Kulkas 35 Pintu

Kulkas 35 Pintu
Kiel aneh


__ADS_3

"Bener Mommy masih belum pulang ini udah larut malam loh", ujar Alesia memastikan apa Mommynya akan tetap pergi ke perusahaan Daddynya.


"Ini sudah keduapuluh sembilan lo tanya itu ke Mom dek padahal sekarang masih pukul tujuh malam nih", ujar Ken melirik jam tangannya dan menunjukkannya ke Alesia.


"Berisik, jangan ikut campur", ketus Alesia terhadap Ken yang selalu saja membuat dirinya jengkel.


"Nyenyenye", gerutu Ken tetapi tidak dihiraukan Alesia.


"Iya sayang, Mommy masih ke perusahaan menemani Daddymu lembur", ujar Nyonya Ema membujuk putri bungsunya itu yang mulai cemberut.


"Ya udah deh Mom, Lesia pulang dulu sama parasit besok Lesia masih sekolah", menatap sinis ke arah Ken.


"Nah gitu dong. Ya udah jangan lupa belajar karena besok sekolah, sikat gigi cuci kaki terus berdoa sebelum tidur yah sayang", nasihat Nyonya Ema mengelus pucuk kepala putrinya itu. Alesia membalasnya dengan senyuman manisnya meskipun ada sedikit rasa kecewa di hatinya karena dirinya berencana malam ini tidur bareng bersama Mommynya itu.


Mereka bertiga tengah berada di parkiran rumah sakit dan sekarang waktu tidak terasa sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Padahal Alesia belum mengganti seragamnya sedangkan Ken sudah lebih dulu mengganti pakaiannya semenjak pulang dari sekolah. Dan para sahabat Alesia mereka sudah pergi pulang beberapa menit yang lalu karena ada yang mengeluh tidak nyaman dengan seragamnya yang tidak diganti bahkan ada yang mengeluh ingin segera mandi.


Sang sopir pribadi keluarga Devandra sedari tadi menunggu kedatangan Nyonya Ema. Sang sopir membungkukkan badannya dengan hormat sekaligus menyapa dan membuka pintu mobil saat Nyonya Ema memasuki mobil.


"Dah Mom", ujar Alesia melambaikan tangannya saat melihat mobil yang ditumpangi Mommynya berjalan meninggalkan mereka.


"Ayo kita pulang Bang", ujarnya bersemangat menarik lengan Ken menuju ke tempat motor Ken di parkir.


"Hmm dek", Ken mengatur tengkuk lehernya yang tidak gatal melirik ke arah Alesia.


"Apahhhhh?",


"Gue lupa kalo motor gue lagi di bengkel, tadi bannya bocor abis gelud sama jalanan", ujar Ken serasa tidak berdosa.


"Jadi kita gimana dong pulangnya lagian Mommy barusan pergi kan bisa aja kita numpang sebentar", kembali Alesia kesal dibuat Ken karena dia sangat ingin pulang untuk segera mandi dan tidur karena kecapean.


"Lo sih bang, kenapa baru sekarang bilangnya, coba aja dari tadi nggak bakalan gini jadinya kita kaya anak terlantar. Udah taksi susah amat lagi di sini padahal tempatnya nggak langka langka banget dah", omel Alesia menghentakkan kakinya karena sangking kesalnya.


Di sela sela perdebatan keduanya seorang pemuda dengan perawakan tinggi dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket hitamnya dan heaset di kedua telinganya. Pemuda itu berjalan santai melintasi Alesia dan juga Ken yang sedang bertengkar seperti sepasang kekasih padahal tidak. Alesia menyipitkan kedua matanya saat melihat pemuda itu karena merasa familiar dengan wajahnya yang tampan itu dan juga dengan wajah datar nan menyebalkan plus super duper dingin.


"Kiel", gumamnya membuat Ken mengangkat kedua alisnya mendengar penuturannya barusan.


"Itu Bang", Alesia mengarahkan kepala Ken ke Kiel yang sedang berjalan santai tanpa menghiraukan sekitarnya.


"Iya bener", sahutnya dan sebuah ide cemerlang muncul di otak kecilnya.


"Bro!!", Ken meletakkan salah tangannya di pundak Kiel yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam.


"Ehk santai ini gue", ujarnya lagi dengan nada cengengesan.


"Hm", sahut Kiel malas melanjutkan langkahnya tapi dicegah Ken.


"Woi bentar bentar gue minta bantuan lo", ujar Ken lagi membuat Kiel mendengus kesal.


"Apa?", tanya Kiel dingin melirik Alesia yang juga tengah meliriknya.


Ken pun meminta bantuan Kiel untuk mengantar adik kesayangannya itu pulang. Awalnya keduanya menolak mentah apalagi Alesia.


"Bang gue nggak mau di antar sama dia, mending gue jalan kaki kalo gini caranya", tolak Alesia dengan wajah cemberut karena dia tahu Kiel akan membuat darah tingginya naik lagi. Dan mungkin saja dirinya akan ditinggalkan di tengah jalan yang suasananya gelap seperti kuburan.


Kiel menatap Alesia yang tengah memikirkan yang tidak tidak tentang dirinya.


"Ya udah kalo lo nggak mau gue fine fine aja, lagian gue masih urusan penting dan lo jalan kaki aja sendiri pulang ke rumah", ujar Ken santai melihat perubahan wajah Alesia yang sudah mulai berubah sedikit ketakutan.


"Padahal sekarang banyak banget loh yang gentayangan gentayangan gitu", bisiknya lagi di telinga Alesia dengan senyum menyeramkan.


Alesia merinding akibat ulah Ken yang baru saja menjahilinya. Dia menatap sekelilingnya yang terlihat horor padahal masih banyak orang di rumah sakit itu yang berlalu lalang.


"Bang lo mau kemana?", tanya Alesia yang melihat Ken tengah ngacir menghindari amukan adiknya itu.


"Tata,,,,, gue urusan dengan panggilan alam gue dulu, lo pulang aja sama batu es yang di sebelah lo tuh", ujar Ken melambaikan tangannya tidak lupa dengan wajah yang membuat Alesia sangat jengkel.


"Dasar Abang titisan roh alam", umpatnya dengan kesal.


Alesia melirik ke arah Kiel yang juga tengah meliriknya. Sekitar 5 menit keheningan tercipta di antara keduanya, tidak ada yang memulai percakapan. Alesia memalingkan wajahnya karena merasa canggung akibat ditatap Kiel sedari tadi.


"Annyeong, kenalin gue Alesia", ujar Alesia memperkenalkan dirinya di hadapan Kiel dan tidak lupa membungkukkan badannya juga seperti ala Korea.


"Stres", ujar Kiel datar melihat tingkah Alesia. Dia tidak memedulikan lagi apa yang akan dilakukan gadis di depannya itu, dia sibuk memasuki mobil mewah warna hitam.


"Berhasil", gumam Alesia ke dirinya sendiri dan tidak sengaja di dengar Kiel. Dia sengaja melakukan itu agar keheningan keduanya terusir.


Alesia membuntuti Kiel memasuki mobilnya. Mulutnya sedikit menganga karena terpukau melihat isi dalam mobil Kiel yang terbilang sederhana tapi terlihat mewah dan juga fasilitas yang lainnya lengkap.


"Ini mobil bener punya lo?", tanya Alesia sedikit tidak percaya melihat isi mobil Kiel.


"Hm", Alesia mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Kiel. Gadis itu menyenderkan tubuhnya ke kursi penumpang yang menurutnya sangat nyaman.


"Gue bukan supir lo", ujar seseorang mengagetkan Alesia yang sedari tadi sibuk dengan kursi penumpang yang didudukinya itu.

__ADS_1


"Hah!",


"Nggak ada siaran kedua", ujar Kiel datar dengan nada sedikit kesal.


"Maksud lo apa?", tanya Alesia bingung dengan ucapan Kiel.


"Ck, gue bukan supir lo", ulangnya lagi tetapi ada sedikit nada penekanan.


"Terus hubungannya sama gue apa?", tanyanya lagi terhadap pemuda di depannya itu. Kiel mendengus kesal mendengar pertanyaan gadis di belakangnya.


Alesia yang masih loading dengan situasi yang sedang di hadapinya sekarang ini. Dia baru saja menyadari kalau yang dimaksud Kiel dirinya harus duduk di depan.


"Lo mau gue duduk di depan gitu",


"Hm",


"Tapi kenapa?", tanya Alesia membuat kekesalan Kiel tidak terbendung lagi.


Blamm,,,,,


Alesia sedikit terkejut mendengar pintu mobil di tutup keras oleh Kiel. Dia melihat Kiel memutari mobilnya dan membuka pintu di disisinya.


"Ehk,,," Kiel menarik tangan Alesia tetapi tidak kasar dan memasukkannya lagi di dalam mobil. Satu telapak tangannya memegang ujung kepala Alesia niat melindungi dari kepentok mobil.


Kiel menyalakan setir mobilnya dan memutar arah haluan. Sedangkan Alesia dia sibuk memperhatikan Kiel yang tengah sibuk dengan setirnya.


"Apa?", tanyanya dingin tiba tiba membuat Alesia salting sendiri karena sedari tadi dirinya terus saja menatap Kiel yang membuatnya selalu kepikiran. Ada apa dengan Kiel, itulah pertanyaan yang sekarang bersarang di otaknya.


"Lo sehat kan?",


"Hm",


"Lo nggak sakit kan?",


"Hm",


"Lo minum vitamin kan tadi pagi?",


"Hm",


"Lo baik baik aja kan?",


"Hm",


"Lah kok cuma hm hm doang, ini sekarang bukan syuting film India tau",


"Lo nanya gue jawab",


"Tapi kan bukan berarti jawabnya hm hm doang",


"Aneh", ujar Kiel membuat Alesia geram sendiri.


"Lo yang aneh dasar kulkas, gue cuma yang nanya kenapa lo tumben baik ke gue",


ujarnya melipat kedua tangannya dan memandang keluar jendela mobil.


"Kapan gue jahat?", tanya Kiel membuat Alesia memalingkannya wajahnya dengan kasar dan menatap Kiel dengan geram.


"Mending lo diem gue mau hidup tenang",


"Siapa suruh pertanyaan lo aneh gitu", kata kata panjang yang tidak di sadarinya keluar dari mulut Kiel.


"Husttt,,,,, diem diem", Alesia menyuruh Kiel diam menggunakan jari telunjuknya menutup mulut Kiel.


"Cepetan elah, badan gue udah gerah nih belum ganti seragam terus gue mau mandi", oceh Alesia ke Kiel yang membawa mobilnya lambat seperti berjalannya bebek.


"Diem", titah Kiel ke gadis di sebelahnya yang sedari tadi menggerutu.


"Iss,,,, nggak tau apa rasanya gue pengen nyelam samudera Pasifik sangking gerahnya", ocehnya lagi mengipasi badannya menggunakan tangganya. Meskipun AC mobil nyala dan juga jendela di sebelahnya sedikit terbuka tapi itu semua tidak mempan menghilangkan gerah di tubuhnya gadis itu.


"Mati dong", ujar Kiel menyahuti ocehan Alesia.


"Berisik lo", ketus Alesia ke Kiel yang terus saja menyahuti ocehannya.


"Buset dah, baru gue tau si kulkas dingin 35 pintu ternyata banyak ngomong juga meskipun ada pedas pedasnya. Tapi kalo dinginnya kambuh kayak ngomong sama patung beruang kutub", gumam Alesia di hatinya mengundang perhatian Kiel.


"Mikirin apa lo?", tanya Kiel dingin masih fokus ke jalanan.


"Lo, upsss,,,,," Alesia langsung menutup mulut menggunakan kedua tangannya melirik ke arah Kiel.


"Gue?", beo Kiel menaikkan satu alisnya melirik ke arah Alesia.


"Nggak usah kepedean lo",

__ADS_1


"Nggak merasa", sahutnya dingin membuat Alesia mendengus kesal lagi.


Alesia memilih memalingkan wajahnya kembali ke arah luar jendela mobil melihat kendaraan lainnya berlalu lalang.


Gadis itu seketika memalingkan wajahnya ke arah tempat Kiel berada karena merasa mobil yang mereka tumpangi berhenti.


"Lo mau kemana?", tanyanya melihat Kiel keluar dari mobil tapi tidak dihiraukannya.


"Bubur sumsum dua pak", ujar Kiel dingin dengan wajah datar, dia memesan ke penjual bubur sumsum yang selalu buka setiap pukul 4 sore sampai pukul 10 malam. Bukan hanya penjual sumsum yang ada di tempat itu tetapi masih banyak lagi penjual kaki lima pinggir jalan berjualan di situ seperti seblak, martabak telor, es cendol.


Penjual Bubur sumsum itu sempat bengong karena mendapatkan pembeli yang super dingin dari pembeli lainnya.


Karena pembelinya semakin banyak dia melanjutkan pekerjaannya yang tertunda daripada kepo dengan salah satu pembelinya itu.


"Iiiiii,,, ganteng banget", ujar salah satu perempuan yang notabenenya juga seorang pembeli.


"Bener banget, gue pengen jadi pacar dia", ujar salah satu temannya lagi.


"Tapi sayang dingin bangettttt,,,,," timpal yang satunya lagi.


"Minta no WhatsApp nya dong", ujar salah satu temannya yang wajahnya bisa dikatakan lebih cantik dari ketiganya dan juga mungkin dia ketua di gengnya. Cewek yang bernama Mona itu tersenyum malu saat ketiga teman temannya menyorakinya.


Sedangkan Kiel dia tidak peduli sama sekali bahkan melirik pun tidak membuat cewek yang bernama Mona itu mengumpatnya karena diacuhkan.


"Pepet terus", kata kata itulah yang terdengar di gendang telinga Alesia untuk menyemangati Mona yang berusaha mendekati Kiel. Dia merasa risih dan ada rasa kesal di dalam dirinya dab berniat turun dari mobil melabrak Mona.


"Sayang, kok lama", ujarnya dengan nada manja memeluk Kiel dari belakang. Kiel yang merasa dirinya dipeluk memutar kepalanya melihat si pelaku.


"Kamu siapanya dia?", tanya Mona menatap sinis ke arah Alesia dan juga ketiga temannya langsung kicep dan kepo.


"Ohkkk aku, kenalin aku pacar dia Tante", ucap Alesia dengan senyum manisnya menimbulkan kedua lesung pipinya terlihat.


Mona yang tidak terima kalau dirinya dipanggil Tante padahal memang kenyataannya ingin membalas Alesia tetapi diurungkannya karena melihat tatapan tajam mata Kiel seperti belati menyayat tubuhnya.


Dua mangkok bubur sumsum hangat berada di depan keduanya. Mereka memilih makan di tempat itu selagi bubur sumsumnya masih hangat. Tidak ada sepatah kata keluar dari mulut keduanya tetapi kedua mata Alesia melirik ke sana kemari melihat cemilan yang menggunggah seleranya.


Setelah selesai, Alesia memaksa Kiel untuk membeli seblak dan juga es cendol buat cemilan di rumah.


Mobil mewah berhenti di depan rumah yang terbilang besar dan dipagari tinggi dan juga ada bodyguard.


Alesia mengerutkan keningnya karena sedari tadi dia tidak pernah bercerita tentang apapun alamat rumahnya. Tapi Kiel dia bisa tahu alamat rumahnya.


"Abang lo yang ngasih tau", ujar Kiel dingin menjawab pertanyaan di kepala Alesia.


"Ohkkk,,,," sahutnya membuka tali pengamanannya hendak keluar dari mobil tapi di cegah Kiel.


"Apa lagi?", tanya Alesia karena tangannya di tahan padahal dia sangat ingin berlari buat melakukan ritual mandinya.


"Apa lo suka sama calon suami lo?", tanya Kiel dingin dengan wajah serius.


"Maksudnya?",


"Nggak ada siaran kedua", ujar Kiel dingin membuat Alesia memutar matanya malas.


"Gue aja nggak tau gimana mukanya bahkan ketemu aja nggak pernah, gimana caranya gue suka ke dia coba", ujarnya kembali duduk seperti semula.


"Kalo lo?", tanyanya balik menatap Kiel.


"Suka banget", sahutnya tersenyum kecil membuat Alesia terpesona.


"Dia itu cerewet, judes, bawel, manja, sangat cantik, tapi sedikit bodoh", lanjutnya lagi menatap kedua mata Alesia.


"Ceritanya nih lo curhat", Kiel menganggukkan kepalanya kecil masih menatap Alesia dalam. Gadis itu sempat terdiam sementara dan membuka pembicaraan lainnya.


"Btw maafin gue yah, karena gue maksa lo jadi pacar lo. Gue sengaja ngelakuin itu agar perjodohan gue batal tapi dugaan gue salah", ujar Alesia sedikit bersalah karena dia sempat memaksa Kiel jadi pacarnya niat untuk menggagalkan perjodohannya.


"Hm", sahut Kiel dingin memalingkan wajahnya ke arah depan.


Alesia yang merasa tidak ada lagi yang dibahas bersiap siap keluar dari mobil tetapi tangannya di cegah lagi.


"Apa lagi sih? gue mau mandi", omelnya melihat pelaku memegang tangannya lagi.


"Tanggung jawab lo", ujar pemuda itu dingin menatap kedua bola mata indah Alesia.


"Tanggung jawab", beo Alesia mengangkat kedua alisnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf Putri lama update sampe kangen Kiel sama Alesia 😅.


Jangan lupa like, komen, vote, gift, dan favorit juga yah.


Salam sehat 💪

__ADS_1


GBU 🤗😇


__ADS_2