KUMPULAN CERPEN RELIGI

KUMPULAN CERPEN RELIGI
ANTARA AKU, KAU, DAN MERTUA


__ADS_3

Suatu ketika pada sebuah acara pertemuan keluarga di rumah mertua, tibalah waktunya makan bersama. Berbagai macam makanan terhidang dengan citarasa dan aroma yang menggoda. Semua hadir menikmatinya dengan sukacita, terkecuali aku.


“Abi, mengapa belum juga menyentuh makanan yang sudah aku siapkan di depanmu itu?” tanya istri padaku yang sudah duduk bersila di sampingnya.


Aku melirik sesaat pada istri yang tengah melahap makanan dengan nikmat.


Lalu aku pun berkata, “Apa yang kau masak untukku hari ini, Umi?”


“Hari ini aku tak masak apa-apa, Abi! Hanya memasak air putih dan sudah kusiapkan di samping makanan Abi! Semua yang terhidang di sini adalah hasil masakan ibuku sendiri,” jawab istri sambil mendekatkan gelasku.


“Mengapa kau tak ikut membantu masak bersama ibumu, Umi?”


Istriku mulai gelagapan dan berusaha untuk menjawab dengan suara yang sedikit terbata-bata, “Tadi … aku berkumpul dan berbincang banyak dengan saudara-saudara lain. Sampai tak sempat membantu ibu. Makanya, aku hanya bisa menyiapkan air minum itu, Abi. Maaf.”


“Baiklah … kalau begitu, Abi hanya mau meminum air putih ini saja! Karena hanya inilah satu-satunya hasil yang dikerjakan oleh istriku sendiri hari ini,” kataku sambil mengambil gelas yang berada tak jauh dari sepejangkauan.


“Abi … ” sahut istriku terkejut.


“Umi silakan lanjutkan makannya! Biar Abi minum air putih ini saja ya.”


Semua yang ada di ruangan itu tiba-tiba seperti terhipnotis, diam di tempat. Tak ada satu pun yang berniat menghabiskan sisa makanan yang masih banyak terhampar di depan mata.

__ADS_1


“Apakah masakanku tak enak rasanya, Nak? Istrimu serta saudara-saudaranya yang lain sudah terbiasa dengan makanan yang kumasak sendiri. Lalu mengapa anak menantuku yang satu ini tak mau menghargai masakan mertuanya sendiri? Apa yang salah, Nak?” tiba-tiba ibu mertuaku ikut bersuara.


Dari raut wajahnya, tampak sekali bahwa beliau tak senang dengan sikapku tadi.


“Mohon ma’af ibu mertuaku. Bukan begitu maksud ananda menantumu ini. Sekali lagi mohon ma’af, bila ananda lancang bersikap,” jawabku sambil tersenyum lembut.


Bapak mertuaku menenangkan istrinya dan meminta agar semua dihadapi dengan harmonis.


“Mohon ma’af juga kepada semua anggota keluarga yang hadir di sini, acara makannya jadi terganggu karena kesalahanku. Semua sudah terlanjur terjadi, aku harus bertanggungjawab dengan menjelaskan alasan atas sikapku tadi.”


Ibu mertua menatapku dengan sorot mata yang tak sedap. Mungkin beliau masih tersinggung.


“Begini, aku ini adalah salah satu anak lelaki yang terlahir dari rahim ibuku. Begitu juga dengan saudara-saudariku yang lain. Kami semua pernah menetap sementara di rahim yang sama. Ibu kandung kami,” kumulai menjelaskan sambil menatap seisi ruangan itu, “sejak lahir, aku sudah terbiasa menikmati air susu ibuku sendiri. Dan sejak mulai mengenal nasi, aku sudah terbiasa menikmati semua masakan yang disajikan oleh ibu hingga jelang menemukan jodohku sendiri. Dialah istriku, yang saat ini tengah duduk termenung di sampingku.”


“Dari kecil aku sudah terbiasa menikmati setiap makanan apa pun yang diberikan oleh ibuku. Jemari kasar beliau yang pecah-pecah dan kuku menghitam di ujungnya, begitu telaten menyuapiku hingga tumbuh berdaging seperti sekarang ini. Bagiku, tak ada seorang koki pun di dunia ini yang bisa mengalihkan kekagumanku akan kenikmatan masakan ibuku.”


“Hingga suatu ketika, aku harus berdusta demi menyenangkan seseorang. Kulahap habis semua yang dia hidangkan, padahal rasanya terlalu asin. Kunikmati semua yang dia berikan, padahal rasanya hambar. Lelaki mana yang rela berkorban mengelabui lidahnya sendiri, dan berupaya menutupi kebohongannya dengan ucapan … ‘masakanmu enak sekali’ … dari istrinya sendiri. Padahal kalau saja aku mau jujur, ingin rasanya saat itu aku berlari ke dapur ibuku dan memohon kepada beliau agar mau mengajari menantunya memasak seperti masakan ibu.”


“Jangan pernah meminta para kaum suami di dunia ini untuk berkata jujur tentang masakan istrinya, karena sampai kapan pun juga, mereka akan tetap mencintai masakan ibunya sendiri.”


Semua terdiam, sampai suatu ketika bapak mertuaku ikut bersuara di sana, “Lalu apa hubungannya antara ceritamu dengan masakan ibu mertuamu tadi, Nak?”

__ADS_1


Aku tersenyum.


“Pak, di saat aku sudah mulai terbiasa menikmati masakan istriku, apakah salah jika aku merasa takut lidahku ini akan terganggu dengan nikmatnya masakan ibu mertuaku? Seleraku akan berpaling mencintai masakan mertuaku. Padahal tak mungkin aku akan bisa makan dengan hasil masakan ibu mertuaku setiap hari, bukan? Kemudian … di saat acara kebersamaan seperti ini, mengapa harus ibu mertuaku yang justru melayani kami seorang diri, bagai seorang pembantu rumah tangga? Ke mana anak-anak perempuan mertuaku yang sudah terbiasa melayani menantu-menantunya? Seharusnya ibu mertuaku duduk manis, memperhatikan anak-anak perempuannya yang tengah masak, lalu menyicipi satu per satu hasil masakan mereka. Jika bumbunya sudah sesuai, berilah mereka pujian. Perbaiki bila masih terdapat kekurangan. Di situlah ... kami para suami, akan berbangga hati ketika istri-istri kami mulai menawari dan mengajak kita makan bersama … seperti tadi.”


Tiba-tiba bapak mertua bangkit dari duduknya. Beliau segera menghampiriku.


“Bangunlah, Nak!”


Aku menuruti perintah beliau. Berdiri berhadapan sambil bertatapan mata satu sama lain. Kemudian .…


“Lanjutkanlah ... apa yang menjadi keinginanmu, Nak. Aku sebagai bapaknya memang sudah tak lagi memiliki hak atas anak-anak perempuanku. Semua sudah kuserahkan padamu. Ajari dan didiklah anak perempuanku, agar bisa menjadi istri yang sesuai dengan tuntunan agama. Aku bangga padamu, Nak,” bapak mertua memelukku dengan erat.


“Ma’afkan Ibu juga, Nak. Tadi Ibu sempat salah faham dengan sikapmu itu. Tapi kini, sudah memahami semuanya. Terima kasih. ya. telah menyadarkan kami semua, Nak.” Ibu mertua ikut memelukku.


“Aku juga, Abi. Ma’afkan atas kekhilafanku,” istri meraih tanganku kemudian mencium dengan takzim, “lalu … setelah ini, apakah Abi akan mau makan bersama kami?”


Aku diam sejenak sambil berpikir, “Baiklah! Buatlah sebuah masakan untukku walaupun hanya semangkuk mie instan.”


Semua yang hadir tertawa.


Istriku hanya tersenyum malu, kemudian segera berlalu menuju dapur.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2