah masam.
"Kepo", sahut keduanya membuat Randy mendengus kesal.
"Kayak cewek rempong aja", gumamnya, bukannya tersinggung Ken dan Andika semakin tertawa terbahak-bahak.
Suara deruman motor meninggalkan gerbang sekolah untuk menyelesaikan misinya sekalian bersenang-senang.
...----------------...
"Lo yang namanya Alesia kan?", tanya seorang gadis cantik yang berbeda seragam sekolah darinya.
"Iya gue sendiri, kenapa emangnya kak?", tanya Alesia sopan dengan senyum manisnya setelah membaca papan nama dan juga kelasnya di seragam gadis cantik itu.
"Jelasin ke gue maksud dari foto ini", titah gadis itu menunjukkan sebuah foto di ponselnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hay, maaf banget yah Putri lama update.
Jangan lupa like, komen, vote, gift, and favorit juga yah😅.
Salam sehat 💪
GBU 😊😊
Note: Nathan itu sudah kekurangan kasih sayang semenjak ibunya meninggalkan rumahnya jadi wajar pergaulannya bebas karena ayahnya tidak memperdulikannya, yang ayahnya pedulikan hanya nafsunya akan kekuasaan.
__ADS_1