KUMPULAN CERPEN RELIGI

KUMPULAN CERPEN RELIGI
MBOK


__ADS_3

“Rif, bangun! Ayo, bangun!”


Kubuka mata sebentar.


“Ada apa, sih, Ma?” sahutku sambil menguap lebar.


“Bangun dulu ngapa, Rif?” Suara Mama sedikit tertahan. Seakan tengah menahan sesuatu hal yang mencekat hatinya.


Aku terpaksa bangkit dari tempat tidur. Mama terus menatapku dengan sorot mata aneh. Memohon.


“Ada apa, Mama? Sepertinya Mama lagi cemas gitu, deh?”


Kulihat jam di dinding menunjukan waktu hampir tengah malam.


“Anter Mama ke rumah sakit, yuk.” Suara Mama makin terdengar tertahan.


“Malam-malam begini?”


Mama hanya mengangguk pelan.


“Besok saja ngapa, sih, Ma?”


Mata Mama membesar. Tepatnya melotot, setelah mendengar jawabanku barusan.


“Oke … oke … Mama jangan marah gitu, dong.” Mata Mama meredup kembali. “Hhhmm …siapa, sih, yang sakit? Papa? Kalo gak salah … Papa, kan, masih di luar kota sampai pekan depan.”


Kembali aku menguap. Rasa kantuk yang luar biasa kurasakan.


“Si Mbok … Rif,” jawab Mama pelan dengan sedikit isak tertahan.


“Hadeh … si Mbok rupanya! Besok, kan, bisa, Ma. Lagian kenapa, sih, Mama begitu peduli sama si Mbok? Toh, dia itu cuma pembantu rumah kita doangan, kok,” setengah malas kujawab dan berniat untuk kembali merebahkan tubuh.


Tiba-tiba Mama mencekal lenganku. Sedikit keras. Menahan untuk kembali tidur. Cekalannya itu sangat tak biasa dan baru pertama kali kurasakan selama belasan tahun ini.


“Ada apa, sih, Ma?” Aku berusaha melepaskan cekalan jemari Mama yang begitu kuat.


“Tolong Mama, Rif! Mama mohon.”


Mata Mama kulihat mulai berkaca-kaca.


“Baik … baik … Aaa … akkuu … bersedia, deh, Ma. Tapi tolong Mama jangan menangis gitu, dong. Aku paling gak tahan lihat Mama mengeluarkan air mata … ”

__ADS_1


Aku segera bangkit dari tempat tidur. Tak lupa kuusap sedikit air mata Mama yang sudah mulai mengalir dari pelupuk mata indahnya. “Ayo, kita berangkat, Ma.”


Dengan langkah yang sedikit terburu-buru, Mama pergi menuju kamar si Mbok yang terletak di bagian belakang rumah. Sebentar kemudian Mama tampak menggandeng tubuh si Mbok yang berjalan tertatih dengan tubuh diselimuti kain tebal. Wajah tuanya pucat dan mengigil.


Aku merasa malas harus menyentuh tubuh tua pembantu itu. Terlalu sayang jika tenagaku digunakan untuk hal-hal semacam itu. Lagipula, toh, dia cuma pembantu saja, kok. Gak penting banget!


“Riifff .… ” kudengar Mama memanggil.


“Iya, Ma! Ada apa lagi, sih?”


“Bantu Mama menggandeng si Mbok, dong, Rif.”


“Aaahh … Mama ini! Aku males … Ma!”


“Arif!” Intonasi suara Mama semakin meninggi memanggilku kembali.


“Iya … iya … iyaaa … Ma!”


Dengan sangat terpaksa, akhirnya aku harus menyentuh tubuh tua si Mbok dan membantu memapah berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah.


“Mama duduk di belakang sama si Mbok, ya?”


“Tumben? Biasanya Mama paling anti duduk di belakang sana.”


“Uuppss! Oke … oke .… ” Sedikit lucu juga melihat Mama yang tampak sangat cemas. Tentunya dengan kondisi si Mbok. Saat kubantu memapah tubuh tuanya, memang kurasakan hawa panas di telapak tangan. Si Mbok demam hebat rupanya.


Aku segera menjalankan mobil menuju rumah sakit terdekat. Kebetulan kondisi jalanan sepi tanpa lalu-lalang berbagai macam jenis kendaraan. Sehingga perjalanan kami tak mendapatkan hambatan apa pun. Tak sampai satu jam, kami sudah tiba di sebuah rumah sakit swasta.


Setelah membantu si Mbok berjalan menuju ruang UGD, lalu menyerahkannya pada beberapa orang perawat yang datang menghampiri kami, sambil membawa berbagai peralatan, aku segera menuju ruang depan. Rasanya tak ada rasa ingin mengetahui lebih lanjut mengenai kondisi si Mbok pasca ditangani petugas medis tadi. Bagiku itu tak penting. Dia cuma pembantu. Bukan apa-apa bagiku!


“Rif .… ” Satu suara lirih menghentak lamunanku.


Saat menoleh, kulihat raut wajah Mama tampak sedih sekali.


Sesekali lengan halusnya mengusap air mata yang tiada henti mengalir di pipi.


“Bagaimana, Ma? Kita pulang sekarang, kan? Biarkan saja si Mbok diurus dulu sama dokter dan perawat itu. Sekarang kita pulang lalu tidur. Besok atau lusa, kan, Mama bisa kembali ke sini untuk melihat dan mengetahui kondisi si Mbok dan … ”


Aku terhenti bicara saat tiba-tiba telunjuk Mama menempel di bibirku. Mata Mama yang memerah seperti tengah memohon agar aku tak banyak bicara.


“Besok pagi-pagi sekali Papa juga mau datang ke sini menjenguk si Mbok,” kata Mama pelan.

__ADS_1


“Papa mau ke sini … besok?”


Setengah tak percaya kudengar kata-kata Mama barusan. Bagaimana tidak, Papa yang tak bisa diganggu dan jadwal kepulangannya minggu depan demi mengurus bisnisnya, besok mau datang menjenguk pembantu itu. Semua Papa lakukan demi … si Mbok?


“Wow! Luar biasa!”


Mama menundukan kepala. Isak tangisnya mulai terdengar.


“Mama menangis?” tanyaku sambil mendekati wajah Mama yang masih tertunduk lemah, “ini ada apa sebenarnya?”


“Rif .… ”


Suara Mama semakin tercekat menahan perih.


“Mama mohon berhentilah kamu memandang si Mbok seperti itu. Dia juga manusia yang berhak mendapatkan perlakuan yang adil selayaknya kita.”


“Iya, aku tahu itu, Ma. Tapi gak mesti berlebihan seperti ini, kan? Dia itu cuma pemban--”


“Sssttt … jangan teruskan ucapanmu yang merendahkannya, Rif!”


Aku semakin dibuat penasaran, “Ada apa, sih, Ma?”


Sesaat Mama menarik nafas panjang dan sorot matanya memandang tanpa henti ke dalam mataku.


“Karena … dia itu adalah .… ”


“Dia siapa? Si Mbok? Siapa dia?”


Sambil terpejam Mama menjawab lirih, “Dia itu Ibu kandungmu, Rif.”


“Apa?”


“Ya, dia memang Ibu kandungmu.”


Si Mbok seorang pembantu rumah tangga keluarga, semenjak Mama masih gadis remaja hingga menikah dengan Papa. Kebaikan dan kejujurannya yang tak pernah keluarga Mama temui selama ini, begitu memikat hati seluruh anggota keluarga. Sampai kemudian, kedua orang tua Mama meninggal, Mama tinggal bersama si Mbok. Dia juga yang memberikan semangat buat Mama dalam menghadapi kenyataan, atas kehilangan kedua orang tua Mama dalam sebuah kecelakaan tragis. Si Mbok dengan telaten merawat Mama yang hampir gila. Sampai kemudian Mama menganggap si Mbok adalah Ibu kandungnya sendiri.


Si Mbok juga yang meyakinkan Mama, kalau lelaki yang berniat menikahi Mama itu adalah seorang laki-laki baik dan bertanggung jawab. Kemudian Mama bersedia dinikahi Papa. Saat itulah si Mbok memutuskan berhenti bekerja di rumah kami dan pulang ke kampung halaman. Rupanya di kampung si Mbok menikah dengan seorang lelaki brengsek yang tak bertanggung jawab. Setelah menguras harta benda peninggalan warisan kedua orang tua si Mbok, suaminya pergi entah ke mana. Dan saat kepergian laki-laki itu pula, si Mbok tengah hamil.


Mama yang mengetahui keadaan si Mbok di kampung lalu mengajak si Mbok untuk tinggal bersama Mama dan Papa. Sampai dia melahirkan seorang bayi laki-laki mungil dan tampan. Itu adalah aku.


Kebetulan Mama dan Papa belum dikaruniai seorang anak. Diagnosa dokter kandungan mengatakan bahwa Mama dan Papa tak mungkin memiliki keturunan. Karena Papa ternyata mandul. Tapi itu tak menghilangkan rasa cinta Mama terhadap Papa yang memang seorang laki-laki yang baik. Untuk itulah Mama dan Papa sepakat mengadopsiku sebagai anak mereka. Hingga saat ini ….

__ADS_1


“Ya, Tuhan!” aku menjerit lirih bersimpuh di dekat tubuh tua si Mbok yang tengah terbaring lemah dengan nafas yang dibantu oleh selang oksigen, “Maafkan aku, Ibu!”


TAMAT


__ADS_2