KUMPULAN CERPEN RELIGI

KUMPULAN CERPEN RELIGI
MUALLAF CINTA


__ADS_3

Zahra ....


Lama nian kutatap sejuk raut wajah gadis itu. Tak kuasa menahan desiran darah dan detak jantung kian memacu. Ingin rasanya menjerit nyaring memanggil namamu. Harapanku hanya satu, berkenan gadis itu menoleh dan tersenyum walau sesaat.


Namun mengapa bibir ini terkatup rapat. Berat dan sulit kubuka. Gerangan pesona apakah yang dimiliki, hingga aku begitu terkesan saat memandangimu, wahai Zahra!


Kerudung biru langit dengan tata busana yang sepadan, tak pernah tersisa secuil pun aurat tubuhnya terbuka. Sehingga lekuk tubuhnya pun sulit diterka.


Aku mengenal gadis itu saat ada acara peluncuran perdana majalah kampus. Kebetulan aku dipercaya memimpin proyek ini. Usai memberikan sambutan, aku segera berlari ke belakang panggung. Menghindari berbagai pertanyaan dari para kuli tinta dan kilatan lampu blitz kamera yang membutakan. Karena terburu-buru, tak sengaja aku menabrak seseorang. Refleks, langkahku pun terhenti.


Kulihat sosok seorang gadis berkerudung tengah berusaha bangkit dari lantai. Dari bibirnya yang meringis, aku tahu, gadis itu pasti sedang menahan rasa sakit akibat terjatuh tadi.


“Eh, sorry, ya! Gak sengaja!” kataku sambil menyodorkan tangan mengajak salaman.


Gadis itu menoleh sejenak.


Pertama kali yang kupikir, gadis itu akan marah-marah dengan kata-kata kotor dan memekakan telinga. Namun ….


“Tidak apa-apa. Lagipula aku yang salah, kok. Tadi, aku tak melihat arah jalanmu. Coba kalau aku pilih jalan lain, mungkin kejadiannya tak akan seperti ini, kan?” ujar gadis itu sambil tersenyum.


Uluran tanganku dibalas tanpa menyentuhkan telapak tangannya yang putih. Aku segera menarik kembali tanganku secepatnya. Malu juga, kupikir.


“Oh, enggak. Seharusnya gue, dong, yang minta maaf. Gue, kan, yang—”


“Sudahlah, tak usah diperdebatkan. Kalau Anda merasa bersalah, dengan ikhlas, aku maafkan. Begitu pun sebaliknya, ya,” senyuman gadis itu selalu hadir disetiap tutur katanya yang lemah lembut.


“Tapi kelihatannya kamu …. ” Aku jadi serba salah.


“Biarlah. Cuma jatuh saja, kok. Belum seberapa kalau dibandingkan dengan banyaknya nikmat yang telah Allah berikan. Lebih dari yang kita bayangkan,” jawab gadis itu sambil berlalu setelah sebelumnya mengucap salam.


Aku terperangah.


Jawaban gadis itu sungguh singkat namun bermakna luas. Cukup lama aku tertegun di tempatku berdiri. Sampai lupa menanyakan nama gadis itu.


Raut wajah menyejukan dan tutur kata yang mampu membuat orang enggan untuk menggoda. Semuanya hadir menghantui setiap sudut pandangku. Sedikit pun tak terdengar nada kesakitan dari suaranya yang lembut.


“Ooohh … cewek yang itu? Zahra namanya. Emang kenapa? Naksir? Tumben level elo kayak gituan? Apa bukan karena suasana bulan puasa, nih? Terus pikiran elo jadi ikut-ikutan religius? Kayak dandanan artis-artis di TV itu. Abis bulan puasa, kembali lagi ke habitatnya yang asli,” jawab Dita ketika kutanya tentang teman dekatnya itu.


“Elo jangan negative thinking dulu, dong, Dit! Elo, kan, teman gue. Dan dia juga teman elo. Apa salahnya, kalo gue tanya siapa teman elo itu?” aku mencoba berdiplomasi.


Dita cekikikan.


“Jangan munafik, deh, lu. Kalo ada satu jenis manusia yang bertanya tentang lawan jenisnya yang lain, urusan apalagi, kalau bukan masalah hati? Tenang, deh, entar gue salamin.”


“Eh, jangan gitu, dong, Dit. Gue kagak ada maksud—”


“Stop, please, Man. Gue tahu kartu elo. Kalo elo punya niat baik sama dia, terusin. Gue bakal ngedukung elo. Tapi jangan coba-coba mainin dia! Ingat, Man. Jangan pernah meremehkan kaum wanita dari sisi kelembutannya. Asal elo tahu aja, kesuksesan seorang laki-laki itu gak pernah luput dari peran serta kaum wanita.”


“Gila lu! Ngomong apaan, sih? Dasar sinting.”


Aku bergegas menjauhi sosok Dita yang mulai kambuh penyakit lamanya. Avonturis. Anak sastra kebanyakannya, sih, emang kayak gitu.


Gila!


Sudah pukul 02.00 dini hari. Bayangan gadis berkerudung terus itu memenuhi otakku. Padahal besok, aku harus bangun pagi-pagi sekali. Mengingat, ada makalah yang harus dibahas di ruang pertemuan kampus.


“Ramzy ... kenapa, sih, akhir-akhir ini elo susah banget gue temuin? Tiap kali gue kontak, selalu aja ada alasan. Kenapa sih, Sayang?” tanya Vita, pacarku, saat makan siang bersama.


“Gue lagi sibuk, Vit. Elo tahu sendiri, kan, gue ini Ketua Pengurus Majalah Kampus. Gue hampir gak punya waktu luang,” jawabku sekenanya.


“Ya, udah. Elo keluar aja dari kepengurusan majalah murahan itu. Lagian gak ada untungnya elo mertahanin juga. Gak ada duitnya.”


“Ini bukan masalah duit, Vit.” Aku kurang senang mendengar komentar pacarku itu.


“Kayaknya elo lagi bete, deh, Sayang. Ya, udah … jangan bahas masalah itu dulu, deh, ya? Sekarang kita makan dulu, habis itu elo anterin gue shopping?”


“Gue gak lapar. Gue lagi puasa.”


Vita tertawa keras. Sampai beberapa pengunjung cafe yang ada di sana serempak menoleh ke arah kami.


“Sejak kapan elo puasa? Cuma orang bodoh saja yang suka menahan lapar. Apa, sih, untungnya puasa? Cari penyakit aja.” Vita kembali tertawa.


“Cukup Vita! Elo kira ini lucu? Sorry, gue gak bisa nemuin elo lagi!” kataku dengan suara menggeram menahan amarah.


Tawa Vita langsung terdiam.


Aku segera berlalu secepatnya dari tempat terkutuk itu. Vita mengejar dari belakang. Tapi sampai jerit ban mobilku menggigit jalan, aku tak mau mempedulikan teriakannya.


Sorry, Vit. Agama bukan untuk dijadikan bahan lelucon.


Agama? Ya Tuhan!


Sejak kapan aku mulai berpikir tentang agama? Seumur hidup, tak pernah sekalipun mengenal agamaku yang sebenarnya. Yang kutahu, agamaku Islam dan tempat sembahyangnya di Mesjid. Selebihnya, aku tak paham. Berapa kali sehari harus sembahyang? Apa yang harus dilakukan di Mesjid? Entahlah. Kedua orangtuaku tak pernah menanamkan benih-benih ajaran keagamaan dalam hidupku. Yang hanya mereka tahu, aku harus berpendidikan formal yang tinggi dan mempunyai titel akademik. Berapa pun biaya dan di mana pun mau mengenyam pendidikan, bagi mereka tak pernah jadi masalah. Yang penting, aku bisa menjadi manusia yang berhasil dalam bisnis ekonomi. Itulah kebanggaan sesungguhnya yang akan dirasakan oleh kedua orangtuaku kelak.


Kerudung biru langit nan sejuk itu menjadi pangkal terbukanya dimensi pikiranku yang lain. Bahwa ada banyak hal yang terlupakan dalam hidup kami selama ini.


Keinginanku untuk bisa bertemu dan bicara langsung dengan sosok Zahra, akhirnya terkabul juga. Tentu saja, itu semua berkat bantuan Dita.


“Bicaranya di tempat terbuka saja, ya? Dan aku mohon, temanku ini, bisa ikut hadir bersama kita di sini,” kata Zahra dengan suara lembutnya.


Ya Tuhan!


Kerinduan yang selama ini terpendam serasa sirna begitu kupandangi wajah teduh gadis berkerudung itu.


“Bagaimana, Kak Ramzy?” Zahra meminta persetujuan. Aku tersentak kaget. Lamunan buyar laksana awan yang terhempas angin.


“Oh, iya! Tentu saja! Eh … apa tadi yang elo … eh, kamu bilang? Oh, iya. Si gendut ini boleh ikut duduk di sini, kok. Kenapa tidak?” sahutku langsung disambut pelototan galak mata Dita.


“Terima kasih, Kak. Maaf, bukan apa-apa. Kalau bukan sesama mahromnya berada dalam satu tempat, aku takut akan menimbulkan prasangka buruk orang lain. Setidaknya, kalau ada salah seorang di antara kita, kelak akan bisa dijadikan saksi bila terjadi hal-hal yang tak diinginkan,” ujar Zahra yang tak pernah sekalipun matanya menoleh kearahku.

__ADS_1


“Oh, iya. Aku setuju. Eh, apa itu tadi? Mahrom, ya? Gue … eh, aku … oh, iya ... lagian aku belum jadi mahrom kamu, kan? Suatu saat nanti, sih … boleh-boleh saja, dong, ya, kita mahroman? Hehe,” kataku sok tahu.


Aku pikir mahrom itu pasti artinya teman. Atau mungkin juga pacar. Ya, pacar. Kalau belum pacaran, dia tak bakal mau berduaan denganku. Semoga saja dia mau menjadi mahromku. Sudah pasti aku juga akan menjadi mahromnya yang setia. Hehehe ....


Zahra seperti ingin tersenyum namun berusaha ditahan. Lain lagi dengan Dita. Gadis tambun itu justru cekikikan di balik telapak tangannya.


“Ada yang salah sama omongan gue?” tanya aku heran melihat mereka berdua saling berpandangan mata.


Zahra meminta Dita untuk diam.


“Maafkan atas sikap kami berdua barusan. Aku harap Kakak mau memaafkannya.”


“Eit, tunggu dulu. Jangan panggil aku kakak, dong. Kedengerannya terlalu formil banget, ya. Panggil aku Ramzy saja, oke?”


“Maaf, aku tak berani. Aku kira usia Kakak lebih tua dari usia kami. Sudah sepantasnya kalau kami memanggilmu dengan sebutan kakak! Anggap saja ini sebagai salah satu bentuk penghargaan dan rasa hormat kami pada kakak senior kampus. Bukannya begitu, Dit?” tanya Zahra pada Dita yang sedang mengelus-elus perutnya.


“Iya, deh, Non. Habis kalo gak gitu, gua gak bakal dapet jatah buka puasa, nih!” seru Dita disambut tawa manis Zahra.


Aku begitu terpesona pada gadis ini. Tiada satu pun keindahan yang pernah aku rasakan selama ini, kecuali pada sosok yang tengah berada tak jauh dari tempatku saat ini.


Sejak perkenalan itu, aku memang sudah terbiasa bertegur sapa dengan Zahra. Berbicara ala kadarnya. Gadis itu tak pernah memberikan waktu lebih untuk berbincang lama denganku.


Ya Tuhan!


Jam sudah menunjukan pukul 03.30 pagi. Aku masih belum tertidur juga.


Bagaimana ini?


Suatu pagi saat aku tengah sibuk membagi tugas dengan rekan-rekan pengurus majalah kampus, Zahra muncul ditemani Dita. Sepertinya, di mana pun gadis berkerudung ini ada, tak ada satu pun mata yang mau berpaling dari sosok yang tengah mendekatiku itu.


Dia melangkah sambil menundukan pandangannya serta hanya mengikuti kemana arah Dita melangkah. Yaitu, ke arah di mana saat ini aku tengah berdiri mematung, memperhatikan si kerudung anggun.


“Say, ayo, dong, ngomong,” Dita berbisik sambil menatap mataku yang tak mau lepas dari sosok Zahra.


“Kamu saja, deh, Dit. Aku, kan, sudah—”


“Aaahh … selalu aku, deh, yang jadi juru bicara,” sahut Dita dengan bibir bersungut-sungut.


Zahra hanya tersenyum dan mencubit kecil kawan gendutnya itu. Wajahnya tetap menunduk.


“Ada apa, sih? Tumben datang kemari? Kangen, ya, sama aku?” tanyaku sedikit menggoda. Tentu saja kutujukan pada sosok yang terus mengapit lengan Dita.


Zahra hendak beranjak, namun ditahan oleh Dita sambil memberikan tanda padaku, “Sssttt … jangan ngomong yang gak perlu ama teman gue ini, Man. Lo tahu, kan, kalo … ”


“Oke … Oke … Maaf! Gue ... eh, aku keceplosan! Aku janji gak akan berbuat hal yang sama lagi. Kecuali ama elo … ” jawabku sedikit bercanda.


Tentu saja kalimat terakhir itu aku tujukan pada sosok Dita.


Zahra mencolek punggung Dita, seakan memberi tanda bahwa sebaiknya Dita segera memberitahukan maksud kedatangan mereka berdua itu.


“Oke, begini, Bung Ramzy. Temen gue, ZAHRA, mo pamit ama elo. Dia mungkin gak bisa elo temuin lagi mulai besok,” ujar Dita akhirnya.


“Dia akan meneruskan kuliahnya di—”


“Di mana?”


Dita melotot kesal karena aku memotong ucapannya tadi. Telunjuknya menempel di bibir mengisyaratkan agar aku sebaiknya diam saja.


“Maaf, silakan dilanjut.”


“Dia akan meneruskan kuliahnya di Kairo.”


“Al Azhar … maksudnya?”


“Di mana lagi? Elo pikir temen gue ini mau jadi TKW?” Mata Dita semakin membesar galak.


“Kenapa?” aku semakin penasaran dan berharap agar Zahra sendiri yang mengatakan semuanya.


Bukan Dita si bodi tambun itu.


“Dia pengen memperdalam ilmu agamanya di sana. Sekaligus …. pengen ngejauhin elo!”


“Oh, enggak! Gak! Yang terakhir itu gak benar. Maaf, Dita hanya bercanda, Kak Ramzy,” kilah Zahra akhirnya.


Matanya menatapku penuh penyesalan.


“Kenapa harus ke Kairo? Apa di sini udah gak ada lagi tempat pendidikan agama yang bisa memenuhi asamu itu, Zahra?” tanya aku lirih.


Tiba-tiba ada rasa takut kehilangan akan sosok si gadis berkerudung itu.


Takut kehilangan? Mengapa? Apakah … aku mulai jatuh cinta?


Cinta? Sejak kapan?


“Bukan itu alasannya, Kak.”


“Lalu?”


“Ayahku tinggal di Kairo. Beliau memintaku untuk tinggal di sana sekaligus meneruskan pendidikan agama. Mungkin untuk jangka waktu yang tidak sebentar,” ujar Zahra sambil menunduk.


“Lalu … mengapa kau harus mengatakannya padaku? Aku, kan, bukan siapa-siapa kamu, Ra?” Suaraku tertahan.Ada rasa perih yang mengiris dinding hati. Entah kenapa?


Zahra tersentak dan mundur beberapa langkah. Wajahnya terangkat perlahan dan menatapku tajam. Ada rasa getir yang terpancar dari bola matanya yang indah.


“Kakak benar. Aku bukan siapa-siapa bagi kakak. Begitu pun sebaliknya. Maaf, kalo aku berani lancang, Kak,” Zahra menunduk kembali.


Bibirnya bergetar hebat.


“Oh, maafkan aku, Zahra! Aku gak bermaksud begitu. Maksudku tadi—”

__ADS_1


“Enggak. Aku yang harus minta maaf, Kak.”


“Zahra … aku .… ”


“Tadinya aku pikir, aku senang bisa berbagi ilmu dengan Kak Ramzy. Aku berharap kalo semua pembelajaran agama yang telah aku dapati selama ini, bisa bermanfaat bagi semua orang, termasuk kakak! Dan …Astaghfirullahal’adzim.”


“Kenapa, Zahra? Ada apa?”


“Maaf, kalo aku pernah berpikir bahwa selama ini aku lebih pintar dari kakak tentang soal agama. Ya Allah, maafkanlah hamba-Mu ini, Ya, Allah,” Zahra mulai terisak.


Aku mulai kebingungan dan serba salah. Ingin rasanya kuraih tubuh gadis itu dan membiarkannya menangis di dada. Sebagaimana yang sering kulakukan pada Vita, pacarku.


Tapi gadis ini …. sungguh tak mungkin. Dia terlalu suci bagiku walau hanya sekedar bersentuhan kulit sekali pun.


“Zahra, aku malah sangat bersyukur bisa mengenalmu sebagai seorang sahabat.”


Sahabat?


Bah!


Aku terlalu munafik memilih kata itu. Karena sejujurnya sejak awal, aku berharap Zahra bisa menjadi lebih dari seorang sahabat. Pacar? Kata itu mungkin terlalu kasar dan takut akan melukai hatinya.


“Selama ini akulah yang selalu mencari dan mengajakmu diskusi tentang soal agama. Aku benar-benar sangat bersyukur karena bisa mengenalmu, aku mulai bisa tahu lebih jauh tentang agamaku sendiri.”


Isak Zahra terhenti di antara helaan nafas panjangnya.


“Kakak terlalu berani mengucapkan kalimat terakhir itu.”


“Apanya yang salah?”


“Kalau kakak mengenal agama karena aku, lalu apakah arti Tuhan bagi kakak selama ini?”


“Karena aku yakin ini adalah salah satu jalan hidayahNya yang diperuntukan untukku. Dan mungkin juga bagi sebagian orang lain, selain aku? Yaitu, melalui kamu, Zahra,” secara tak sadar aku hendak memegang bahunya namun keburu tersadar karena Dita menepiskan tanganku dengan cepat.


“Berani macam-macam ... gue hajar lo!” seru Dita kepalkan tinju.


“Maaf, gue ... eh, aku gak sadar.”


“Nih!” seru Dita lagi sambil acungkan jari tengah di depan wajahku.


Zahra terdiam sejenak. Matanya terpejam.


Dari bibirnya sesekali kulihat dia melafalkan sesuatu. Entah kalimat apa itu. Namun dari helaan nafasnya, aku sempat mendengar kalau dia mengucapkan, ‘Subhanallah’.


“Maafkan kami, Kak Ramzy. Kami tak bisa berlama-lama di sini. Aku lihat orang-orang mulai memperhatikan kita sejak tadi.” Zahra mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya,. “Terimalah ini sebagai kenangan-kenangan dariku. Mudah-mudahan bermanfaat. Aku mohon maaf, jika selama kenal dengan Kakak telah banyak melakukan kesalahan.”


Setelah mengucap salam, Zahra segera beranjak meninggalkanku yang masih berdiri terpaku. Dita mengikuti langkah dengan sorot mata seakan berharap aku mengucapkan sesuatu. Tapi aku tak tahu makna dari tatapan mata Dita tadi. Hanya terdiam sambil menggenggam bungkusan kotak persegi empat yang tadi diberikan Zahra.


“Halo … sayang,” satu suara memanggilku dari arah belakang.


Aku menoleh ke arah datangnya suara. “Vita?”


Aku tersentak kaget melihat sosok Vita yang datang secara tiba-tiba. Tapi yang membuatku lebih terkejut, justru penampilan Vita yang terlihat sangat aneh. Dia mengenakan busana panjang serba tertutup dan kerudung jibab yang tak rapih. Poninya tersembul di antara balutan kain kerudung ketat yang dia kenakan.


“Gimana? Gue udah mirip gadis kampungan yang barusan ngobrol ama elo, kan?” tanya Vita sambil membolak-balikan badannya mirip peragawati di atas cat walk.


“Vita?”


“Hahaha … elo pikir cuma dia aja yang bisa dandan kayak gitu? Gue juga gak kalahkan, Sayang?” Vita bergelayut manja di dadaku.


“Lepasin, Vita! Apa-apaan, sih, lu?” aku melepaskan pelukan Vita yang terus berusaha mendekap erat tubuhku.


“Kenapa, sih, lu? Biasanya juga cuek di depan umum kayak gini!” seru Vita kembali memelukku.


“Enggak, Vita! Lepasin!” seru aku dengan suara keras sehingga membuat Vita tiba-tiba terdiam sambil menatapku heran, “Dengar! Mulai saat ini di antara kita gak ada apa-apa lagi! Lupain gue dan jangan pernah lagi cari-cari gue atau datangi gue! Ngerti?”


“Ramzy … ! Kok gitu, sih?”


“Karena gue GAK SUKA ELO!”


Aku segera pergi meninggalkan Vita yang berteriak-teriak tak karuan. Sungguh muak sekali melihat perempuan itu. Mengapa aku bisa mengenal makhluk aneh macam dia? Perempuan sombong dan sok cantik. Berusaha memikatku dengan keindahan tubuhnya dan berharap bisa mengeruk kekayaan orangtuaku dengan sikapnya yang manja.


Huh! Menyebalkan!


Padahal selama ini aku sudah tahu kalau dia juga kerap menjual kemolekan tubuhnya pada lelaki pemuja dunia di luar sana.


BRUKK! BRAAKK!


“Astaghfirullah!”


Aku tersentak dari lamunan, ketika buku yang tengah dipegang jatuh ke lantai dan menimbulkan suara keras.


Kulihat jam di dinding sudah menunjukan pukul empat pagi. Sayup-sayup di luar sana kudengar adzan subuh yang berkumandang melalui pengeras suara. Malam ini aku benar-benar tak bisa tidur sama sekali. Bahkan akupun tak sempat makan sahur.


Sahur?


Sejak kapan aku makan sahur? Bahkan berpuasa? Sejak kapan pula aku sholat? Seumur hidup aku tak pernah mengenal kata-kata itu. Yang aku tahu, aku beragama Islam. Dan itu pun karena tertera di KTP serta kartu tanda pengenal lainnya.


Buku pemberian Zahra kemarin siang tergeletak di bawah tempat tidur. Dari temaram lampu kamar, aku masih bisa melihat tulisan besar yang ada pada sampul buku tersebut, TUNTUNAN MENUJU RIDHO ILLAHI. Aku baru sempat membacanya beberapa lembar. Semakin banyak kubaca, semakin besar pula rasa ingin tahu tentang agama yang kuanut selama ini. Termasuk tentang kewajiban-kewajibanku terhadap Tuhan.


Di akhir halaman kutemukan beberapa bait kalimat tulisan tangan yang rapih dan indah. Itu pasti tulisan Zahra.


“Kalau kita yakin akan kehadiran ALLAH, maka yakinlah bahwa ALLAH juga akan menghadirkan hamba-hambaNya dalam sebuah asa yang sama.”


Asa yang sama? Asa siapa? Hamba yang mana? Apakah yang Zahra maksud itu adalah kita berdua? Apakah Zahra juga memiliki rasa yang sama sebagaimana yang aku rasakan selama ini?


Entahlah … aku tak terlalu ingin berspekulasi dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Karena saat ini yang aku inginkan adalah segera bersujud di hadapanNya untuk yang pertama kalinya dalam sepanjang hidup. Aku yakin Zahra pasti akan tersenyum di balik kerudungnya yang anggun, saat melihat aku mulai membasahi wajah ini dengan air wudu.


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2