KUMPULAN CERPEN RELIGI

KUMPULAN CERPEN RELIGI
SEMANGKUK MI INSTAN


__ADS_3

Seorang suami baru pulang kerja dan tiba di rumah dalam keadaan lelah dan lapar. Namun ternyata istrinya belum selesai menyiapkan makanan sedikit pun di atas meja makan. Dia masih sibuk mengolah bahan makanan di dapur.


“Oh, Ayah, sudah pulang? Kok, tumben agak siangan? Kenapa tak kasih tahuku dulu, kalau hari ini akan pulang cepat-cepat? Jadi … aku, kan, bisa lebih awal menyiapkan makanan buat Ayah,” sambut istri langsung meraih tangan suaminya, lalu mencium dengan takjim.


“Ada tugas kantor menemani atasan ke tempat proyek yang baru. Alhamdulillah bisa selesai lebih cepat dari perkiraan. Tadinya aku mau kembali ke kantor karena masih dalam masa jam kerja, tapi atasan memberikan dispensasi untuk bisa langsung pulang ke rumah,” jawab suami masih dengan rasa perih yang mendera perutnya.


“Oh, syukurlah kalau Ayah sudah dapat ijin dari atasan.” Sang istri tersenyum, “Ayah lapar?”


“Sepertinya begitu. Tadi aku sempat menolak ajakan atasan, makan di luar. Aku khawatir rasa masakan di luar sana akan mengurangi kenikmatan hasil masakan istri sendiri,” ujar suami sambil sesekali meringis dan meraba perutnya, “Ibu masih lama masaknya, ya?”


“Sepertinya begitu, sih, Yah! Ayah mau makan sekarang?” tanya istri sambil memperhatikan raut muka suaminya yang lusuh dengan keringat dan berminyak.


“Kalau Ibu tak keberatan, mungkin bisa buatkan mie instan untuk mengganjal rasa laparku?” jawab suaminya setengah bertanya balik.


“Baiklah, Pak Bos! Ditunggu sebentar, ya?” seru istri seraya tersenyum manis.


Lalu si suami itu pun segera berlalu dari ruangan dapur menuju ruang keluarga. Dia menyalakan televisi sambil menunggu hidangan yang dipesannya tadi.


Sementara di dapur istri sibuk menyiapkan menu masakan utama, sekaligus membuatkan semangkuk mie instan untuk suami tercinta. Mungkin karena kurang hati-hati dan tak konsentrasi, ia lupa menaburkan sesendok garam ke dalam mangkuk mie instan yang seharusnya diperuntukan untuk olahan sayur yang belum matang. Sampai kemudian mangkuk panas berisi mie instan itu pun dihidangkan ke hadapan suaminya dengan suka cita.


“Silakan dinikmati, Yah,” kata istri menambahkan cita rasa senyumnya yang masih manis dan menawan.


“Terima kasih, ya, Sayang,” sambut suami penuh bahagia.


Sang istri membalas, masih dengan senyumannya yang semakin manis dan lebar memanja. Debaran di dada menghentak, mematikan pijakan kaki di atas bumi. Membumbung daya sesaat ke awang-awang. Namun itu hanya sementara. Sampai kemudian .…


“Istriku sayang, kemarilah sebentar,” suami memanggil dengan intonasi suara setengah berteriak.


“Ya, Pak Bos? Ada apa gerangan?” tanya istri begitu muncul dari balik daun pintu dapur.


“Duduklah dekatku,” jawab suami sambil menggeser bokongnya sedikit memberikan celah kosong di sebelah untuk tempat duduk istri.


“Ada apa, Ayah?” istri kembali bertanya heran. Tatapan matanya tak pernah lepas dari pandangan suami yang sibuk menjilati bibirnya dengan ujung lidah.


“Tidak ada apa, Sayang! Hanya ingin bertanya saja.”


“Tanya apa, ya, Yah?”

__ADS_1


Mangkuk masih terisi penuh dengan mie instan. Uapnya pun masih mengepul menebarkan aroma wangi bumbu rempah.


“Kita sudah berapa lama, ya, hidup berumah tangga?” tanya suami dengan mimik muka serius.


Sang istri mengernyitkan dahi sesaat sebelum menjawab, “Hampir lima belas tahun, Yah! Memangnya ada apa, sih?”


Suami tak langsung menjawab, namun mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali, “Kapan terakhir kali kita makan bersama dan saling menyuapi satu sama lain?”


“Kalau tak salah … beberapa bulan sebelum aku hamil anak kita yang pertama, Ayah! Memangnya mengapa, sih? Ayah ingin kusuapi?”


“Kalau aku merindukan saat-saat kita dulu seperti itu … kira-kira salah tidak, ya?” suami pura-pura berpikir, namun sebenarnya tawa dia hampir saja pecah sedari tadi.


“Ayah … kayak ABG saja, ih … ” begitu respon istri mendapati sikap suaminya yang terus-terusan menggoda.


Jemari lentiknya tak luput mencubiti perut suami terkasih secara lembut. Dia segera mengambil mangkuk mie instan yang ada di hadapan mereka, mengaduk-aduk sebentar lalu perlahan mengangkatnya sebesar ukuran sendok makan yang dipegang. Perlahan memberikan satu suapan romantis pada suami yang awalnya terlihat seperti hendak menahan nafas untuk beberapa saat. Matanya terpejam seperti tengah meringis begitu satu suapan mie instan itu masuk ke dalam rongga mulut. Beraduk dalam kunyahan gigi-gigi geraham dan lipatan lidah. Hanya sesaat. Setelah itu berusaha tersenyum kecut sambil memandangi wajah istri.


Sekarang giliran istri yang disuapi. Perlahan jemari tangan suami mengambil alih penguasaan gagang sendok di tangan istri. Mengaduk dan memilin sebentar untuk mendapatkan lilitan mie instan yang erat. Lalu dengan seksama membawanya menuju bukaan mulut istri yang sudah menganga. Menuangkan dengan lembut penuh rasa kasih dan sayang. Disertai senyuman rupawan dari pemilik wajah suami yang teduh.


Sesaat istri mengunyah perlahan, kemudian berubah parasnya seperti menampakan rasa kejut yang luar biasa. Wajah cantik yang berminyak itu seketika berubah memucat pasi. Matanya terpejam menahan nafas, namun masih berusaha untuk tak memuntahkan isi mulut yang tiba-tiba serasa memuakan.


Sang suami menyodorkan segelas air putih pada istrinya. Masih tetap disertai senyuman mempesona. Mata istri lekat memandangi wajah suami penuh dengan rasa penyesalan. Ia menggelengkan kepala perlahan dan segera menelan semua isi mulutnya. Hampir saja batuk dan terasa menyakitkan menyusuri dinding tenggorokan.


Isak perih turut menghiasi suasana yang berubah menjadi hening dan mencekam, “Maafkan atas keteledoranku ini.”


Sang istri beringsut sebentar, lalu kemudian bersimpuh hendak bersujud menciumi kaki suami yang masih terlihat T-E-R-S-E-N-Y-U-M mempesona.


“Lho … lho … lho … mengapa jadi begini?” seru suami menahan laju bahu istri yang hendak membungkuk di hadapannya, “kamu ini mengapa, Bu?”


Sang istri tak kuasa lagi menahan rasa sesaknya, lalu segera menghambur memburu dada bidang suami yang tak berbulu maupun berotot. Hanya sebidang daging biasa dan masih menebar aroma asli yang berpeluh asin. Namun tempat itulah bagian ternyaman yang selalu menjadi tempat peraduan terakhir wajahnya, di saat duka tengah membara.


“Mengapa Ayah tak mengatakan dari awal, kalau mie instan itu rasanya asin?” tanya istri terisak di dalam dekapan lengan suami.


Suami tak lekas menjawab. Hanya mengusap-usap punggung istri dengan lembut, “Kalau aku mengatakannya terlebih dahulu, itu berarti hari ini aku akan kehilangan kenikmatan linangan air mata istri di dadaku sendiri. Belum tentu kamu bersedia membenamkan wajahmu di sini dengan bau tubuhku yang masih lusuh … ”


“Ayah marah, ya?” tanya istri kembali.


Dia pikir, di saat hati dipenuhi dengan rasa penyesalan dan permohonan maaf, bau tubuh suami itu justru lebih mewangi dari semerbak aroma apa pun yang ada di dunia ini.

__ADS_1


“Apakah aku terlihat seperti seorang suami pemarah atau yang sedang marah?” dilepaskannya dekapan lengan kekar itu, lalu dengan lembut memegang kedua bahu istri. Memandangi wajah jelita yang sudah berkenan hidup bersama beberapa belas tahun ini, “Istriku … Allah menciptakan segala sesuatu dengan segala lawannya. Hanya ada dua. Hitam dan putih. Laki-laki dan wanita. Siang dan malam. Begitu seterusnya. Nah … jikalau istriku tengah bersedih, salahkah aku jika menghadapinya dengan senyuman? Jikalau istriku khilaf, benarkah aku menjawabnya dengan sikap pemakluman? Sekarang istriku meminta ma’af, rasanya tak elok bila kusapa dengan kemarahan, kan? Semua orang bisa marah bahkan Rasulullah sendiri pernah marah. Tapi murka adalah seburuk-buruknya puncak nafsu angkara. Kemarahan tak semestinya diungkapkan dengan suara lantang mendzalimi urat leher. Namun dengan sedikit sentuhan senda gurau, rasanya akan menjadi sebuah hiburan yang bercita rasa sendiri. Sehingga luka pun akan enggan menggores tepian hati … ”


“Lalu apakah yang Ayah lakukan tadi? Kemarahankah?”


Sang suami kembali tersenyum, “Yang lebih aku khawatirkan adalah kamu, Bu! Bukan aku. Kalau sampai aku marah dan menorehkan rasa sakit pada kelembutanmu, aku takut anak-anak akan turut pula merasakan ketidakbahagiaanmu … ”


“Kok, bisa, Yah?”


“Masakanmu untuk kami akan terasa asing rasanya. Itu berarti akan mematikan kenikmatan sementara di saat-saat kita berkumpul bersama … ” suami mendekap kembali tubuh istrinya, “semangkuk mie instan itu telah memberikan cerita pada dunia, bahwa menjadi seorang istri sekaligus ibu anak-anak di waktu yang bersamaan itu tidaklah mudah. Jika kesempurnaan itu adalah sebuah hal yang mustahil, maka menjadi lebih baik itu adalah sebuah pilihan. Ayah juga minta ma’af, seharusnya tadi kita sama-sama berjibaku di ruang dapur itu. Tapi dengan semangkuk mie instan hari ini, Ayah mendapat rejeki yang tiada terkira.”


“Apa itu, Yah?”


“Kamu sanggup bertahan lama dalam pelukan tubuhku yang bau asem.”


Sang istri tertawa sambil mengelap sisa air matanya yang tergenang di pelupuk mata.


“Kalau begitu … biar aku buang saja rebusan mie instan ini. Aku ganti dengan yang baru, ya?”


“Jangan.”


“Mengapa?”


“Membuang-buang makanan itu adalah sebuah perbuatan yang tak baik dan mubadzir.”


“Lalu siapa yang akan memakannya dengan rasa yang asin seperti ini?”


“Tambahkan air panas dan sedikit gula. Rasanya pasti tak akan sama persis dengan yang sekarang, Bu!”


“Ayah mau menghabiskannya?”


“Akan lebih baik lagi jika kita berdua saja yang memakannya. Seperti tadi … saling menyuapi. Mau tidak?”


Sang istri mengangguk perlahan disertai seulas senyum manis.


Ah … senyuman itulah yang dulu sempat membuat hari-hari tak pernah damai dalam kesendirian. Senyuman itu pula yang menyambut status baru saat usai mengucap akad nikah.


Ah … seandainya semua orang berkenan untuk menghadapi setiap permasalahan dengan tersenyum, rasanya dunia akan sepi dari pekik pita suara manusia. Namun yang jelas, semangkuk mie instan itu tadi, telah membawanya kembali pada kaledoskop sejarah kehidupan yang hampir terlupakan.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2