
Deru mesin kendaraan yang keluar masuk terminal Baranang Siang, Bogor, terus menjerit bising menusuk gendang telinga. Asap hitam yang menyembur dari corong knalpot yang usang, pongah menggembosi setiap orang sambil menutup lubang hidung.
Aku duduk terhenyak melepas lelah di sebuah bangku pelataran terminal, setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, Surabaya.
Kerongkongan terasa kering kerontang, ditambah dendang perut yang terus berbunyi. Ah ... andaikan bukan bulan puasa, sudah sedari tadi aku usir semua derita ini. Apalagi tak jauh di depan sana, banyak warung nasi yang tetap buka dan setia melayani pembeli yang tidak berpuasa.
Astaghfirullah!
Aku hanya bisa duduk termangu sambil mendekap erat tas ransel. Khawatir disaat lengah, ada tangan jahil yang berusaha mengambilnya dariku.
Sesaat kemudian pandangan ini beralih pada sosok pedagang buah-buahan yang tengah menawarkan jualannya. Teringat pekerjaanku selama ini. Jauh-jauh datang dari tanah Pasundan ke Surabaya, hanya untuk menjadi seorang pedagang pakaian emperan jalan. Semula tak pernah menyangka akan mendapatkan pekerjaan semacam itu. Namun karena sudah terlanjur dan ternyata keuntungannya berlipat, maka aku berusaha mempertahankan profesi itu hingga saat ini. Bayangkan, tiga tahun bolak-balik antara Sukabumi dan Surabaya. Setiap setahun sekali pulang ke rumah. Tepatnya, saat menjelang lebaran tiba.
Setiap bulan menyisihkan keuntungan yang kudapat untuk sekedar bekal pulang kampung kelak.
Makanya tidak sekedar lumayan, namun begitu pulang kampung, aku bisa membelikan apapun yang anak dan istri inginkan. Bahkan untuk kedua orang tua dan mertua sekali pun.
Syukurlah!
Kulirik jam tangan, sudah pukul tiga sore. Lumayan, begitu sampai di rumah nanti, aku bisa langsung berbuka puasa dengan keluarga. Oh ya, ini puasa hari terakhir. Berarti besok lebaran.
Terbayang beberapa saat lagi, anak dan istri akan menyambut kedatanganku dengan sukacita. Apalagi bekal uang yang ada rasanya lebih dari cukup.
"Pulang mudik, Nak?" Tanya seorang laki-laki paruh baya yang duduk di samping, mengagetkanku.
"O, iya, Pak!" Jawab aku singkat masih diliputi rasa kejut.
Laki-laki paruh baya itu manggut-manggut sambil tersenyum.
"Ke mana?" Tanya dia lagi.
"Sukabumi."
"Sukabumi? Wah ... lamun kitu mah kita gak berjauhan atuh," seloroh laki-laki itu dengan logat khas pribumi setempat.
"Memangnya Bapak linggih di mana keurah?" Aku ikut latah dengan aksen asliku.
"Oh, teu jauh! Abdi mah di Cisaat," jawabnya sambil terkekeh.
Aku tersenyum, berusaha membalas keramahannya. "Wah, kalo gitu mah, kita bisa papaharè atuh, Pak."
Akhirnya ada teman bicara dengan tujuan tempat yang sama, tentunya.
Lelaki paruh baya itu tersenyum sejenak.
"Hatur nuhun! Sepertinya gak bisa, Nak. Saya tèh mau nyimpang dulu ke rumah anak yang ada di Ciseeng! Sudah lama gak ke sana. Rindu rasanya hoyong ketemu sama cucu-cucu saya," ujar lelaki itu dengan sorot mata seperti tengah membayangkan orang-orang yang ia maksud tadi.
"Biasanya kalau menjelang lebaran begini, justru anak cucu yang datang pada orang tua. Bukan sebaliknya, Pak," aku menyela di antara lamunannya.
"Kondisi keluarga anak saya itu gak lebih baik dari saya sendiri, Nak. Jarang sekali mereka punya kesempatan untuk bisa datang menjenguk saya."
"Maksud Bapak?"
"Ya ... jangankan untuk sekedar punya ongkos ke Sukabumi, udah bisa makan sehari aja sungguh merupakan rejeki yang teramat besar bagi mereka."
Aku tertegun.
Sungguh beruntung sekali nasib keluargaku. Ternyata jika kita mau meluangkan waktu untuk melihat ke bawah, masih banyak orang yang hidupnya tidak seberuntung kami.
__ADS_1
Dalam hati mendadak timbul rasa iba yang mendalam. Ingin rasanya aku membantu. Apalagi perbekalan yang kubawa sekarang ini.
Tidak, jangan percaya dulu dengan kata-kata dan cerita mengharukan lelaki tua itu. Siapa tahu ini modus penipuan baru. Di jaman seperti sekarang ini, para penjahat dituntut lebih pintar dalam bertindak dan berpikir. Apalagi di saat roda perekonomian masyarakat yang tengah merosot dan kebutuhan hidup menjelang lebaran yang semakin meningkat. Dan ... apalagi dia orang yang baru dikenal. Siapa tahu sejak tadi ia sudah mengincar perbekalanku. Ah, terkutuk! Jangan dikira aku orang yang gampang dibodohi!
"Sudah berkeluarga, Nak?" Tanya lelaki paruh baya itu kembali. Seakan tengah menyelidik.
Hhhmm ... aku tak akan terkesan dengan sikapnya yang ramah itu. Walaupun dari segi usia kita terpaut jauh, namun jangan dikira aku ini anak kemarin sore, Pak.
"Udah, Pak. Punya anak dua. Lumayan, hitung-hitung mengikuti saran pemerintah. Cukup dua saja," aku berusaha menahan kesan buruk tentang orang ini.
"Syukurlah, semoga menjadi keluarga yang bahagia," ujarnya sambil menepuk bahuku.
Aku terkesiap. Jangan sampai terlena. Jangan-jangan ia tengah memanterai atau bahkan menghipnotisku.
"Terima kasih," jawab aku sambil menepis tangannya yang masih menempel di bahu.
"Kelihatannya kamu jarang bertemu keluarga, Nak?"
Sial! Darimana dia tahu? Ataukah ...
"Kok, Bapak tahu?"
Laki-laki itu tersenyum.
"Tas ranselmu."
Tepat dugaanku. Ia tengah mengincar perbekalanku.
Persetan kau, Tua Bangka! Aku tahu apa yang tersembunyi di balik kata-kata manismu itu.
Hati ini tiba-tiba terasa dibakar bara api yang tengah menyala. Panas. Ingin rasanya menghujani mulutnya yang laknat itu dengan beberapa kepalan tinju.
Niatku sudah bulat. Tak peduli sedang berada di tengah keramaian. Masa bodoh dengan puasa yang tengah dijalani. Persetan dengan ....
"Syukurlah, akhirnya bisnya datang juga," ujar laki-laki paruh baya itu seraya bangkit dari tempat duduknya.
Aku membatalkan niat penyerangan.
Hhmmm ... rupanya si tua bangka itu sudah mengendus niatku tadi. Ia berusaha mengindar.
"Saya permisi dulu ya, Nak. Mau ke Ciseeng dulu. Semoga kita bisa bertemu kembali suatu saat nanti," laki-laki itu bergegas menaiki bis yang dimaksud.
Laknat, siapa pun tak akan sudi bertemu dengan manusia kotor sepertimu.
Bathinku terus berbisik busuk. Tak tahu, nuranikah yang berkata demikian atau pengaruh bisikan syetan? Ah, terlalu jauh aku berpikir.
Tapi ... ya Allah, tak jauh dari tempatku duduk, ada sebuah dompet kumal tergeletak di sana. Dompet siapa itu? Pasti yang pernah duduk di sana tadi. Dan orang tersebut pastinya baru saja pergi. Kalaupun telah lama berada di sana, mustahil rasanya jika masih aman berada di tempat seramai itu.
Tunggu, orangnya baru saja pergi? Seingatku yang tadi berada di sana itu, ya, lelaki setengah baya tadi. Pasti milik dia.
Segera kuambil dan secepat mungkin mengamankannya ke dalam tas ransel. Selagi perhatian orang-orang sekitar tak tertuju padaku. Aha, selamat.
Untuk mengindari lelaki tadi itu, aku harus segera pergi. Tak menutup kemungkinan ia akan segera kembali dan mencari-cari dompetnya.
Ha Ha Ha ... ****** kau, Tua Bangka! Senjata makan tuan. Semula aku yang akan kau jadikan korban, kan? Tapi kini, malah ia yang harus merasakan karmanya sendiri.
__ADS_1
Di tempat sunyi, aku mencoba memeriksa isi dompetnya. Hanya ada selembar KTP usang dengan masa berlaku yang sudah habis. Fotonya pun sudah tak dapat dikenali. Ada beberapa lembar uang yang berjumlah dua ratus ribu rupiah. Hhhmm ... pasti uang dari hasil aksi kejahatan.
Uang itu? Ah, lumayan. Lebih baik aku ambil saja untuk menambah bekal. Terbayang pesta lebaran yang semarak bersama anak istri. Wajah-wajah lucu yang ceria dan senyum manis istriku. Tunggulah kalian semua, sebentar lagi orang yang kalian rindukan akan segera tiba.
Untuk menghindari kejaran lelaki tua tadi, aku memutuskan naik kereta api saja. Lumayan, di samping murah, juga bisa cepat sampai di tujuan. Tak akan terjebak kemacetan jalan raya.
Singkat cerita ... stasiun demi stasiun kereta telah terlewati. Hari mulai menampakan kegelapan. Pemandangan di luar jendela kereta dipenuhi kerlap-kerlip lampu dari rumah-rumah penduduk. Sementara gema takbir sudah mulai berkumandang menghiasi langit Pasundan.
Ketika waktu Maghrib tiba, semua penumpang segera membuka perbekalan masing-masing. Tak terkecuali aku. Namun ....
Ah, sial!
Hanya tersedia sebotol air mineral. Tadi lupa membeli perbekalan makanan. Mungkin karena tergesa-gesa ataukah ... rasa takut dengan lelaki paruh baya yang ditemui tadi siang? Huh, pikiran itu lagi!.
Segera kubuka penutup botol air mineral dan siap-siap menuangkan ke dalam mulut, namun tiba-tiba ....
"Maaf, Kang," seru seorang pemuda dekil tak sengaja menabrakku.
Tak sakit sih, tapi yang disesalkan adalah botol air minum yang kupegang terlepas tumpah tak tersisa. Sial, belum setetes pun air yang sempat menyentuh bibir keringku.
Orang-orang yang ada di sekeliling tampak tak begitu peduli dengan keadaanku.
Huh, dasar manusia-manusia munafik. Katanya puasa itu untuk turut merasakan penderitaan kaum fakir? Tapi nyatanya tak ada satu pun yang merasa iba padaku.
Hhmmm ... akhirnya hanya bisa menikmati rasa haus dan laparku yang tidak kunjung reda.
Anehnya, tak seperti biasanya di dalam kereta, tak ada satu pun penjual makanan dan minuman. Biasanya mereka senantiasa berlalu-lalang menjajakan dagangan. Tapi saat itu benar-benar sepi. Mungkin karena mereka juga sibuk untuk persiapan lebaran besok! Mudik? Sudah tentu.
"Tas ranselku?" Tiba-tiba teringat tas yang sedari tadi tergeletak di samping tempat dudukku.
Tapi ... barang itu tak ada di tempatnya. Mataku sibuk menelusuri setiap jengkal tempat sekitar. Tapi tas itu memang sudah tak ada di sana. Kemana? Selama diperjalanan ini aku tak pernah ke mana-mana. Apalagi meninggalkan tas itu. Tapi ...
Tunggu, rasanya aku pernah lengah mengawasi. Kapan? Hhhmm ... ya saat pemuda dekil itu menabrakku. Dan ... ya Allah, pasti ia yang mengambilnya. Mengapa baru sadar sekarang?
Ingin rasanya aku berteriak marah, kesal dan segudang rasa yang sulit untuk diungkapkan. Bagaimana tidak? Di saat angan-angan indah sudah di depan mata dan hanya tinggal menunggu waktu beberapa saat, di saat itu pula lah semuanya sirna tak membekas!
Beberapa pasang mata penumpang yang ada di dalam kereta menoleh kearahku. Memandang aneh dan takut dengan raut mukaku. Seperti melihat ada syetan yang hendak mencekik leher-leher mereke. Sial, aku bukan iblis. Aku ....
Bukan iblis? Tapi mengapa di saat gema takbir yang tengah berkumandang itu aku malah ingin menutup lubang telinga? Bukan panas yang dirasakan, bukan pula rasa sakit yang hadir. Tapi suara itu seolah-olah tengah mengejek aku yang tengah mengalami musibah menyedihkan ini.
Apalah arti lebaran dengan tangan hampa seperti ini. Tak sepeser pun rupiah yang kubawa. Tak juga secuil oleh-oleh yang menggantung di tangan. Apa nanti kata anak dan istri? Berbulan-bulan meninggalkan mereka, hanya untuk meratapi nasib sehari.
Akhirnya, setelah perjalan berakhir, aku hanya bisa menyusuri jalan setapak dengan pikiran yang mengambang jauh entah ke mana. Tak tahu apa sebenarnya yang ada dalam benakku saat ini.
"Ya Allah, hei ... Anak Muda," satu suara serak dan besar dari dalam sebuah rumah tua memanggilku.
Aku menoleh dan ....
"Astaga ... " aku terkejut.
Suara itu milik lelaki paruh baya yang kutemui di terminal bis tadi siang. Ia ada di sini. Persis hanya terhalang satu bangunan dari rumahku sendiri. Apakah dia tetanggaku? Bertahun-tahun lamanya mengembara, sampai tak mengenali kondisi sekeliling kampungku sendiri.
Aku tak bisa bicara. Mulut terbuka namun tak satu pun suara yang mampu terucap.
"Rupanya kamu warga sini juga ya? Syukurlah," lelaki paruh baya itu menepuk bahuku, "tadinya saya mau ke Ciseeng, tapi dompet dan uang hilang! Saya bingung dan gak tahu harus berbuat apa. Saya sama sekali tidak punya uang untuk ongkos pulang."
Aku terhentak. Sedih atau malu kah yang dirasa saat ini?
"Tapi Allah masih berkenan menolong. Di saat itulah saya bertemu dengan anak, cucu beserta menantu saya di terminal itu. Allah telah memberikan kesempatan kepada mereka untuk menjengukku. Walaupun ... tanpa membawa apa-apa, namun kedatangan mereka di sini justru lebih mahal nilainya dibanding apa pun yang pernah saya miliki sebelumnya," ujar lelaki itu dengan senyum bahagia yang senantiasa menghiasi setiap kata yang terucap.
Aku tertunduk malu.
Menyesal rasanya telah melakukan kesalahan. Dan ... ya Allah, Engkau telah memberikan balasan yang setimpal. Tunai. Tanpa menunggu waktu. Saat itu dan hari itu juga.
__ADS_1
SELESAI