
Jarum jam sudah menunjukan tengah malam. Waktu di mana hampir semua umat bernyawa tengah terlelap, dibuai dalam hangatnya dekapan mimpi. Sebagaimana alam yang damai dipayungi semilir menyejukan, setelah seharian penuh dipanggang sang mentari yang bergelayut manja di atas langit sana.
Sementara aku sendiri malah masih terjaga di atas pembaringan. Rasa kantuk yang dirindukan, belum juga hinggap di pelupuk mata yang mulai terasa perih. Berbatang-batang rokok kuhisap sudah, untuk sekedar mengusir rasa suntuk. Sampai lidahku terasa kesat saat menelan liur.
Risma istriku, sudah terlelap di samping. Berbalut selimut tebal yang menutupi sekujur tubuhnya. Wajah tanpa hiasan make up dan putih mulus, begitu sejuk kupandang di bawah terpaan bayang lampu tempel yang temaram.
Ah, Risma memang seorang istri yang super lengkap. Aku tahu, dia sangat mencintaiku. Rela menyerahkan seluruh raga, jiwa, serta berusaha keras menjaga marwahnya demi kehormatan sang imam keluarga. Aku percaya sekali, dia selalu berusaha terbuka dan jujur. Sampai sedetil apa pun yang ada di dalam hati, kerap dia ungkapkan, hanya padaku. Oleh sebab itulah. aku merasa bangga sekali karenanya.
Tapi itu sangat berbalik kenyataan denganku sendiri, karena justru akulah yang sampai saat ini masih memendam banyak rahasia hidup terhadapnya. Apakah karena belum menemukan waktu yang tepat untuk membuka tabirku ini ataukah khawatir melukai perasaannya? Entahlah, yang pasti hingga saat ini rasa itu kerap kali mengusik hari-hariku.
Risma terbatuk beberapa kali. Asap rokok yang memenuhi ruangan, kiranya membuat nafasnya sesak. Padahal jendela kamar sudah kubuka untuk mengusir kepungan nikotin yang menyerang rongga paru. Dia terbangun sebentar. Memperhatikanku yang masih terjaga dengan batang rokok yang menempel di antara lipatan bibir.
“Mas Arya belum tidur?” tanya Risma seraya bangkit dari goleknya.
Aku menoleh sesaat ke arahnya, kemudian segera mematikan rokok dalam sebuah asbak yang tergeletak di samping tempat tidur.
“Aku belum ngantuk, Sayang,” jawabku lembut di depan wajahnya yang putih cantik.
“Kenapa? Ada sesuatu yang mengganggumu, Mas?” tanya Risma lagi masih dengan sorot mata sayu.
Aku hanya menghempaskan nafas. Memalingkan pandangan mataku ke arah lain. Tepatnya keluar jendela yang gelap dan dingin.
“Aku hanya tak bisa tidur saja, Sayang. Tak ada yang lain,” jawabku kembali tanpa melihat sedikit pun ke arah Risma.
“Kalau Mas Arya punya masalah dan kemungkinan aku bisa membantu, aku siap mendengarkannya sekarang juga, Mas.”
“Tidurlah kembali, Sayang. Aku tak apa-apa. Hanya ingin menikmati keheningan malam ini sendirian.”
Risma memperhatikan asbak rokok yang ada di dekatku. Penuh dengan sisa puntung rokok. Itu artinya aku sudah banyak menghisap asap rokok malam ini. Dan pula berarti bahwa selama itu aku terhanyut dalam pikiran sendiri.
“Mas Arya perlu kubuatkan kopi?” mata Risma masih lekat memperhatikan sikapku yang enggan bertatapan mata dan menduga-duga, apa yang tengah ada dalam benak ini.
'Ya, Tuhan! Siapa bilang wanita itu makhluk lemah? Nyatanya dia mampu merasakan apa yang sedang kusembunyikan!' gumamku dalam hati.
“Terima kasih, Sayang. Aku bisa melakukannya sendiri. Lebih baik kamu tidur saja, ya? Nanti aku menyusul,” kukecup lembut keningnya, lalu menarik selimut tebal dan hangat untuk menutupi tubuhnya.
“Tapi aku ingin, kamulah yang mengantarku ke alam mimpi,” Risma berbisik pelan dan hangat di dekat daun telingaku.
Sesaat kutersenyum dan mencubit gemas ujung hidungnya. Seringai manjanya seketika terseruak di antara deretan giginya yang putih.
“Aku cinta kamu, Mas,” bisik Risma.
“Aku juga, Sayang.”
Risma menyandarkan kepalanya di atas dadaku yang bidang. Beberapa kali hembusan nafasnya hangat terasa menyentuh. Detak jantungnya mengalun teratur menggelitik kulit perutku. Sampai kemudian, perlahan mata itu mengatup dengan sempurna menjemput buaian alam peraduan.
Aku tak berani bergerak menjauh, apalagi melepas belitan tangannya yang melingkar erat di perutku. Khawatir terbangun dan mendapatiku masih dalam keadaan terjaga dengan lamunan. Kubiarkan Risma terlelap semakin dalam, sementara aku sibuk kembali dengan kecamuk yang ada di dalam kepala.
Terngiang kembali kejadian tadi sore ....
Selepas jam pulang kerja, aku dan rekan-rekan kantor, berkumpul di sebuah resto yang tak seberapa jauh letaknya dari tempat kerja. Acara kecil-kecilan, sekedar memperingati hari kelahiran salah satu rekanku.
Tak terlalu lama kami di sana, karena masing-masing harus segera kembali ke rumah. Maklum kaum perumah tangga. Tak bisa berleha-leha berada di luar tanpa didampingi istri. Selain merasa tak nyaman, juga karena handphone kami kerap membunyikan nada notifikasi pesan yang masuk. Isinya senada. Dari rumah. Siapa lagi kalau bukan dari istri.
Begitu acara usai, kami bergegas membubarkan diri dan langsung pulang ke rumah. Tak terkecuali denganku.
Setelah berpamitan satu dengan lainnya, aku segera melangkah cepat menuju pelataran parkir kendaraan. Namun secara tak sengaja, di ujung pintu keluar, aku bertemu dengan seseorang yang sangat dikenal namun sudah lama tak lagi berjumpa. Seorang wanita yang usianya tak jauh baya denganku. Mengenakan busana terbuka yang memperlihatkan lekuk tubuh dan kakinya yang jenjang. Dia berhenti dan menatapku dalam-dalam, begitu kami berpapasan. Di sampingnya berdiri seorang laki-laki putih tinggi serta berwajah kearaban dipenuhi brewok lebat.
“Mas Arya,” sapa wanita itu pelan, seakan ragu dengan nama yang dia sebutkan sendiri. Matanya tajam menguliti sekujur tubuhku yang masih mengenakan seragam kantor lusuh dan berkeringat.
“Myesha.” tiba-tiba kuteringat satu nama itu, begitu mengenali sosok yang menyapa tadi.
“Ya, Tuhan! Kamu ... Mas Arya, kan?” tanya wanita yang kupanggil Myesha itu. Beberapa kali kulihat dia membelalakan mata, seakan belum percaya dengan penglihatannya.
“Ya, aku Arya ... dan ... kamu Myesha, kan?”
Kami sama-sama tertawa tertahan di antara aduan tatap mata. Sampai-sampai laki-laki bule yang berdiri di samping Myesha tertegun heran.
“Who’s he, Dear?” tanya laki-laki brewok itu pada Myesha.
“Ups, I’m sorry! I forget! This’s Arysa … he’s my ex .… ” sesaat Myesha melirik ke arahku lalu beralih pada laki-laki yang ada di sampingnya, “I mean … he’s my old friend.”
Aku tersentak dengan jawaban Myesha barusan. Tapi gerakan mata Myesha seakan memberi kode bahwa aku harus diam untuk saat itu.
“Oke, Mas Arya, ini Fathan, suamiku,” Myesha memperkenalkan sosok laki-laki kearaban yang ada disampingnya, “Fathan’s my husband.”
Kami bersalaman satu sama lain. Tapi sesekali mataku mencuri pandang Myesha, seakan ingin memastikan bahwa sosok wanita yang kutemui saat itu memang benar-benar Myesha. Sosok yang dulu pernah mengisi hari-hariku.
Ya betul. Aku dan Myesha dulu memang pernah dekat sekali. Bukan sebuah hubungan biasa. Namun sebagai sepasang suami-istri.
Hampir enam tahun kami bersama dalam jalinan rumah tangga. Sampai akhirnya harus berpisah karena desakan ibuku. Bukan karena masalah restu, namun karena selama enam tahun itu pula, kami belum dikaruniai momongan. Sehingga ibu mendesakku untuk segera menikah lagi dan memberinya seorang cucu.
“Ibu ini sudah tua, Arya. Selama ini Ibu sudah sabar menunggu kelahiran cucu Ibu dari kalian. Tapi mau sampai kapan?” begitulah yang kerap kali Ibu ucapkan bila bertemu denganku.
“Ya, sabar saja, Bu. Mungkin Tuhan belum mengizinkan kami untuk memiliki keturunan,” itu pula yang menjadi jawabanku jika Ibu sudah memulai pembicaraan perihal anak.
“Sampai kapan? Kalian sudah enam tahun berumah tangga, dan selama itu pula Ibumu ini menunggu. Mau sampai kapan lagi? Atau jangan-jangan … ” Ibu mulai menduga-duga.
“Tidak, Bu. Kami tak mempunyai masalah apa pun. Kami sudah periksa dan konsultasi ke dokter. Hasilnya kami berdua sehat-sehat saja. Ini hanya masalah waktu saja, Bu.”
“Kalau kalian sehat, mengapa sampai saat ini belum juga punya anak?” tanya Ibu, lagi-lagi tak percaya dengan penjelasanku.
“Tuhan belum ngasih, Bu. Sebagai manusia, kita hanya bisa berusaha … ”
Ibu tetap tak mau mengerti. Sampai kemudian beliau pun jatuh sakit. Cukup lama harus selalu dalam penanganan dokter keluarga. Selama itu pula tak pernah berhenti berbicara masalah keturunan.
“Arya, mungkin umur Ibu tak akan lama lagi. Ibu ingin sekali, semasa Ibu hidup, bisa melihat cucu. Kamu anak Ibu satu-satunya. Hanya kamu yang Ibu miliki saat ini. Ayahmu sudah lama meninggal, pergi menghadap Tuhan. Dia sudah damai di alam sana. Berdosakah Ibu jika berharap keinginan ini terpenuhi, walaupun hanya sesaat?” air mata Ibu mulai meleleh membasahi wajah tuanya. Di saat seperti itulah, aku merasa remuk melihat tangis wanita yang sangat kucintai itu. Tak bisa berbuat apa-apa, terkecuali terus menghibur beliau dan berharap untuk tetap bersabar.
Keluhan Ibu rupanya didengar Myesha. Dia merasa bersalah dan memintaku untuk segera menceraikannya. Tentu saja kutolak. Karena aku juga sangat mencintai istriku itu. Namun di sisi lain, teramat menyayangi ibu.
“Menikahlah lagi, Arya,” begitu akhirnya ibu memberikan jawaban, ketika kami berdua menghadap beliau, “walaupun harus memadu istrimu yang masih kamu cintai itu.”
Hati Myesha terasa hancur dan perih. Sakit sekali karena harus menerima kenyataan, berada di antara dua pilihan yang teramat berat. Bercerai ataukah tetap bersatu dengan konsekuensi harus berbagi suami dengan wanita lain.
Akhirnya Ibu menemukan seorang wanita pilihannya. Cantik dan berhijab. Berbeda sekali penampilan dengan Myesha yang kerap kali mengenakan busana terbuka dan modis. Risma nama sosok wanita itu. Seorang gadis lembut dan santun, yang merupakan anak dari teman lama Ibu.
Satu hari sebelum aku diperkenalkan dengan Risma, Myesha memilih pergi dari rumah tanpa sepengetahuanku. Dia hanya meninggalkan secarik surat permohonan maaf, karena harus pergi jauh meninggalkanku. Sekaligus meminta cerai saat itu juga. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi mencari keberadaan Myesha yang tak diketahui jejak rimbanya. Dia benar-benar menghilang bak ditelan bumi.
Kemudian aku pun menikahi perempuan pilihan Ibu, Risma, dengan sangat terpaksa, demi membahagiakan Ibu. Berharap dari pernikahan keduaku itu, semoga lekas memberikan keturunan sebagaimana yang diinginkan Ibu.
Tapi apakah mampu melakukannya? Sementara aku sama sekali tak mencintai Risma. Dalam hatiku selalu saja terbersit nama Myesha … Myesha … Myesha ….
Suatu ketika, jelang pelaksanaan akad pernikahan, Risma menangis pilu.
“Aku mohon maaf, Mas Arya,” ujar Risma lirih.
Suaranya tercekat menandakan bahwa perempuan ini tengah menahan rasa sakit yang mendalam di sanubarinya yang terdalam.
“Maaf kenapa, Ris?” tanyaku bingung.
“Aku mau berterus terang padamu sebelum pernikahan kita ini dilaksanakan,” ujarnya kembali sambil mengusap air mata yang tak mau berhenti mengalir, membasahi pipinya yang sudah dilapisi bedak tebal, “aku berharap Mas Arya jangan marah atau tersinggung.”
Aku menelan ludah pahit. Berusaha tegar dengan hati berdebar.
“Baiklah, aku berjanji. Apa pun yang kamu ucapkan, aku akan terima dengan lapang dada.”
Risma membuka matanya yang basah. Menatapku dalam-dalam. Seakan benar-benar berharap agar aku ikhlas menerimanya dengan semua yang dia miliki.
“Aku tahu kamu masih mencintai istrimu, Mas Arsya. Dan aku juga tahu bahwa kamu tak mencintaiku sepenuh hati, tapi Mas Arya rela menerimaku demi Ibumu, kan?”
Aku tak sanggup menjawab dengan suara. Hanya mampu menganggukan kepalaku perlahan. Risma menarik nafas panjang. Sekedar ingin melonggarkan rongga pernafasannya yang terasa kian menyesak.
“Perlu kamu ketahui, Mas, aku pun mengalami hal yang sama,” tangis Risma kembali meledak di antara hembusan nafasnya yang tak beraturan.
“Maksudmu?” aku belum begitu paham dengan apa yang Risma ungkapkan barusan.
Perempuan cantik itu menundukan wajah. Rasanya tak sanggup menatap mataku yang kian dilanda bingung luar biasa.
“Aku juga terpaksa meninggalkan seorang laki-laki yang teramat kucintai. Tiga tahun kami menjalin hubungan, dan dia pernah berjanji untuk tak akan pernah meninggalkanku. Sementara kenyataannya, justru akulah yang harus melepasnya demi Ibuku.”
Aku tersentak, serasa lemah dengan semua daya yang ada dalam tubuh. Aku harus tetap berusaha tegar dan kuat berada di hadapan Risma.
Perlahan wajah perempuan itu terangkat namun tetap dengan mata tertutup. Tak berani melihat wajahku yang mulai memucat pasi.
“Ibu memintaku untuk menerima lamaran Ibumu dan menikah denganmu, Mas. Aku tak kuasa menolaknya. Aku tak ingin melukai maupun mengecewakan hati Ibuku. Setitik air mata yang keluar dari kelopak mata beliau karenaku, itu akan menjadi dosa besar yang akan menghalangiku menggapai ridho Allah. Itu yang kuyakini selama ini,” ujar Risma setengah berbisik, tak sanggup mengeluarkan suaranya yang tertahan.
Sakit sekali rasanya.
Tak sadar, aku pun memejamkan mata dengan rasa perih yang.
“Kita sama-sama hanya memiliki seorang ibu. Sementara Ayah-ayah kita telah lama menghadap Sang Maha Pemilik Kehidupan. Tak ada jalan lain, selain harus bersatu serta berpijak di atas landasan jalan yang sama, walaupun dengan rasa perih. Demi sama-sama membahagiakan sosok orang yang sangat kita cintai. Kita harus tetap menikah, Ris.”
“Insyaa Allah.”
“Kita sama-sama tak saling mencintai. Namun dengan rasa cinta pada ibu-ibu kita, semoga menjadi bekal kelak, untuk tetap bertahan dalam merajut hubungan ini, kekal hingga ajal datang menjemput … ”
“Aamiin, Mas.”
Akhirnya aku pun menikahi Risma. Kami telah resmi menjadi pasangan suami-istri.
Hanya selang beberapa bulan, doa-doa kami dikabulkan oleh-Nya. Risma positif hamil. Tentu saja ini menjadi sebuah berita yang sangat menggembirakan. Tak terkecuali bagiku sendiri. Ini sebagai bukti bahwa aku tak memiliki masalah dengan kesuburan itu. Entahlah dengan Myesha. Tapi dari hasil pemeriksaan dokter dulu mengatakan, bahwa kami sama-sama sehat. Namun mengapa belum juga berhasil mempersembahkan generasi keturunan yang baru?
Tak terasa, kehidupan rumah tangga kami sudah berjalan dari masa ke masa. Sosok-sosok mungil yang baru, terlahir kembali dengan selamat dan elok. Tiga manusia-manusia penerus darahku terlahir dari rahim Risma. Sejalan dengan itu, benih-benih cintaku dan Risma mulai bersemi. Aku begitu menyayangi Risma. Dia benar-benar sosok wanita yang cantik, lembut, santun sekaligus religius. Dia tahu sekali bagaimana harus bersikap dan memperlakukan keluarga dengan dasar-dasar agama. Tak pernah sekali pun dalam kehidupan rumah tangga kami, dia berani mengeluarkan nada suara yang tinggi atau pun sekedar membelalakan mata di saat marah. Dia benar-benar baik. Karena itulah, aku semakin dibuatnya jatuh cinta.
“Mas Arya.”
Satu suara menghentakan lamunanku, sesaat setelah mengenang masa-masa lalu itu.
“Risma ....” aku tersentak kaget.
“Siapa Risma? Istrimu?”
“Eh, Myesha! Maaf … Aku ... barusan .… ”
Tadi itu suara Myesha yang membuyarkan lamunanku. Wanita itu masih berada di depanku bersama sosok laki-laki yang tadi kukenal bernama Fathan.
“Risma itu nama istrimu, Mas?” tanya Myesha lagi.
“Ya, dia istriku.”
Ada senyum kecut di bibir Myesha, begitu mendengar nama Risma serta melihat sikapku yang mendadak gelagapan tak menentu. Entahlah, apa yang ada dalam benak mantan istriku itu. Marah, terkejut, kecewa ataukah cemburu. Aku sendiri tak tahu. Tapi yang pasti, sisa rasa cinta ini pada Myesha masih ada. Mungkin tak sebesar cintaku pada Risma sekarang.
Di saat-saat seperti itu, datanglah seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang baru turun dari kendaraan, lalu menghampiri kami. Kedua anak itu memburu Myesha dan Fathan.
“Oh, my God! I almost forget you two. Here they are ... my children,” sahut Myesha membuyarkan kekakuan.
Fathan lebih banyak terdiam sambil memainkan ponselnya. Sesekali lelaki brewokan itu memperhatikan kami.
“Your kids?” tanyaku tak percaya pada ucapan Myesha barusan.
“Yes, sure. Me and Fathan. Why? Any weird here?” Myesha balik tanya.
“Kamu yang melahirkan mereka?” aku masih tetap tak percaya.
“Ya, Tuhan! Ini anak-anakku yang terlahir dari rahimku sendiri, Mas,” Myesha berusaha menyakinkan.
Aku memperhatikan satu persatu anak-anak Myesha dan Fathan itu. Terutama yang laki-laki. Sepertinya usia anak itu tak jauh dari usia anakku yang pertama. Mungkin agak lebih tua anak Myesha. Sementara anak kedua Myesha yang perempuan pun, sepertinya hampir sebaya dengan usia anakku yang kedua.
__ADS_1
“Kenalin … yang sulung ini namanya Azka,” Myesha memperkenalkan anak-anaknya, “yang kedua, namanya Qisya.”
Aku perhatikan wajah kedua anak ini agak berbeda. Yang perempuan memiliki darah campuran Arab, sepertinya Ayahnya. Yang laki-laki memiliki wajah kontras, sebagaimana pemilik darah lokal. Wajah anak yang satu itu mengingatkan pada anakku yang pertama. Sama-sama laki-laki, maksudnya.
Pertemuan kami tak lama dan harus segera diakhiri. Fathan meminta anak istrinya untuk segera masuk ke dalam resto. Sementara aku pun harus segera bergegas pulang, karena Risma kerap meneleponku. Akhirnya kami berpamitan.
Jelang perpisahan tadi itu, Myesha masih sempat menoleh ke arahku dengan pandangan yang mengandung arti tertentu. Di antara bias matanya, seakan memberi sinyal bahwa dia masih menginginkan pertemuan itu terulang kembali.
Entahlah, pikiran ini sendiri sulit dikenali. Masih digelayuti rasa kejut dengan peristiwa yang baru saja kualami itu.
Sayup-sayup dari kejauhan, aku mendengar alunan ayat-ayat suci yang berasal dari pengeras suara. Sudah tahrim rupanya. Itu pertanda bahwa beberapa saat lagi, subuh akan segera tiba.
Aku masih terjaga dengan lamunanku. Belum bisa kupejamkan mata, walau sesaat. Sementara Risma masih tertidur pulas di dadaku dengan nikmatnya.
Perlahan tanganku bergerak turun memasuki selimut tebal yang menutupi sekujur tubuh Risma. Membelai setiap lembar rambutnya yang terurai panjang.
Sesaat tubuh Risma bergerak.
“Mas .… ”
Risma terbangun.
“Kamu terbangun?”
Risma tersenyum sambil mengusap dadaku.
“Mas ingin?” tanya Risma berbisik pelan.
Aku tak menjawab. Namun seringai kecil di bibir ini rupanya sudah cukup memberi jawaban. Dia tersenyum manis
Pagi yang dingin itu pun kembali membara. Hawa panas yang terpancar seketika dari pembaringan, seketika bergemuruh dan berguncang hebat menyongsong waktu subuh.
* * * * *
Sejak pertemuan dengan Myesha itu, aku merasa seperti ada sesuatu yang berbeda pada diri ini. Hari-hariku kerap diisi dengan bisu dan lamunan yang berkepanjangan. Walau bagaimana pun juga, jujur harus kuakui, bahwa rasa cinta pada mantan istriku dulu itu masih tetap ada. Perpisahan yang tak dikehendaki dan begitu tiba-tiba, di saat kuberada dalam posisi dilematis.
Tanpa disadari sebelumnya, sebulan setelah pergi meninggalkanku, Myesha mulai menyadari kalau ternyata dia tengah hamil. Untuk kembali, itu tak mungkin. Karena di saat itu, aku pasti tengah menikmati hari-hari baru bersama Risma. Maka Myesha memutuskan untuk menetap sementara di sebuah tempat yang jauh dari kota yang kutinggali.
Di tempat barunya, Myesha merawat dan mengurus sendiri kandungannya yang kian hari kian membesar. Dalam kondisi prihatin dan hidup terlunta-lunta, di sana pula Myesha bertemu dengan seorang laki-laki bernama Fathan. Laki-laki itu menawarinya untuk tinggal bersama. Myesha tak kuasa menolak karena keadaannya saat itu memang sangat membutuhkan pertolongan.
Tadinya Myesha bermaksud untuk pergi dari rumah Fathan, begitu anaknya terlahir. Lagi-lagi karena kondisi ekonomi yang serba tak menentu serta membutuhkan biaya hidup untuk diri dan anaknya, Myesha mengurungkan niatnya.
Fathan laki-laki yang baik. Dia tak pernah menuntut apa-apa dari Myesha. Tapi entah mengapa, semakin lama Myesha tinggal di sana, semakin besar beban budi yang dia emban. Myesha merasa bahwa laki-laki itu menyukainya. Sampai akhirnya ….
“Mengapa dulu kamu tak berusaha untuk pulang kembali padaku, Myesha? Setidaknya, walaupun dengan keadaan yang sudah berbeda dengan istri baruku, tapi masalahnya tak akan serumit seperti sekarang ini, kan?” nada suaraku sedikit meninggi di saat pertemuan kami berikutnya di tempat yang berbeda, “apalagi dengan Azka.”
Ya, aku dan Myesha mengadakan janji pertemuan ketiga, setelah berhasil bersua untuk kali kedua di tempat yang sama beberapa waktu yang lalu.
Myesha menundukan wajah. Tampak sekali kesedihan yang teramat sangat, tergambar di sana, lengkap dengan deraian air mata yang tiada berhenti.
“Aku minta maaf atas kebodohanku, Mas! Aku terlalu bodoh dan tak mampu menahan rasa cemburuku, membayangkan kamu akan menikahi Risma. Tapi justru apa yang kulakukan saat itu karena aku sangat mencintaimu, Mas.”
“Cinta apa yang kamu miliki sampai-sampai pergi tanpa pernah berbicara sedikit pun padaku? Berbulan-bulan aku berusaha mencarimu, selama itu pula aku selalu tersiksa dilanda rasa bersalah yang teramat besar. Aku harus hidup di antara dua sisi yang berseberangan. Di satu sisi, aku merasa kecewa padamu dan di sisi lain aku harus berusaha mencintai Risma. Di saat bayangmu sudah mulai mereda, kini kamu kembali dengan masalah baru yang lebih perih kurasakan … ”
“Aku tahu … aku mohon maafmu, Mas.”
“Ternyata setelah sekian lama kita bersama, kita masih belum bisa sepenuhnya berpijak pada satu landasan cinta. Keegoisan masih kerap mengisi celah-celah kekurangan kita. Aku dan kamu tak sabar dengan kondisi saat itu, Myesha.”
“Tapi bukankah itu juga karena sikap ibumu yang--”
“Jangan singgung ibuku dalam masalah ini, beliau hanya menginginkan impiannya segera terwujud. Tapi tak pernah menyuruh kita untuk berpisah!”
Myesha terdiam. Sementara aku sendiri larut dalam kecamuk perasaan yang tiada menentu.
“Bagaimana kabar anak-anakmu? Azka dan .... ” tanyaku tiba-tiba dalam keheningan yang melanda kami sesaat.
Myesha menatapku pedih sambil gelengan kepala.
“Lalu bagaimana dengan anak perempuanmu … yang bernama … siapa, ya? Aku lupa.” Aku memijit-mijit kening yang mulai terasa pusing.
“Qisya.”
“Ya, itu … Qisya.”
“Mereka berdua masih menganggap Fathan sebagai ayah mereka,” jawab Myesha pelan.
“Masih menganggap? Apa maksudmu, Myesha?” aku sedikit heran dengan jawaban Myesha barusan, “sepertinya ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari hubunganmu dengan Fathan?”
Myesha tak segera menjawab. Perempuan itu lantas mengambil gelas minuman yang terhidang di hadapannya. Beberapa teguk dia minum, sekedar membasahi rongga tenggorokan yang terasa kian mengering.
Beberapa saat lamanya dia hanya menatap mataku begitu dalam.
“Aku dan Fathan tak pernah menikah, Mas,” ujar Myesha dengan suara tercekat.
“Apa?!” kutersentak kaget dengan nada suara tinggi sampai-sampai beberapa pengunjung yang ada di dalam resto menoleh ke arah kami.
Keadaan sekarang sudah berbeda. Masing-masing dari kami sudah memiliki pasangan sendiri. Pagar pembatas sudah terbentang di antara kami. Itu berarti tak ada alasan bagi kami, untuk merajut kembali bekas tali kasih yang pernah kami jalin dulu. Kecuali jika satu di antara kami nekad melabrak norma-norma yang ada. Tentu saja dengan konsekuensi yang lebih berat.
Sejauh ini aku masih merahasiakan pertemuanku dengan Myesha dari Risma. Sangat berat dan kasar rasanya, jika harus berterus terang untuk saat ini. Yang terpenting, aku masih bisa bersikap seperti biasa di hadapan Risma. Aku berharap tak akan pernah bertemu lagi dengan mantan istriku tersebut.
Namun kenyataan berkata lain.
Entah mengapa, beberapa minggu setelah pertemuan itu, secara tiba-tiba Myesha sudah berada di samping di saat aku dan rekan-rekan kantor bersantap siang di resto itu. Raut wajah perempuan itu begitu suram, menampakan isi yang terkandung di dalam hatinya.
“Aku sengaja menunggumu di sini sejak beberapa hari yang lalu. Kupikir suatu saat kamu pasti akan kembali ke tempat ini, seperti pertemuan kita beberapa minggu yang lalu,” begitu ucap Myesha di antara genangan air mata yang mulai meleleh menyusuri pipinya yang putih, “aku bisa saja datang bertamu ke rumahmu. Tapi itu bukan keputusan yang tepat. Aku sadar, mungkin dengan cara seperti itu akan membuat istrimu curiga. Bahkan mungkin kamu bisa membenciku!”
Aku tersenyum kecut.
“Sampai saat ini Risma hanya tahu namamu saja, Myesha! Dia tak pernah sekali pun melihat fotomu,” jawabku singkat.
“Tapi di sana ada ibumu, kan, yang masih mengenaliku?” tanya Myesha kembali.
Aku tak segera menjawab.
Kupejamkan mata ini untuk beberapa saat, “Ibuku sudah lama meninggal. Tepatnya dua tahun yang lalu.”
Myesha terkejut.
Sepontanitas dia menggenggam tanganku, “Aku minta maaf, Mas Arya! Aku tak tahu.”
Aku menarik tanganku dari genggaman jemari lentik Myesha.
“Tak apa-apa.”
“Aku turut berduka cita, Mas.”
Myesha merasa bersalah, lalu bangkit mendekatiku.
Aku menghindar dan berusaha menjauh dari tempat duduk Myesha. Perempuan itu merasa heran dengan sikapku yang enggan duduk berdekatan dengannya.
“Mengapa?” tanya Myesha bingung.
“Tak apa-apa. Sekarang kita bukan siapa-siapa lagi. Maaf .… ” aku menggeser kembali agar sedikit menjauh dari tempat duduk Myesha.
“Aku dan kamu memang sudah tak memiliki ikatan apa-apa, Mas. Tapi bagaimana dengan Azka?”
Aku tersentak.
“Ada apa dengan Azka anakmu?”.
Myesha menatapku dalam-dalam. Bibirnya bergetar hebat dengan kelopak mata yang kembali berair. Sesaat dia palingkan wajahnya ke arah lain. Rasanya belum sanggup untuk segera menumpahkan semua isi hati yang selama ini dipendam.
“Dia anakmu, Mas,” jawab Myesha lirih.
Aku kembali tersentak kaget untuk kedua kalinya.
“Apa? Kamu jangan main-main denganku, Myesha!”
Aku masih tak percaya. Jangan-jangan ini siasat mantan istriku itu untuk kembali kepangkuan. Bagaimana dengan Risma dan anak-anakku nanti?
“Lihat mataku baik-baik, Mas. Apakah aku tengah berdusta pada lelaki yang selama ini masih kucintai? Lihat Azka baik-baik. Tak adakah kemiripan wajahnya denganmu, Mas?” Myesha setengah berteriak di antara tangisnya yang semakin menjadi.
“Ya, Tuhan,” aku menghentakan nafas yang terasa semakin berat.
“Aku memang tak pernah menikah dengan Fathan. Dia hanya sebatas teman,” Myesha terbata-bata dan hampir tak terdengar suaranya.
“Teman apa? Jangan main-main dengan ucapanmu, Myesha? Kamu … tinggal serumah dengan dia?” aku makin penasaran, kenyataan ini sangat memukulku.
Myesha mengangguk pelan.
“Ya, Tuhan,” sekali lagi aku memijit-mijit dahi sendiri yang dirasa semakin panas dan sakit, “lalu anak perempuanmu yang bernama Qisya itu?”
Lama sekali Myesha terdiam. Bibirnya bergetar hebat.
Aku sendiri rasanya tak sanggup untuk bertanya. Sikap diam Myesha sudah bisa menjelaskannya semuanya.
Myesha hanya bisa terisak.
Beberapa pasang mata pengunjung resto menatap kami. Sebagian di antaranya berbisik-bisik satu sama lain. Entahlah, apa yang mereka bicarakan. Yang pasti keadaan itu membuat kami harus lekas meninggalkan tempat itu.
Aku pegangi tubuh Myesha yang terlihat limbung dan lemah. Berjalan sempoyongan beriringan keluar dari dalam resto. Disaksikan beberapa pasang bola mata yang masih tetap melihat ke arah kami.
Akhirnya dengan terpaksa, aku harus mengantar pulang Myesha sampai hotel tempatnya menginap. Di sana tak ada siapa-siapa, kecuali aku dan Myesha.
“Ke mana Fathan dan anak-anak?” tanyaku heran.
Myesha yang semula terlihat lemah, perlahan tersenyum. Pegangan tangannya semakin ketat melingkari pinggangku. Lalu perlahan merubah posisinya menghadap aku dengan seringai bibir, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapih.
“Myesha … kamu kenapa?” tanyaku heran berusaha melepaskan pelukan tangannya yang terus menari-nari di pinggangku.
“Ayolah, Mas! Kamu jangan berpura-pura. Aku tahu kita masih saling mencintai. Kita pernah hidup bersama. Lagipula kita belum cerai, kan?” tanya Myesha.
“Myesha … apa-apaan, sih?”
Aku berusaha melepaskan pelukan Myesha. Tapi perempuan itu semakin kuat dan agresif. Dengan sekuat tenaga, dia berusaha menarik masuk mengikuti kamar tidur.
“Ayolah … Mas Arya,” rengek Myesha sambil menarik jatuh bersama di atas tempat tidur.
“Myesha … !!!” tak sadar kubentak keras mantan istriku itu. Lalu dengan sekuat tenaga kulepas pelukannya.
Jemari tanganku bergetar hebat menahan amarah. Hampir saja kulayangkan telapak tangan ini di wajahnya. Myesha menatapku dengan sorot mata menakutkan.
“Mas Arya … sudah berani membentakku? Dulu saat kita masih bersama, kamu tak pernah kasar padaku, Mas! Kamu selalu lembut padaku! Sekarang?”
Benar-benar pusing dibuatnya. Aku benar-benar tak mengerti, apa sebenarnya mau Myesha. Perempuan ini berubah begitu cepat. Tadi saat di dalam Resto sikapnya sangat lembut dan kini begitu beringas menakutkan.
“Mas Arya,” Myesha kembali mendekati dan berusaha menyentuhku seperti tadi, “kita sudah lama tak pernah bertemu. Lama sudah aku memendam rasa ini tentangmu. Selama itu pula aku tersiksa dengan perasaan ini sendiri.”
“Aku tahu, Myesha. Hampir sepuluh tahun kita berpisah! Dan ingat, kita belum bercerai. Berarti kita masih berstatus suami istri, kan? Kalau pun sekarang kita melakukan hal seperti yang kamu inginkan, itu tidak akan menjadikan sebuah dosa, kan? Tapi ingat … Myesha, selama kamu meninggalkanku, kamu telah banyak berbuat dosa karena melakukan hal menjijikan dengan Fathan!”
“Aku khilaf, Mas! Aku mohon kamu bisa memaafkan aku.”
“Tidak!”
“Mas Arya.”
Aku menghentakan kaki ke lantai. Darah ini serasa naik seluruhnya ke dalam batok kepalaku, “Sekarang di mana Fathan dan anak-anak?”
__ADS_1
Myesha terdiam. Dia hanya memainkan ujung kukunya.
“Myesha, kamu tak dengar pertanyaanku?”
Perempuan itu menoleh sebentar, “Mereka ada di hotel lain!”
“Kamu tak satu hotel atau satu kamar dengan mereka?”
Myesha mendengus, “Kamu itu bodoh atau pura-pura tak tahu, sih, Mas? Kamu masih tak paham juga?”
“Apa maksudmu?”
“Aku menginginkan kamu, Mas! Aku inginkan tubuhmu! Kehangatanmu.”
“Tidak! Aku jijik melihat kamu, Myesha!”
“Mas .… ”
Aku bergegas meninggalkan Myesha di atas tempat tidurnya.
“Mas Arya! Tunggu.”
Aku menghentikan langkahku, “Ada apa lagi?”
Myesha bangkit dari tempat tidur. Kemudian melangkah perlahan sambil tersenyum penuh arti padaku, “Aku punya informasi penting mengenai istrimu, Risma. Mungkin kamu belum sepenuhnya mengenal dia, kan?”
“Maksud kamu apa lagi, Myesha? Aku benar-benar tak mengerti!”
Myesha tersenyum picik.
“Risma pasti pernah bercerita, sebelum menikah denganmu, dia mempunyai hubungan khusus dengan seorang lelaki.”
“Maksudmu?”
“Jangan terkejut kalau aku tahu siapa laki-laki yang dimaksud itu.”
“Sudahlah, Myesha! Jangan mengada-ngada! Kamu itu gila!”
“Ya, aku memang gila! Dan kegilaan ini sudah aku alami semenjak aku pergi meninggalkan kamu, Mas Arya! Sekarang kamu pikir, apakah aku dan kamu bertemu beberapa minggu yang lalu itu karena faktor kebetulan belaka?” Myesha tertawa keras.
“Kamu ini lagi ngomong apaan, sih, Myesha! Aku benar-benar tak mengerti.”
“Aku sedang membicarakan masalah kita, Mas! Masa depan kita. Aku ingin kita kembali lagi seperti dulu. Hidup bersama. Sekarang semuanya sudah terjawab, kan? Kita tak mempunyai masalah apa-apa. Sekarang aku bisa hamil. Melahirkan anakmu.”
“Dan melahirkan anak dari hasil hubungan gelapmu dengan Fathan juga, kan?”
“Itulah masalahnya, mengapa aku kembali ke kota ini dengan laki-laki itu, Mas Arya,” Myesha kembali tertawa terbahak-bahak.
“Ada apa dengan Fathan? Apa hubungan antara Fathan dengan aku dan kamu?” tanyaku semakin heran.
“Pokoknya kamu akan tahu nanti, Mas.”
“Tahu apa?”
“Nanti pasti kamu akan tahu sendiri.”
Itulah pertemuan terakhirku dengan Myesha. Sebuah pertemuan yang menimbulkan banyak pertanyaan. Entahlah, aku sendiri tak tahu apa yang akan terjadi. Tak ada bayangan sama sekali.
Beberapa hari kunantikan jawabannya, namun tak pernah kudapatkan. Myesha menghilang begitu saja. Bahkan kamar hotel tempat terakhir kami bertemu pun, sosoknya tak ada. Kamar itu sudah dibooking oleh orang lain.
Sampai kemudian pada suatu ketika, aku menerima sebuah pesan dari nomor yang tak kukenal. Isi dalam pesan itu memintaku untuk datang ke suatu tempat. Tentunya harus dengan membawa istriku, Risma. Aku tak tahu siapa pengirimnya. Tapi aku yakin, ini pasti ada hubungannya dengan Myesha.
Benar saja, begitu kupenuhi permintaan sesuai isi pesan itu, aku dan Risma langsung disambut oleh Myesha dan Fathan di sana. Sebuah tempat penginapan di sebuah perkampungan.
Risma memegang lenganku dengan erat begitu tiba di sana. Pandangannya tertuju pada sosok Fathan yang sedang berdiri di samping Myesha.
“Ada apa, Ris?” tanyaku heran dengan perubahan sikap yang diperlihatkan oleh istriku itu.
Risma menggelengkan kepala.
Myesha dan Fathan menyambut kami dengan senyuman penuh arti, “Silakan duduk.”
Risma duduk berdekatan denganku. Wajahnya menunduk, seakan enggan melihat dua sosok yang ada di depan kami saat itu. Aku berusaha menenangkan Risma sambil menggenggam erat telapak tangannya yang mulai dingin.
“Ini ada apa, sih, sebenarnya, Myesha?” tanyaku penasaran.
“Oke, sebelumnya aku berterima kasih atas kedatangan Mas Arya dengan istrimu Risma,” ujar Myesha akhirnya.
Mata perempuan itu menatap tajam pada Risma diiringi seulas senyum kecut yang menggidikan.
“Kamu yang ngirimin saya pesan itu, kan?”
“I did that, Mr. Arya,” kali ini yang jawab Fathan.
Laki-laki berbulu lebat itu memandangi sosok Risma yang selalu menunduk. Sementara Myesha hanya tersenyum-senyum.
“Baiklah, sesuai janjiku sama kamu, Mas! Di sini aku akan menceritakan semua tentang hubungan kita. Aku, Fathan, Mas Arya dan juga Risma … ” Myesha memulai pembicaraan.
“Risma? Apa hubungan istriku dengan semua ini?”
“That’s why you have to listen to us, Mr. Arya!”
Myesha melanjutkan ucapannya, “Aku sudah bercerita sedikit tentang kehidupanku. Sekarang saatnya istrimu sendiri yang berterus terang, siapa dirinya sebenarnya.”
Aku menoleh pada Risma yang masih menunduk, “Ada apa sebenarnya dengan kamu, Ris?”
Risma menggelengkan kepala. Cekalan jemari tangannya semakin erat kurasakan.
“Terus terang saja, Ris! Kamu pasti kenal dengan Fathan, kan?” tanya Myesha seraya menunjuk sosok pria berbulu lebat yang ada di sampingnya.
Risma mengangkat kepalanya lalu mengangguk pelan.
“Kamu kenal Fathan? Dia siapa kamu, Ris?” kini aku yang bertanya dan semakin penasaran.
Risma menatap mataku dalam-dalam.
“Dia hanya salah satu orang dari masa laluku, Mas,” jawab Risma pelan.
“Masa lalumu yang mana? Kamu belum pernah menceritakan masa lalumu dengan Fathan?”
“Hhhmm … kamu gak ingat, Mas? Sesaat sebelum kita menikah, aku pernah bercerita bahwa nasib kita sama. Aku menikah denganmu karena dorongan orangtua. Aku terpaksa meninggalkan seseorang yang aku cintai demi memenuhi keinginan ibu, kan? Menikah denganmu, Mas,” jawab Risma perlahan dan terbata-bata.
“Seseorang yang kamu maksud itu Fathan?” tanyaku kembali.
“Ya, laki-laki yang kumaksud itu Fathan. Dia itu orangnya,” jawab Risma sambil menunjuk sosok Fathan dengan ujung matanya.
“Hanya itu?”
“Ya, cuma itu. Memangnya kenapa?”
“Kamu masih mencintai dia, kan?”
Risma menarik nafas dalam-dalam, “Dulu aku memang mencintainya. Tapi seiring waktu berjalan, selama beberapa tahun kita bersama, rasa itu hilang dengan sendirinya. Kini aku sangat mencintai suamiku sendiri. Aku mencintai kamu, Mas Arya.”
“Punya keinginan untuk kembali lagi bersama mantan kekasihmu itu, Ris?”
Kembali Risma menggelengkan kepala, “Mas Arya berharap aku kembali pada Fathan? Sementara statusku sendiri sudah menjadi istri kamu, Mas. Pertanyaan macam apa itu?”
“Aku, kan, hanya bertanya, Ris.”
“Tapi dari pertanyaanmu itu seakan-akan aku masih menyimpan perasaan yang sama pada dia, Mas,” Risma menitikan air mata. Aku segera memeluknya dan meminta maaf.
“Tapi aku berharap kamu akan kembali lagi padaku, Dek Ris. Kita melanjutkan mimpi bersama yang pernah kita rajut dulu … ” kali ini Fathan yang bersuara dengan bahasa Indonesia yang terputus-putus, “dan Anda Pak Arya, kembali lagi dengan mantan istriku ini.”
Aku berbalik arah menatap Fathan dengan rasa muak yang tiba-tiba muncul. Kata-kata lelaki berewok itu seperti menyadarkan apa yang sebenarnya tengah mereka rencanakan.
“Lebih tepatnya adalah teman kumpul kebomu, kan, Fathan? Dia memang masih berstatus sebagai istriku, karena aku tak pernah menceraikannya. Tapi dengan apa yang telah kalian berdua lakukan selama ini, maka detik ini pula aku menjatuhkan talak, talak dan talak terhadap kamu Myesha,” tiba-tiba darahku mendidih melihat dua sosok itu.
Benci sekali rasanya.
“Mas Arya!” seru Myesha terkejut mendengar kata-kataku.
“Diam kamu, Myesha! Jangan lagi sebut-sebut namaku! Aku sudah paham dengan apa yang kamu inginkan!” suaraku semakin meninggi.
“Apa maksudmu, Mas?” suara Myesha bergetar hebat.
“Kalian jangan berpura-pura! Kalian berencana agar Fathan kembali pada istriku, Risma. Dan aku kembali padamu, kan, Myesha? Begitu, kan, keinginan kalian?” bentakku semakin emosi, “kalian gila! Aku memang pernah mencintai kamu, Myesha! Tapi setelah tahu apa yang kalian berdua lakukan, itu cukup membuatku untuk segera menjauhkan kalian dari kehidupan kami! Aku sangat mencintai istriku, Risma!”
Myesha berdiri dari tempat duduknya. Dengan pandangan tajam, dia menatap mataku. Bibirnya bergetar hebat dengan nafas yang memburu. Di saat yang sama Myesha mengambil sebuah senjata pistol dari balik punggungnya, lalu mengarahkan padaku.
“Mungkin kamu bisa melepasku sekarang. Tapi aku tak akan rela membiarkan wanita busuk itu memilikimu, Mas Arya!” todongan pistol berubah arah pada sosok Risma yang ada di sampingku.
Sesaat lagi perempuan itu menarik pelatuk senjata yang dipegangnya.
“Myesha!” teriak Fathan.
Secepat kilat laki-laki berewok itu bangkit dan menahan senjata yang dipegang Myesha. Terjadi pergumulan hebat di depan mata kami. Aku sendiri secara reflek berdiri melindungi tubuh Risma. Lalu menarik tubuhnya untuk segera merunduk di balik meja terdekat.
Kemudian terdengar dua bunyi letusan senjata api.
DOR! DOR!
Disusul jeritan keras Myesha sambil memegangi dadanya yang berlumuran darah. Tubuh perempuan itu ambruk seketika menimpa kursi yang tadi dia duduki.
“Fathan!” jerit Risma begitu melihat sosok laki-laki itu masih berdiri memegang senjata api yang berhasil dia rebut dari tangan Myesha.
Lelaki itu diam membisu dengan wajah memucat.
“Forgive me, my dear Myesha,” ujar Fathan pelan sambil meletakan senjata yang dia pegang ke atas meja. Lalu duduk perlahan di atas kursinya dengan lemah, “Tolong panggilkan segera polisi.”
Aku masih terkejut dengan kejadian barusan. Begitu cepat sekali terjadi. Seakan masih belum bisa kupercayai.
Sementara Risma memelukku dengan erat dan menangis keras di dadaku. Dia tak sanggup melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri.
Dengan sedikit kesadaran yang masih tersisa, aku segera merogoh telepon seluler, untuk menghubungi nomor darurat kepolisian. Dengan nada gemetar, kuberusaha menguatkan diri untuk berbicara dan melaporkan kejadian.
Tak berapa lama setelah bunyi letusan senjata api, beberapa pengunjung tempat itu mulai berdatangan, bergerombol. Mereka hanya berani melihat dari kejauhan, karena takut melihat senjata api yang tergeletak di atas meja. Juga sesosok tubuh kaku berlumuran darah di lantai.
“Pak Arya, tolong rawat dan jaga anak-anak. Aku tahu Azka itu anakmu dan Qisya itu anak hasil dari hubungan gelap kami. Tapi bagiku, mereka adalah anak-anakku juga. Aku sangat menyayangi mereka,” ujar Fathan dengan pandangan hampa, “ini benar-benar di luar dugaan. Aku tak menyangka Myesha akan berbuat senekat itu. Aku tak ingin dia melukai orang yang pernah kucintai. Dan … sekarang, biarkan aku yang akan mempertanggungjawabkan semuanya. Aku hanya ingin Anda dan Risma menjaga anak-anak kami.”
Aku dan Risma tak mampu menjawab. Hanya anggukan kepala perlahan yang sanggup kami lakukan. Fathan tersenyum lalu menoleh ke arah Myesha yang tergeletak tak bernyawa.
Tak berapa lama polisi datang dan langsung mengepung. Kami semua mengangkat tangan.
“Tangkap saya, Pak Polisi. Saya yang telah membunuh wanita itu. Mereka berdua tak bersalah,” teriak Fathan pada polisi yang berdiri mengepung.
Kemudian beberapa orang polisi memburu ke arah Fathan dan segera mengamankannya, berikut senjata api yang masih tergeletak di atas meja. Sebagian lagi memeriksa kondisi tubuh Myesha yang tergeletak kaku.
“Bapak dan Ibu harap ikut kami ke kantor polisi untuk memberikan keterangan!” kata salah seorang polisi padaku dan Risma.
“Baiklah, tadi saya yang menelepon nomor darurat itu, Pak,” jawabku masih diliputi rasa kejut yang luar biasa.
Sesaat sebelum meninggalkan tempat itu, aku memperhatikan sosok tubuh Myesha yang tergeletak bersimbah darah. Lalu berjalan beriringan sambil memeluk Risma dengan erat. Tubuhnya masih bergetar hebat dan isak tangis yang belum berhenti.
TAMAT
__ADS_1